NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 Bayangan yang Menuntut Balas

Kehidupan yang damai adalah sebuah ilusi yang mahal bagi seseorang seperti Saka. Malam itu, di rumahnya yang kini kembali hangat oleh kehadiran ibunya, Saka merasakan firasat buruk yang merayap di tengkuknya. Suasana makan malam yang baru saja selesai menyisakan aroma semur daging yang nikmat, namun bagi Saka, udara mendadak berubah menjadi amis seperti tembaga.

Saat ia berdiri di depan wastafel dapur, air yang mengalir dari keran tiba-tiba melambat, membeku menjadi untaian kristal bening yang statis. Saka terpaku. Ia menoleh ke ruang tengah; ibunya sedang memegang piring, ayahnya sedang tertawa di depan televisi—keduanya membeku seperti patung lilin. Waktu telah berhenti, namun tidak ada getaran biru atau hitam yang biasanya menandakan kehadiran Parasit Waktu atau The Eraser. Kali ini, dunia berubah menjadi warna sepia yang mencekam, seolah-olah Saka sedang berada di dalam sebuah foto tua yang usang.

"Permainan belum berakhir, Sang Penjaga," sebuah suara kekanak-kanakan namun berat bergema dari atas meja makan.

Saka berbalik dan menemukan seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun duduk bersila di atas meja. Anak itu mengenakan pakaian pelaut kuno dari abad ke-19, wajahnya pucat pasi, dan matanya tidak memiliki pupil—hanya dua lubang hitam yang memancarkan kekosongan. Di tangannya, ia menggenggam sebuah lonceng perunggu yang permukaannya dipenuhi ukiran hieroglif kuno.

"Siapa kamu? Di mana Luna?" gertak Saka sambil mencoba memanggil energi kronos dari luka parut di tangannya. Namun, luka itu tetap mati. Tidak ada cahaya emas, tidak ada getaran kekuatan.

"Aku adalah Sekon, sisa-sisa dari detik yang kamu buang," anak itu melompat turun dari meja, kakinya tidak menimbulkan suara saat menyentuh lantai. "Kamu menyelamatkan ibumu, kamu menyelamatkan Anita, dan kamu pikir semesta akan berterima kasih? Tidak. Setiap kali kamu mengubah takdir, ada jutaan kemungkinan masa depan yang 'batal' terjadi. Jiwa-jiwa dari masa depan yang batal itu disebut The Unwritten (Mereka yang Tidak Pernah Ditulis). Dan sekarang, mereka kelaparan."

Sekon menggoyangkan loncengnya. Ting! Suara itu sangat nyaring hingga membuat telinga Saka berdenging hebat. Tiba-tiba, bayangan Saka di lantai bergerak sendiri. Bayangan itu merangkak naik ke dinding, lalu dengan gerakan cepat menerjang leher Saka, mencekiknya dengan kekuatan yang nyata.

Saka tersedak, wajahnya membiru. Ia bisa merasakan jari-jari dingin dari bayangannya sendiri menekan trakeanya. Ini adalah bentuk serangan metafisika yang paling murni; ia tidak bisa melawan bayangannya sendiri karena bayangan itu adalah bagian dari eksistensinya.

"Mereka ingin tubuhmu sebagai 'kapal' untuk menyeberang ke realitas ini," Sekon melanjutkan sambil berjalan mengelilingi Saka yang sedang berjuang bernapas. "Jika kamu tidak ingin menjadi wadah bagi ribuan jiwa yang marah, kamu harus menemukan Tinta Keabadian di Perpustakaan Alexandria yang tenggelam. Tinta itu bisa menulis ulang namamu di Buku Takdir agar kamu tidak bisa lagi disentuh oleh mereka yang tidak tertulis."

Sekon menghilang dalam pusaran debu emas, namun sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah angka Romawi yang terbakar di punggung tangan Saka: VII.

Waktu kembali berjalan normal. Byur! Air keran kembali mengalir membasahi tangan Saka. Ia jatuh terduduk di lantai dapur, terengah-engah, memegang lehernya yang masih terasa sakit.

