NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: TES TERAKHIR

Pagi hari terasa berbeda.

Yun-seo membuka mata dengan sensasi hangat di dadanya. Yehwa masih tidur, wajahnya tenang bersandar di bahunya. Untuk beberapa saat, ia hanya diam, menikmati momen damai ini.

Di luar, matahari baru muncul. Suara burung mulai berkicau. Dunia berjalan seperti biasa, tanpa tahu bahwa di kamar penginapan kecil ini, seorang ratu iblis dan manusia dari dunia lain telah melewati batas yang tidak bisa ditarik kembali.

Yehwa bergerak, matanya terbuka. Ia menatap Yun-seo, lalu menyadari posisi mereka. Pipinya merona, tapi tidak segera menjauh.

"Pagi," bisiknya.

"Pagi."

Mereka diam beberapa saat, saling pandang. Lalu Yehwa tersenyum—senyum tulus yang jarang muncul.

"Aku tidak menyesal," katanya tiba-tiba.

Yun-seo mengerjap. "Maksudmu?"

"Semalam. Aku tidak menyesal." Ia bangkit duduk, menatap Yun-seo dengan mata jernih. "Apa pun yang terjadi nanti, aku tidak akan menyesal."

Yun-seo meraih tangannya. "Aku juga."

Mereka tersenyum bersama. Untuk pertama kalinya, tidak ada topeng, tidak ada kepalsuan. Hanya mereka berdua.

---

Dua jam kemudian, mereka tiba di akademi untuk tes terakhir.

Lapangan utama telah berubah menjadi arena pertarungan. Delapan lingkaran besar digambar di tanah, masing-masing dikelilingi pagar kayu. Di tribun, para guru duduk dengan papan penilaian. Beberapa murid senior juga hadir sebagai saksi.

Dari 500 calon, hanya 150 yang tersisa setelah dua tes pertama. Hari ini, 50 orang akan gugur. 100 sisanya akan resmi menjadi murid Akademi Pedang Iblis Langit.

Yun-seo melihat sekeliling. Wajah-wajah tegang di mana-mana. Beberapa peserta melakukan pemanasan, yang lain duduk bermeditasi. Ada yang terlihat percaya diri, ada yang hampir menangis.

Cheol-soo menghampiri mereka dengan wajah pucat. "Hyung... aku takut."

"Kau bisa," yakinkan Yun-seo. "Kau sudah lulus dua tes. Yang ini pasti bisa."

"A-tapi aku jurusnya nggak banyak. Paling bisa bikin pedang, bukan pake pedang."

Yun-seo menepuk pundaknya. "Nanti kalau ketemu lawan, langsung angkat tangan. Nggak usah malu."

Cheol-soo mengangguk, tapi tetap cemas.

Pengumuman melalui pengeras suara: semua peserta diminta mengambil nomor undian untuk menentukan lawan.

Yun-seo mengambil nomor 47. Yehwa 48. Cheol-soo 23.

"Semoga kita tidak bertemu di babak awal," gumam Yehwa.

Yun-seo mengangguk. Mereka sudah punya rencana—kalau bertemu, Yehwa akan mengalah. Tapi kalau bertemu lawan lain, Yun-seo harus bertahan sebisanya.

Babak pertama dimulai. Dua peserta memasuki lingkaran 1, saling berhadapan. Wasit memberi aba-aba, dan pertarungan dimulai.

Yun-seo menyaksikan dengan jantung berdebar. Kedua peserta itu bergerak cepat, jurus-jurus mematikan beradu. Dalam dua menit, salah satu jatuh tersungkur dan tidak bisa bangkit. Pemenangnya mengangkat tangan, disambut sorak sorai pendukungnya.

Satu per satu pertarungan berlangsung. Ada yang berakhir cepat, ada yang berlarut-larut. Seorang peserta perempuan mengalahkan lawannya hanya dengan tiga jurus—ia langsung jadi sorotan.

