Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELANG PEMURNI DAN HARAPAN BARU
Dua minggu setelah Wei Chen membuat gelang pemurni...
Mei Ling duduk di beranda, memandangi gelang di pergelangan tangannya.
Batu giok di tengahnya tampak berkilauan setiap kali dia mengalirkan qi. Hangat. Menenangkan.
Sejak memakai gelang itu, batuknya berkurang. Wajahnya tidak sepucat dulu. Bahkan dia bisa bekerja ringan tanpa cepat lelah.
"Bagaimana rasanya?" Wei Chen duduk di sampingnya.
"Aneh." Mei Ling tersenyum. "Tapi aneh yang enak."
Wei Chen mengangguk. Tangannya meraih gelang itu, memeriksa.
Batu gioknya masih utuh. Kawat peraknya masih bagus. Tapi dia tahu ini hanya solusi sementara.
"Suatu hari, batu ini bisa habis," katanya. "Kekuatannya tidak abadi."
"Berapa lama bisa bertahan?"
"Mungkin setahun. Mungkin dua." Wei Chen menatapnya. "Tapi selama itu, aku akan cari cara yang lebih permanen."
Mei Ling diam. Lalu bertanya, "Chen, kenapa kau melakukan semua ini?"
Wei Chen mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Ini." Mei Ling menunjukkan gelangnya. "Perjalanan ke gunung. Eksperimen. Semua." Matanya menatapnya dalam. "Aku hanya gadis desa biasa. Bukan siapa-siapa. Kenapa kau repot-repot?"
Wei Chen diam. Pertanyaan itu menggelitik pikirannya.
Kenapa?
Di bumi, dia tidak pernah repot untuk siapa pun. Karyawan? Mereka digaji. Mitra bisnis? Mereka saling menguntungkan. Tidak ada yang gratis. Tidak ada yang tulus.
Tapi Mei Ling berbeda.
Dia tidak minta apa-apa. Tidak mengharap imbalan. Saat Wei Chen pertama kali datang, dia memberi makan tanpa tahu siapa dia. Memberi tempat tinggal tanpa syarat.
Dan saat Wei Chen hampir menyerah, dia ada di sana. Memeluk. Menguatkan.
"Mungkin... karena kau satu-satunya orang yang pernah peduli padaku tanpa alasan," jawab Wei Chen akhirnya.
Mei Ling tersenyum. Lembut.
"Kau juga, Chen. Kau satu-satunya yang peduli padaku tanpa melihat kutukanku."
Mereka diam. Tapi diamnya penuh makna.
---
Sore harinya, Toke Wijaya datang dengan kabar.
"Nak Wei, ada masalah."
Wei Chen mengangkat alis. "Apa?"
"Produksi kita lambat. Pesanan dari Klan Naga Hitam dan Klan Bunga Naga numpuk. Karyawan kita kewalahan."
Wei Chen berpikir. Di bumi, kalau produksi lambat, solusinya sederhana: tambah karyawan, atau otomatisasi.
Tambah karyawan mudah. Tapi otomatisasi... di dunia Murim, itu tantangan.
"Aku akan rekrut orang baru," katanya. "Lima orang."
"Lima? Cukup?"
"Cukup untuk sekarang. Nanti kita lihat lagi."
Toke Wijaya mengangguk. "Biaya naik."
"Aku tahu. Tapi pendapatan juga naik."
Toke Wijaya tersenyum. "Kau selalu punya hitungan."
"Hitungan itu yang buatku bertahan."
---
Malam harinya, Wei Chen merekrut lima pemuda desa.
Mereka datang dengan semangat. Gaji yang ditawarkan lebih tinggi dari rata-rata. Tapi Wei Chen juga kasih syarat: kerja keras, jujur, loyal.
Salah satu dari mereka — Joko — bertanya, "Tuan Wei, kenapa pilih kami?"
"Karena kalian muda, kuat, dan dari desa ini."
"Tapi banyak pemuda lain yang lebih pintar."
Wei Chen menggeleng. "Pintar bisa dilatih. Jujur dan loyal tidak."
Joko diam. Lalu mengangguk.
"Kami tidak akan mengecewakan, Tuan."
Wei Chen mengangguk. Percaya? Tidak sepenuhnya. Tapi dia akan uji mereka dulu.
---
Dua minggu kemudian, produksi berjalan lancar.
Lima karyawan baru cepat belajar. Produksi lampu dan tungku naik 30%. Pesanan mulai terkirim tepat waktu.
