NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Racun No 1

Legenda Pendekar Racun No 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.

Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.

Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tarian Maut di Jalur Sutra Berdebu

​Perjalanan menuju Ibu Kota Kekaisaran Wan melintasi Ngarai Tulang Putih, sebuah jalur perdagangan yang diapit oleh tebing-tebing terjal setinggi ratusan meter.

Di bawah terik matahari yang membakar, angin berhembus membawa butiran pasir tajam. Namun, bagi Xiao Chen dan Ling, panas ini hanyalah gangguan kecil dibandingkan dengan badai manusia yang telah menunggu mereka di depan.

​Kabar tentang "pria berjubah abu-abu yang menghancurkan murid Alkimia menjadi abu" telah sampai ke telinga para petinggi sekte lebih cepat dari yang diperkirakan.

​Xiao Chen berjalan dengan tangan di belakang punggung, sementara Ling berjalan di sampingnya. Ling kini mengenakan pakaian hitam yang ringkas, dengan aura yang jauh lebih stabil. Sembilan Racun Alami di tubuhnya mulai tunduk di bawah kendalinya, meski masih dalam tahap awal.

​"Berhenti di sini, Ling." ucap Xiao Chen tiba-tiba.

​Langkah mereka terhenti di tengah ngarai yang sempit. Dari atas tebing, puluhan sosok muncul. Mereka tidak mengenakan jubah putih seperti murid rendahan, melainkan jubah merah darah dengan bordiran kuali perak—para Eksekutor Alkimia, satuan elit yang khusus dilatih untuk memburu musuh-musuh sekte.

​Di depan mereka, seorang pria tua dengan jenggot panjang yang dikepang dan mata yang sipit berdiri menghalangi jalan. Ia memegang sebuah tongkat kayu hitam yang ujungnya mengeluarkan asap hijau neon yang menjijikkan.

​"Aku adalah Tetua Mo, kepala divisi racun dari Sekte Matahari Terbenam," ucap pria tua itu dengan suara serak. "Kau telah membunuh murid-murid berbakat kami. Di Kekaisaran Wan, darah harus dibayar dengan darah, dan jiwa harus dibayar dengan penghambaan."

​Xiao Chen sedikit mengangkat caping bambunya, menatap Tetua Mo dengan kebosanan yang nyata. "Darah muridmu bahkan tidak cukup bersih untuk membasahi tanah ini. Dan kau... kau membawa tongkat berisi Empedu Kodok Sembilan Mata. Benar-benar selera yang rendah."

​Wajah Tetua Mo memerah karena terhina. "Sombong! Mari kita lihat apakah lidahmu masih setajam itu setelah aku meluluhkan lidahmu dengan Cairan Penghancur Tulang milikku!"

​Tetua Mo menghentakkan tongkatnya. Seketika, asap hijau dari ujung tongkatnya menyebar dengan sangat cepat, memenuhi ngarai. Asap ini bukan asap biasa; ia mengandung mikroba pemakan daging yang dikembangkan melalui alkimia selama puluhan tahun.

​"Ling, perhatikan baik-baik," ucap Xiao Chen tanpa rasa takut sedikit pun saat asap itu menelan mereka. "Ini adalah contoh racun tingkat rendah yang terlalu banyak menggunakan campuran kimiawi. Ia kuat di permukaan, tapi rapuh di hadapan Qi yang murni."

​Xiao Chen tidak menggunakan tangannya. Ia hanya melepaskan satu denyut energi dari Inti Bumi-nya.

​"Seni Racun: Pembalikan Arus!"

​Udara di sekitar Xiao Chen tiba-tiba berputar terbalik. Asap hijau yang tadinya menyerang mereka justru terhisap kembali ke arah Tetua Mo dan para eksekutornya dengan kecepatan sepuluh kali lipat.

​"Apa?! Tidak mungkin! Kendalikan asapnya!" teriak Tetua Mo panik. Namun, asap itu seolah-olah telah menemukan tuan baru yang lebih kuat.

​Para eksekutor di atas tebing berteriak ngeri saat asap ciptaan tetua mereka sendiri mulai memakan pelindung energi mereka. Kulit mereka melepuh dan berubah menjadi nanah hijau dalam hitungan detik. Beberapa dari mereka jatuh dari tebing, hancur berkeping-keping sebelum sempat menyentuh tanah.