"Itu Song Ha-na," bisik seseorang di dekat Yun-seo. "Murid kiriman dari Sekte Gunung Es. Katanya bakatnya luar biasa."

Yun-seo mengamati gadis itu. Rambut panjang sebahu, wajah dingin, gerakan anggun tapi mematikan. Tipe yang mirip Yehwa.

Nomor 23 dipanggil. Cheol-soo.

Ia melangkah gemetar ke lingkaran 3. Lawannya seorang pemuda bongsor dengan otot kekar, membawa pedang besar dua tangan. Perbandingan fisik sangat timpang.

"Mulai!" teriak wasit.

Pemuda bongsor itu langsung menyerbu, pedangnya diayunkan keras. Cheol-soo menghindar dengan lompatan kikuk, hampir jatuh. Serangan kedua, ketiga, keempat—semua dihindari dengan susah payah.

Tapi Cheol-soo tidak menyerang balik. Ia hanya bertahan, berlari berputar, menghindar.

"Berlari terus, bocah pengecut!" geram lawannya.

Cheol-soo tidak peduli. Ia terus menghindar sampai lawannya kehabisan napas. Pemuda bongsor itu mulai lambat, napasnya tersengal. Pedang besarnya terasa berat.

Dan saat itulah Cheol-soo menyerang.

Bukan dengan pedang—ia tidak bawa pedang. Tapi dengan tendangan rendah ke kaki lawan. Pemuda itu terhuyung, jatuh berlutut. Cheol-soo segera memitingnya dari belakang.

"A-aku menyerah!" teriak pemuda itu, kehabisan napas.

Wasit meniup peluit. "Pemenang: Jo Cheol-soo!"

Yun-seo bersorak. Cheol-soo melompat-lompat gembira, tidak percaya ia menang.

Yehwa tersenyum tipis. "Anak itu pintar. Memanfaatkan kelemahan lawan."

Giliran nomor 47. Yun-seo.

Ia melangkah ke lingkaran 5, jantung berdebar kencang. Lawannya seorang gadis rambut pendek dengan dua pedang pendek—gaya bertarung cepat dan agresif.

"Mulai!"

Gadis itu langsung menyerang, pedangnya menyambar cepat. Yun-seo mengelak, hampir kena. Jurus pertama Yehwa—bertahan. Ia mundur, menghindar, bertahan.

Gadis itu terus menekan, pedangnya seperti kilat. Yun-seo kewalahan. Dalam hati ia berterima kasih pada Yehwa yang melatihnya keras—tanpa itu, ia sudah mati beberapa kali.

Tapi ia tidak bisa bertahan terus. Energinya habis. Luka kemarin masih sakit. Ia harus melakukan sesuatu.

Saat gadis itu melancarkan serangan mematikan, Yun-seo melakukan satu-satunya hal yang terpikir—ia menjatuhkan diri, berguling ke samping, lalu menendang kaki lawan. Gadis itu terhuyung, kehilangan keseimbangan.

Yun-seo bangkit, pedang kayunya diayunkan—Jurus Ketiga, Naga Terbang.

BYUUR!

Pedangnya mengenai lengan gadis itu—tidak keras, tapi cukup membuatnya terkejut. Ia mundur, reflek memegang lengan.

Dan Yun-seo memanfaatkan momentum. Ia maju, terus menekan, memukul, menusuk—tidak terampil, tapi agresif. Gadis itu kewalahan menghadapi serangan brutal yang tidak terduga ini.

Dalam satu menit, pedang gadis itu terlepas. Yun-seo mengarahkan pedangnya ke leher lawan.

"Aku menyerah!" teriak gadis itu cepat.

Wasit meniup peluit. "Pemenang: Kang Yun-seo!"

Yun-seo hampir jatuh. Tubuhnya lemas, tapi ia menang. Ia menang!

Dari tribun, Yehwa tersenyum bangga. Yun-seo membalas senyum itu.

---

Babak kedua, ketiga, keempat berlangsung cepat.

