Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab5
Suasana di ruang tamu yang tadinya sakral dan rapi, mendadak berubah jadi seperti kantin sekolah. Sepuluh teman perempuan Namira duduk berhimpitan di sofa, sementara tiga teman laki-lakinya duduk lesehan di karpet dengan posisi kaku, tepat di hadapan Ayyan yang duduk tegak dengan wibawa seorang Kyai muda.
"Jadi... ini beneran suaminya Mira?" tanya Bila memecah keheningan sambil curi-curi pandang ke arah Ayyan. "Ganteng banget, Mir! Mirip aktor Turki yang sering lewat di fyp aku!"
Namira yang duduk di samping Ayyan langsung membusungkan dada bangga. "Iya dong! Pilihan Bunda nggak pernah gagal. Tapi ya gitu, ganteng-ganteng galak! Kalau di rumah, Mira harus lapor dulu kalau mau ngapa-ngapain," keluh Namira dengan gaya dramatisnya.
Ayyan hanya melirik istrinya sebentar, lalu kembali menatap tamu-tamunya dengan tenang. "Saya hanya menerapkan disiplin, bukan galak," sahut Ayyan dingin.
Sisil, salah satu teman non-muslim Namira yang paling berani, tiba-tiba nyeletuk dengan wajah polos. "Pak Ustadz, saya penasaran deh. Kan kalian nikahnya mendadak banget nih. Gimana rasanya malam pertama tinggal satu kamar sama Mira yang mulutnya nggak bisa berhenti bunyi kayak radio rusak? Pak Ustadz tidurnya tenang nggak?"
Uhuk! Uhuk!
Namira langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya yang putih mendadak berubah jadi merah padam sampai ke telinga. "Sisil! Pertanyaan lo nggak ada filter ya!" teriak Namira sambil memukul bantal sofa.
Ayyan tetap tenang, meski telinganya sedikit memerah mendengar pertanyaan frontal itu. Ia mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis dengan sangat anggun.
"Malam pertama kami... cukup berkesan," jawab Ayyan singkat dengan nada misterius. "Saya baru tahu kalau ada orang yang bisa bahas dres baju dan seblak bahkan di saat-saat paling sakral sekalipun."
Teman-teman Namira langsung tertawa pecah. "Tuh kan! Bener kata gue, Mira mah nggak ada romantis-romantisnya!" sahut Dio sambil tertawa.
"Tapi Pak Ustadz," tanya Dio lagi, "Mira kan anaknya manja banget nih, suka nangis kalau nggak dibeliin jajanan. Pak Ustadz sanggup ngadepinnya? Secara Pak Ustadz kan kelihatannya serius banget, sedangkan Mira ini... yah, begini, kayak bocil."
Ayyan menoleh ke arah Namira yang sedang cemberut maksimal. Tangannya tiba-tiba terangkat dan menepuk puncak kepala Namira di depan teman-temannya—sebuah gerakan langka yang membuat semua orang di ruangan itu melongo.
"Kekurangan Namira adalah tugas saya untuk melengkapinya. Kalau dia manja, berarti saya harus lebih sabar. Kalau dia bawel, berarti saya harus jadi pendengar yang baik," ucap Ayyan dengan nada rendah yang sangat romantis namun tetap tegas. "Tapi kalau dia keterlaluan... ya tetap saya tegur. Benar begitu, Istriku?"
Namira mendadak diam seribu bahasa. Nyalinya buat debat langsung hilang. "I-iya Mas..." jawab Namira malu-malu kucing, yang langsung disoraki oleh teman-temannya.
"CIEEE! MIRA BISA MATI KUTU JUGA!"
"Tolong, ini rumah atau pabrik gula? Manis banget!"
"Eh, ada tamu toh? Rame banget le," ucap Umi Fatimah yang muncul dari arah dapur dengan senyum keibuannya yang teduh. Di belakangnya, Bunda Namira menyusul sambil membawa nampan berisi gelas-gelas es jeruk yang tampak segar dan piring-piring cemilan.
"Ayo, dimakan dulu cemilannya. Maaf ya, cuma ada seadanya," kata Bunda Namira sambil menaruh nampan di meja.
Melihat ada Umi Fatimah yang memakai abaya anggun dan Bunda Namira, teman-teman Namira langsung mendadak sopan. Mereka yang tadinya duduk santai, langsung tegap dan menyalami kedua ibu tersebut satu per satu.
"Makasih, Tante... eh, Bunda," ucap teman-temannya kompak.
