Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua naga dalam satu rimba
Di dalam dinginnya Benteng Bayangan, suasana terasa mencekam. Lord Kaelen telah kehilangan kesabarannya menunggu Mei Lin menyerah secara sukarela. Malam ini, ia memutuskan untuk mengklaim tawanan jasminenya. Atas perintahnya, beberapa pelayan berpakaian hitam masuk ke dalam sel bawah tanah, membawa bak mandi air hangat dan gaun dari kain hitam transparan yang dihiasi permata gelap.
Mei Lin dibersihkan secara paksa. Rambut hitamnya disisir hingga jatuh seperti tirai sutra di punggungnya. Setelah semua persiapan selesai, Mei Lin menatap para pelayan dengan mata yang tampak pasrah, namun di dalamnya berkilat api pemberontakan yang terakhir.
"Hamba sudah siap. Hamba akan menemui Lord Kaelen di peraduannya sendiri. Kalian pergilah, jangan sampai ia marah karena kalian terlalu lama di sini," ucap Mei Lin dengan suara tenang yang dibuat-buat.
Para pelayan itu, yang takut akan kemurkaan Kaelen, segera membungkuk dan pergi meninggalkan Mei Lin di depan lorong panjang menuju kamar sang Lord. Namun, begitu mereka menghilang, Mei Lin tidak menuju kamar Kaelen. Ia berlari ke arah berlawanan, menuju gerbang samping yang ia lihat saat pertama kali dibawa masuk. Pikirannya dipenuhi kebencian pada takdir. Kenapa? Kenapa setiap pria hanya melihat tubuhku sebagai piala? Mengapa tak ada yang melihat jiwaku?
Mei Lin berhasil mencapai pintu keluar, namun sebuah tangan yang sedingin es tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang membuat tulang-tulangnya terasa ingin remuk.
"Kau pikir bisa membodohiku di rumahku sendiri, Pelayan Kecil?" suara Kaelen berbisik di tengkuknya. Kaelen muncul dari balik bayangan, wajahnya tampak mengerikan dengan senyum sinis. Ia menarik Mei Lin kasar hingga dada gadis itu membentur tubuh kerasnya. "Hasratku padamu sudah mencapai batas, dan kau malah mencoba melarikan diri?"
Mei Lin berontak, air mata kemarahan jatuh di pipinya. "Kalian semua sama! Kau, Kaisar itu, kalian hanya monster yang haus nafsu!"
Tepat saat Kaelen hendak menyeret Mei Lin kembali ke dalam kegelapan benteng, sebuah ledakan dahsyat menghancurkan gerbang utama benteng tersebut. Debu dan puing-puing beterbangan. Dari balik kabut tebal dan api yang berkobar, muncul sosok yang sangat dikenal Mei Lin.
Kaisar Jian Feng berdiri di sana sendirian, tanpa pasukan di belakangnya saat itu, namun kehadirannya lebih menakutkan daripada seribu prajurit. Jubahnya robek, wajahnya penuh dengan bercak darah kering milik para pengawal luar Kaelen yang ia bantai di sepanjang jalan. Matanya yang merah terpaku pada tangan Kaelen yang masih mencengkeram Mei Lin.
"Lepaskan tangannya... atau aku akan membedah dadamu dan merobek jantungmu saat kau masih bernapas, Kaelen," suara Jian Feng rendah, bergetar oleh amarah yang sudah di puncak kegilaan.
Kaelen tertawa, suaranya bergema menantang. Ia justru menarik Mei Lin lebih dekat, merangkul pinggangnya dengan posesif di hadapan Jian Feng. "Kau terlambat, Jian Feng. Gadis ini sudah mencicipi dinginnya hutanku. Ia tidak akan pernah mau kembali ke kandang apimu yang membosankan."
"DIA MILIKKU!" raung Jian Feng.
Tanpa peringatan, Jian Feng melompat ke depan dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi manusia biasa. Pedang besarnya terayun, membelah udara dengan suara mendesing. Kaelen mendorong Mei Lin ke samping hingga gadis itu jatuh tersungkur, sementara ia sendiri menarik pedang tipisnya yang melengkung.
Logam bertemu logam dengan dentuman yang memekakkan telinga, menciptakan percikan api di tengah kegelapan. Pertarungan antara dua penguasa paling kejam di negeri itu pun pecah. Jian Feng menyerang dengan kekuatan brutal yang mampu menghancurkan batu, sementara Kaelen bergerak seperti bayangan, lincah dan mematikan. Mei Lin hanya bisa terisak di lantai, menyaksikan dua monster itu saling mencabik satu sama lain demi memperebutkan dirinya yang kini merasa tak lebih dari sekadar benda terkutuk.
bersambung