Toke Wijaya lega. "Kau benar, Nak. Tambah karyawan solusi tepat."
Wei Chen mengangguk. Tapi pikirannya sudah ke langkah berikutnya.
Dia duduk di meja kerjanya, menggambar sketsa baru.
Mesin sederhana. Menggunakan qi sebagai tenaga. Bisa memproduksi lampu lebih cepat, lebih banyak.
Di bumi, dia kenal konsep assembly line. Produksi massal. Di sini, dia harus menyesuaikan dengan teknologi yang ada.
Tapi prinsipnya sama.
Efisiensi.
---
Tiga hari kemudian, sketsa selesai.
Wei Chen menunjukkan pada Toke Wijaya.
"Ini apa?" tanya Toke Wijaya bingung.
"Mesin produksi."
"Mesin?"
"Alat yang bisa bikin lampu lebih cepat." Wei Chen menjelaskan cara kerjanya. Roda gigi. Sabuk. Tenaga qi.
Toke Wijaya mendengarkan dengan mulut menganga.
"Ini... ini gila."
"Gila bagaimana?"
"Tidak pernah ada yang bikin alat seperti ini."
"Akan ada yang pertama." Wei Chen menatapnya. "Aku butuh pandai besi. Bisa buat komponen ini."
Toke Wijaya mengangguk. "Ada. Di desa sebelah. Dia ahli."
"Besok aku ke sana."
---
Perjalanan ke desa sebelah memakan waktu setengah hari.
Pandai besi itu — Pak Karta — sudah tua, tapi tangannya masih kuat. Melihat sketsa Wei Chen, dia mengerutkan kening.
"Ini... rumit."
"Bisa buat?"
Pak Karta diam. Memeriksa sketsa dengan teliti.
"Mungkin. Tapi butuh waktu. Dan bahan bagus."
"Aku punya bahan. Dan waktu."
Pak Karta menatapnya. "Kau serius?"
"Serius."
Pak Karta tersenyum. "Sudah lama tidak ada tantangan." Dia mengangguk. "Baik. Aku coba."
---
Dua bulan kemudian, mesin pertama selesai.
Wei Chen datang ke bengkel Pak Karta. Melihat mesin itu dengan rasa bangga.
Bentuknya sederhana. Roda kayu dengan gigi-gigi besi. Sabuk kulit. Dan di tengahnya, kristal qi sebagai sumber tenaga.
"Coba," kata Pak Karta.
Wei Chen mengaktifkan mesin. Kristal qi menyala. Roda berputar. Sabuk bergerak.
Lampu pertama keluar dari cetakan. Cepat. Rapi.
Wei Chen tersenyum. Langka.
"Ini... ini luar biasa," bisiknya.
Pak Karta tertawa. "Aku tidak tahu apa yang kau buat, Nak. Tapi ini kerja bagus."
Wei Chen menepuk bahunya. "Terima kasih, Pak. Kau akan dapat bonus besar."
---
Mesin itu dipasang di bengkel produksi.
Karyawan awalnya bingung. Tapi Wei Chen mengajari mereka cara pakai.
Seminggu kemudian, produksi naik 100%. Dua minggu kemudian, 200%.
Pesanan dari Klan Naga Hitam dan Klan Bunga Naga terkirim lebih cepat. Mereka puas. Pesanan baru masuk.
Toke Wijaya menghitung keuntungan. Matanya melebar.
"Nak Wei... kita kaya."
Wei Chen menggeleng. "Belum. Tapi mulai."
Toke Wijaya tertawa. "Kau memang aneh."
---
Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda bersama Mei Ling.
Bulan purnama. Bintang-bintang bertaburan.
"Chen, mesin itu... kau hebat."
"Aku hanya ingat masa lalu."
"Masa lalu di tempat asalmu?"
Wei Chen mengangguk.
Mei Ling diam. Lalu bertanya, "Kau kangen?"
Wei Chen berpikir. Kangen? Dulu mungkin iya. Tapi sekarang...
"Tidak." Jujur. "Di sini lebih baik."
"Benarkah?"
Wei Ching menatapnya. Wajah Mei Ling di bawah cahaya bulan — lembut, hangat.
"Benar."
Mei Ling tersenyum. Tangannya meraih Wei Chen.
Mereka berpegangan tangan. Diam. Menikmati malam.
Tapi di dalam hati Wei Chen, ada tekad yang menguat.
Suatu hari, aku akan sembuhkan dia sepenuhnya.
Tidak hanya menunda.
---
Chapter 13 END.
---