Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana parkiran rumah sakit menjadi riuh saat beberapa petugas polisi berhasil mengepung dan menjatuhkan Sisil di aspal yang dingin.
Masker perawatnya terlepas, menunjukkan perban wajah yang sudah kotor dan mata yang membelalak liar.
Meskipun tangannya telah diborgol di belakang punggung, ia tidak berhenti meronta.
Di lantai atas, Aruna terduduk di ranjangnya dengan napas yang masih tersengal.
Christian dan Papa Adrian yang baru saja tiba tampak pucat melihat leher Aruna yang memerah.
"Chris,.Papa. Bukan Mas Akhsan," ucap Aruna dengan suara parau, air matanya tumpah.
"Sisil yang melakukannya. Dia mengaku tadi saat mencoba membunuhku. Dia yang menyulut api di rumah itu dan dia yang membakarku!"
Christian mengepalkan tinjunya hingga bergetar. Rasa bersalah karena telah meragukan Aruna dan kenyataan pahit tentang dalang di balik penderitaan istrinya menghantamnya sekaligus.
"Wanita iblis itu..."
Sementara itu, di bawah sana, polisi mencoba menyeret Sisil masuk ke mobil tahanan. Namun, Sisil justru berhenti dan mendongak ke arah gedung rumah sakit.
Ia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya melengking memecah kesunyian malam, terdengar sangat gila dan mengerikan.
"Hahaha! Kenapa kalian menangkapku?!" teriak Sisil sambil meludah ke arah petugas.
"Kalian tidak tahu siapa aku? Aku Nyonya Akhsan Hermawan! Aku penguasa Hermawan Group yang baru!"
Beberapa pengunjung rumah sakit dan perawat menatapnya dengan iba sekaligus ngeri.
Sisil sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Ia berhalusinasi tentang tahta yang selama ini ia kejar dengan cara berdarah.
"Lepaskan aku! Aku harus kembali ke kantorku! Akhsan menungguku untuk menandatangani dokumen perusahaan!" ia terus berteriak meski tubuhnya dipaksa masuk ke dalam jeruji besi mobil polisi.
"Zahra sudah mati! Aruna akan mati! Aku pemenangnya! Aku penguasa Hermawan Group!"
Sisil tidak tahu bahwa di saat ia berteriak tentang kekuasaan, surat pengalihan aset yang sah sudah berada di tangan Aruna.
Ia juga tidak tahu bahwa Akhsan, pria yang ia puja sekaligus hancurkan, sedang berjuang antara hidup dan mati di ruang sebelah, membawa penyesalan yang akan menghantuinya selamanya.
Papa Adrian menatap ke luar jendela, melihat lampu sirene polisi yang menjauh.
"Semuanya sudah berakhir, Aruna. Kebenaran sudah terungkap dengan harga yang sangat mahal."
Di dalam ruang ICU, suara monitor jantung yang tadinya stabil tiba-tiba berdegup kencang.
Akhsan membuka matanya dengan susah payah. Rasa sakit di punggungnya terasa seperti terbakar, namun ada rasa sakit yang lebih hebat di dadanya—rasa rindu dan bersalah yang memuncak.
"A-aruna, Zahra..." bisik Akhsan parau di balik masker oksigennya.
Kesadarannya kembali sepenuhnya, dan hal pertama yang ia inginkan adalah melihat wajah wanita itu.
"Aku harus menemui istriku!! Panggil dia!" teriak Akhsan dengan suara yang tercekik, mencoba bangkit hingga kabel-kabel di tubuhnya tertarik.
Perawat segera berlari masuk untuk menahannya.
"Tuan, jangan bergerak! Luka Anda bisa terbuka kembali!"
"Panggil dia! Aku tahu dia ada di sini!" Akhsan tidak peduli, air mata mulai mengalir di sudut matanya yang cekung.
Melihat kondisi pasien yang tidak terkendali, perawat tersebut segera berlari menuju ruang perawatan di sebelah dan menemukan Aruna yang baru saja mulai tenang.
"Nyonya Aruna, Tuan Akhsan sudah sadar. Beliau terus berteriak memanggil Anda dan menolak untuk dirawat jika tidak bertemu Anda," lapor perawat itu dengan napas terengah.
Aruna menatap Christian dengan pandangan memohon.
"Chris, tolong antar aku. Aku harus menyelesaikan ini semua sekarang."
Christian terdiam sejenak. Ada pahit di hatinya, namun melihat kondisi istrinya yang juga masih lemah, ia tidak punya pilihan lain.
Ia mengambil kursi roda di sudut ruangan, membantu Aruna duduk dengan perlahan, dan menyelimuti kaki istrinya.
Christian mendorong kursi roda itu keluar melewati koridor rumah sakit yang dingin.
Sesampainya di depan pintu kaca ruang ICU, Christian berhenti sejenak dan menatap Aruna dari belakang.
"Aku akan menunggumu di sini, di samping pintunya. Selesaikan apa yang harus kamu selesaikan, Zahra," ucap Christian dengan nada tulus namun tegas.
Aruna mengangguk kecil. Christian mendorong kursi roda itu masuk ke dalam.
Di sana, di atas ranjang dengan berbagai alat medis, Akhsan menoleh. Mata pria itu berbinar saat melihat sosok Aruna mendekat.
"Zahra..." bisik Akhsan pelan saat Christian menaruh kursi roda tepat di samping ranjangnya. Christian kemudian mundur beberapa langkah, memberi ruang namun tetap mengawasi dengan tajam.
Akhsan mencoba meraih tangan Aruna dengan jari-jarinya yang gemetar.
"Zahra, benarkah itu kamu? Maafkan aku karena pagi itu aku mengunci pintunya. Aku tidak tahu kalau Sisil akan..."
Keheningan menyelimuti ruang ICU saat Aruna perlahan menggenggam tangan Akhsan yang dingin.
Christian, yang berdiri tak jauh dari sana, memalingkan wajah untuk memberikan ruang bagi dua orang yang terikat masa lalu kelam itu untuk berbicara dari hati ke hati.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas," ucap Aruna dengan suara lembut namun tegas.
"Tapi aku tidak bisa kembali menjadi Zahra yang dulu. Aku akan tetap hidup sebagai Aruna, di samping Christian. Dialah duniaku sekarang."
Akhsan tersenyum getir, air mata menetes di pelipisnya.
Ia merasa lega sekaligus kehilangan di saat yang sama.
"Aku mengerti, aku pantas mendapatkan ini. Aku akan kembali mengajar jika aku sembuh nanti. Perusahaan Hermawan Group, sudah sepenuhnya menjadi milikmu. Gunakanlah untuk kebaikan."
Akhsan terbatuk kecil, lalu menatap Aruna dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Zahra, apakah kamu tidak mau mengunjungi Papa? Dia sering menanyakanmu dalam diamnya."
Aruna menarik napas panjang. "Aku akan ke sana kalau Mas sudah sembuh. Kita akan bicarakan itu nanti."
"Zahra..." Akhsan meremas pelan tangan Aruna.
"Ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Mas sudah tahu segalanya. Papa Hermawan menceritakannya saat di pemakaman. Kita bukan saudara kandung. Kamu adalah anak sah dari istri pertama Papa Hermawan. Dan aku hanyalah anak sopir yang ditukar,"
Aruna terdiam sejenak, namun ia tidak tampak terkejut.
Ia justru semakin erat menggenggam tangan pria yang pernah menjadi kakaknya sekaligus penyiksanya itu.
"Aku sudah tahu dari dulu, Mas, kalau aku anak Ibu," bisik Aruna.
"Aku masih ingat jelas bagaimana Papa Hermawan memperlakukanku dengan dingin dan berbeda dari anak lainnya. Ternyata, kebenaran itu memang selalu ada di sana, hanya saja tertutup oleh kebencian."
Christian yang mendengar percakapan itu akhirnya mendekat, meletakkan tangannya di bahu Aruna sebagai bentuk dukungan.
"Dendam ini sudah selesai, Akhsan," ujar Christian dengan nada tenang.
"Fokuslah pada kesembuhanmu. Biarkan Aruna memulai hidup barunya tanpa beban rahasia ini lagi."
Akhsan menatap Christian, lalu beralih ke Aruna. Ia melihat bagaimana Aruna bersandar pada Christian, dan ia tahu bahwa meskipun ia bukan saudara kandungnya, ia harus melepaskan Aruna demi kebahagiaan wanita itu.
Christian dengan lembut memutar kursi roda Aruna, menjauh dari ranjang Akhsan yang kini tampak lebih tenang setelah mengeluarkan beban rahasia yang ia simpan selama bertahun-tahun.
Suara mesin monitor yang tadinya berpacu cepat, kini terdengar lebih teratur, seirama dengan napas Akhsan yang mulai stabil.
Saat mereka melewati pintu kaca otomatis ICU, Christian menghentikan langkahnya sejenak.
Ia berlutut di depan Aruna, menatap wajah istrinya yang kini basah oleh air mata.
Aruna meneteskan air matanya tanpa suara. Bahunya berguncang kecil. Isakan yang selama ini tertahan di balik topeng kecantikan dan ambisi
"Aruna Adrian" akhirnya tumpah sebagai "Zahra".
Ia menangis bukan karena masih mencintai Akhsan, melainkan karena rasa sakit dari kenyataan bahwa hidupnya dihancurkan oleh kebohongan besar sebuah keluarga.
"Sudah cukup, Sayang. Sudah cukup," bisik Christian sambil menghapus air mata di pipi Aruna dengan ibu jarinya.
"Chris, selama ini aku merasa sendirian di rumah itu. Aku merasa seperti orang asing yang pantas disiksa," isak Aruna parau.
"Ternyata aku adalah pemilik rumah itu yang sebenarnya, tapi aku justru dibuang ke gudang oleh orang-orang yang seharusnya melindungiku."
Christian menarik Aruna ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis di ceruk lehernya.
Ia tahu bahwa pengakuan Akhsan tadi telah membuka luka lama, namun sekaligus memberikan kunci untuk menutup lembaran kelam tersebut selamanya.
"Sekarang kamu punya aku. Kamu punya Papa Adrian. Kamu punya keluarga yang benar-benar menginginkanmu," ucap Christian tegas.
"Aset itu, perusahaan itu, semuanya adalah hakmu. Kita akan gunakan itu untuk membangun masa depan kita, bukan untuk menengok ke belakang lagi."
Aruna mengangguk pelan dalam dekapan Christian.
Perlahan, ia menghapus sisa air matanya. Meskipun hatinya masih terasa perih, ada kedamaian baru yang mulai merayap masuk. Dendamnya telah tuntas, pelakunya telah tertangkap, dan jati dirinya telah diakui.
Christian kembali mendorong kursi roda menuju ruang perawatan.
Di koridor yang sunyi itu, bayang-bayang Zahra yang malang seolah memudar, digantikan oleh Aruna yang lebih kuat, yang siap melangkah menuju kehidupan baru yang lebih terang.
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat