NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing-Puing Kebenaran

Ruang perawatan VIP itu terasa terlalu sunyi.

Bunyi monitor jantung berdetak pelan, konstan, seperti hitungan waktu yang menertawakan ketegangan di dalam dada Sasha. Aroma antiseptik menyengat, membuat kepalanya sedikit pusing, tapi tidak sebanding dengan isi kertas yang kini ia genggam.

Tangannya gemetar.

Di atas kertas putih itu tertulis jelas:

HASIL ANALISIS DNA: NON-IDENTIK

Probabilitas Hubungan Persaudaraan: 0%

Nol.

Angka itu seperti ledakan sunyi yang menghancurkan seluruh kebencian yang selama ini menjadi alasan Dimas.

Sasha mengangkat wajahnya perlahan.

Di ranjang rumah sakit, Gio Artha Wijaya terbaring pucat. Perban melilit bahunya yang tertembak. Biasanya ia berdiri tegak, tak tergoyahkan, seolah dunia tak mampu menjatuhkannya. Tapi malam ini, pria itu terlihat manusiawi. Rapuh. Terluka.

Dan tetap diam.

“Jadi… dia bukan saudaramu.” Suara Sasha bergetar.

Gio menatapnya tenang.

“Bukan.”

“Kau sudah tahu?”

“Sudah.”

Seolah udara di ruangan itu menghilang.

“Sejak kapan, Gio?”

“Tiga tahun lalu.”

Sasha terduduk perlahan di kursi samping ranjang.

“Tiga tahun… dan kau membiarkannya menghina kau? Menuduhmu merebut warisan keluarga Wijaya? Membiarkannya menyerangmu?”

Gio tersenyum tipis.

“Kalau dia tahu dia bukan darah Wijaya… dia tak akan lagi bermain drama saudara yang tersakiti.”

“Apa maksudmu?”

“Dia akan langsung menghancurkanmu.”

Sasha membeku.

Gio menatapnya dalam-dalam, matanya yang lelah tetap tajam.

“Selama ini dia pikir dia memperebutkan haknya sebagai anak keluarga Wijaya. Itu membuatnya merasa punya alasan. Punya legitimasi. Tapi kalau kebenaran terbongkar… dia tak punya apa-apa lagi. Dan orang yang tak punya apa-apa adalah yang paling berbahaya.”

“Kau bilang… dia akan menghancurkanku?”

“Karena kau adalah pewaris sah seluruh penggabungan aset lama keluarga Pratama dan Wijaya.”

Dunia Sasha seolah runtuh untuk kedua kalinya malam itu.

“Keluarga Pratama… keluargaku?”

Gio mengangguk pelan.

“Dua perusahaan yang dihancurkan ayahku dulu digabungkan secara hukum atas namamu. Kau adalah pemilik sahnya. Dimas tidak pernah tahu itu. Dia hanya tahu tentang Wijaya Group. Dia pikir kau hanya istriku.”

Sasha menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Selama ini ia merasa menjadi pion.

Ternyata ia adalah pusat papan permainan.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” suaranya lirih.

“Karena begitu kau tahu… kau tidak akan lagi hidup tenang.”

Keheningan turun.

Lalu Sasha teringat koper kecil dari pengacara.

Ia berdiri, mengambil alat pemutar suara, dan menekan tombol play.

Suara berat seorang pria memenuhi ruangan.

Suara almarhum Arman Wijaya.

“Gio… jika kau mendengar ini, berarti aku sudah tiada.”

“Aku menghancurkan keluarga Pratama demi ambisi.”

“Aku tidak bisa mengembalikan orang tua Sasha.”

“Tapi pastikan seluruh kendali kembali padanya.”

“Jangan biarkan dia tahu betapa kotornya tangan kita.”

“Dan hati-hati dengan Dimas. Dia bukan darah Wijaya… tapi dia adalah api.”

Rekaman itu berhenti.

Sunyi.

Sasha tidak menyadari kapan air matanya jatuh lagi.

“Kau memikul dosa ayahmu sendirian…” bisiknya.

Gio menghela napas pelan.

“Aku hanya memperbaiki kesalahan.”

“Dengan membiarkanku membencimu?”

“Kalau kau membenciku, itu lebih baik daripada kau diburu.”

Sasha mendekat ke ranjangnya.

“Kau hampir mati malam ini, Gio.”

“Tapi kau hidup.”

Jawaban itu terlalu sederhana.

Terlalu tulus.

Sasha menggenggam tangannya.

Selama ini ia mengira pernikahan mereka adalah transaksi.

Ternyata setiap langkah Gio adalah perisai.

Tiba-tiba ponsel Sasha bergetar.

Nomor tak dikenal.

Sebuah video.

Rekaman CCTV belakang rumah sakit.

Dimas masuk ke mobil hitam dengan perban di lengannya. Sebelum masuk, ia menoleh ke kamera.

Dan tersenyum.

Bukan senyum marah.

Itu senyum seseorang yang menikmati perburuan.

Ia menggerakkan jarinya di leher.

Ancaman.

Pesan masuk menyusul:

“Permainan baru dimulai.”

“Darah atau bukan, semua yang ada di bawah nama Wijaya akan jadi milikku.”

“Jaga suamimu baik-baik.”

Sasha merasakan sesuatu di dalam dirinya berubah.

Takutnya tidak hilang.

Tapi membeku.

Menjadi dingin.

Menjadi tajam.

Ia menghapus air matanya.

Ketika ia menoleh pada Gio, tidak ada lagi gadis yang ketakutan di sana.

Hanya seorang pewaris.

“Apa yang dia kirim?” tanya Gio pelan.

“Ancaman.”

