"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Tes Dari Sang Iblis
Mobil Rolls-Royce Phantom itu melaju membelah jalanan Jakarta dengan keheningan yang mencekam. Clarissa—yang kini bernapas dalam tubuh Lestari—duduk dengan punggung tegak di samping Devan Mahendra. Meskipun ia hanya mengenakan seragam pelayan yang sedikit berbau sabun lantai, auranya sama sekali tidak menunjukkan kerendahan hati.
"Kau sangat tenang untuk ukuran seorang tukang pel yang baru saja diculik oleh pria asing," suara Devan memecah keheningan. Matanya masih menatap layar tablet, namun fokusnya sepenuhnya ada pada gadis di sampingnya.
Clarissa menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tampak sangat berkelas. "Tuan Devan, Anda tidak terlihat seperti penculik. Anda terlalu kaya dan terlalu... tampan untuk melakukan pekerjaan sekasar itu."
Devan menghentikan gerakan jarinya di atas layar. Ia menoleh perlahan, menatap mata Clarissa dengan intensitas yang bisa membuat gadis biasa pingsan di tempat. "Kau baru saja mengomentari wajahku?"
"Hanya menyatakan fakta, Tuan. Tapi fakta yang lebih penting adalah... perutku sudah keroncongan," balas Clarissa dengan santai, mengalihkan pembicaraan sebelum Devan menggali lebih dalam.
Devan mendengus pelan, sebuah reaksi yang sangat jarang ia tunjukkan. "Supir, ke Restoran L’Etoile."
Clarissa sedikit terkejut. L’Etoile? Itu adalah restoran Prancis paling eksklusif di kota ini. Tempat di mana ia sering mengadakan pertemuan bisnis dulu.
Setibanya di sana, kedatangan Devan langsung disambut oleh manajer restoran yang membungkuk hormat. Mata para pengunjung—yang rata-rata adalah kaum sosialita—tertuju pada mereka. Lebih tepatnya, tertuju pada Clarissa.
"Lihat itu, kenapa Tuan Devan membawa pelayan ke sini?"
"Apa dia kehilangan selera? Gadis itu terlihat sangat dekil!"
Bisikan-bisikan sinis itu sampai ke telinga Clarissa. Namun, alih-alih menunduk malu, Clarissa justru melangkah dengan dagu terangkat. Ia sudah biasa menjadi pusat perhatian, dan komentar sampah seperti itu tidak akan melukainya.
Devan menarik kursi untuk Clarissa—sebuah tindakan yang membuat seisi restoran terkesiap. "Duduk."
"Terima kasih, Tuan yang murah hati," ucap Clarissa formal.
Seorang pelayan datang membawakan menu. Semuanya tertulis dalam bahasa Prancis tanpa terjemahan. Ini adalah tes pertama dari Devan. Ia ingin melihat apakah "Lestari" benar-benar hanya seorang gadis lulusan SMA yang beruntung, atau sesuatu yang lebih.
"Silakan pesan, Lestari. Atau kau ingin aku membacakannya untukmu?" Devan bertanya dengan nada meremehkan yang halus.
Clarissa membuka menu itu. Matanya dengan cepat memindai daftar hidangan. Tanpa ragu, ia menunjuk ke arah pelayan.
"Je mauvrais le Coq au Vin dengan kematangan sempurna, dan tolong pastikan sausnya tidak terlalu banyak mengandung thyme. Untuk minumnya, segelas air mineral dengan suhu ruangan saja," ucap Clarissa dengan pelafalan bahasa Prancis yang sangat fasih dan elegan.
Pelayan itu melongo. Devan membeku di tempatnya.
"Ada yang salah, Tuan Devan? Anda bilang saya boleh memesan," tanya Clarissa dengan wajah polos yang dibuat-buat.
"Di mana... di mana kau belajar bahasa Prancis?" tanya Devan, suaranya kini terdengar lebih serius. Tidak ada lagi nada meremehkan, yang ada hanya kecurigaan yang mendalam.
"Oh, itu? Saya sering menonton film Prancis sambil mengepel di gudang. Ternyata bahasa mereka tidak sesulit itu ya?" Clarissa berbohong tanpa berkedip.
Devan menyipitkan mata. Bohong. Tidak ada orang yang belajar pelafalan sekelas bangsawan hanya dari menonton film di gudang.
Makanan datang tak lama kemudian. Clarissa mulai makan dengan etiket yang sangat sempurna. Cara dia memegang pisau, cara dia menyeka sudut bibirnya dengan serbet... semuanya adalah gerakan yang telah dilatih selama bertahun-tahun di lingkungan elit.
Tiba-tiba, Devan meletakkan sebuah map di atas meja, tepat di samping piring Clarissa.
"Ini adalah draf kontrak kerja sama antara Mahendra Group dan K-Corp yang baru saja kubatalkan," ucap Devan. "Tadi di lorong, kau bilang kontrak ini adalah cara untuk mencuci uang pajak. Tunjukkan padaku di bagian mana."
Clarissa menghentikan makannya. Ia tahu ini adalah momen krusial. Jika ia membantu Devan, ia akan mendapatkan perlindungan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi tukang pel yang bisa diinjak oleh Kenzo kapan saja.
Clarissa mengambil pulpen dari saku jas Devan tanpa permisi—tindakan yang membuat Devan tertegun sejenak karena keberanian gadis ini—dan mulai melingkari beberapa angka di halaman empat belas.
"Lihat di sini," Clarissa menunjuk dengan ujung pulpen. "Kenzo memasukkan biaya 'Konsultasi Teknis' sebesar 15 persen dari total nilai proyek. Padahal, perusahaan vendor yang tertera di sini adalah perusahaan cangkang milik keluarga Angelica. Uang itu akan diputar kembali ke kantong pribadi mereka tanpa terdeteksi pajak sebagai biaya operasional."
Clarissa menjelaskan dengan sangat tajam, logis, dan penuh wibawa. Saat ia bicara, aura "Queen Clarissa" terpancar begitu kuat hingga Devan tidak bisa memalingkan wajah.
"Kenzo berpikir dia pintar, padahal dia meninggalkan jejak yang sangat mencolok bagi orang yang tahu cara membaca angka," pungkas Clarissa sambil mengembalikan pulpen ke tangan Devan.
Saat mengembalikan pulpen, jari-jari Clarissa tanpa sengaja bersentuhan dengan kulit tangan Devan. Sebuah sengatan listrik seolah menjalar di antara mereka. Devan tidak menarik tangannya, ia justru menggenggam tangan kecil Clarissa yang kasar namun terasa pas di genggamannya.
"Siapa kau sebenarnya?" Devan bertanya dengan suara rendah, matanya mencari jawaban di dalam mata Clarissa. "Kau bicara seperti seorang ahli keuangan, kau makan seperti putri raja, dan kau... kau memiliki tatapan yang sama dengan Clarissa."
Jantung Clarissa berdegup kencang. "Tuan Devan, saya sudah bilang—"
"Berhenti menyebut namaku dengan nada formal itu jika kau sedang membedah kontrak miliaran rupiah di depanku!" Devan sedikit menaikkan suaranya karena frustrasi.
Tiba-tiba, sebuah suara melengking mengganggu suasana.
"Sayang, lihat! Bukankah itu si pelayan kurang ajar tadi?"
Clarissa menoleh dan melihat Kenzo dan Angelica berjalan menuju meja mereka. Tampaknya mereka sengaja membuntuti Devan untuk mencoba memperbaiki negosiasi.
Angelica menatap Clarissa dengan jijik. "Lestari! Beraninya kau duduk di meja makan dengan Tuan Devan! Kau itu hanya sampah di kantor kami, tahu diri sedikit!"
Kenzo juga menimpali dengan wajah sinis, "Tuan Devan, maafkan kelakuan pelayan saya ini. Dia pasti menggoda Anda dengan cara yang murahan. Lestari, cepat berdiri dan kembali ke gudang!"
Clarissa merasakan kemarahan membuncah di dadanya. Namun, sebelum ia sempat membalas, Devan sudah lebih dulu berdiri.
Devan merangkul bahu Clarissa dengan posesif, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan.
"Kalian salah paham," ucap Devan dingin, tatapannya sanggup membekukan aliran darah Kenzo. "Lestari bukan lagi pelayanmu, Kenzo. Mulai detik ini, dia adalah Konsultan Strategis pribadiku. Dan siapa pun yang menyebutnya sampah... artinya dia sedang menghina Mahendra Group."
Kenzo dan Angelica terbelalak. "Kon... Konsultan?!"
"Pulanglah, Kenzo. Dan siapkan pengacaramu. Aku akan menuntut pembatalan kontrak sepihak karena adanya indikasi penipuan pajak yang baru saja ditemukan oleh 'Konsultanku' ini," Devan tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan yang sangat memuaskan bagi Clarissa.
Kenzo gemetar hebat, sementara Angelica hampir menangis karena malu di depan para sosialita lainnya. Mereka pergi dengan langkah seribu.
Setelah mereka pergi, Clarissa melepaskan diri dari rangkulan Devan. "Konsultan? Anda berbohong demi membantuku?"
Devan kembali duduk dan menyesap kopinya dengan tenang. "Aku tidak pernah berbohong soal bisnis. Kau memang pintar. Jadi, anggap saja ini tawaran kerja. Kau membantuku menghancurkan K-Corp, dan aku akan memberimu apa pun yang kau mau."
Clarissa menatap Devan dengan serius. "Apa pun?"
"Apa pun. Uang, kekuasaan, atau... kepala Kenzo di atas piring," ucap Devan dengan nada gelap.
Clarissa tersenyum lebar. Kali ini, senyumnya tulus. "Deal. Tapi ada satu syarat, Tuan Devan."
"Apa?"
"Aku tidak mau dipanggil 'Lestari' saat kita hanya berdua. Panggil aku... Ratu."
Devan terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Baiklah, Ratu. Mari kita mulai perangnya."
Malam itu, Clarissa pulang ke kontrakan kecilnya dengan perasaan menang. Namun, saat ia membuka pintu, ia menemukan sepucuk surat misterius terselip di bawah pintu.
“Aku tahu kau bukan Lestari. Sampai jumpa di neraka, Kakak.”
Darah Clarissa mendesir hebat. Apakah Angelica sudah tahu? Atau ada orang lain yang mengawasinya?