​Tetua Mo sendiri terpaksa mematahkan tongkatnya dan meledakkan cadangan energinya untuk menciptakan ruang kosong di sekitarnya. Ia terengah-engah, matanya penuh dengan ketakutan. "K-kau... kau bisa memanipulasi racun orang lain?! Siapa kau sebenarnya?!"

​"Aku sudah mengatakannya pada muridmu. Aku adalah legenda yang akan menghapus namamu dari buku alkimia," jawab Xiao Chen dingin.

​Xiao Chen melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan jejak ungu yang berpijar di tanah pasir. Tetua Mo yang putus asa mengeluarkan sebuah pil berwarna hitam pekat dari sakunya. "Ini adalah Pil Iblis Penghancur Diri! Jika aku mati, kau juga akan mati bersamaku dalam ledakan racun ini!"

​Tetua Mo hendak menelan pil itu, namun gerakannya membeku. Ia melihat ke bawah dan menyadari seekor ular perak kecil telah melilit lehernya sejak kapan pun ia tidak tahu.

​"Bai sedang tidak ingin kau meledak. Dia ingin kau menjadi pupuk," ucap Xiao Chen.

​Bai menggigit leher Tetua Mo. Bukan racun mematikan yang ia suntikkan, melainkan benih tanaman parasit yang telah dimodifikasi oleh Xiao Chen.

​Detik berikutnya, dari mulut, mata, dan telinga Tetua Mo, tumbuh tunas-tunas tanaman merambat berwarna hitam yang berduri. Pria itu tidak bisa berteriak karena tenggorokannya telah berubah menjadi batang kayu. Dalam waktu kurang dari satu menit, salah satu tetua terkuat di Kekaisaran Wan telah berubah menjadi pohon beracun yang berdiri tegak di tengah ngarai.

​Xiao Chen menoleh ke arah Ling yang menonton dengan mata berbinar. "Kau belajar sesuatu?"

​"Ya, Guru. Jangan pernah membiarkan musuh memiliki kesempatan untuk menggunakan kartu as mereka," jawab Ling tegas.

​"Bagus. Dan satu lagi..." Xiao Chen menunjuk ke arah pohon yang dulunya adalah Tetua Mo. "Racun terbaik adalah yang bisa tumbuh dan beradaptasi. Ambil satu buah hitam dari pohon itu. Itu akan menjadi bahan pertama untuk ramuan penguat tubuhmu."

​Ling mendekat dengan berani, memetik buah beracun itu tanpa ragu.

​Di kejauhan, sisa-sisa eksekutor yang selamat melarikan diri dengan tunggang langgang. Xiao Chen membiarkan mereka pergi. Ia ingin ketakutan ini menyebar. Ia ingin Kaisar Wan dan ketua Sekte Matahari Terbenam tahu bahwa badai telah tiba di pintu depan mereka.

​"Ayo, Ling. Ibukota sudah dekat. Aku bisa mencium aroma naga di bawah sana... dan aroma ketakutan dari istana."

1
Aman Wijaya
jooooz pooolll lanjut terus
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Dendam yg tumbuh menjadi sebuah obsesi..
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Muantebz 🔥🌽
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor lanjut
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut terus Thor
Agen One: 👍🤣😭🔥🔥😭🤣😱😱🤣🔥💪💪👍😭🤣😱🤭🤣👍🔥🔥🔥💪💪🔥🔥
total 1 replies
JUWANTO
🔥 Jejak Silat di Puncak Dimensi 🔥
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi

MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.

👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.
Agen One: semangat teruzzz💪💪💪
total 1 replies
momoy
cuma mau tanya Thor umur Xiao Chen berapa waktu orang tua nya mati,trs di dalam gua ya ada di lembah beracun berapa taun kok bisa dah 25 taun aja
Agen One: 15 tahun
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab xiao Chen
Agen One: terima kasih💪💪💪💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
xiao Chen kok gak bawa harta rampasan dari sektenya mu rong sekte pedang langit
Agen One: udah di ambil, cuma gak di jelaskan
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
mantab xiao Chen
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Hadir.. Tetap semangat Thor 💪💪
Agen One: Terima kasih mbah sudah hadir/Pray/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!