Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7
Langkah Zayna terhenti di tengah gang sempit yang sunyi. Saat itu hanya satu atau dua orang yang lewat melalu gang tersebut dengan jeda waktu yang cukup lama.
Dua pria yang satu bertubuh besar, dan yang satu bertubuh kurus, tiba-tiba menghadang jalannya.
Zayna tahu, Zayna pun mengenal mereka berdua siapa. Salah satunya langsung menyeringai, sementara yang lain menyilangkan tangannya di depan dada bersandar pada dinding bata merah sebuah bangunan yang tinggi.
“Mau ke mana pagi-pagi begini?” Kata pria berjengkot tipis dan berjaket hitam dengan suara rendah.
Zayna menegang. Tangannya refleks menggenggam tali tas.
“Mau bekerja.” Jawab Zayna berusaha tenang, meski suaranya bergetar.
“Kerja? Hahahha.” Pria satunya yang memiliki perawakan tubuh agak kurus dan memakai kemeja bermotif norak, tertawa kecil.
“Kerja untuk membayar hutang kan?” Sahutnya lagi.
Zayna menelan ludah.
“Aku sudah bilang, beri aku waktu. Aku sedang mengumpulkan uang.”
Pria pertama yang memiliki tubuh kekar dan berjaket hitam melangkah maju, jaraknya begitu dekat hingga Zayna bisa mencium bau rokok dan alkohol dari napasnya.
“Waktu?” Katanya sinis dan mengerikan.
“Kau sudah terlalu lama meminta waktu. Mana suamimu yang bodoh itu!”
“Aku tidak akan lari, dan jangan ganggu suamiku.” Ucap Zayna cepat.
“Aku masih di sini, aku akan bertanggung jawab.” Sahut Zayna lagi.
“Hahaha… Wanita bodoh… Suami tidak berguna saja masih kau lindungi!! Masalahnya…” Potong pria yang bertubuh kurus sambil menunjuk wajah seramnya pada Zayna.
Kami butuh uangnya, bukan janji!” Lanjut pria kurus itu.
Zayna menunduk.
“Tolong… Aku akan bayar. Aku janji.”
Pria kurus itu tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak membawa kelegaan dan wajahnya nampak marah.
“Baik. Seperti yang sudah kami katakan di telepon. Kami tunggu sampai malam ini.” Sahut pria kurus itu.
“Malam ini? Itu terlalu cepat.” Zayna mendongak panik.
“Kalau malam ini uangnya tidak ada… Kau yang akan kami bawa.”
Tubuh Zayna seketika lemas.
“Apa maksud kalian…?”
“Kau paham maksudnya. Jika kau tak mampu membayar maka semua organ tubuhmu yang akan kami ambil. Organ mu akan kami jual. Tapi tentunya sebelum itu biarkan kami menikmati tubuhmu lebih dulu. Hahahaha!!!” Pria berjaket hitam tertawa dengan seringai menakutkan.
Zayna menggeleng cepat.
“Tolong, jangan lakukan itu! Aku berjanji akan membawa uangnya nanti malam.”
“Memang seharusnya begitu!” Kata pria kurus.
Kemudian para rentenir itu mulai melangkah, Zayna melangkah mundur, memberi jalan sempit di antara mereka.
“Ingat! Malam ini! Jangan coba menghilang. Kami bisa menemukanmu dimanapun bahkan jika kau bersembunyi di lubang tikus sekalipun.” Ancam si pria kurus.
Kedua pria itu berjalan menjauh, meninggalkan Zayna yang masih terpaku di tengah gang.
Tubuh Zayna membeku antara dingin dan ketakutan. Kakinya gemetar, napasnya tersengal. Tangannya menekan dada, seolah jantungnya hendak meloncat keluar. Perlahan Zayna menyandarkan dirinya di dinding, untuk menopang tubuhnya dan menenangkan hatinya.
Untuk pertama kalinya, ketakutan itu bukan lagi soal hutang-hutangnya melainkan soal keselamatannya, dimana ia tahu, para rentenir itu bukan hanya membual ataupun omong kosong.
Dengan tertatih dan hampir pingsan, Zayna melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerja.
Pagi ini Zayna akan bekerja di sebuah cafe di dekat kampus, cafe yang cukup ramai dan pemilik cafe tersebut juga masih cukup muda, usianya masih seumuran dengan Zayna.
Meski umur mereka sama, namun nasib mereka berbeda.
Sesampainya di cafe tempatnya bekerja dan Zayna sudah memakai celemek serta perlengkapan bekerja. Zayna berdiri ragu di depan pintu ruangan dimana pemilik toko pasti sedang duduk di dalam sana dengan beberapa lembar berkas di tangannya.
Wajah Zayna pucat, matanya tampak sayu. Antara takut dan malu Zayna menelan ludah sebelum akhirnya mengetuk pintu dan menunggu suara dari dalam.
Tok!
Tok!
“Ya masuk!” Suara seorang pria terdengar dari dalam ruangan.
“Permisi… Tuan Taylor.” Panggil Zayna.
“Lagi-lagi kau memanggilku Tuan. Kita ini sebaya. Panggil namaku saja.” Kata Taylor yang sedang menghitung nota mendongak. Seketika dahinya mengernyit.
Melihat Zayna ragu dan tak bereaksi lagi. Taylor menjadi penasaran pasti ada sesuatu.
“Kau kenapa? Wajahmu pucat dan terlihat kurang sehat.” Kata Taylor dengan suaranya lembut.
“Tidak apa-apa. Aku hanya… Ingin berbicara sebentar.” Jawab Zayna cepat dan berbohong.
“Tentu. Duduk dulu.” Ujar Taylor sambil berdiri dan kemudian menarikkan kursi.
“Zayna kau demam? Jika demam kenapa berangkat bekerja? Kau harus istirahat di rumah.” Taylor kemudian menarik kursinya dan duduk di hadapan Zayna yang masih duduk dengan menundukkan kepala.
Zayna tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. Tangannya saling menggenggam gelisah.
“Aku… Ingin bertanya….” Kata Zayna ragu.
Taylor mengangguk pelan menunggu kalimat Zayna yang berikutnya.
“Kalau boleh… Apakah gajiku bisa dibayar lebih awal?” Zayna langsung menggigit bibir bawahnya dan menutup mata.
Taylor terdiam, ia menatap Zayna beberapa detik, seolah menimbang-nimbang, lalu bertanya dengan hati-hati.
“Kau punya masalah?”
Zayna mengangguk pelan.
“Aku benar-benar sedang butuh.”
Taylor menarik napas panjang, pria berwajah maskulin dan berkulit putih dengan tubuh yang sedikit lebih tinggi dari Zayna itu sudah lama memperhatikan bagaimana Zayna sering datang dengan mata merah karena kurang tidur, dan tetap bekerja tanpa mengeluh.
Betapa Zayna begitu rajin dalam bekerja dan tanggung jawab.
“Apa… Kau masih bekerja di tempat lain?” Tanya Taylor.
Zayna mengangguk.
“Aku bekerja sampai malam.”
Taylor menghela napas pelan dan memegang kedua tangan Zayna yang sedingin es. Namun secepat mungkin Zayna menarik diri. Taylor menghargai dan menghormati Zayna yang selalu menjaga diri lalu tersenyum sedikit.
“Tidak seharusnya kau memaksakan diri sejauh itu.”
Zayna tersenyum hambar.
“Kalau aku berhenti, tidak ada yang menutupi kebutuhan.”
Taylor menghela napas lalu berdiri dari kursinya, ia mendekati meja dan membuka laci, lalu mengambil amplop, menghitung beberapa lembar uang dan menyerahkannya pada Zayna.
“Ini gajimu. Aku bayarkan penuh.” Kata Taylor dengan lembut dan senyuman hangat.
Zayna terkejut saat menerima amplop tersebut dengan segepok lembaran-lembaran uang.
“I…ini terlalu banyak. Aku hanya minta sebagian.” Kata Zayna.
“Anggap saja ini kepercayaanku padamu dan bentuk terimakasihku padamu yang tekun bekerja tanpa mengeluh.” Kata Taylor sambil tersenyum kecil.
“Aku tahu kau pekerja keras, dan aku tahu kau bukan orang yang minta-minta kalau tidak terdesak.”
Mata Zayna berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat menerima amplop itu.
“Terima kasih.” Ucap Zayna lirih.
“Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana tanpa ini. Aku akan bekerja lebih rajin lagi.” Air mata Zayna merembes di sudut matanya.
Taylor mengangguk pelan dan tersenyum.
“Jaga kesehatanmu, Zayna. Uang bisa dicari, tapi kalau kau jatuh sakit, tidak ada yang menggantikan. Sementara bekerjalah dengan santai sampai tubuhmu kembali sehat.”
Zayna kemudian berdiri.
“Aku akan berusaha lebih baik lagi ke depannya. Terimakasih banyak Tu… Maksudku Taylor.”
“Dan kalau kau butuh izin istirahat, atau perlu bantuan bilang saja. Jangan merasa sendirian.” Pesan Taylor pada Zayna.
Zayna mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya hari itu, Zayna merasakan kehangatan yang menyirami dadanya setelah semalaman Zayna bergelud dengan gejolak kehidupannya.
“Terima kasih, Taylor.”
“Sudah cukup mengatakan terimakasih. Sekarang kau duduk dulu. Aku buatkan teh hangat.”
Zayna menggelengkan kepalanya.
“Ini sudah cukup, aku akan kembali bekerja.” Kata Zayna izin keluar ruangan.
Taylor yang saat itu sudah siap untuk membuatkan teh hangat, hanya bisa melihat Zayna pergi dari ruangannya.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk