Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Bayangan di Balik Kekayaan
Mata Maya terpantul pada cermin berdiri yang terletak di sudut kamar tidurnya yang luas dan penuh dengan dekorasi mewah. Dia telah menghabiskan hampir dua jam untuk mempersiapkan diri – mulai dari mandi dengan minyak wangi impor yang dibelikan khusus untuknya, memilih gaun malam berwarna merah anggur yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang proporsional, hingga mengaplikasikan riasan wajah yang membuatnya terlihat lebih cantik dan mempesona. Setiap helai rambut hitamnya yang panjang disusun dengan rapi, dihiasi dengan aksesori kecil yang berkilauan di bawah cahaya lampu kristal yang menerangi kamar.
Herman akan datang sebentar lagi, pikir Maya sambil menatap bayangannya di cermin, bibirnya menyungging senyum puas. Rumah satu lantai yang dia tempati sekarang terletak di kawasan elite di pinggiran kota Surabaya – sebuah properti mewah dengan taman yang luas, kolam renang pribadi, dan fasilitas lengkap yang membuatnya merasa seperti berada di sebuah vila mewah. Semua ini adalah miliknya, atau setidaknya itulah yang dikatakan Herman kepadanya.
Suara deretan ketukan pintu utama yang lembut membuat hatinya berdebar lebih cepat. Dia segera berjalan menuju ruang tamu dengan langkah yang anggun, mengenakan sepatu hak tinggi yang membuat badannya tampak lebih gagah. Saat membuka pintu, sosok Herman Alan yang mengenakan jas hitamnya yang selalu terlihat rapi muncul dengan senyum hangat di wajahnya. Tubuhnya yang tinggi dan proporsional membuatnya terlihat sangat menarik di mata Maya, meskipun dia tahu bahwa pria ini sudah memiliki istri dan keluarga.
“Kamu terlihat cantik sekali malam ini, Maya,” ucap Herman dengan suara yang lembut, tangan kanannya segera meraih tangan Maya dan mencium bagian belakangnya dengan penuh perhatian. “Maafkan aku datang sedikit terlambat. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di kantor.”
Maya memberikan senyum manis dan menarik Herman masuk ke dalam rumah. “Tidak apa-apa, Om Herman. Aku sudah menunggumu dengan senang hati,” jawabnya sambil mengarahkan Herman ke arah ruang makan yang telah dia siapkan dengan hidangan spesial – makanan laut segar yang dia pesan dari restoran mewah terdekat dan anggur merah impor yang menjadi favorit Herman.
Saat mereka duduk bersandar menikmati makan malam dan bercanda ria, Herman mulai membicarakan rencana yang telah dia siapkan. “Sayang, besok aku akan pergi keluar kota untuk mengurus proyek penting di Semarang,” ujarnya sambil mengangkat gelas anggur ke arah Maya. “Perlu beberapa hari saja, mungkin tiga atau empat hari. Setelah itu aku akan segera kembali padamu ya.”
Maya menunjukkan wajah yang sedikit kecewa namun tetap mengerti. “Baiklah Om Herman. Semoga proyeknya berjalan lancar ya. Aku akan merindukanmu.”
Herman mengangguk dan kemudian menjelaskan bahwa dia sudah meminta ijin kepada istrinya, Rita. “Aku bilang padanya kalau ada proyek besar yang harus aku kelola langsung di luar kota. Dia tidak terlalu mengganggap penting karena biasanya aku sering keluar kota untuk urusan perusahaan,” katanya dengan nada yang sedikit meremehkan.
Maya hanya tersenyum dan mengangguk. Dia tidak pernah terlalu peduli dengan istri Herman – bagi dia, yang penting adalah apa yang bisa dia dapatkan dari pria tersebut. Rumah mewah, mobil baru yang dibelikan beberapa bulan yang lalu, perhiasan mahal dengan batu permata asli, dan uang tunai yang selalu cukup untuk memenuhi semua keinginannya. Semua ini adalah hal yang dia rasakan pantas diperoleh setelah bersedia menjadi perempuan kedua bagi Herman.
Namun, apa yang tidak diketahui Maya adalah bahwa seluruh harta dan aset yang dinikmati Herman sebenarnya bukan miliknya. Herman hanyalah seorang laki-laki yang hidup bergantung pada istri nya, Nyonya Rita Wijayanto – seorang pewaris keluarga kaya raya yang memiliki perusahaan konstruksi dan properti terbesar di wilayah Jawa Timur. Herman hanya menjalankan perusahaan tersebut atas perintah dan wewenang yang diberikan oleh Rita. Dia tidak memiliki aset apa pun yang benar-benar menjadi miliknya sendiri – mulai dari rumah tempat dia tinggal bersama keluarga, mobil yang dia kendarai, hingga setiap rupiah yang dia gunakan sehari-hari adalah milik Rita.
Uang yang digunakan untuk membeli rumah, mobil, perhiasan, dan segala kebutuhan Maya bukanlah dari uang pribadi Herman. Semua itu dia ambil dengan sembunyi-sembunyi dari kas perusahaan milik Rita, dengan cara memalsukan dokumen pengeluaran dan menyatakan bahwa uang tersebut digunakan untuk keperluan proyek perusahaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Pada saat yang sama, di rumah besar yang terletak di kawasan pusat kota Surabaya, Nyonya Rita Wijayanto sedang duduk di ruang tamu dengan wajah yang penuh keraguan. Dia telah merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perilaku suaminya selama beberapa minggu terakhir. Herman mulai sering keluar rumah larut malam, seringkali mengatakan bahwa ada pekerjaan darurat di kantor. Belakangan ini, dia bahkan mengatakan akan pergi keluar kota untuk mengurus proyek, padahal Rita tidak pernah mendengar tentang proyek baru di Semarang dari tim manajemen perusahaan.
Mengapa aku tidak pernah tahu tentang proyek ini? pikir Rita dengan mata yang semakin kerut. Dia bukanlah seorang istri yang cuek atau tidak peduli dengan bisnis yang dia miliki. Meskipun dia menyerahkan pengelolaan sehari-hari kepada Herman, dia selalu mengawasi perkembangan perusahaan dan setiap keputusan penting yang diambil.
Tanpa berlama-lama, Rita segera mengambil ponselnya dan menghubungi Dini – sekretaris pribadi Herman yang telah bekerja di perusahaan selama lima tahun. Suara Dini yang sedikit gemetar terdengar di ujung talian ketika mengetahui bahwa panggilan tersebut berasal dari Nyonya Rita.
“Ibu Rita… ada apa ya?” tanya Dini dengan nada yang cemas.
“Dini, aku mau kamu bilang yang sebenarnya. Apakah benar Herman ada proyek di Semarang dan akan keluar kota beberapa hari?” tanya Rita dengan nada yang tegas namun tetap sopan.
Ada jeda singkat sebelum Dini menjawab dengan suara yang semakin gugup. “Maafkan Ibu… sebenarnya tidak ada proyek apa pun di Semarang. Pak Herman tidak akan keluar kota untuk urusan perusahaan.”
Kata-kata Dini membuat hati Rita menjadi semakin dingin. “Kalau begitu, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Herman? Mengapa dia berbohong padaku?” tanya Rita dengan nada yang mulai menunjukkan rasa marah namun dia tetap berusaha menahannya.
Setelah beberapa saat berfikir dan melihat wajah Rita yang tampak sangat kecewa, Dini akhirnya memutuskan untuk berterus terang. Dia tahu bahwa menyembunyikan kebenaran hanya akan membuat situasi menjadi lebih buruk. “Maafkan Ibu… sebenarnya Pak Herman mempunyai perempuan lain di luar sana. Sudah beberapa bulan ini Pak Herman sering mengambil uang dari kas perusahaan untuk memenuhi kebutuhan perempuan tersebut. Aku sudah beberapa kali mencoba untuk mengatakan pada Ibu, tapi aku takut akan dikenai tindakan oleh Pak Herman.”
Rita merasa kepalanya mulai berputar. Kabar yang didengarnya ini benar-benar menyakitkan hati dan membuatnya tidak percaya. “Berapa banyak uang yang dia ambil?” tanya dia dengan suara yang sedikit bergetar.
“Sudah cukup banyak, Ibu. Mulai dari pengeluaran untuk membeli mobil, perhiasan mahal, bahkan rumah untuk perempuan tersebut. Menurut catatan yang aku temukan, total pengeluaran yang tidak jelas tujuan nya mencapai hampir 400 juta rupiah,” jelas Dini dengan suara yang semakin kecil. “Aku sudah mencatat semua bukti dan dokumen yang menunjukkan pengeluaran tidak wajar tersebut di dalam folder yang aku simpan di lemari bawah mejaku.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rita memutuskan panggilan dan segera mengambil mantelnya. Dia memutuskan untuk pergi langsung ke kantor perusahaan yang sekarang sedang dijalankan oleh Herman. Dia perlu melihat sendiri semua bukti yang ada dan mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi. Setelah berkendara dengan cepat melalui jalan-jalan kota yang mulai sepi karena malam hari semakin larut, Rita tiba di gedung perusahaan dan langsung menuju ke ruang kerja Dini.
Dini dengan gemetar menyerahkan folder yang berisi semua bukti tentang pengeluaran tidak wajar yang dilakukan Herman. Rita mulai membaca setiap lembar dokumen dengan cermat, matanya semakin memerah karena kemarahan yang semakin membara di dalam dirinya. Setiap catatan pengeluaran yang tidak bisa dijelaskan dengan jelas, setiap tanda tangan yang mungkin dipalsukan, dan setiap nama yang tidak dikenal yang muncul di dalam dokumen tersebut semakin memperkuat kecurigaan nya.
“Sampaikan pada aku Dini, apa yang kamu ketahui tentang perempuan itu? Siapa dia dan dimana dia tinggal?” tanya Rita dengan suara yang dingin namun penuh dengan tekad. Wajahnya yang biasanya tampak lembut dan ramah kini telah berubah menjadi sangat keras dan tegas. Dia tidak akan tinggal diam melihat orang yang dia cintai dan percayai telah mengkhianatinya serta merusak perusahaan yang telah dibangun oleh keluarga nya dengan susah payah.
Dini mengangguk dan segera mengambil selembar kertas yang berisi informasi yang dia kumpulkan dengan hati-hati. “Nama dia Maya, Ibu. Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, dia tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan Citraland, Jalan Mawar Blok C Nomor 17. Aku juga telah mendapatkan informasi bahwa rumah tersebut dibeli atas nama Maya sekitar tiga bulan yang lalu dengan uang dari perusahaan kita.”
Rita mengambil kertas tersebut dan membaca alamatnya dengan seksama. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah jendela gedung yang menunjukkan pemandangan kota yang gelap. “Terima kasih sudah memberitahu aku yang sebenarnya, Dini. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa. Mulai sekarang, aku akan menangani semua ini dengan sendiriku,” ujarnya sebelum berdiri dan mengumpulkan semua dokumen yang ada di mejanya.
Sebelum meninggalkan kantor, Rita melihat ke arah ruang kerja Herman yang terletak di lantai atas. Ada api kemarahan dan tekad yang sangat kuat di dalam matanya. Dia akan mencari tahu semua kebenaran dan memastikan bahwa setiap orang yang terlibat dalam hal ini akan mendapatkan hukuman yang sesuai. Bagi Rita, uang dan kekayaan bukanlah hal yang paling penting – tetapi kepercayaan yang telah dijarah dan penghormatan yang telah diinjak adalah hal yang tidak bisa dia maafkan begitu saja.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