Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sejak malam ketika ingatan itu kembali menghantamnya, Kayla tidak pernah benar-benar tenang. Setiap kali memejamkan mata, bayangan gang sempit itu muncul. Bau alkohol, tangan kasar yang mencengkeramnya, suara berat Dalfa yang memerintahnya diam. Semua seperti terulang kembali, begitu nyata, begitu menyakitkan.
Setiap pagi, Kayla tetap bangun sebelum subuh. Dia berwudu dengan air dingin yang menusuk kulit, lalu berdiri di atas sajadah lusuhnya, memohon kekuatan.
Di sela doa-doanya, satu kalimat selalu berulang di hatinya, “Ya Allah, semoga hari ini Dalfa tidak ada di rumah.”
Kayla tahu Dalfa adalah pria yang sibuk. Dari cerita Ashabi, dia sering bepergian untuk bisnis, kadang pulang larut malam, bahkan beberapa kali memilih tidur di kantornya daripada pulang. Itu satu-satunya hal yang membuat Kayla sedikit bernapas lega. Namun, tetap saja, setiap langkahnya di rumah besar itu selalu diliputi kewaspadaan.
Setiap bunyi pintu terbuka membuat jantungnya berdegup kencang. Setiap suara langkah kaki di koridor membuatnya tegang. Setiap bayangan yang lewat membuatnya takut itu adalah Dalfa.
Kayla berusaha bersikap normal, tersenyum kepada Bu Aisyah, berbicara sopan kepada Pak Ramlan, mengerjakan pekerjaannya dengan rapi dan cekatan. Namun, di balik semua itu, hatinya selalu gelisah.
Hari demi hari berlalu. Minggu berganti minggu. Tanpa terasa, dua bulan sudah Kayla bekerja di rumah Pak Ramlan. Rumah itu kini terasa seperti rumah kedua baginya, meski bayangan Dalfa masih membuatnya waswas.
Bu Aisyah memperlakukan Kayla dengan sangat baik. Bukan seperti pembantu, melainkan seperti anak sendiri. Kadang beliau memintanya duduk makan bersama, menanyakan kabar adik-adiknya, bahkan memberinya pakaian layak pakai.
Pak Ramlan juga tidak pernah merendahkannya. Beliau sering memuji masakan Kayla, memanggilnya dengan lembut, dan sesekali memberinya uang tambahan diam-diam.
“Anggap ini rumah sendiri, Kayla. Jangan sungkan,” ucap Bu Aisyah suatu pagi sambil menyelipkan uang ke tangannya.
Kayla terharu hingga matanya berkaca-kaca. Jarang sekali ada orang yang memperlakukannya sebaik itu.
Di sisi lain, Ashabi juga semakin sering hadir dalam hidupnya. Pria itu tidak hanya memerhatikan Kayla di rumah orang tuanya, tetapi juga datang ke kontrakannya. Kadang dia datang membawa sekantong penuh makanan. Ayam goreng, nasi hangat, buah-buahan, bahkan susu dan camilan untuk Nayla.
Fattah, Fattan, dan Nayla selalu bersorak girang setiap melihat Ashabi datang. “Om Abiii!” teriak Nayla sambil berlari memeluk kakinya.
Ashabi tertawa pelan, mengangkat Nayla ke dalam gendongannya.
Selain membawa makanan, Ashabi juga sering mengajar mereka mengaji. Dia duduk di lantai kontrakan yang sempit, memegang Iqra dengan sabar, membimbing ketiga anak itu melafalkan huruf-huruf hijaiyah.
Kayla memperhatikan dari dapur kecilnya, hatinya hangat, tetapi juga terasa perih. Hangat karena melihat adik-adiknya tersenyum, perih karena dia sadar betapa besar bantuan yang diberikan Ashabi kepadanya.
Beberapa kali Kayla ingin menolak, tidak ingin terus merepotkan. Namun, Ashabi selalu berkata, “Anggap ini sedekahku, Kayla. Jangan merasa terbebani.”
Perlahan, rasa aman tumbuh di hati Kayla setiap kali bersama Ashabi..Namun, rasa itu bercampur dengan kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.
Suatu pagi, rumah Pak Ramlan terasa lebih ramai dari biasanya. Mobil mewah terparkir di halaman, dan suara tawa terdengar dari ruang tamu. Kayla yang sedang membersihkan meja makan sedikit heran.
“Kayla, tolong buatkan teh dan camilan,” panggil Bu Aisyah dari ruang tamu.
“Iya, Bu,” jawab Kayla cepat.