Begitu gelas es jeruk diletakkan, teman-teman Namira—terutama yang laki-laki—langsung menyerbu karena memang cuaca Jakarta mulai terasa gerah. Sisil, Maya, dan Dinda asyik mencicipi kue lapis buatan Bunda Namira.
"Enak banget kuenya, Bun!" puji Sisil tulus.
Namira yang tadinya malu gara-gara ucapan Ayyan, kini semangat lagi begitu melihat makanan.
"Nah, makan yang banyak ya! Biar kalian nggak lemes lihat keuwuan gue sama Mas Ayyan," ucap Namira sambil meraih gelas es jeruknya.
"Namira, bicaranya dijaga," tegur Ayyan pelan, namun terdengar sangat berwibawa.
Namira hanya menyengir, lalu menoleh ke arah teman-temannya. "Eh, kalian tau nggak? Tadi subuh gue bangun jam setengah tiga lho! Gila nggak tuh? Demi Mas Kulkas ini!"
"Namira Salsabila," panggil Ayyan lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam.
"Eh, iya... demi Mas Ayyan maksudnya," ralat Namira cepat-cepat sambil menciut.
Dio, teman laki-laki Namira, tertawa melihat pemandangan itu. "Tante, kayaknya Namira dapet lawan yang sepadan ya. Biasanya dia yang paling galak di kelas, sekarang malah nunduk sama Pak Ustadz."
Bunda Namira tertawa kecil sambil mengusap pundak menantunya. "Iya, Nak Dio. Bunda emang titip Namira sama Nak Ayyan biar ada yang 'jinakin'. Biar nggak cuma mikirin paket dres sama seblak terus."
Tiba-tiba, Bila nyeletuk sambil melihat kearah Ayyan dan Namira secara bergantian. "Bunda, ini mereka mau langsung pindah ke pesantren hari ini? Yah, sepi dong nggak ada Mira yang suka teriak-teriak di kantin."
Umi Fatimah menjawab sambil tersenyum, "Iya, rencananya setelah ini mereka langsung berangkat. Para santri di sana sudah nggak sabar mau ketemu Ibu Nyai barunya yang katanya... sangat ceria ini."
Mendengar kata "Ibu Nyai", Namira hampir tersedak es jeruknya lagi. "Hah? Ibu Nyai? Mira? Aduh Mi, apa nggak keberatan tuh gelarnya buat Mira?"
Ayyan melirik istrinya dengan sudut mata, ada kilat jenaka di sana. "Makanya, sampai di sana nanti, mode 'radio rusak'-nya dikurangi sedikit. Paham?"
"Oh, nggak bisa lah, Ustadz!" seru Bila sambil tertawa kencang, diikuti anggukan setuju dari teman-teman yang lain.
"Iya, Pak Ustadz. Namira itu kalau nggak disuruh ngomong sehari aja, mungkin badannya langsung panas dingin," timpal Dio sambil asyik mengunyah kacang goreng. "Dia itu maskot kebisingan di sekolah kita. Kalau tiba-tiba kalem jadi Ibu Nyai, yang ada kita semua malah curiga dia lagi sakit gigi!"
Namira langsung melempar bantal kursi ke arah Dio. "Heh! Enak aja! Gue tuh serba bisa ya. Bisa mode silent, bisa mode toa masjid. Tergantung situasi dan kondisi!"
Ayyan hanya menyimak pembicaraan itu sambil menyesap es jeruknya dengan tenang. Namun, pandangannya tertuju pada Namira yang sedang asyik bercanda. Ada sedikit rasa khawatir sekaligus geli di hatinya membayangkan istrinya ini masuk ke lingkungan pesantren yang penuh aturan dan ketenangan.
"Tuh kan, Mas lihat sendiri!" Namira menoleh ke arah Ayyan sambil cemberut. "Teman-teman aku aja tahu kalau aku itu aset berharga. Masa Mas Ayyan mau bikin aku jadi patung di pesantren nanti?"
Ayyan meletakkan gelasnya perlahan di atas meja, menimbulkan bunyi dentingan halus yang seketika membuat teman-teman Namira kembali menyimak.
"Saya tidak meminta kamu jadi patung, Namira, " ucap Ayyan tenang. "Hanya saja, di pesantren itu ada adab. Kamu boleh bicara, boleh ceria, tapi tahu tempat dan waktu. Lagipula, kalau kamu bicara terus, kapan kamu dengerin saya?"
"Wuihhh! Dalem banget!" seru teman-teman Namira serempak.
"Kena mental nggak tuh, Mir?" goda Maya sambil menyenggol lengan Namira.
Bunda Namira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri dan teman-temannya.
"Sudah, sudah. Ayo diabisin dulu cemilannya. Kasihan ini Nak Ayyan sama Umi Fatimah, harus segera berangkat biar nggak kemalaman sampai di pesantren."
Sambil menikmati es jeruk, Sisil tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. "Eh, sebelum kalian pergi ke dunia pesantren yang jauh di sana, kita foto bareng dulu dong! Buat kenang-kenangan kalau kita punya temen yang berhasil menaklukkan hati Ustadz Kulkas!"
"Setuju!" teriak mereka semua.
Namira langsung bersemangat. "Ayo! Mas Ayyan, ayo foto! Jangan pasang muka datar ya, nanti disangka foto ijazah lagi!"
Ayyan menghela napas pasrah. "Satu kali saja ya."
"Nggak bisa! Minimal sepuluh gaya!" balas Namira cepat sambil menarik-narik lengan baju koko Ayyan agar berdiri.
Sesi foto pun dimulai dan bisa ditebak, suasananya sangat heboh karena perbedaan kepribadian Namira dan Ayyan yang bak bumi dan langit.
"Ayo, semuanya kumpul! Yang laki-laki di belakang, yang cewek-cewek di samping Mira!" seru Bila yang mendadak jadi pengatur gaya.
Gaya Pertama: Formal
"Oke, gaya pertama formal ya. Pak Ustadz sama Mira berdiri di tengah," instruksi Bila.
Ayyan berdiri tegap, tangannya bersedekap di depan dengan wajah datar namun berwibawa. Sementara Namira berdiri di sampingnya, mencoba tersenyum anggun meskipun tangannya sudah gatal ingin pose macam-macam.
Cekrek!
"Duh, Pak Ustadz ganteng banget tapi auranya kayak lagi mau sidang skripsi," komentar Sisil sambil melihat hasil foto.
Gaya Kedua: "Love" Korea
"Sekarang gaya bebas! Mira, kasih saranghae dong!" teriak Maya.
Namira langsung membentuk jari-jarinya menjadi lambang love kecil di depan dada, sambil mengerlingkan mata dengan imut. Ia melirik Ayyan yang masih mematung.
"Mas Ayyan! Ayo dong, tangannya begini!" Namira menarik tangan kanan Ayyan dan memaksa jari telunjuk serta jempol suaminya bersilangan.
Ayyan mengernyitkan dahi. "Ini gaya apa, Namira? Seperti sedang menghitung uang," ucap Ayyan polos.
Sontak seluruh ruangan pecah oleh tawa teman-temannya.
"Itu lambang cinta, Mas! Masa ustadz nggak tahu!" protes Namira sambil tetap memegang tangan Ayyan. Akhirnya, Ayyan pasrah dan mengikuti kemauan istrinya dengan wajah yang sedikit memerah menahan malu.
Cekrek!.
Gaya Ketiga: Candid Perbedaan Tinggi
"Sekarang gaya bebas beneran! Satu... dua... tiga!"
Namira tiba-tiba berjinjit dan mencoba menempelkan kepalanya di bahu Ayyan yang tinggi. Karena perbedaan tinggi badan mereka yang mencapai 40 cm, Namira terlihat seperti anak kecil yang sedang bergelayutan pada kakaknya. Sementara itu, Ayyan tertangkap kamera sedang melirik ke bawah, menatap Namira dengan tatapan setengah heran namun ada sisa senyum tipis di bibirnya.
"Wuidih! Ini dapet banget chemistry-nya! Vibe-nya kayak drakor religi!" seru Dio heboh.
"Udah ya, sudah sepuluh gaya lebih," ucap Ayyan sambil merapikan kembali bajunya yang sedikit kusut ditarik Namira.
"Bentar, Mas! Satu lagi yang paling penting!" Namira menyambar ponselnya sendiri. Ia mengajak Ayyan selfie berdua saja. "Mas, senyum dong dikit. Satu... dua... tiga! Cheese!"
Ayyan hanya memberikan senyum tipis yang sangat irit, sementara Namira berpose dengan gaya "peace" andalannya.
"Oke, makasih ya guys! Jangan kangen gue ya di pesantren!" seru Namira sambil pamer foto barunya kepada teman-temannya.
Umi Fatimah yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum pada Bunda Namira. "Sepertinya pesantren kita bakal jauh lebih ramai setelah ini, Jeng."