Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Cinta Tanpa Kata
"Gak papa," jawab Adimas akhirnya. Rani menghela napas panjang. Ya ampun, dadanya sudah mau meledak saat itu.
"Ya ampun Mas, aku kira akan kuk gitu." Rani mengerucutkan dua tangannya dan seolah mengadunya, mencerminkan dua orang yang berciuman.
"Apa? Mau coba?" tanya Adimas cepat. Rani langsung menggelengkan kepalanya dengan tangan melambai.
"Enggak deh, enggak. Yang keluar dari bibirku memang kebanyakannya kotor, tapi bibirku masih suci. Buat dapatkan kesucian minimal harus ada ritual suci dulu sebelumnya, gak boleh sembarangan," jawab Rani. Adimas mengangkat alisnya.
"Dih, dahlah!" kesal Rani pada akhirnya. Adimas tertawa melihat tingkah Rani yang amat menggemaskan itu.
"Hahah, kamu tidak takut aku memakanmu, Ran?" tanya Adimas. Rani memelototkan matanya.
"Enggak dong, aku meski lemah gini aku udah siapin ini." Rani memperlihatkan kalungnya.
"Apa itu?" tanya Adimas. Rani nyengir dan menggeleng cepat.
"Rahasia..." jawab Rani. Adimas kembali tertawa.
"Kamu beneran akan ke Cairo?" tanya Adimas pada akhirnya. Rani nampak gelisah.
"Iya, heheh..." Rani sedikit tertunduk, dia meremas roknya. Adimas tahu ada kekhawatiran di sana.
"Dulu aku juga ingin sekolah di sana, tapi saat itu keadaan tidak memungkinkan. Bila kamu di sana nanti, apa yang ingin kamu raih Ran?" Adimas mulai serius dengan ucapannya.
Rani menghela napas kasar, matanya kini tertuju keluar tenda. Api masih menyala, dan di sana ada situ atau danau yang membentuk riak kecil karena tertiup angin.
"Aku hanya ingin memenuhi keinginan Mamahku, Mas," jawab Rani. Adimas terdiam menatap Rani yang nampak dalam kepedihan.
"Mamah selama itu tak pernah marah meski nilaiku hancur di sekolah, dia juga tak pernah meminta hal lain padaku selain aku bahagia. Mamah pernah mengatakan bila dia ingin memiliki anak yang bisa hafal Al-Qur'an dan bisa bersekolah di Al-Azhar." Adimas terdiam, dia kini mengerti keinginan Rani.
"Apa keinginanmu yang sebenarnya, Ran?" tanya lagi Adimas. Rani tersenyum.
"Aku ingin jadi anak yang baik untuk Mamahku," jawab Rani. Adimas tersenyum mengusap rambut Rani dengan hati-hati.
"Lakukanlah," ucap Adimas. Rani mengangguk pasti.
"Mau ke pantai?" tanya Adimas lagi. Rani mengedipkan matanya beberapa kali.
"A-apa?" tanya Rani lagi. Adimas terkekeh dan meminum kopinya.
"Ayo ke pantai!" ajak lagi Adimas sembari mengulurkan tangan pada Rani. Rani membelalakkan matanya.
"Belum izin ke Mamah, heheh..." Rani mengangkat dua jarinya membentuk vis.
"Mana HP-nya?" pinta Adimas. Rani menyerahkan ponselnya pada Adimas. Adimas nampak menghubungi Mamah Rani untuk beberapa saat dan akhirnya izin diberikan dengan mudah.
"Sudah, ayo!" ajak Adimas. Rani mengedipkan matanya beberapa kali. Dia akhirnya menerima uluran tangan Adimas, dia tak tahu bila kini dia sudah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya dengan menerima uluran tangan itu.
Mereka kembali ke mobil, Adimas mulai berkendara malam itu.
"Ngantuk?" tanya Adimas saat melihat Rani mulai terkantuk-kantuk.
"Dikit," jawab Rani. Adimas terkekeh dan menepikan mobilnya sebentar.
"Pakai ini." Adimas menyerahkan bantal leher pada Rani. Rani tersenyum dan menggunakannya. Pada akhirnya Rani ketiduran, namun Adimas terus berkendara. Hingga jam satu malam dia sampai di sebuah pantai. Adimas tersenyum saat menyaksikan Rani terlelap dengan cantiknya.
Adimas menyentuh ujung hidung Rani, dia menyaksikan wajah damai itu dari dekat. Dadanya berdetak cepat, apa dia kini sudah benar-benar jatuh cinta pada Rani?
"Aku mencintaimu, Ran," bisik Adimas. Rani si kebo itu masih terlelap. Tampaknya meski diapa-apakan oleh Adimas pun dia akan tetap dalam mimpinya.
Adimas juga ikut tertidur, namun karena tidak nyaman jam 4.30 dia sudah bangun lagi. Keadaan mulai ramai di pantai. Adimas keluar dari sana dan memandangi warung-warung yang mulai menyiapkan jualan mereka.
"Hoam!" Rani terbangun dan melihat ponselnya.
"Subuh," ucap Rani menatap tempat Adimas yang sudah kosong. Rani celingukan dan keluar dari mobil.
"Udah bangun?" tanya Adimas. Rani tersenyum dan mengangguk.
"Mas, mau jadi imamku gak?" tawa Rani iseng. Adimas terdiam, mengartikan lain dari ucapan Rani.
"Boleh," jawab Adimas. Rani tersenyum dan menarik lengan Adimas. Mereka mencari mushola terdekat hingga akhirnya menemukan tempat itu.
Rani mulai mengambil air wudu, Adimas pun akhirnya mengikuti Rani. "Kukira jadi imam masa depan, astaga," gumam Adimas setelah mengambil air wudu.
Keduanya masuk ke dalam mushola dan akhirnya menunaikan salat subuh berjamaah. Rani dan Adimas pagi itu khusyuk. Entah disengaja atau tidak, dalam doa Adimas terselipkan nama Rani untuk masa depannya, dan Rani tanpa sengaja mengaminkannya.
Keduanya kembali berjalan ke arah pantai, dan Rani dengan wajah polosnya menikmati suasana pagi itu. Warna keunguan mulai terlihat di langit. Adimas dan Rani mulai ke arah pantai.
"Boleh nyeker gak?" tanya Rani. Adimas terkekeh melihat Rani kesulitan karena sandalnya memiliki hak kecil, meski tidak tinggi, namun tetap menyulitkan Rani berjalan.
Adimas menunduk di hadapan Rani, dia melepaskan sandal Rani. Rani membelalakkan matanya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bolehkah dia terbawa perasaan? Bolehlah itu?
"Ayo!" Adimas mengambil sandal itu di tangan kirinya, dan tangan kanannya terulur menggandeng tangan Rani.
[Haruskah aku mengatakan tempatnya?] Hahahah...
Pantai ujung timur Pangandaran menyambut mereka dengan cahaya pagi yang masih malu-malu. Matahari belum sepenuhnya terbit, namun garis jingga perlahan membelah langit, menyatu dengan sisa warna ungu subuh yang memudar. Angin laut berembus ringan, membawa aroma asin yang segar, menyentuh kulit seperti doa yang diam-diam dikabulkan.
Rani berjalan tanpa alas kaki di atas pasir yang masih dingin. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kecil yang segera disapu ombak lembut, seolah pantai itu ingin menjaga rahasia kebahagiaan mereka pagi itu. Bajunya bergerak pelan mengikuti angin, sementara rambutnya terurai sederhana, memantulkan cahaya keemasan yang jatuh di wajahnya.
Adimas berjalan di sisinya, menggenggam tangan Rani dengan erat namun tenang, seakan takut jika dilepaskan sedikit saja, momen itu akan menghilang. Tangannya hangat, penuh kehati-hatian, penuh rasa memiliki yang belum berani ia ucapkan lantang. Langkah mereka seirama, tanpa kata, tanpa perlu penjelasan apa pun.
Debur ombak terdengar seperti bisikan alam, menyanyikan lagu tentang awal yang baru. Rani tersenyum kecil, senyum yang tidak dibuat-buat, senyum yang lahir dari rasa aman. Sesekali ia menoleh ke Adimas, dan setiap kali mata mereka bertemu, dunia seolah mengecil, hanya ada pantai, pagi, dan dua hati yang perlahan saling menemukan rumah.
Di ujung timur Pangandaran itu, di bawah langit yang sedang belajar terang, Adimas sadar satu hal sederhana namun menyesakkan dada bersama Rani, bahkan diam pun terasa cukup. Dan bagi Rani, pagi itu mengajarkannya satu hal yang lebih lembut dari doa, bahwa kebahagiaan kadang datang tanpa janji, cukup dengan satu tangan yang tak ingin dilepaskan. Itu sudah cukup bagi Rani.
"Ran?" Adimas berhenti sejenak. Rani membenarkan rambutnya yang tertiup angin.
"Hem?" Rani tersenyum lembut. Adimas menghela napas kasar. Dia menarik tangan Rani, dia memeluk Rani, membiarkan perasaannya melebur dengan ombak kecil dan air asin yang membasuh kaki keduanya.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang