Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Dalam Senyap
Malam itu, hujan turun membasuh Jakarta dengan kasar, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan. Di dalam apartemen Arka, suasananya jauh lebih dingin daripada badai di luar. Arka berdiri mematung di depan jendela, ponselnya tergeletak di meja marmer dengan layar yang masih menyala, menampilkan sebuah foto yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal beberapa jam yang lalu.
Foto itu buram, diambil di sebuah klub malam dengan pencahayaan neon yang redup. Di sana, Laras tampak tertawa lepas, tangannya melingkar di leher seorang pria asing yang wajahnya tidak terlihat jelas. Mereka tampak sangat dekat, terlalu dekat untuk standar "wanita terhormat" yang selama ini dipaksakan pada Laras.
Pintu apartemen terbuka. Laras masuk dengan wajah cerah, membawa dua kantong kopi hangat. "Arka? Kamu sudah pulang? Aku mampir karena ada dokumen proyek yang"
Laras menghentikan kalimatnya saat melihat punggung Arka yang kaku. Pria itu bahkan tidak menoleh.
"Ada apa, Ka?" Laras meletakkan kopi di meja, tepat di samping ponsel Arka yang masih menyala. Matanya tak sengaja menangkap gambar di layar itu. Jantungnya serasa merosot ke perut. "Arka... itu..."
"Kapan?" suara Arka terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman yang tertahan.
"Itu tiga tahun yang lalu, Arka. Di Singapura. Tapi itu nggak seperti yang kamu lihat " "Aku tidak tanya di mana, Laras. Aku tanya siapa?" Arka membalikkan badan. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh kekecewaan. "Selama ini aku membelamu di depan ayahku, di depan Doni, di depan semua orang karena aku percaya kamu adalah korban dari sistem yang mengaturmu. Tapi melihat ini... aku merasa seperti orang bodoh."
Laras terpaku. "Kamu merasa bodoh karena apa? Karena aku pernah bersenang-senang? Karena aku punya kehidupan sebelum kontrak ini ada?" "Bukan soal bersenang-senang!" Arka melangkah mendekat, auranya mengintimidasi.
"Ini soal kejujuran. Kita sepakat untuk saling melindungi rahasia. Tapi kalau kamu punya 'bom waktu' seperti ini dan tidak memberitahuku, itu namanya pengkhianatan. Bagaimana kalau Doni menunjukkan ini pada Ayahku besok pagi? Kamu tahu apa yang akan dia lakukan padamu? Dia akan menghancurkanmu, Laras. Dan dia akan menghancurkan aku karena telah memilihmu."
Laras tertawa getir, matanya mulai berkaca-kaca karena marah. "Jadi ini semua soal saham dan citra ayahmu lagi? Aku pikir kamu berbeda, Arka. Aku pikir kamu membelaku di butik dan di depan keluarga tadi karena kamu mengerti rasanya dihakimi. Ternyata kamu sama saja dengan mereka. Begitu melihat sedikit noda di porselenmu, kamu langsung ingin membuangnya."
"Jangan putar balikkan kata-kataku!" bentak Arka. "Ibuku... dia pergi meninggalkan rumah karena alasan yang sama. Dia punya 'kehidupan lain' yang tidak pernah diceritakan pada Papa. Saat semuanya terbongkar, rumah ini hancur. Aku tidak akan membiarkan sejarah itu berulang karena aku mempercayai orang yang salah."
Laras terdiam. Jadi ini sumber retakannya. Luka masa kecil Arka yang membuatnya menjadi pria baja yang tidak bisa percaya pada siapa pun.
"Pria di foto itu adalah kakak sepupuku, Arka," suara Laras mendadak tenang, sangat tenang hingga Arka terhenti. "Dia tinggal di Singapura. Malam itu dia baru saja dinyatakan sembuh dari kanker stadium awal. Kami merayakannya. Aku tertawa karena aku bahagia dia masih hidup. Tapi ya, di mata orang-orang seperti Doni, atau mungkin di matamu sekarang, itu terlihat seperti 'skandal'."
Laras mengambil tasnya kembali, tidak menyentuh kopi yang ia bawa. "Aku tidak memberitahumu karena bagiku itu bukan rahasia gelap. Itu momen bahagia. Tapi kalau kamu lebih memilih percaya pada sudut pandang Doni daripada bertanya langsung padaku... mungkin aliansi kita memang nggak sekuat yang aku kira." Laras berjalan menuju pintu. Namun, sebelum ia sempat memegang gagang pintu, ia mendengar suara benda jatuh.
BRAKK!
Arka tersungkur di samping meja. Napasnya pendek-pendek dan cepat. Ia mencengkeram dadanya, wajahnya yang tadi keras kini memucat pasi. Matanya melotot, menatap ruang kosong dengan ketakutan yang luar biasa.
"Arka?" Laras berlari kembali. "Arka, lihat aku! Bernapas, Arka!" Ini adalah panic attack. Pria baja itu sedang runtuh. Tekanan dari ayahnya, kemunculan Doni, dan trauma masa lalunya yang baru saja ia ungkit sendiri telah meledakkan sistem pertahanannya.
"Bernapas... ikuti aku... satu... dua..." Laras duduk di lantai, menarik kepala Arka ke pangkuannya. Ia tidak peduli dengan rasa sakit hatinya tadi. Sesuai Pasal 2 kontrak mereka, ia harus melindungi Arka.
Laras menggenggam tangan Arka yang gemetar hebat, menempelkannya ke dadanya sendiri agar Arka bisa merasakan detak jantungnya yang stabil. "Aku di sini, Ka. Nggak ada yang pergi. Aku nggak akan pergi. Tarik napas..."
Perlahan, napas Arka mulai teratur. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia memejamkan mata, merasa sangat malu karena telah menunjukkan kelemahan terbesarnya di depan orang yang baru saja ia tuduh.
"Maaf..." bisik Arka parau, masih dengan kepala di pangkuan Laras. "Maaf, Laras. Aku... aku hanya takut." Laras mengusap rambut Arka dengan lembut. "Kita berdua takut, Arka. Itu sebabnya kita membuat kontrak itu. Bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk punya tempat di mana kita nggak perlu berpura-pura."
Malam itu, di lantai apartemen yang dingin, konflik mereka tidak berakhir dengan kemenangan salah satu pihak. Justru, retakan itu semakin lebar, namun kali ini bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membiarkan cahaya masuk. Mereka menyadari bahwa racun yang disebar Doni hanya bisa dilawan jika mereka berhenti saling menyerang dan mulai saling menyembuhkan.
"Doni harus dibungkam, Ka," kata Laras setelah Arka cukup tenang. "Dan kali ini, bukan kamu yang pasang badan. Biar aku yang urus dia dengan caraku."