Masih di atas gunung, Aya membuang bekas pembalutnya sembarangan ke semak-semak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TuanZx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31; Nyari Ari sama Aya
Sudah beberapa waktu, Ari dan Aya terperangkap oleh pesona bunga Edelweis.
Mereka sampai lupa waktu, dan lupa juga akan rencana mereka yang akan menuju puncak gunung Merpati.
Sementara itu, dari kejauhan sudah nampak gumpalan kabut yang bergerak menuju puncak.
Kabut pun turun perlahan, semakin lama, semakin deket.
Aya yang sedang asyik memetik bunga, dikejutkan oleh orang yang tiba-tiba ada disebelahnya.
Orang tersebut gak jauh dari tempat Aya berdiri, cuma terpaut beberapa meter aja.
Orang itu terus ngomong sambil metik bunga Edelweis dengan sangat hati-hati, tanpa noleh ke Aya sama sekali.
Orang itu bilang, "Turun lah Pak, sebentar lagi kabut akan turun."
Aya disitu nanya, "Maaf, Bapak dari mana ya? Saya dari Jakarta Pak."
Aya pun noleh ke arah Ari yang masih asyik metik bunga di tangannya. Sambil bilang, "Ri, ayo turun. Kata Bapak ini kabut mau turun."
"Astaghfirullah, yang bener Ya?" kata Ari.
"Iya, kalo gak pepercaya, lu tanya aja sama Bapak ini."
Tapi, betapa kagetnya Aya ketika menoleh kembali ke arah Bapak-bapak itu, Bapak-bapak itu sudah sangat jauh dari pandangan.
"Lho? Kok Bapak-bapak itu udah disana? Bukannya barusan kami masih ngobrol beberapa detik yang lalu?” Kata Aya.
Trus dia bergegas mendekati Ari, dan nanya, "Ri, lu liat orang yang tadi?"
"Liat Ya, tapi gua gak terlalu merhatiin. Gua keasikan metik bunga. Liat nih, udah banyak Ya." kata Ari.
"Yuk kita turun aja, perasaan gua udah gak enak Ri."
"Bentar dulu Ya, kita poto-poto dulu buat kenang kenangan."
Sejenak menyingkirkan kecemasannya, Aya pun setuju buat poto-poto dan dia pun menampilkan gaya tercantiknya.
"Sekarang giliran lu Ri, sini gua yang poto."
Setelah kelar poto-poto, mereka udah di hadapankan pada kabut. Kabut itu bikin mereka kesulitan buat nyari jalan mana yang harus ditempuh untuk balik lagi ke Tugu Abel.
Aya pun panik, dia muter-muter dan lari-lari untuk nyari jalan turun. Langkahnya makin cepet, sehingga bikin Ari kewalahan untuk menyusulnya.
Ari bilang, "Ya, tenanglah lah dulu, kita gak boleh panik. Kita tunggu sampe kabut ini menipis."
Satu jam berlalu, akhirnya Irwan dan Ucu menjalankan misi untuk nyusul kedua kawannya itu kepuncak.
Ucu menginstruksikan Iman untuk tetap di cadas, menjaga barang-barang mereka selagi Ucu dan Irwan ke puncak.
Gak butuh waktu lama buat Ucu dan Irwan sampai ke puncak.
Setibanya disana, masih banyak pendaki lain.
Mereka berdua pun beristirahat sejenak ditutup Abel. Tapi Ari dan Aya belum juga keliatan.
Sesekali mereka nanya ke pendaki yang akan turun.
Pendaki itu menjawab kalo mereka berdua itu, ada di taman Edelweis.
Ucu dan Irwan pun lega disitu.
Kalian inget rencana mereka yang ingin ke telaga warna? Keduanya pun bergegas ke sana.
Berbeda dengan Ari dan Aya. Ucu dan Irwan mengambil alih jalur dari sisi barat yang nantinya akan dipertemukan dengan tugu warna merah. Yaitu, Tugu Dua Belas.
Dan dari Tugu itu, nantinya keliatan telaga yang banyak dibicarakan orang.
Tapi setelah nyampe di telaga itu, mereka ngerasa kalo pemandangan disitu, gak seindah sama apa yang orang-orang bicarakan.
Setelah itu mereka memutuskan buat balik lagi ke Tugu Abel.
Mereka mikir, "Mungkin Ari sama Aya udah nunggu disana."
Rasa curiga belum menghampiri Ucu dan Irwan sama sekali. Mereka yakin Ari dan Aya bakal baik-baik aja.
Seiring perjalanan balik lagi ke Tugu, Ucu dan Irwan udah ngeliat tanda-tanda kabut akan turun.
Para pendaki yang ada dipuncak pun bergegas turun.
Mungkin berjam-jam mereka berdua nunggu di Tugu Abel, tapi Ari dan Aya belum juga lewat.
Mereka kembali bertanya pada para pendaki yang turun.
Disisi lain, Iman akhirnya mutusin buat nyusul ke puncak. "Gimana? Ari sama Aya mana?”
