💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di kelas XI-IPA 1, Vano masih berusaha memecahkan teka-teki bernama Senja. Ia mengamati setiap gerak-geriknya, mencoba menerjemahkan ekspresi datar yang nyaris tanpa cela itu. Ada sesuatu pada gadis ini yang membuatnya penasaran, sesuatu yang lebih dari sekadar rasa ingin tahu.
Senja tampak tenang, terhanyut dalam dunianya sendiri. Namun, Vano melihatnya: kesedihan yang tersembunyi, beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Ia ingin tahu apa yang membebani pundak gadis itu.
Dengan keberanian yang jarang ia miliki, Vano memutuskan untuk mendekat. Ia bangkit dari kursinya, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ia berjalan perlahan menuju meja Senja. Ia merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
"Hai," sapanya lirih, berusaha tidak mengagetkan. Ia berhenti tepat di samping meja Senja, menunggu reaksi.
Senja mengangkat kepalanya perlahan, menatap Vano dengan tatapan kosong dan sedikit terkejut. Matanya yang indah, namun sayu, menatapnya dengan rasa ingin tahu. Ia tampak bingung dengan kehadirannya.
"Maaf mengganggumu," lanjut Vano, merasa sedikit canggung. "Gue Alvano, murid baru di kelas ini," jelasnya, menawarkan senyuman tipis yang jarang ia perlihatkan. Ia berusaha untuk terlihat ramah dan tidak mengancam.
Senja terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia harus membalas sapaan Vano atau tidak. Akhirnya, ia menjawab dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar, "Gue Senja."
Vano tersenyum, merasa lega karena Senja akhirnya membuka diri. "Senja? Nama yang indah," pujinya tulus, menyukai suara lembut dan merdu Senja.
Senja tidak membalas pujian Vano. Ia hanya menatapnya dengan tatapan curiga, seolah sedang menilai apakah Vano bisa dipercaya atau tidak. Ia tampak ragu-ragu.
"Boleh gue duduk di sini?" tanya Vano, menunjuk kursi kosong di samping Senja dengan sopan. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya.
Senja mengangguk pelan, tanpa mengatakan apapun. Ia kembali menunduk dan melanjutkan membaca bukunya, seolah Vano tidak ada di sana.
Vano duduk di samping Senja dengan hati-hati, berusaha tidak mengganggu ruang pribadi Senja. Suasana menjadi canggung, penuh ketegangan yang tak terucapkan. Vano merasa kesulitan untuk memulai percakapan.
"Lo suka membaca?" tanya Vano, mencoba memecah keheningan yang menyelimuti mereka. Ia menatap buku yang sedang dibaca Senja, mencari topik pembicaraan yang pas.
Senja mengangguk pelan, tanpa mengangkat kepalanya. Ia terus fokus pada bukunya, seolah tidak tertarik untuk berbicara dengan Vano.
"Buku apa yang sedang kau baca?" tanya Vano lagi, berusaha untuk tidak menyerah. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Senja dan apa yang membuatnya begitu tertarik untuk mendekati Senja.
Senja akhirnya menunjukkan sampul buku yang sedang dibacanya kepada Vano. Itu adalah novel klasik dengan judul yang asing bagi Vano, sebuah kisah cinta tragis yang penuh dengan kesedihan dan pengorbanan.
"Gue belum pernah membaca buku ini," kata Vano, mengakui ketidaktahuannya. "Apakah bagus?" Lanjtnya, penasaran dengan pendapat Senja.
"Lumayan," jawab Senja singkat, nadanya datar dan tanpa emosi. Ia kembali menunduk dan melanjutkan membaca bukunya, menutup diri dari Vano.
Vano menghela napas dalam hati. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan tembok. Namun, ia tidak menyerah. Ada sesuatu pada Senja yang menariknya, sesuatu yang ia tidak bisa abaikan.
Dengan hati-hati, Vano mencoba mendekati Senja secara emosional. "Gue perhatikan, kau hanya berdiam diri di kelas," kata Vano, berhati-hati dengan kata-katanya. "Apakah kau tidak punya teman?" tanyanya, penasaran dengan sikap Senja.
Senja terdiam sejenak, membeku di tempatnya. Ia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Vano dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya berkilat sedih, seolah pertanyaan Vano telah menyentuh luka yang dalam.
Akhirnya, Senja menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Gue tidak membutuhkan teman." Jawabannya dingin dan tegas, menunjukkan bahwa ia tidak tertarik untuk membuka diri kepada siapapun.
Vano terkejut dengan jawaban Senja. Ia tidak menyangka Senja akan mengatakan hal itu. Ia merasa tersindir oleh kata-kata Senja. Ia tidak tahu mengapa Senja begitu membenci persahabatan.
"Kenapa?" tanyanya, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia ingin tahu alasan di balik penolakan Senja terhadap persahabatan.
Senja tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang panjang dan hitam. Ia tampak rapuh dan rentan.
Vano tahu bahwa ia telah menyentuh luka yang dalam dalam hati Senja. Ia merasakan penyesalan, karena telah mengajukan pertanyaan yang menyakitkan. Ia tahu bahwa ia harus berhati-hati dengan tindakannya.
"Maaf," ucapnya tulus, nadanya penuh penyesalan. "Gue tidak bermaksud membuatmu sedih," tambahnya, berharap Senja bisa memaafkannya. Ia tidak ingin menyakiti perasaannya.
Senja tidak menjawab. Ia tetap menunduk, menyembunyikan wajahnya. Air mata mulai menetes dari matanya, membasahi halaman buku yang sedang dibacanya. Ia mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya, tetapi sia-sia.
Vano merasa iba melihat Senja menangis. Ia ingin menghiburnya, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia takut jika ia melakukan sesuatu yang salah, ia akan membuat gadis itu semakin terluka.
Dengan ragu, Vano kembali berujar, "Gue ingin menjadi temanmu," bisiknya tulus, berharap Senja bisa merasakan ketulusan hatinya. "Jika lo mengizinkan," tambahnya, memberikan Senja pilihan.
Ini bukanlah karakter Vano yang biasanya. Entah mengapa, ia merasa terpanggil untuk membantu Senja.
Senja mendongak perlahan, matanya yang berkaca-kaca menatap Vano dengan terkejut. Ia tampak tidak percaya bahwa Vano akan menawarkan persahabatan setelah penolakannya. Dibalik air mata, Vano melihat secercah harapan.
Mereka saling bertukar pandang, saling membaca pikiran satu sama lain. Vano menunjukkan ketulusan, sementara Senja menunjukkan keraguan dan ketakutan. Jantung Vano berdebar tak menentu.
Setelah beberapa saat, Senja akhirnya menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Kenapa?" tanyanya, penasaran dengan alasan Vano ingin berteman dengannya. "Kenapa kau ingin berteman denganku?" ulangnya, menekankan ketidakpercayaannya.
Vano tersenyum lembut, mencoba untuk menenangkan Senja. "Karena gue ingin mengenalmu lebih dekat," jawabnya jujur. "Karena gue merasa ada sesuatu yang istimewa dalam dirimu," tambahnya, mengungkapkan kekagumannya.
Senja terdiam sejenak, mempertimbangkan jawaban Vano. Ia tampak bingung dan ragu. Ia tidak tahu apakah ia harus mempercayai Vano atau tidak.
Akhirnya, dengan ragu-ragu, Senja mengangguk kepalanya pelan sangat pelan. Ia tidak mengatakan apapun setelahnya, tetapi kodenya sudah cukup untuk membuat seorang Alvano tersenyum tipis.
Bersambung ....
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,