NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang yang Mendekat

Malam berikutnya terasa lebih berat dari biasanya. Hujan sudah berhenti, tapi udara Yorknew masih lembab, membuat setiap hembusan angin terasa seperti sentuhan dingin di kulit. Raito dan Mira duduk di atap penginapan—bukan balkon kecil lagi, tapi atap datar yang bisa diakses lewat tangga darurat. Di sini mereka bisa melihat kota dari ketinggian: lampu neon yang berkedip seperti denyut nadi raksasa, mobil-mobil yang meluncur seperti darah di pembuluh, dan kegelapan yang selalu mengintai di antara gedung-gedung tinggi.

Raito duduk bersila, tangan terbuka di pangkuan. Dia sedang latihan Dawn Pulse—kabut cahaya tipis yang sekarang bisa dia pertahankan hampir setengah jam tanpa kehilangan fokus. Mira berdiri di pinggir atap, memandang ke bawah, tangan di saku jaket.

“Kamu sudah bisa jaga kabut itu lama,” kata Mira, suaranya pelan tapi jelas. “Tapi besok kalau Shadow Serpent datang, mereka nggak akan kasih waktu untuk meditasi. Mereka akan serang langsung.”

Raito membuka mata. Kabut cahaya di sekitarnya berdenyut pelan, seperti napas. “Aku tahu. Tapi aku nggak mau pakai kekuatan ini cuma untuk bertahan. Aku mau pakai untuk lindungi. Untuk cari tahu. Untuk… pulang, kalau memang itu jalan yang benar.”

Mira berbalik, duduk di sebelahnya. “Kamu sering bilang ‘pulang’. Tapi kamu pernah mikir apa yang akan kamu lakukan kalau portal itu terbuka, dan kamu benar-benar bisa kembali?”

Raito diam sejenak. Dia memandang kabut cahaya di tangannya—sekarang sudah lebih stabil, warnanya lebih keemasan daripada kuning pucat. “Aku nggak tahu. Di dunia lama aku cuma kerja shift malam, cuci piring, pulang ke kamar kos kecil. Nggak ada yang spesial. Di sini… aku punya tujuan. Meski tujuannya kadang terasa kabur.”

Mira mengangguk pelan. “Aku juga nggak tahu apa yang akan aku lakukan kalau semua dendam ini selesai. Mungkin aku akan cari tempat tenang. Mungkin aku akan terus bergerak. Tapi yang pasti… aku nggak mau sendirian lagi.”

Raito menoleh. “Kamu nggak akan sendirian. Kalau aku pergi, aku akan cari cara kembali. Atau… bawa kamu ikut.”

Mira tertawa kecil—tawa yang ringan, hampir seperti anak kecil. “Kamu terlalu optimis. Portal itu nggak seperti pintu kereta. Harlan bilang sendiri: kalau niat tercemar, batu akan makan pemakainya. Kamu yakin niatmu murni?”

Raito menggeleng. “Nggak yakin. Makanya aku nggak mau pegang batu itu sekarang. Aku mau pastikan dulu… apa yang aku rela lepaskan. Dan apa yang nggak mau aku lepaskan.”

Mereka diam lagi. Kabut cahaya di sekitar Raito berdenyut pelan, seperti detak jantung kedua.

Tiba-tiba Mira menegang. “Ada yang datang.”

Raito langsung aktifkan indera. Dawn Pulse-nya memperluas jangkauan—kabut tipis itu seperti antena, merasakan gangguan di udara. Ada empat aura mendekat dari tangga darurat. Aura yang dingin, licin, seperti ular.

Mira berdiri, tarik pisau. “Shadow Serpent. Mereka cepat sekali.”

Raito berdiri juga. Kabut cahaya mengembang lebih lebar, menerangi atap seperti embun pagi yang bercahaya. “Mereka nggak akan kasih kita waktu bicara.”

Tangga darurat berderit. Empat orang muncul—semua mengenakan jaket kulit dengan lambang ular hitam. Yang depan adalah pria botak yang pernah mereka temui di pasar gelap—tato ular di lehernya masih terlihat jelas.

“Kalian nggak bisa lari selamanya,” kata pria botak. “Bos Viktor bilang: bawa anak cahaya itu hidup-hidup. Kalau nggak bisa, bawa mayatnya juga boleh.”

Mira maju selangkah. “Coba saja.”

Pertarungan pecah seketika.

Dua orang langsung menyerang Mira—pisau dan tongkat besi. Mira menghindar lincah, balas dengan pisau cepat ke lengan salah satu. Darah muncrat, tapi pria itu tidak berhenti—dia pakai aura Enhancement kecil untuk tahan sakit.

Raito menghadapi dua lainnya. Yang satu pakai rantai besi dibungkus aura dingin seperti Blind Shadow. Yang lain memegang pisau ganda, gerakannya cepat seperti Lena.

Raito aktifkan Dawn Pulse penuh—kabut cahaya mengelilingi tubuhnya seperti perisai hidup. Rantai besi mengayun ke arah kepalanya—kabut menahan, rantai memantul dengan suara denting keras. Raito balas dengan pukulan lurus—tinju dibungkus aura Enhancement, mengenai dada pria rantai. Pria itu terhuyung, tapi tidak jatuh.

Pisau ganda maju dari samping. Raito menghindar, tapi satu pisau menggores bahu—luka lama terbuka lagi, darah menetes.

Mira berteriak. “Raito! Gunakan gelombang!”

Raito tarik napas dalam. Dia angkat kedua tangan—Dawn Pulse berubah bentuk. Bukan kabut pertahanan lagi, tapi riak gelombang kecil yang menyebar dari tubuhnya seperti riak air di kolam. Gelombang itu menyentuh dua lawannya—bukan menyakitkan, tapi mengganggu aura mereka. Aura dingin pria rantai mulai retak, gerakannya melambat. Aura pisau ganda juga terganggu—pukulannya jadi lemah.

Raito manfaatkan momen itu. Dia maju ke pria rantai—pukulan ke perut, lalu siku ke rahang. Pria itu jatuh pingsan. Ke pria pisau ganda—tendangan rendah ke lutut, lalu pukulan atas ke dagu. Pria itu ambruk.

Di sisi Mira, dia sudah selesai dengan dua lawannya—satu terkapar dengan luka dalam di paha, satu lagi meringkuk memegang lengan yang patah.

Pria botak berdiri sendirian sekarang. Matanya melebar. “Kalian… monster.”

Mira maju ke arahnya. “Pergi. Bilang ke Viktor: kalau dia mau bicara, datang sendiri. Kalau kirim anak buah lagi, kami nggak akan kasih ampun.”

Pria botak mundur pelan, lalu lari ke tangga darurat.

Raito membiarkan Dawn Pulse padam. Tubuhnya gemetar—bukan karena capek fisik, tapi karena beban emosi. Dia jatuh duduk di atap, napas tersengal.

Mira mendekat, duduk di sebelahnya. “Kamu baik-baik saja?”

Raito mengangguk pelan. “Aku… nggak suka ini. Aku nggak suka harus melukai orang hanya karena mereka dikirim.”

Mira meletakkan tangan di bahunya. “Kamu nggak melukai mereka karena benci. Kamu melukai mereka karena lindungi kita. Itu beda.”

Raito memandang tangannya—darah menetes dari luka bahu. “Tapi rasanya sama saja. Darah tetap darah.”

Mira diam sejenak. Lalu dia bicara pelan. “Dulu aku juga mikir begitu. Setiap orang yang aku bunuh di perang, aku bilang ke diri sendiri: ‘Ini demi bertahan’. Tapi lama-lama, darah itu jadi noda yang nggak hilang. Makanya aku berhenti jadi tentara bayaran. Makanya aku pilih jalan sendirian.”

Raito menatapnya. “Tapi sekarang kamu nggak sendirian lagi.”

Mira tersenyum tipis. “Karena kamu keras kepala. Kamu nggak mau aku tinggalin kamu, aku juga nggak mau tinggalin kamu.”

Raito tertawa kecil—tawa lelah tapi lega. “Kita sama-sama keras kepala.”

Mereka duduk diam di atap, memandang kota yang masih hidup meski malam sudah larut.

Setelah beberapa menit, Mira bicara lagi. “Besok kita ke Harlan. Bukan untuk ambil batu—untuk tanya satu hal lagi. Apa pengorbanan itu bisa ditunda? Apa ada cara lain buka portal tanpa korbankan apa pun?”

Raito mengangguk. “Dan kalau jawabannya nggak, kita cari cara lain. Aku nggak mau buru-buru. Aku mau pastikan… kalau aku pergi, aku nggak tinggalkan penyesalan.”

Mira berdiri, ulurkan tangan. “Ayo masuk. Besok pagi kita latihan lagi. Dan malamnya… kita hadapi apa pun yang datang.”

Raito ambil tangan itu, berdiri. Kabut cahaya kecil muncul lagi di sekitar mereka berdua—bukan untuk bertarung, tapi seperti selimut hangat yang melindungi.

Mereka masuk ke dalam, meninggalkan atap yang basah.

Di luar, Yorknew terus bernapas—gelap, berisik, penuh bahaya.

Tapi di dalam dada Raito, cahaya masih berdenyut—pelan, tapi pasti.

Dan untuk pertama kalinya, dia merasa bukan hanya cahaya yang harus bertahan.

Dia merasa cahaya itu mulai punya rumah.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!