NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22 — SATU JATUH

Tidak ada yang bergerak.

Sosok di atas batu itu berdiri tenang, seolah hutan adalah miliknya. Busur pendek di tangan kirinya terangkat setengah, anak panah sudah terpasang, tapi ujungnya tidak diarahkan ke siapa pun—belum.

Ia hanya menatap.

Tatapan itu membuat Raka membeku. Bukan karena tajam, tapi karena terasa dingin dan meusuk jiwa. Seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum bertemu.

Nenek tua itu melangkah setengah ke depan, sedikit memiringkan tubuhnya, maju menutup sebagian tubuh Raka.

“Hei, turun,” katanya datar. “Turun kalau kamu mau bicara.”

Sosok itu tersenyum. Tipis. Hampir sopan.

“Hohoho kalau aku turun....,” jawabnya pelan, “satu dari kalian harus mati.”

Tidak ada aksen berlebihan. Tidak ada nada tinggi. Rapi—terlalu rapi untuk hutan seperti ini.

Seseorang di belakang Raka bergeser. Tanah berkeresek pelan.

Wuuut.

Anak panah melesat.

Bukan ke orang yang bergerak—melainkan ke tanah di depannya. Menancap, bergetar.

“Hei Jangan bergerak secara tiba-tiba,” kata sosok itu. “Aku masih menghitung...”

Napas Raka tercekat.

Nenek tua itu mengangkat tangannya perlahan, telapak terbuka. Isyarat tenang. Isyarat untuk membuat formasi pertahanan.

“Hmmm..... Siapa kamu, kamu bukanlah pemburu biasa,” katanya. “Kamu telah menunggu dalam dian terlalu lama.”

Sosok itu mengangguk kecil. “Karena yang kami cari bukanlah dari kalian.”

Kata kami menggantung di udara.

Raka merasakan perutnya mengencang.

“Lalu kenapa membunuh orang-orang kami?” tanya seseorang dengan suara bergetar marah.

“Supaya kamu bertanya begitu,” jawabnya ringan.

Tiba-tiba—crack!

Dari kanan, sebuah dahan patah.

Refleks nenek tua itu bergerak. Tangannya menyambar sesuatu dari balik kainnya—bilah pendek, tipis, berkilat kusam.

“Sekarang,” gumamnya.

Hutan meledak.

Dari balik semak, dua bayangan muncul bersamaan. Gerakan rendah, cepat, seperti binatang besar yang sudah lama lapar.

Salah satu dari mereka langsung menerjang ke arah Raka.

Tubuh Raka terdorong ke belakang. Ia jatuh terduduk, punggung menghantam batu. Pandangannya buram.

Sosok itu sudah di atasnya.

Raka mengangkat tangan, refleks. Bilah dingin menggores lengannya. Darah segar muncul, panas.

Ia menjerit—tertahan.

Tiba-tiba, tubuh penyerangnya terhuyung.

Seseorang dari kelompok nenek menabraknya dari samping. Mereka berguling ke tanah, saling menghantam.

Tidak ada teriakan heroik. Tidak ada jurus indah.

Hanya pukulan. Sikut. Gigi menggigit kain.

Di sisi lain, nenek tua itu bertarung dengan satu orang lain. Gerakannya tidak cepat, tapi tepat. Setiap langkah kecil, setiap ayunan tangan, seolah sudah dihitung sejak lama.

Tang! Tang!

Bilah beradu. Percikan kecil muncul. Bau besi.

Raka berusaha bangkit. Dunia berputar. Kakinya gemetar.

Sosok pemanah di atas batu melompat turun.

Mendarat ringan. Seperti tidak punya berat badan.

Ia berjalan mendekat ke arah Raka.

Nenek tua itu melihatnya. Matanya melebar sedikit—bukan takut, tapi sadar.

“Hei Jangan ke anak kecil,” katanya keras.

Pemanah hanya diam, kemudian berhenti dua langkah dari Raka.

Ia menunduk, menatap luka di lengan Raka. Darah menetes ke tanah.

“Hmmm, masih anak-anak,” katanya pelan. “Tapi, darahnya cepat keluar.”

Raka mundur. Punggungnya menyentuh batu lagi. Tidak ada jalan.

“Kenapa aku?” tanya Raka, suaranya pecah. “Aku bukan siapa-siapa.”