Dia menyiapkan nampan berisi teh hangat, kue kering, dan buah-buahan. Saat melangkah menuju ruang tamu, langkahnya melambat begitu mendengar suara perempuan yang asing. Suara itu lembut, anggun, dan penuh percaya diri.
Kayla masuk perlahan. Di sofa, duduk seorang wanita cantik dengan jilbab rapi, kulit putih, dan pakaian elegan. Senyumnya terlihat manis, tetapi ada sesuatu yang membuat Kayla merasa terintimidasi.
“Ini Kayla, yang bekerja di sini,” ujar Bu Aisyah ramah.
Wanita itu menoleh, menatap Kayla dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Jadi ini Kayla?” katanya sambil tersenyum tipis. “Cantik juga.”
Kayla menunduk sopan. “Silakan, Mbak,” ucapnya sambil meletakkan nampan.
Saat itu, Ashabi masuk dari pintu depan. Langkahnya terhenti ketika melihat wanita itu.
“Kamu ...?” ucap Ashabi pelan, sedikit terkejut.
Wanita itu tersenyum, berdiri anggun. “Ashabi. Lama tidak bertemu.”
Kayla mengerutkan kening samar. Ada sesuatu dalam nada suara wanita itu yang terasa personal.
Bu Aisyah tersenyum penuh arti. “Oh iya, Kayla belum kenal, kan? Ini Zahira, teman lama Ashabi,” jelasnya.
Hati Kayla sedikit berdenyut. “Teman lama?”
Namun, dari cara mereka saling memandang, Kayla merasa ada cerita lebih dari sekadar “teman”.
Zahira duduk kembali, berbincang akrab dengan Bu Aisyah dan Pak Ramlan. Mereka tertawa, saling bercerita, seolah sudah sangat dekat.
Kayla berdiri di sudut, merasa dirinya tiba-tiba menjadi orang asing di rumah itu. Saat dia hendak kembali ke dapur, Ashabi menghampirinya.
“Kayla,” panggilnya pelan.
“Iya?” jawab Kayla, berusaha tersenyum.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ashabi lembut.
Kayla mengangguk cepat. “Ya. Baik.” Namun, matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan yang berkecamuk.
Dari ruang tamu, Zahira terus berbincang dengan Bu Aisyah, sesekali melirik ke arah Ashabi dengan senyum tipis. Bu Aisyah terlihat sangat hangat kepadanya, lebih hangat dari biasanya.
Kayla merasakan sesuatu menusuk di dadanya. Sakit, tetapi tidak bisa ia jelaskan. Saat dia kembali ke dapur, tangannya gemetar saat mencuci piring. Bayangan Zahira yang duduk anggun di sofa terus berputar di kepalanya.
Kayla menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan itu. “Kenapa aku merasa begini?” batinnya bingung.
Sore harinya, sebelum pulang, Kayla kembali melihat Zahira duduk di teras bersama Bu Aisyah dan Pak Ramlan. Tawa mereka terdengar hangat.
“Ashabi selalu cerita banyak tentang kamu,” ucap Bu Aisyah kepada Zahira sambil tersenyum.
Zahira tertawa kecil. “Dia memang selalu perhatian sejak dulu.”
Kalimat itu membuat dada Kayla semakin sesak. Dia menunduk, merapikan barang-barangnya, berusaha tidak terlihat terganggu. Saat hendak melangkah keluar, Ashabi mendekatinya.
“Kamu mau pulang sekarang?” tanyanya.
“Iya,” jawab Kayla singkat.
Tatapan Ashabi meneliti wajahnya. “Kamu kelihatan berbeda hari ini.”
Kayla terdiam. Angin sore berhembus lembut, menerbangkan ujung jilbabnya.
“Aku baik-baik saja, Abi,” jawabnya akhirnya, memaksakan senyum. Namun, jauh di dalam hatinya, Kayla tahu ada sesuatu yang berubah.
Bukan hanya karena Dalfa yang menghantuinya, tetapi juga karena kehadiran Zahira, wanita yang tampak begitu cocok dengan dunia Ashabi, dengan keluarganya, dengan kehidupannya.
Kayla melangkah keluar gerbang dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia bersyukur masih punya pekerjaan, masih punya tempat berlindung, masih bisa menghidupi adik-adiknya. Di sisi lain, ada rasa sakit yang perlahan tumbuh, sakit yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sakit melihat kedekatan orang lain dengan Ashabi.
Kayla bertanya dalam hati, “Apa aku mulai berharap sesuatu yang tidak seharusnya?”
Langit senja memerah di atasnya. Kayla menarik napas panjang, melangkah pulang membawa beban yang semakin berat, bukan hanya beban hidup, tetapi juga beban hatinya sendiri.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya