NovelToon NovelToon
MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu Cantik

Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.

Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.

Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.

Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian 22

Hari itu kantor terasa lebih bising dari biasanya. Bunyi mesin printer, langkah sepatu hak, dan obrolan rekan-rekan kerja bercampur jadi satu. Bianca menyelesaikan laporan awal untuk proyek barunya ketika Kepala Departemen, Pak Ferdian, menghampiri mejanya.

“Bianca, kamu dipanggil CEO. Ada yang ingin dibicarakan langsung.”

Bianca sontak berhenti mengetik. Jantungnya seperti melorot ke perut. Belum genap satu minggu bekerja, dan ia sudah dipanggil atasan tertinggi perusahaan. Ia menelan ludah, memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Dengan map dan tablet di tangan, Bianca mengikuti Pak Ferdian menuju lantai paling atas lantai eksekutif. Setiap langkah menuju lift terasa seperti berjalan di atas awan yang rapuh.

Di depan pintu ruangan CEO, Pak Ferdian mengetuk pelan.

“Masuk,” suara berat dari dalam terdengar.

Pintu terbuka. Bianca melangkah masuk.

Begitu matanya menemukan sosok pria di balik meja CEO, kaki Bianca seperti membeku di lantai.

Itu Sadewa.

Pria yang telah menjadi suaminya selama hampir dua minggu.

Pria yang bahkan tidak mau melihat wajahnya saat sarapan.

Pria yang tidak mengetahui ia bekerja di sini.

Mata Sadewa melebar. Pulpen yang dipegangnya terhenti di atas lembaran dokumen.

“Bianca?” suaranya hampir tidak terdengar, seperti seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.

Bianca membuka mulutnya, tetapi suara tidak keluar. Dadanya naik turun tak teratur.

Pak Ferdian melihat keduanya bergantian, bingung.

“Pak, saya—”

“Terima kasih, Pak Ferdian,” potong Sadewa, cepat namun tetap sopan. “Saya ingin berbicara dengan karyawan baru ini secara pribadi.”

Pak Ferdian mengangguk dan pergi.

Pintu tertutup.

Keheningan menyergap.

Sadewa berdiri dari kursi, kedua tangannya bertumpu di meja, wajahnya sulit dibaca — campuran marah, syok, dan kecewa pada semesta.

“Apa maksudnya ini?” suaranya rendah tapi tajam. “Kenapa kamu ada di sini?”

Bianca menggenggam map erat-erat. “Aku… melamar online. Aku tidak tahu ini perusahaan kamu.”

Sadewa menatapnya, seolah ingin memastikan Bianca tidak berbohong. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan mengelilingi meja, berdiri tepat di depan Bianca.

“Mulai sekarang, dengarkan baik-baik,” katanya.

Napasnya terdengar berat, tapi tatapannya tetap stabil.

“Tidak ada satu pun di perusahaan ini yang boleh tahu kita menikah. Tidak ada. Sama sekali.”

Bianca mengangguk perlahan.

Ada rasa sesak yang menusuk dadanya. Namun ia menahan.

“Aku tidak pernah berniat memanfaatkan status,” ucap Bianca dengan suara pelan, tapi tegas. “Aku hanya ingin bekerja. Berdiri di kakiku sendiri.”

Sadewa memalingkan wajah, rahangnya mengeras.

Kata-kata Bianca terasa seperti hantaman yang tak ia siap terima.

“Di kantor…” lanjut Sadewa, suaranya kembali stabil. “Aku adalah atasanmu. Kamu adalah karyawan biasa.”

Bianca menunduk. “Mengerti, Pak.”

Ia membungkuk sopan sebelum melangkah menuju pintu.

Sesaat sebelum keluar, ia menatap Sadewa sekali lagi, berusaha tersenyum kecil, meski tidak berhasil.

Begitu pintu tertutup, Sadewa menunduk, menyandarkan tangan ke meja kerja.

Nafasnya keluar panjang.