"Saka? Kamu jatuh?" ibunya berlari ke dapur dengan wajah cemas.

Saka menatap ibunya, lalu menatap punggung tangannya yang bertuliskan angka tujuh. Ia hanya punya tujuh hari sebelum bayangannya mengambil alih jiwanya sepenuhnya. Ia tidak punya pilihan. Ia harus kembali melakukan perjalanan waktu, namun kali ini tujuannya bukan masa depannya sendiri, melainkan ribuan tahun ke belakang, ke masa di mana pengetahuan manusia disimpan dalam gulungan papirus yang kini telah menjadi mitos.

Tanpa menunggu fajar, Saka memacu motornya menuju Jalan Braga. Ia harus menemukan Luna. Di tengah perjalanan, arloji saku di sakunya berdetak liar. Melalui kaca kristalnya, Saka melihat bayangan-bayangan hitam yang tidak terlihat oleh orang lain mulai bermunculan di sudut-sudut jalan Bandung. Mereka adalah The Unwritten yang mulai menyeberang ke dunia nyata, menunggu instruksi dari pemimpin mereka.

Saka sampai di toko jam Ki Ganda, namun toko itu kini tertutup rapat dengan garis polisi. Rupanya, setelah kejadian di Menara Paradoks, keberadaan toko itu mulai terdeteksi oleh otoritas dunia nyata. Saka melompat lewat jendela samping.

Di dalam, ia menemukan Luna sedang mengemasi berbagai macam botol kecil berisi cairan bercahaya.

"Aku sudah tahu kamu akan datang, Saka," ucap Luna tanpa menoleh. "Angka tujuh itu... itu adalah hukuman mati dari sejarah."

"Bantu aku, Luna. Aku harus ke Alexandria. Aku harus mencari Tinta Keabadian," Saka menunjukkan punggung tangannya.

Luna menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah kompas tua yang jarumnya terbuat dari tulang manusia. "Melompat ke masa lalu yang begitu jauh membutuhkan energi yang sangat besar. Kamu harus mengorbankan sesuatu yang lebih dari sekadar ingatan kali ini. Kamu harus mengorbankan suaramu selama perjalanan tersebut. Kamu tidak akan bisa bicara sampai misimu selesai."

Saka mengangguk tanpa ragu. "Lakukan."

Luna membacakan mantra dalam bahasa yang tidak dikenal manusia modern. Cahaya sepia mulai menyelimuti ruangan. Luna menyentuhkan kompas itu ke dahi Saka.

"Ingat satu hal, Saka," bisik Luna tepat sebelum cahaya itu meledak. "Di Alexandria, jangan pernah membaca buku yang tidak memiliki judul. Itu adalah perangkap bagi para pengelana waktu."

WUSSSHHH!

Sensasi ditarik melalui lubang jarum kembali dirasakan Saka. Namun kali ini, ia tidak melihat lorong sekolah atau rumah sakit. Ia melihat pembangunan piramida, ia melihat kapal-kapal besar dengan layar berwarna merah, dan ia melihat sebuah perpustakaan megah yang berdiri di tepi laut Mediterania yang biru kristal.

Saka mendarat di atas tumpukan pasir yang panas. Di depannya berdiri bangunan megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang ke langit. Ia berada di Alexandria, tahun 48 Sebelum Masehi. Ia mencoba berteriak, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Ia telah menjadi bisu, pengelana tak dikenal di zaman di mana setiap kata adalah kekuatan.

Tiba-tiba, seorang pria berpakaian prajurit Romawi mendekatinya dengan pedang terhunus. "Siapa kamu, orang asing? Mengapa kamu mengenakan pakaian yang begitu aneh?"

Saka hanya diam, matanya terpaku pada tanda VII di tangannya yang kini berubah menjadi VI. Waktunya terus berjalan, dan di tengah kemegahan Alexandria, bayangannya sendiri mulai tumbuh lebih panjang dan lebih gelap, siap untuk menerkamnya di bawah terik matahari Mesir.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!