Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara yang Tak Bisa Disembunyikan
Mereka meninggalkan Merapi saat matahari terbenam, langit di belakang gunung berubah menjadi lautan api merah yang seolah mengikuti langkah mereka. Kristal merah kini dibungkus kain yang sama dengan kristal biru—dua cahaya berbeda yang saling bertabrakan dalam tas Banda, menciptakan getaran halus yang terasa seperti detak jantung kedua di dadanya.
Mereka tidak langsung turun ke dataran rendah. Malam itu, mereka memilih berkemah di sebuah gua kecil di lereng bawah gunung—gua yang dulu digunakan Phoenix untuk meditasi, dindingnya dipenuhi ukiran api dan burung mitos yang sudah pudar. Udara di dalam hangat, bercampur bau belerang dan tanah basah setelah hujan ringan sore tadi.
Bayu membuat api unggun kecil di mulut gua, sementara Kirana mengatur tempat tidur dari daun kering dan kain cadangan. Ia bergerak cepat, tapi tangannya sesekali berhenti—matanya melirik ke arah Banda dan Jatayu yang duduk agak dalam gua, dekat dinding yang masih hangat karena sisa panas gunung.
Kristal merah dan biru diletakkan di antara mereka berdua. Cahaya mereka saling memantul: merah membara seperti darah api, biru dingin seperti kedalaman laut. Setiap kali cahaya bertemu, muncul kilau emas tipis yang lenyap seketika—seperti janji yang belum terucap.
Banda memandang kristal itu lama. “Sejak aku pegang kristal merah… rasanya ada yang berubah. Dadaku panas terus. Bukan panas biasa. Seperti ada api yang hidup di dalam, dan api itu… memanggil namamu.”
Jatayu duduk bersila di depannya, lutut mereka hampir bersentuhan. Ia mengangguk pelan. “Aku juga merasakannya. Sejak kontak malam itu, aku bisa mendengar ombak di telingaku bahkan saat kita diam. Dan sekarang… kristal merah membuat api Phoenix-ku lebih liar. Lebih sulit dikendalikan.”
Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu, lalu menyentuh ujung jari Banda. Sentuhan kecil itu langsung memicu reaksi: cahaya emas muncul lagi di antara mereka, lebih terang dari sebelumnya. Panas meledak lembut—bukan menyakitkan, tapi membara, seperti darah mereka berdua tiba-tiba menjadi satu aliran.
Jatayu menarik napas tajam. “Banda… jangan—”
Tapi Banda tidak melepaskan. Ia malah menggenggam tangan Jatayu lebih erat. “Kita harus tahu apa efek sampingnya. Kalau kita terus menghindar, kita tidak akan pernah bisa mengendalikan ikatan ini.”
Mata Jatayu berkaca-kaca. “Aku takut… kalau kita terlalu dalam, kutukan akan memaksa kita saling membunuh. Aku sudah kehilangan Garini. Aku tidak mau kehilanganmu juga.”
Banda menarik Jatayu lebih dekat hingga dahi mereka bersentuhan. Napas mereka bercampur—panas api dan dingin ombak yang anehnya saling melengkapi. “Kau tidak akan kehilanganku. Karena aku tidak akan membiarkan kutukan menang. Aku sudah melihat visi Garini. Dia bilang api dan air bukan musuh. Mereka bisa menyatu.”
Jatayu menutup mata. Air mata pertamanya jatuh—bukan air mata biasa, tapi tetesan emas kecil yang menguap sebelum menyentuh tanah. “Aku sudah hidup ratusan tahun tanpa merasakan ini. Hangat yang bukan dari api sendiri. Hangat yang… membuatku ingin hidup, bukan hanya bertahan.”
Banda menyentuh pipi Jatayu dengan lembut. Kulitnya terasa terlalu panas, tapi ia tidak menarik tangan. “Aku juga. Sebelum kau datang, aku hanya nelayan yang hidup hari demi hari. Sekarang… aku merasa ada tujuan. Dan tujuan itu adalah kau. Bukan kutukan. Bukan kekuatan. Kau.”
Jatayu membuka mata. Untuk pertama kalinya, dingin di tatapannya benar-benar hilang. Yang tersisa hanya kerapuhan—kerapuhan seorang Phoenix yang sudah terlalu lama menyala sendirian.
Ia menggeser tubuh lebih dekat. Bibir mereka hampir bersentuhan, tapi belum—hanya napas yang saling menyentuh. “Kalau kita lanjutkan… ikatan ini bisa membunuh kita berdua. Atau menyelamatkan kita berdua.”
Banda tersenyum tipis. “Maka kita ambil risiko itu. Bersama.”
Mereka berciuman pelan—pertama kali. Bukan ciuman penuh gairah liar, tapi ciuman yang penuh keraguan dan keberanian. Saat bibir mereka bertemu, cahaya emas meledak di antara mereka: api Phoenix dan air Naga Laut bertabrakan, tapi bukan menghancurkan—malah menciptakan kabut emas yang melingkupi tubuh mereka berdua.
Sensasi itu luar biasa. Banda merasakan panas Jatayu menyusup ke setiap selnya, membuat sisik samar muncul lagi di kulitnya—tapi kali ini tidak menyakitkan. Jatayu merasakan ombak dingin Banda membungkus jiwanya, membuat api Phoenix-nya tidak lagi liar, tapi terkendali, lebih terang.
Mereka berpisah pelan, napas tersengal. Jatayu menyentuh bibirnya sendiri, seolah tidak percaya.
“Aku… aku tidak terbakar,” bisiknya.
Banda tersenyum, menyentuh dada Jatayu—tepat di atas jantung. “Dan aku tidak tenggelam.”
Di belakang mereka, Kirana berdiri diam di mulut gua. Ia sudah mendengar semuanya—tidak sengaja, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak. Air mata mengalir pelan di pipinya, tapi ia tidak menyeka. Ia hanya memandang mereka berdua dengan tatapan yang penuh cinta dan rasa sakit.
Bayu, yang duduk di dekat api unggun, melihat Kirana dan mendekat pelan. “Kau baik-baik saja?”
Kirana menggeleng kecil. “Tidak. Tapi aku harus baik-baik saja. Karena dia bahagia. Dan itu… itu yang terpenting.”
Bayu tidak tahu harus bilang apa. Ia hanya duduk di samping Kirana, membiarkan diam mereka berbagi beban.
Di dalam gua, Banda dan Jatayu tetap duduk berdekatan. Kristal merah dan biru di antara mereka sekarang berdenyut selaras—merah dan biru menghasilkan emas yang stabil, bukan kilau sementara lagi.
Tapi di luar gua, angin membawa suara samar: raungan rendah dari dasar gunung. Bukan werewolf. Lebih dalam. Lebih tua.
Naga Tanah mulai bergerak.
Dan di suatu tempat di pegunungan lain, kristal abu-abu yang tersembunyi mulai bergetar—seolah tahu bahwa waktu untuk konfrontasi akhir sudah semakin dekat.