Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Tersisa
Seminggu setelah pengumuman merger, kehidupan Alina berubah ritmenya.
Jika sebelumnya ia bertarung untuk mempertahankan, kini ia memimpin untuk menyatukan.
Namun menyatukan dua perusahaan besar bukan perkara menandatangani dokumen dan berbagi kursi eksekutif. Ada ego yang terluka. Ada ambisi yang tertahan. Ada ketidakpercayaan yang belum sepenuhnya hilang.
Pagi itu, ruang rapat utama Ardhana Aurora Group dipenuhi wajah-wajah baru dan lama.
Tim integrasi sedang mempresentasikan hasil audit awal.
“Beberapa proyek luar negeri menunjukkan ketidaksesuaian laporan keuangan,” jelas kepala tim audit independen. “Tidak besar, tapi cukup untuk menimbulkan pertanyaan.”
Alina mendengarkan dengan tenang.
“Apakah ada indikasi pelanggaran hukum?” tanyanya.
“Masih dalam tahap penelusuran.”
Beberapa mantan eksekutif Aurora terlihat gelisah.
Arsen berbicara dengan nada stabil, “Kita sudah sepakat pada transparansi penuh. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.”
Alina mengangguk kecil.
“Kita tidak mencari kambing hitam,” tambahnya. “Kita mencari kejelasan.”
Namun di balik kata-kata itu, ia tahu tidak semua orang merasa aman.
Sore hari, seorang wanita muda dari tim hukum mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Ada dokumen yang perlu Anda lihat secara pribadi,” katanya hati-hati.
Alina menerima map itu.
Isinya adalah korespondensi internal lama Aurora beberapa di antaranya bertanggal sebelum konflik dengan Ardhana memuncak.
Ia membaca dengan saksama.
Dan di antara email-email formal itu, ada satu nama yang membuatnya berhenti.
Nama ayahnya.
Alina menelan ludah.
Email tersebut menunjukkan bahwa beberapa tekanan finansial terhadap perusahaan ayahnya dulu bukan sepenuhnya keputusan Daniel.
Ada pihak lain di dewan yang mendorong strategi agresif untuk menjatuhkan kompetitor termasuk perusahaan keluarganya.
Ia menutup map perlahan.
“Siapa saja yang sudah membaca ini?” tanyanya.
“Hanya tim audit inti.”
“Jangan disebarkan dulu.”
Wanita itu mengangguk dan keluar.
Ruangan kembali sunyi.
Jadi bukan hanya Daniel.
Ada bayangan lain di balik semua ini.
Malamnya, Alina menceritakan temuannya kepada Arsen.
Mereka duduk di ruang keluarga, tanpa jas dan tanpa agenda resmi.
“Artinya, konflik ini lebih dalam dari yang kita kira,” kata Arsen pelan.
Alina mengangguk.
“Ayahku mungkin tidak pernah tahu siapa yang benar-benar menekan perusahaannya.”
“Dan sekarang orang-orang itu masih ada dalam struktur kita,” tambah Arsen.
Keheningan terasa lebih berat dari biasanya.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanyanya lembut.
Alina menatap cangkir teh di tangannya.
“Jika aku membongkar ini sekarang, perusahaan baru saja berdiri. Gejolak internal bisa merusak kepercayaan pasar.”
“Dan jika kau diam?”
“Aku mengkhianati prinsip transparansi yang baru saja kuucapkan.”
Arsen menatapnya lama.
“Kau selalu berada di antara dua pilihan sulit.”
Alina tersenyum tipis.
“Karena pilihan mudah jarang benar.”
Beberapa hari berikutnya, suasana kantor terasa lebih tegang.
Rumor mulai beredar bahwa audit menemukan sesuatu yang besar.
Beberapa mantan eksekutif Aurora terlihat sering berkumpul sendiri.
Alina memanggil Arsen ke ruangannya.
“Kita perlu rapat tertutup dengan dewan,” katanya.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Rapat itu berlangsung tanpa publikasi.
Di ruangan itu, Alina meletakkan salinan dokumen di atas meja.
“Saya menemukan bukti bahwa beberapa keputusan agresif di masa lalu didorong oleh individu tertentu dalam dewan lama,” katanya tenang.
Beberapa wajah memucat.
Salah satu pria senior mencoba tersenyum tipis. “Masa lalu sebaiknya tidak terus digali, Nyonya Alina. Kita sudah memasuki bab baru.”
Alina menatapnya tanpa berkedip.
“Bab baru tidak berarti mengabaikan akar masalah.”
Arsen menambahkan, “Jika kita ingin perusahaan ini benar-benar bersih, kita tidak bisa membangun di atas fondasi yang rapuh.”
Pria itu menghela napas panjang.
“Dan apa yang Anda inginkan?”
Alina menjawab tanpa ragu.
“Pengunduran diri sukarela dari siapa pun yang terlibat langsung dalam strategi manipulatif masa lalu.”
Ruangan itu sunyi.
“Jika tidak?” tanya seseorang pelan.
Alina menyilangkan tangan.
“Maka kita akan menyerahkan hasil audit ke otoritas yang berwenang.”
Ancaman itu tidak diucapkan dengan nada tinggi.
Tapi cukup jelas.
Beberapa menit berlalu sebelum satu per satu anggota dewan yang terlibat menyatakan akan mempertimbangkan pengunduran diri.
Setelah rapat itu, Arsen berjalan berdampingan dengannya di lorong kantor.
“Kau baru saja membuat musuh baru,” katanya pelan.
Alina mengangguk.
“Aku tahu.”
“Takut?”
Ia berhenti sejenak, menatap dinding kaca yang memantulkan bayangan mereka berdua.
“Tidak lagi.”
Arsen tersenyum tipis.
“Apa yang berubah?”
Alina menoleh padanya.
“Dulu aku bertindak untuk membela diri. Sekarang aku bertindak untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.”
Arsen mengangguk perlahan.
“Perusahaan ini?”
Alina tersenyum lembut.
“Dan kita.”
Malam itu, saat mereka akhirnya pulang, hujan turun perlahan.
Alina berdiri di dekat jendela rumah, memandangi tetesan air yang mengalir di kaca.
Ia teringat masa-masa ketika ia dianggap wanita murahan yang menikah demi uang.
Ia teringat tatapan meremehkan.
Ia teringat rasa takut kehilangan segalanya.
Sekarang, ia memimpin perusahaan gabungan yang mengubah industri.
Namun anehnya, yang paling membuatnya bangga bukan jabatan atau kekuasaan.
Melainkan kenyataan bahwa ia tidak lagi menyembunyikan siapa dirinya.
Arsen mendekat dari belakang, melingkarkan tangan di pinggangnya.
“Masih banyak yang harus kita bereskan,” katanya pelan.
“Ya.”
“Tapi kau tidak sendiri.”
Alina menutup matanya sejenak, merasakan kehangatan itu.
Bayangan masa lalu mungkin belum sepenuhnya hilang.
Masih ada luka, masih ada pihak yang mungkin tidak puas.
Namun kali ini, ia tidak bergerak karena tekanan.
Ia bergerak karena keyakinan.
Dan jika ada bayangan yang mencoba kembali mengusik ia tahu sekarang, ia tidak akan goyah.
Karena ia tidak lagi berdiri sebagai pewaris yang bersembunyi.
Ia berdiri sebagai pemimpin.
Dan sebagai perempuan yang akhirnya memilih cintanya, bukan hanya strateginya.
(BERSAMBUNG)