Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Melakukan Operasi
Saat ini Aruna sedang dalam konsentrasi penuh, melakukan operasi seorang diri adalah pengalaman pertamanya. Dulu, jikapun sendiri ada Asisten yang berdiri di sampingnya, tapi kali ini yang berdiri di sampingnya adalah Tabib Gu, berdiri seperti orang bodoh karena tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya akan bergerak jika Aruna meminta bantuannya ini dan itu.
Satu jam berlalu, setelah Li Dali mengambil keputusan untuk membiarkan Aruna merobek perut Istrinya, kedua bela pihak juga sudah berjanji tidak akan menyalahkan Aruna jika terjadi sesuatu, karena pada dasarnya, sejak awal memang tidak akan selamat.
Kamar itu sudah Aruna sulap menjadi ruang bedah versi darurat, lampu operasi kebetulan ada yang bisa akses di ruangnya tapi berukuran kecil dalam bentuk portable. Lampu itu dia gantung di langit-langit kamar, untuk suhu ruangan Aruna menggunakan Elemen Es nya, sehingga mencapai 24°C. Dan menggunakan Kekuatan mental, untuk kedap suara tapi tidak sepenuhnya.
Tabib Gu dibuat tercengang, sekaligus takjub. Ternyata Aruna sehebat itu. Tidak heran, jika tenaga dalamnya begitu melimpah, karena memiliki Kekuatan Elemen. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya, namun dia harus menahannya, melihat Aruna yang merobek lapisan kulit tanpa rasa takut dan gugup, itu sudah membuktikan semua ucapannya.
Kondisi Istri Li Dali yang bernama Senbi cukup stabil setelah Aruna memberi minum air spiritualnya, Senbi sudah kehabisan tenaga karena sudah berjam-jam menahan sakit, air ketuban sudah pecah, nafasnya sesak. Saat ini dia sedang dalam pengaruh obat bius.
Sebenarnya melakukan operasi tidak perlu waktu lama, tapi Aruna hanya sendiri dan alat yang digunakan seadanya, setidaknya Tabib Gu berguna untuk sering mengecek denyut nadinya.
"Ooeeekk,, Ooeeeekkk"
Suara tangisan bayi seketika menggema dalam kamar, Setelah memotong tali pusar Aruna langsung memberikannya kepada Tabib Gu untuk dibersihkan dan melakukan pemeriksaan, itu sudah diatur sejak awal.
Aruna segera mengeluarkan plasentanya sampai bersih, dan menjahitnya kembali.
Setelah beberapa menit akhirnya dia bisa bernafas lega. Semuanya telah selesai, perban juga sudah dipasang, kondisi pasien juga stabil, dia berhasil.
Aruna berjalan mendekat ke Tabib Gu lalu bertanya. "Bagaimana kondisinya?
"Bayinya sehat, tanpa cacat!"
*****
Orang-orang di luar kamar duduk dengan diam, tapi hati mereka sangat gelisah. Sudah satu jam berlalu tapi pintu kamar belum terbuka.
Li Dali yang mondar mandir di depan kamar sangat ingin menerobos masuk, apalagi dia sudah tidak mendengar suara Istrinya yang kesakitan. Tapi dia teringat dengan ancaman Aruna, jika dia nekat menerobos, berarti dia sudah membunuh Istrinya. Dia tidak tau saja, pintu kamar sudah di kunci menggunakan kekuatan mental.
"Ooeeekk Ooeeeekkk.."
Semua tertegun mendengar suara tangisan bayi. Orang-orang di luar rumah juga mendengarnya.
"Selamat,,, selamat...itu cucuku! Wu wu wu.." ucap Bibi Meng, Ibu dari Li Dali.
"Wahh berhasil.."
"Bayinya sudah dikeluarkan.."
"Itu bayinya menangis.."
"Astaga,, entah bagaimana nona Tabib itu melakukannya.."
"Sungguh Tabib Dewa, dia benar-benar berhasil..."
Kakek Ji mengusap air matanya, dia akhirnya juga bisa bernafas lega. Dia menatap pintu kamar dengan tatapan penuh kasih, Aruna sudah bekerja keras, dia sudah menganggap Aruna sebagai cucu kandungnya.
Li Dali yang baru sadar dari ke terkejutannya langsung berseru.." Ibu, Ayah, cucu kalian selamat." Dia sangat bahagia, tapi kemudian kembali terdiam, dia belum tau bagaimana kondisi Istrinya. Apakah masih bisa selamat jika perutnya sudah berlubang?
Semua kembali menunggu, kenapa begitu lama, padahal sang bayi sudah dikeluarkan. Apakah terjadi sesuatu di dalam sana? Rasa cemas kembali melanda. Jantung semua orang berdebar kencang, apakah tangisan bayi tadi hanya sesaat sebelum menyusul Ibunya?
Drett...
Suara deritan pintu menyadarkan semua orang, melihat Tabib Gu keluar dengan wajah pucat membuat pikiran mereka makin kemana.
"Nyonya, Anda silahkan masuk, Cucuku memanggilmu!" katanya kepada kepada Ibu Li Dali.
Bibi Meng segera beranjak, dia sungguh penasaran bagaimana keadaan menantu dan cucunya, dia harus menguatkan hatinya jika terjadi sesuatu.
"Kenapa bukan aku? Aku suaminya?" Li Dali bertanya sambil menunjuk dirinya.
Tabib GU hanya menatapnya dengan dingin, dia tidak ingin beragumen dengan pemuda yang pikirannya masih labil. Bagaimana bisa, Li Dali baru 17 tahun sudah punya anak 2.
***
Di dalam kamar, Aruna sudah menyimpan semua alat-alatnya. Hanya tersisa kotak medisnya, suhu ruangan sudah kembali stabil kecuali dibagian tempat tidur pasien dan si bayi.
Dia sedang menulis resep ramuan obat untuk ditebus. Obat yang dia perlukan dalam ruangnya belum bisa diakses, saat di kota Junsu Aruna tidak membeli obat untuk Ibu yang baru lahiran.
Aruna melihat Bibi Meng masuk yang langsung menuju ke menantunya. Namun dia tercengang mendengar ucapannya.
"Nak, kamu sudah tidak perlu menahan sakit lagi. Bayimu juga sudah dikeluarkan, kamu bisa tenang di sana! Ibu akan merawat dan membesarkan Yuyu dengan baik!" Dia sangat bersedih kehilangan menantunya.
"Bibi menantumu masih hidup, dia cuman tidur!" celetuk Aruna tiba-tiba.
"A-Apaa.. Masih hidup?" tanya dengan suara sedikit keras karena syok. Dia berjalan lebih dekat lagi dan barulah dia melihat jika perut menantunya masih naik turun.
Bibi Meng tidak harus bereaksi seperti apa, dia hanya bisa mematung, ini terlalu mustahil. Menantunya yang sudah diperkirakan akan mati hari itu kini sedang tidur dengan nyenyak. "Benar-benar masih hidup"
"Bibi, kamu boleh keluar dan memberi tahu yang lainnya. Pasti mereka sedang menunggumu!" Pinta Aruna, karena dia tau Tabib Gu langsung pergi menenangkan diri, karena baru pertama kali melihat metode yang sangat mengerikan, tapi bisa menyelamatkan.
"Baik, baik.." ucapnya dengan semangat.
"Ehh Bibi, kamu boleh lihat cucumu sebentar!"
Bibi Meng mematung, tapi dia tetap melangkah mendekat ke box bayi. Bayi mungil yang sangat cantik sedang tidur penuh kedamaian. Sangat cantik, seperti Ibunya, tapi sayang sekali.
Aruna yang melihatnya langsung berkata "Bibi, Cucumu juga masih hidup. Apakah kalian tidak mendengar tangisannya dari luar?"
Bibi Meng kembali mematung dan melihat Aruna, apakah Aruna sedang membohonginya? Sedetik kemudian, dia menangis dan berlari keluar.
Wu wu wu wu....
"Menantuku wuwuwu,,,, Cucuku. Mereka selamat wuwuwuw.." Dia menceritakan sambil menangis bahagia.
Orang-orang di luar pun sangat senang, mereka juga tak menyangka, jika Aruna benar-benar bisa mengeluarkan bayi dalam keadaan selamat.
...----------------...
Tiga hari berlalu, Rombongan Desa Suning, bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Ya, selama tiga hari mereka harus tinggal di Desa Jujing, karena Aruna masih harus memantau keadaan Senbi.
Di Desa Jujing air juga sudah mulai berkurang, ternyata kemarau juga sudah hampir dua tahun melanda mereka. Mungkin karena tidak seburuk Desa Suning, jadi mereka tidak diperintahkan untuk mengungsi.
Keberhasilan Aruna yang menyelamatkan bayi sungsang segera tersebar luas sampai ke kota, bahkan tabib yang pertama kali menyerah datang langsung untuk membuktikannya. Saat itu juga, dia merasa dirinya belum terlalu mengenal ilmu medis, dan ingin menjadi murid Aruna.
Semua orang sudah bisa melihat bekas robekan itu, hanya beberapa senti saja, tidak seperti yang mereka bayangkan, berlubang sepenuhnya. Kondisi Senbi pulih dengan cepat, karena Aruna memberinya Air spiritual. Dengan alasan 'Air sudah ada kandungan obatnya'.