Ucu bilang, "Belum balik juga mereka? Tadi sih ada yang liat mereka di taman Edelweis."
"Yaudah, kita tunggu aja disini kalo gitu." kata Iman.
Sambil duduk, mereka terus memandangi setiap pendaki yang melintas. Seraya sesekali nanya dimana Ari dan Aya.
Salah satu pendaki bilang, "Oh, tadi masih ada di belakang."
Tanpa curiga sedikitpun, mereka lagi-lagi ditenangkan oleh jawaban pendaki itu.
Hingga para pendaki sudah mulai mengosongkan tempat, mereka pun mulai kembali bertanya ke para pendaki yang lewat.
Tapi kali ini pendaki itu bilang, "Wah... udah gak ada orang di belakang, tinggal kita aja nih."
Denger jawaban itu, mereka pun terdiam.
Pikiran mereka mulai mikir aneh-aneh. "Mungkin mereka berdua udah turun duluan?"
"Mungkin mereka ikut turun sama pendaki lain dan pulang duluan?"
Diam-diam Ucu mulai kesel ke kelakuan Ari sama Aya yang 'kayak bocah.'
Mereka pun mutusin buat turun lagi ke cadas.
Sesampainya di cadas, suasana masih sama. Hanya ada perlengkapan-perlengkapan logistik mereka. Gak ada tanda-tanda dari Ari dan Aya.
Ucu pun nyaranin mereka untuk diriin tenda dan bermalam disitu. Supaya mereka bisa liat orang yang lalu lalang naik turun.
"Siapa tau Ari sama Aya lewat." pikir mereka.
Karena kalo dipaksakan turun juga logistik mereka kurang, dan tenaga mereka udah terkuras.
Tapi beberapa saat kemudian, Irwan dan Ucu penasaran.
Mereka berniat buat naik lagi ke puncak untuk nyari Ari dan Aya lagi.
"Man, lu jaga disini dulu ya? Jangan kemana-mana." kata Ucu. "Pastiin kalo Ari sama Aya turun lewat jalur ini."
Iman pun mengiyakan hal tersebut.
Udah hampir tiga jam, kabut gak reda-reda juga. Hal ini gak biasa, karna pada umumnya, kabut hanya bertahan paling nggak satu jam lebih.
Cuaca memang sangat tidak bersahabat, sulit bagi mereka untuk naik dan mengitari area puncak.
Ucu dan Irwan jalan dengan langkah yang gontai. Mereka udah mulai letih, di tambah lagi dengan kepanikan yang mulai menyerang, karena kedua kawannya belum juga keliatan.
Pikiran mereka mulai kemana-mana. Pertanyaan yang masih terngiang-ngiang di kepala mereka adalah, "Ari sama Aya udah turun duluan, atau masih ada di puncak?"
Ucu nanya ke Irwan, "Wan kira-kira mereka masih di atas gak?"
"Wah, gak tau gua. Antara yakin dan nggak. Dari tadi kita nunggu di Tunggu Abel, pasti kita tau kalo mereka turun. Tadi ada juga yang bilang mereka masih disana, tapi kalo liat cuacanya... kok aneh kalo mereka masih di atas." kata Iwan.
Ketika di pertengahan jalur puncak, keliatan tenda baru berdiri. Disekitar tenda ada dua orang satu laki-laki, dan satu-satunya lagi perempuan.
Mereka lagi duduk disekitar api unggun.
Kemudian pendaki laki-laki itu manggil Ucu dan Irwan. "Oooiii! Mau kemana? Mampir dulu sini."
Denger tawaran itu, mereka berdua menghampiri pendaki itu, dengan harapan, mereka bisa dapet petunjuk tentang Ari dan Aya.
Sesampainya di tenda itu, mereka pun berbincang-bincang.
Pendaki itu mengenalkan dirinya, Perdi.
Ucu pun bercerita mengenai terpisahnya mereka dengan Ari dan Aya.
Bang Perdi yang termasuk pendaki berpengalaman pun menyarankan mereka agar menunggu cuaca membaik dulu.
Akhirnya Ucu dan Irwan mutusin buat gak jadi naik ke puncak karna keadaan emang gak memungkinkan.
Mereka pun balik lagi ke tenda dengan bawa bekal dari Bang Perdi. Sambil jalan dengan cepet, akhirnya mereka sampe di dekat tenda yang tadi mereka dirikan.
Tapi, suasana jadi hening ketika mereka liat tenda mereka udah gak ada di lokasi semula. Dan Iman pun, ngilang entah kemana.
Masalah seolah-olah bertubui-tubi menghantam mereka.
Kemana tenda mereka?
Gimana nasib mereka di gunung itu?
jangan2 yang tadi cerita itu bukan orang asli nih..
ih serem...
pas kena sorot mobil Ari di tengok udah ga ada orangnya...
malah orangnya baru keluar dari mobilnya Ari...
gimana tuh bang kalo bener begitu kejadiaanya...
masa cuma dari tali pocong bisa kaya...
kalo mau kaya ya usaha, kerja, dagang jangan yang aneh2 dech