“Sha—”

“Cukup.”

Sasha berdiri tegak.

“Kau sudah terlalu lama melindungiku sendirian.”

Gio mencoba bangkit, menahan rasa sakit.

“Jangan gegabah.”

Sasha tersenyum tipis.

“Kau lupa satu hal, Gio Artha Wijaya.”

Ia mengangkat dokumen pengalihan aset.

“Nama ini sekarang bukan hanya milikmu.”

Sunyi sejenak.

“Dimas ingin hak darah.”

Sasha menatap lurus.

“Sayangnya hukum tidak mengenal darah. Hukum mengenal bukti.”

Gio terdiam.

Langkah petugas keamanan mulai terdengar di lorong.

Sasha berjalan menuju pintu, lalu berhenti.

Menoleh kembali.

“Gio.”

Pria itu menatapnya.

“Kau bilang kau belum mendapatkan maafku.”

Gio menarik napas dalam.

“Aku membangun rumah tangga kita di atas rahasia.”

Sasha menggeleng pelan.

“Kau membangunnya di atas perlindungan.”

Ia mendekat lagi.

Tatapan mereka sejajar.

“Mulai hari ini, tidak ada lagi pengorbanan sepihak.”

Gio menatapnya intens.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Sasha menyentuh tangan Gio perlahan.

Lalu berbisik dengan suara tenang yang membuat udara terasa lebih dingin.

“Di mana kau menyimpan berkas asli tentang pengkhianatan ayah Dimas?”

Mata Gio melebar.

“Sha…”

“Kita tidak akan bertahan lagi.”

Monitor jantung berdetak pelan.

“Kita akan menyerang duluan.”

Gio menatap istrinya lama.

Lalu untuk pertama kalinya sejak malam berdarah itu, ia tersenyum.

“Di brankas lantai tiga kantor pusat Wijaya Group. Folder hitam. Kode aksesnya tanggal kematian ayahku.”

Sasha mengangguk.

“Bagus.”

Ia menggenggam gagang pintu.

“Sekarang istirahatlah, Tuan Wijaya.”

Senyumnya tipis. Tegas.

“Karena saat kau bangun nanti… perang ini sudah dimulai.”

Dan untuk pertama kalinya—

Dimas bukan lagi satu-satunya yang siap bermain kotor.

Langkah kaki Sasha terhenti sebelum benar-benar membuka pintu.

Tangannya masih menggenggam gagang, tapi pikirannya berputar cepat.

Selama ini ia hidup dalam bayangan nama Wijaya.

Kini ia berdiri sebagai pemiliknya.

Ia berbalik perlahan.

Gio masih menatapnya. Ada kekhawatiran di sana. Ada cinta. Dan ada rasa takut—bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk Sasha.

“Kau takut aku berubah?” tanya Sasha pelan.

Gio tidak langsung menjawab.

“Aku takut kau terluka.”

Sasha berjalan kembali mendekat.

“Luka karena diserang itu berbeda dengan luka karena terus bersembunyi, Gio.”

Ia berdiri di sisi ranjang, menatap pria yang selama ini menjadi tamengnya.

“Kau melindungiku dengan menjadi monster di mata Dimas.”

“Aku tidak keberatan.”

“Tapi sekarang giliranku.”

Gio menahan napas.

“Sha… Dimas tidak bermain setengah hati. Dia akan menyerang dari sisi yang tidak kau duga.”

Sasha tersenyum tipis.

“Bagus.”

Mata Gio menyipit.

“Kau tidak takut?”

“Aku takut.” Jawabannya jujur. “Tapi aku lebih takut kehilanganmu lagi.”

Keheningan turun sejenak.

Monitor jantung berbunyi stabil.

“Jika kita menyerang,” ujar Gio pelan, “itu berarti kita membuka semua kartu. Termasuk kesalahan ayahku.”

Sasha mengangguk.

“Kalau dosa itu harus dibayar, kita bayar dengan cara yang benar. Bukan dengan darah.”

Tatapan mereka saling mengunci.

“Dimas ingin hak sebagai anak Wijaya,” lanjut Sasha. “Kita beri dia kebenaran tentang siapa ayah kandungnya sebenarnya.”

“Itu akan menghancurkan identitasnya.”

“Itu bukan urusanku.” Suaranya tetap tenang. “Dia memilih menjadi api. Maka jangan salahkan jika kita menjadi hujan yang memadamkannya.”

Gio terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang setara dalam diri Sasha.

Bukan lagi wanita yang ia lindungi.

Tapi partner.

“Sha…”

“Ya?”

“Jika perang ini memburuk… dan aku harus memilih antara nama Wijaya atau dirimu…”

Sasha memotongnya.

“Kau pilih aku.”

Gio tersenyum tipis.

“Aku memang selalu memilihmu.”

Sasha membungkuk sedikit, suaranya merendah namun tegas.

“Kalau begitu dengarkan baik-baik, Gio Artha Wijaya.”

Udara di ruangan terasa lebih berat.

“Mulai besok, kita bukan lagi pihak yang bertahan.”

Matanya menyala dingin.

“Kita rebut kembali narasi keluarga Wijaya.”

“Kita bongkar kebohongan tentang darah.”

“Kita hancurkan klaimnya sampai tidak tersisa.”

Gio menatapnya lama.

“Dan kalau Dimas membalas?”

Sasha tidak berkedip.

“Biarkan dia datang.”

Ia tersenyum.

Senyum yang tidak lagi lembut.

“Karena kali ini… dia tidak sedang mengejar mangsa.”

Sasha membuka pintu perlahan.

Cahaya koridor masuk menerangi wajahnya.

“Dia sedang berjalan masuk ke jebakan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!