Seolah dunia baru saja memutuskan untuk bermain-main dengan hidupnya.

Bianca berjalan menuju lift dengan langkah tergesa. Kepalanya masih penuh, hati dan pikirannya seperti bertabrakan.

Saat pintu lift terbuka, seseorang di dalamnya sedang menunduk menatap ponsel.

Begitu orang itu mendongak, Bianca terbelalak.

Raka.

Aktor populer, teman dekat Sadewa.

Orang yang menolong mengantar Sadewa pulang dalam keadaan mabuk tempo hari.

Raka juga sama terkejutnya. Senyum refleks langsung muncul di wajahnya.

“Bianca?” tanyanya, suaranya naik setengah oktaf. “Kamu kerja di sini?”

Bianca menegang, lalu mengangguk canggung. “Iya, baru mulai minggu ini.”

Raka tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan benar-benar penasaran. “Dunia sekecil itu ya? Gila.”

Mereka sama-sama berdiri di depan lift. Suasana jadi aneh bukan karena romantis, tapi karena keadaan yang terlalu kebetulan.

“Aku baru mau ketemu Sadewa,” jelas Raka sambil menunjuk arah ruangan CEO. “Ada proyek endorse, sekalian ngajak main golf.”

Bianca mengangguk, tidak tahu harus merespons apa.

Raka merapikan jaketnya. “Selamat ya, kerja di sini. Kamu keliatan cocok kok. Aura percaya dirinya beda.”

Pujian itu membuat pipi Bianca memanas sedikit.

Saat pintu lift mulai menutup, Raka menahan dengan tangannya.

“Oh ya,” katanya sambil mengeluarkan ponsel. “Boleh minta kontak? Supaya kalau kamu butuh bantuan bukan cuma soal ngangkut orang mabuk lagi.”

Nada suaranya ringan, ramah, tidak mengarah ke flirting.

Hanya bentuk apresiasi dari seseorang yang merasa Bianca punya potensi.

Bianca sempat ragu, tapi akhirnya mengetikkan nomornya.

Raka tersenyum, mengangkat ponselnya seperti memberi hormat kecil.

“Hati-hati kerja, Bianca. Jangan terlalu keras sama diri sendiri.”

Bianca membalas dengan senyum sopan. “Terima kasih, Kak Raka.”

Pintu lift menutup.

Raka berjalan menuju ruang CEO.

Di lantai yang sama, dari balik kaca hitam yang memantulkan bayangan kota, Sadewa berdiri.

Ia melihat Bianca dan Raka berbicara sebentar tadi.

Ia merasa… aneh.

Bukan cemburu.

Bukan marah.

Lebih seperti tidak nyaman.

Seperti seseorang menyodok bagian hatinya yang selama ini ia kira sudah membatu.

Sadewa mengepalkan tangan pelan.

“Jangan mulai,” gumamnya pada diri sendiri.

“Ini cuma pernikahan kontrak. Tidak lebih.”

Tapi suara hatinya, pelan dan membandel, berkata lain.

Pintu ruang CEO tiba-tiba terdorong terbuka.

Tanpa ketukan. Tanpa aba-aba.

Raka melangkah masuk dengan santai, tangan satu masuk ke saku, satu lagi memegang ponsel. Kebiasaannya sejak dulu selalu seenaknya kalau menyangkut Sadewa.

Sadewa yang sedang menandatangani berkas menegakkan punggungnya, alisnya terangkat tinggi.

“Kamu lupa gimana cara mengetuk pintu?” suaranya dingin.

Raka menutup pintu dengan kaki, lalu menjatuhkan diri ke sofa seolah ruangan itu miliknya sendiri.

“Aku cuma penasaran,” ujarnya ringan. “Gimana ceritanya istri kamu kerja di perusahaan kamu sendiri? Aku kira kamu tipe suami yang bakal kasih dia kartu kredit platinum dan uang jajan sepuasnya.”

Nada suaranya terdengar seperti bercanda, tapi mata Raka memperhatikan reaksi Sadewa dengan tajam.

Seakan ingin memastikan apakah Sadewa benar-benar baik-baik saja.

Sadewa meletakkan pulpen, menyilangkan tangan di depan dada.

“Itu urusan kami,” jawabnya datar.

Raka terkikik. “Jadi kamu nggak cukup modal ngurus istri? Kasian amat. Baru nikah, istrinya udah kerja keresek-keresek sendiri nyari uang.”

Sadewa mendengus pelan, menahan emosi.

Ada bara kecil di dalam dadanya.

“Bianca ingin bekerja,” katanya dengan nada yang lebih tegas. “Dan itu keputusannya sendiri. Aku nggak melarang.”

“Oh? Jadi kamu mendukung istri kamu? Hmmm…” Raka mengangguk-angguk berlebihan, pura-pura terkesan. “Perkembangan yang bagus. Kukira kamu bakal mengurung dia di rumah kayak—”

“Cukup, Raka.”

Suara Sadewa turun satu oktaf, dingin dan tajam.

Raka terdiam sesaat.

Senyumnya menipis.

Ia melihat Sadewa dengan tatapan seperti menembus dinding yang selama ini Sadewa bangun di sekeliling dirinya.

“Aku cuma… khawatir,” ucap Raka akhirnya, nada suaranya lebih lembut. “Kamu kelihatan nggak siap. Semuanya berubah cepat. Dan kamu belum nerima Bianca sepenuhnya.”

Keheningan mengisi ruangan.

Sadewa menunduk sebentar, menarik napas panjang.

“Ini cuma satu tahun,” katanya lirih.

“Setelah itu semua kembali normal.”

Raka memiringkan kepala. “Yakin? Itu cuma kata-kata di kertas kontrak. Tapi hati manusia nggak semudah itu patuh, Dew.”

Sadewa terkesiap, tak siap diserang tepat di titik lemah.

Ia mengalihkan pandangan ke jendela besar di belakang meja kerjanya pemandangan gedung-gedung tinggi seperti menyatu dengan pikirannya yang berantakan.

Raka berdiri, merapikan jaketnya.

“Kalau kamu pikir nggak punya perasaan akan bikin semuanya lebih mudah,” katanya sambil berjalan ke pintu, “kamu salah. Karena Bianca itu… tipe perempuan yang gampang disayangi.”

Tangan Sadewa mengepal refleks.

“Dan kamu?” suaranya hampir bergetar. “Kamu tertarik sama dia?”

Raka berhenti, menoleh, tersenyum kecil — senyum yang tidak memberikan jawaban, justru membuat Sadewa semakin gelisah.

“Kalau aku tertarik?” Raka mengangkat bahu. “Ya salah siapa? Perempuan cantik, sopan, punya prinsip. Diabaikan suaminya sendiri. Kesempatan emas, kan?”

Mata Sadewa membara, tapi lidahnya kelu.

Raka membuka pintu dan melangkah keluar.

Sebelum pintu menutup, ia berkata pelan:

“Jaga istrimu, Dew. Kalau kamu nggak bisa… dunia nggak akan segan-segan mengambilnya darimu.”

Pintu menutup.

Sadewa berdiri sendiri di tengah ruangan.

Sebuah kalimat menggedor dari dalam dirinya sendiri “Aku tidak peduli…”

Tapi suaranya terdengar palsu.

Bahkan bagi dirinya sendiri.

1
mheldaaa
🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
rasain , tp bentar lg sarah datang yg sakit hati bianca kasihan yaa
Dian Fitriana
update
Reni Anjarwani
sdh bi mending kamu sama orang lain dati pada sama, sadewa yg blm bisa melupakan laki2 lain
Dian Fitriana
update
Reni Anjarwani
lanjut thor
Dewi Susanti
lanjut kak
Dewi Susanti
yang banyak up nya kak
Dewi Susanti
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!