NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Emerald

Para penyerang itu masih terpaku di tempat, mencoba mencerna kata-kata Noah, ketika tiba-tiba sebuah teriakan keras terdengar dari belakang mereka.

"Gyaaahhh!!!"

Jeritan penuh rasa sakit itu datang dari arah tempat rekan mereka yang tadi kabur.

Begitu mereka menoleh kembali ke arah Noah, pria yang tadi berdiri di depan mereka sudah menghilang.

"Di atas kalian!" teriak sebuah suara.

Para pria yang tersisa mendongak dan melihat sosok seseorang melompat dari atas menuju mereka.

Namun sebelum dua pria yang berdiri di samping Rollac sempat bereaksi, tubuh mereka sudah terbelah secara vertikal oleh dua cakar raksasa.

Tubuh mereka dan zirah kulit yang mereka kenakan tercabik menjadi dua.

Dalam sekejap, pemandangan mengerikan muncul di tanah. Dua tubuh hancur dengan isi perut terburai, tulang dan daging tercabik, tergeletak di genangan darah.

Rollac kini menjadi satu-satunya orang yang tersisa dari kelompok penyerang itu. Tubuhnya gemetar hebat, dan cairan hangat mengalir dari selangkangannya.

Noah menatapnya dengan ekspresi kecewa. Setidaknya yang lain masih mati dengan sedikit harga diri.

"Lep ... lepasin aku..." kata Rollac dengan wajah pucat ketakutan. Bahkan mengucapkan satu kalimat saja terasa sangat sulit di depan monster yang berdiri di hadapannya.

"Terus aku harus nerima risiko kamu nyebarin semua kejadian ini ke seluruh kota? kamu kira aku sebodoh itu?"

Noah mengejek pria yang masih berpikir dirinya punya kesempatan untuk hidup.

"Kalau kamu bunuh aku ... kakak aku bakal nyari kamu. Dan kematian kamu bakal sangat menyakitkan. Dia salah satu orang terkuat di kota ini. gak ada yang berani lawan dia."

Rollac mencoba menyelamatkan diri dengan membawa-bawa nama kakaknya, pemimpin tim petualang Glorious.

Namun Noah bahkan tidak memikirkan konsekuensinya. Ia langsung mencengkeram leher Rollac dengan tangan kanannya, cakar tajamnya menekan tenggorokan pria itu. Dengan tangan kirinya, ia merebut pedang Rollac lalu melemparkannya jauh.

"Tenang aja. Kalau dia datang cari masalah sama aku..." Noah berbisik di dekat telinga Rollac sambil memperkuat cengkeramannya. "...aku bakal kirim kakak kamu buat ketemu kamu di alam baka."

Rollac berusaha meronta dan mencoba melepaskan diri dari cakar Noah. Namun di depan monster seperti ini, semua usahanya sia-sia.

Cahaya di matanya perlahan redup. Tubuhnya akhirnya kehilangan semua kekuatan.

Mati.

Noah melempar tubuh tak bernyawa itu ke tanah lalu memeriksa sekelilingnya lagi, memastikan tidak ada saksi yang masih hidup.

Tak lama kemudian, Sierra kembali. Mulut dan moncongnya berlumuran darah segar.

Serigala raksasa itu menjatuhkan kepala petualang yang tadi kabur tepat di depan kaki Noah.

"Goodjob."

Noah tersenyum sambil mengelus kepala Sierra.

"Sekarang... waktunya makan, kamu lapar, kan?"

Noah berjalan mendekati mayat-mayat itu dan meletakkan tangannya di atas tubuh mereka.

"Serap."

Noah memeriksa satu per satu mayat itu dan mulai menyerap semua kemampuan yang berguna dari para penyergap tersebut.

"Benar-benar menyedihkan," dengus Noah setelah selesai menyerap semua kemampuan mereka.

"Selain para assassin dan penyihir itu, gak ada satu pun dari orang-orang tolol ini yang punya kemampuan berguna," gumamnya kesal, seakan semua usaha membunuh mereka tadi terasa sia-sia.

"Sistem, tampilkan semua kemampuan yang baru aku dapat."

...────୨ৎ────...

...Inang mempelajari kemampuan berikut:...

...Siluman (Rank D)...

...Bola Api (Rank C)...

...Dinding Benteng (Rank D)...

...Akurasi Tembakan (Rank D)...

...Penguasaan teknik pertarungan jarak dekat meningkat....

...Inang membuka Combat Skill berikut:...

...Serangan Vital...

...Gerak Kilat...

...Lompatan Tinggi...

...Semua kemampuan memiliki 20% penguasaan pada tingkat Master....

...────୨ৎ────...

"Gak berguna..." Noah menghela napas. "Dari gaya mereka tadi, aku kira setidaknya mereka punya kemampuan yang lumayan."

Ia kemudian merobek tubuh para pria itu dan mengeluarkan Monster Core yang berada di dalam jantung mereka.

"Sampah."

Noah hampir saja membuang Monster Core yang ia pegang.

Berbeda dengan Monster Core merah terang yang ia dapatkan dari monster biasa di hutan, Monster Core para petualang ini terlihat sangat redup dan bahkan tidak memancarkan cahaya sama sekali.

Noah langsung tahu bahwa Monster Core mereka sangat lemah.

Bahkan tidak layak dilirik.

"Sierra, makan semuanya. Pastikan kamu cabik tubuh mereka dengan taring dan cakar kamu. Monster Corenya juga buat kamu."

Noah tidak ingin meninggalkan jejak apa pun yang bisa mengarah kepadanya.

Cepat atau lambat, orang-orang yang mati ini akan dinyatakan hilang dan seseorang pasti akan menyelidikinya.

Dan pada akhirnya, mereka bisa saja mencarinya, karena ia sempat berselisih dengan pria pirang itu di depan banyak saksi di Asosiasi Petualang.

Itulah sebabnya Noah hanya menggunakan cakarnya untuk menyerang tanpa memakai senjata. Ia juga menyuruh Sierra mencabik tubuh mereka sambil memakannya. Dengan begitu, semuanya akan terlihat seperti para petualang ini dibunuh oleh monster kuat di area hutan terpencil. Tidak ada yang akan mencurigai apa pun.

Noah bahkan tidak mengambil senjata atau uang dari tubuh mereka. Hal seperti itu justru bisa menimbulkan kecurigaan dan akhirnya membawa masalah yang tidak perlu.

Ia bukan tokoh utama reinkarnasi bodoh yang membuat kesalahan pemula dan meninggalkan jejak.

Noah menunggu sekitar dua puluh menit sementara Sierra menikmati makanannya, melahap darah, daging, dan monster core.

Setelah selesai, Noah berlari menembus hutan menuju gerbang kota yang berbeda dari tempat ia keluar tadi.

Bahkan dengan kemampuan Pelari Kilat miliknya, ia tetap membutuhkan sekitar satu jam untuk mencapai sisi kota yang lain. Ia kembali ke gerbang yang sama tempat ia pertama kali memasuki kota.

Noah mengantre bersama orang-orang yang hendak masuk.

Ketika gilirannya tiba, para penjaga kota menghentikannya.

"Identitas."

Penjaga yang berbicara adalah orang yang sama dengan penjaga pagi tadi.

"Ak ... aku gak punya. Semua barang aku hilang beberapa hari lalu," jawab Noah dengan wajah canggung.

"gak ada identitas, gak boleh masuk!" kata penjaga itu tegas.

"Gimana kalau aku ceritain pengalaman buruk aku dua hari lalu? Kalau kamu punya waktu, kita bisa ngobrol di sana sebentar."

Noah berbicara pelan. Penjaga itu langsung memahami maksudnya.

Ia memberi isyarat kepada penjaga lain untuk menggantikannya, lalu berjalan ke sudut yang jauh dari pandangan orang-orang.

Noah mengeluarkan uang yang ia dapat dari menjual monster core di Asosiasi Petualang siang tadi.

Kantong itu bahkan dua kali lebih besar daripada yang Luigi berikan kepada para penjaga saat mereka masuk kota pagi tadi.

"Aku harap kamu bisa maklum sama keadaan aku yang menyedihkan ini. Anggap aja ini tanda terima kasih kecil dari aku buat kebaikan dan pengertian kamu."

Noah memasukkan kantong koin itu ke saku penjaga.

"Aku mengerti. Kamu orang yang sangat murah hati. Rasanya terlalu kejam kalau aku membiarkan orang sepertimu berada di luar tembok kota yang tidak aman di malam hari."

Penjaga itu tersenyum lebar sambil meraba kantong koin yang besar itu. Noah mengangguk dan kembali memasuki kota.

Sekarang ia harus menemukan perusahaan dagang The Emerald. Itu satu-satunya tempat yang bisa ia andalkan untuk menginap.

Noah membeli satu set pakaian dan sepatu lagi dari sebuah toko, lalu membuang pakaian lamanya ke saluran pembuangan agar tidak ada yang bisa mengenalinya dari pakaian tersebut jika suatu saat ada saksi yang mengaitkannya dengan pembunuhan tadi.

Kali ini ia membeli kemeja putih, celana abu-abu, dan sepatu bot kemerahan.

Ia berjalan menyusuri kota yang mulai gelap. Karena masih baru di kota itu, ia harus bertanya arah kepada banyak orang.

Setelah satu jam lagi mencari dengan susah payah, akhirnya ia berdiri di depan gedung perusahaan dagang itu. Baru sekarang Noah benar-benar menyadari seberapa besar pengaruh Luigi dan Saurril.

Bangunan di depannya sangat besar. Gedung tiga lantai yang ukurannya tidak kalah dengan sebuah kastil. Banyak pedagang dan orang biasa keluar masuk, termasuk berbagai manusia dari ras campuran.

Begitu Noah masuk ke dalam gedung, ia langsung mendengar sebuah suara.

"Nah, akhirnya ketemu juga. aku kira kamu bakal kesulitan nemuin tempat kami," kata Saurril dengan senyum cerah.

"Iya, aku sempat nyasar beberapa kali. Kota ini terlalu besar buatku," jawab Noah sambil tertawa dan menjabat tangan Saurril.

"aku dengar kamu sempat ada masalah di Asosiasi. Orang-orang bilang begitu waktu kami nanya ke mana kamu pergi," kata Saurril dengan tatapan khawatir.

"gak ada yang serius. Cuma ada orang kaya yang nyari ribut sama aku tanpa alasan. Semuanya udah beres kok."

Noah menjawab dengan wajah santai.

Setelah itu, Noah dan Saurril menikmati makan malam lezat di ruang pribadi perusahaan dagang tersebut.

Untuk pertama kalinya, Noah akhirnya makan makanan yang benar-benar layak. Bukan sekadar daging monster panggang yang selalu membuatnya khawatir akan keracunan.

Yang mengejutkan, makanannya sangat lezat dan penuh dengan berbagai rempah yang belum pernah ia rasakan di kehidupan sebelumnya.

Noah makan dengan lahap seperti orang barbar yang kelaparan. Hal itu justru membuat Saurril merasa sedikit tidak enak.

Kasihan sekali orang ini. Dia bahkan belum makan apa-apa sejak pagi. Mungkin dia juga gak punya uang sama sekali. Begitulah yang dipikirkan Saurril saat melihat penyelamatnya melahap makanan tanpa sempat mengunyah dengan benar.

Setelah makan malam selesai, Noah diantar ke sebuah kamar yang cukup nyaman dengan perabotan yang layak.

Dan akhirnya...

Sebuah tempat tidur.

Air mata hampir menetes dari mata Noah karena akhirnya ia bisa tidur di atas ranjang, bukan di batang pohon atau tumpukan daun seperti saat di hutan.

Melihatnya, dada Saurril terasa sesak. Kasihan sekali orang ini... mungkin dia belum pernah tidur di ranjang sebelumnya. Saurril membayangkan Noah selama ini tidur di tanah atau di atas batu.

"Istirahat yang cukup. Kalau kamu butuh sesuatu, cari aku aja. Kamar aku ada di sebelah. Kita ketemu besok."

Saurril berkata begitu lalu pergi dengan perasaan berat.

Noah menutup pintu kamar dan langsung meloncat ke atas kasur empuk itu. Ia merasakan seluruh ketegangan di tubuhnya akhirnya lepas.

Tiba-tiba sebuah rencana muncul di benaknya. Senyum licik muncul di wajahnya saat ia memeluk bantal empuk dan tertidur seperti bayi.

"Maaf ya, Luigi... Saurril... tapi aku bakal manfaatin kalian buat dapetin banyak uang dan reputasi di kota ini."

Karena besok... Ia akan menjadi seorang petualang.

1
umar aryo
gass Thor...
umar aryo
di tunggu updatenya ya
umar aryo
lanjut thorrr
umar aryo
weleh.....
umar aryo
walah...
umar aryo
arus cerita yg unik meski sedikit naif
umar aryo
jos gandos
umar aryo
wiiihhhh... dewa di katain.... anjirrr
umar aryo
mantap... 😄🤣🤣
umar aryo
jalan cerita nya halus Thor... lanjutkan
Piw Piw: terima kasih
total 1 replies
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!