Pemanah itu mengangkat wajahnya. Senyum tipisnya menghilang.

“Justru karena itu nak,” jawabnya.

Dari samping, terdengar teriakan tertahan. Salah satu orang kelompok nenek terlempar ke tanah. Dadanya berdarah. Napasnya pendek, tersendat.

Nenek tua itu menoleh cepat.

Kesalahan kecil.

Lawan di depannya memanfaatkan celah. Bilahnya melesat, menggores bahu nenek tua itu. Darah gelap mengalir.

“Eyang!” seseorang berteriak.

Pemanah itu mengangkat busurnya.

Anak panah diarahkan—bukan ke nenek, bukan ke Raka, tetapi ke orang yang tergeletak di tanah, yang dadanya naik turun cepat, yang tangannya masih mencoba meraih tanah.

“Tidak!” teriak Raka.

Wuuut.

Anak panah menembus leher.

Tubuh itu tersentak sekali, lalu diam.

Sunyi seketika.

Darah mengalir ke tanah, membentuk garis kecil yang pelan-pelan melebar.

Raka menatapnya. Matanya terbuka. Mulutnya setengah terbuka. Seolah ingin bicara, tapi tidak sempat.

Orang itu mati.

Bukan dalam pertarungan besar.

Bukan dengan kehormatan.

Mati begitu saja.

Raka merasakan sesuatu runtuh di dadanya.

“Kenapa…,” bisiknya. “Kenapa harus dia?”

Pemanah itu menurunkan busurnya. “Karena satu harus jatuh,” katanya. “Biar yang lain bisa terus berjalan.”

Nenek tua itu berdiri terhuyung. Darah di bahunya mengalir deras. Wajahnya pucat, tapi matanya masih menyala.

“Kamu sudah membunuh satu orang,” katanya berat. “Sekarang pergilah.”

Pemanah itu tertawa kecil. Pendek. Tanpa senang.

“hehehe, belum waktunya nek,” katanya. “Ini baru awal saja.”

Ia melangkah mundur. Satu langkah. Dua.

Bayangan lain mulai mundur juga. Tidak mengejar. Tidak menekan.

Seperti pertunjukan yang sudah selesai.

“Lain kali,” kata pemanah itu, menatap Raka, “yang kami bunuh bukan pilihan kami lagi.”

Lalu mereka menghilang.

Begitu saja.

Hutan kembali sunyi.

Raka berlutut. Tangannya gemetar. Ia merangkak ke tubuh yang tergeletak. Menyentuh bahunya. Dingin.

“Maaf…,” katanya lirih. “Maaf…”

Tidak ada jawaban.

Nenek tua itu mendekat pelan. Ia berlutut juga. Meletakkan tangannya di bahu Raka.

“Jangan minta maaf kepada yang sudah mati,” katanya pelan. “Urusan mereka sudah selesai.”

“Lalu harus minta maaf ke siapa, Nek?” Raka menangis tertahan.

Nenek itu menatap ke arah hutan gelap. Ke arah para pemburu menghilang.

“Ke yang masih hidup,” jawabnya. “Karena merekalah yang akan diburuh dan dibunuh.”

Raka mendongak.

“Diburuh? kenapa?”

Nenek tua itu tidak menjawab.

Ia berdiri dengan susah payah. Darah dari bahunya menetes ke tanah. Satu tetes. Dua.

“Kita jalan saja dulu,” katanya. “Sekarang.”

“Ke mana?”

“Ke tempat.....,” jawabnya pelan, “di mana tidak semua dari kita akan bisa keluar hidup-hidup.”

Raka menoleh ke tubuh yang ditinggalkan. Dadanya terasa kosong. Sesuatu di dalam dirinya retak—bukan pecah, tapi cukup untuk tidak pernah kembali utuh. Saat mereka mulai bergerak, dari kejauhan—sangat jauh—terdengar suara lain.

Bukan langkah.

Bukan panah.

Suara logam beradu.

Seperti senjata disiapkan.

Nenek tua itu berhenti sejenak.

“Jumlah mereka telah bertambah,” gumamnya.

Raka menatapnya, mata merah.

“Berapa Nek?”

Nenek itu menatap lurus ke depan.

“Lebih dari yang bisa kita hitung,” katanya.

Dan di balik pepohonan, bayangan-bayangan lain mulai bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!