Yun-seo tidak percaya ia bisa melewati semuanya. Setiap pertarungan, ia bertahan mati-matian, memanfaatkan setiap kesempatan, dan—yang paling penting—beruntung lawannya bukan yang terkuat.

Tapi di babak kelima, keberuntungan habis.

Lawannya: Seo Jung-won.

Yun-seo pucat pasi. Pemuda tampan itu berdiri di hadapannya, pedang kayu di tangan, wajah dingin seperti biasa.

"Kau," kata Seo Jung-won, matanya menyipit. "Yang kulihat saat serangan iblis."

Yun-seo menelan ludah. "I-iya."

"Kau selamat. Bagus." Tidak ada nada menghina, hanya pernyataan datar. "Tapi di sini, aku tidak akan memberimu ampun. Tunjukkan kemampuanmu."

Wasit memberi aba-aba. Pertarungan dimulai.

Seo Jung-won bergerak. Cepat. Terlalu cepat.

Yun-seo tidak bisa melihat gerakannya. Satu detik ia berdiri, detik berikutnya ia sudah terbanting ke tanah, pedangnya terlepas. Lehernya sudah diarahkan ujung pedang lawan.

"Itu saja?" Seo Jung-won mengernyit. "Kau tidak punya kemampuan apa-apa."

Yun-seo terengah, sakit di sekujur tubuh. Tapi ia tidak menyerah. Ia mencoba bangkit.

Seo Jung-won menghela napas. "Jangan. Kau bisa cedera parah."

"Aku... tidak bisa... menyerah," desis Yun-seo. "Ada yang... tunggu aku."

Matanya melirik ke arah Yehwa. Wanita itu berdiri di pinggir arena, wajah tegang, tangan mengepal.

Seo Jung-won mengikuti arah pandangannya. Melihat Yehwa. Lalu kembali ke Yun-seo.

"Istrimu?"

Yun-seo mengangguk lemah.

Seo Jung-won diam beberapa saat. Lalu, tanpa aba-aba, ia mengangkat pedangnya dan berbalik.

"Aku menyatakan kalah."

Apa?!

Seluruh penonton terkejut. Wasit hampir jatuh dari kursinya. "A-Apa?!"

"Pria ini sudah bertarung lima ronde berturut-turut dengan luka di tubuhnya. Ia tidak menyerah meski tahu kalah." Seo Jung-won menatap wasit dingin. "Semangatnya layak dihargai. Aku tidak mau mengalahkan lawan yang sudah setengah mati."

"T-tapi aturannya—"

"Aku mengalah. Biarkan dia lanjut ke babak berikutnya." Seo Jung-won sudah berjalan keluar arena.

Penonton gempar. Yun-seo terbaring di tanah, tidak percaya.

Yehwa berlari masuk, membantunya bangkit. "Kau baik-baik saja?!"

"Aku... menang?"

Yehwa tersenyum, matanya berkaca. "Kau menang, bodoh."

Yun-seo tersenyum lebar, lalu pingsan di pelukannya.

---

Saat sadar, Yun-seo sudah berada di tenda medis lagi.

Dokter yang sama menggeleng-geleng. "Kau ini, setiap hari ke sini. Besok lusa mungkin jadi langganan."

Yun-seo tersenyum malu. "Maaf, Dok."

Yehwa duduk di sampingnya, memegang tangannya. "Kau benar-benar bodoh."

"Aku tahu."

"Tapi... bodoh yang berani." Yehwa tersenyum. "Kau lulus. Kita berdua lulus."

Yun-seo hampir melompat, tapi badannya sakit. "Beneran?!"

"Pengumuman resmi besok. Tapi dari 150 orang, kita berdua masuk 100 besar." Yehwa mengelus rambutnya. "Kau berhasil, Yun-seo."

Mereka berdua tersenyum. Di luar, matahari mulai terbenam, tapi bagi mereka, ini adalah fajar baru.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!