Di rumah Li Dali semua anggota keluarga termasuk Senbi, anaknya dijaga oleh tabib Gu di dalam kamar, karena Aruna ingin memberikan beberapa wejangan.
"Dengarkan baik-baik, saat ini Ibu Yuyu tidak boleh bekerja, atau mengangkat barang berat. Dia hanya bisa berjalan di sekitaran rumah. Jahitan di perutnya bisa dikatakan benar-benar kering setelah 2 tahun!"
Melihat semua orang mengangguk mengerti, Aruna melanjutkan. "Jika kalian tidak patuh. Bekas jahitan bisa robek kembali, berdarah dan infeksi. Itu sangat berbahaya!"
"Dan kamu!" Tatapannya tajam tertuju pada Li Dali.
Li Dali merasa gugup ditatap seperti itu.."Ya, aku kenapa?"
"Anakmu sudah dua, dan masih kecil. Istrimu tidak boleh hamil selama 10 tahun ke depan." Aruna sengaja mangatakan waktu yang begitu lama, agar mereka bisa fokus dengan dua anaknya yang masih kecil itu.
Semua orang tercengang mendengar ucapan Aruna yang blak-blakan..Terutama Li Dali dengan Istrinya yang sudah menahan rasa malu.
"Aku seorang Tabib, jadi aku tau apa yang perlu dikatakan, ini demi keselamatan Istrimu, jika tahun depan Istrimu hamil lagi -----!" Aruna menggantung ucapannya sambil menggeleng.
"Nona Tabib, jangan khawatir. Aku sebagai Ibunya akan selalu mengawasi dan mengingatkan mereka." Bibi Meng merasa ucapan Aruna benar, saat ini dia trauma jika menyangkut orang hamil.
"Ya, baik kalau begitu, saya tidak bisa tinggal lagi, kami harus melanjutkan perjalanan.
"Nona terima kasih!"
"Nona Tabib terima kasih!"
"Kami tidak bisa membalas kebaikanmu,!"
Segera mereka mengeluarkan sesuatu yang sudah mereka siapkan sebagai ucapan terima kasih. "Nak, hanya ini harta yang kami punya,"
Aruna melihat sebuah keranjang yang isinya jagung kering, tepung kasar, telur ayam 20 butir, dan beberapa sayuran liar, serta dua ekor ayam tua.
"Aku tidak bisa terima, kalian ambil kembali, Senbi masih dalam pemulihan, dia harus menjaga nutrisinya dengan baik." Ucap Aruna dengan halus.
Li Dali dan keluarganya tertunduk lemas, mereka sudah menduga Aruna pasti menolak, karena pemberian mereka sangat sedikit, tidak layak untuk dikatakan sebagai ucapan terima kasih, lebih lagi Aruna sudah menyelamatkan dua nyawa sekaligus yang bahkan Tabib kota saja tidak mampu.
Aruna jadi serba salah, dia sudah tau bagaimana kondisi mereka yang tidak jauh beda dengan kondisi warga Desa Suning. Jika dia menerimanya kondisi mereka tambah parah lagi, tapi jika menolak mereka yang tidak enak hati.
Aruna mengatakan, jika mereka lebih membutuhkan itu semua, dirinya bisa mencari makan atau uang dengan ilmunya sebagai Tabib. Aruna hanya meminta semua kantong air mereka diisi penuh untuk perbekalan.
Permintaan Aruna yang tidak seberapa itu tentu langsung di setujui Tuan Bai, meskipun Aruna tidak meminta sebagai bayaran, dia akan tetap memberinya seperti para pengungsi lainnya yang lewat di Desa Jujing.
****
Rombongan Desa Suning akhirnya melanjutkan perjalanan dengan penuh tenaga, bagaimana tidak! Mereka sudah beristirahat selama tiga hari, walaupun makan mereka hanya makanan seperti biasanya sebelum mereka makan nasi.
Kakek Ji, hanya tidak ingin terlalu mencolok. Apalagi Desa Jujing juga dalam kondisi sulit, tidak ada yang komplain, karena semua itu milik Aruna.
Hanya butuh setengah jam untuk keluar dari Desa Jujing, dan setengah jam kemudian, kembali memasuki sebuah Desa, saat melapor semuanya berjalan dengan lancar, sehingga mereka melanjutkan perjalanan tanpa henti.
Kakek Ji sudah tau, di depan tidak ada lagi Desa, karena Desa lainnya berada di posisi mengelilingi Kota, Dan Kota yang akan mereka lewati bernama Kota Nuwu. Membutuhkan waktu dua jam bagi pejalan kaki.
lanjut thorr💪💪💪