NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: CERMIN YANG RETAK

Lorong menuju fasilitas bawah tanah itu tidak seperti yang dibayangkan Arunika. Tidak ada dinding beton yang lembap atau jeruji besi yang berkarat. Sebaliknya, lift pribadi di balik ruang kerja Adrian membawa mereka turun ke sebuah koridor yang sangat steril, berdinding kaca putih dengan pencahayaan LED yang terang benderang. Tempat ini lebih mirip laboratorium penelitian medis tingkat tinggi daripada sebuah penjara.

Namun, bagi Arunika, kebersihan tempat ini justru terasa lebih mengerikan. Bau antiseptik yang menyengat seolah mencoba menutupi bau busuk dari dosa-dosa yang dilakukan di sini.

Adrian menggandeng tangan Arunika dengan erat. "Jangan takut, Sayang. Tempat ini adalah jantung dari masa depan kita. Di sini, tidak ada rasa sakit, tidak ada pengkhianatan. Hanya ada kesempurnaan."

Mereka melewati beberapa ruangan kaca. Di dalamnya, para ilmuwan berbaju hazmat putih sibuk bekerja dengan berbagai tabung reaksi dan monitor yang menampilkan grafik saraf manusia. Arunika melihat beberapa subjek uji—manusia-manusia yang tampak seperti zombi, duduk diam dengan kabel-kabel menancap di kepala mereka. Mereka tidak bereaksi saat Adrian dan Arunika lewat.

"Apa yang kau lakukan pada mereka?" bisik Arunika, suaranya bergetar.

"Aku menghilangkan 'kebisingan' di otak mereka," jawab Adrian santai. "Ketakutan, keraguan, kebencian... itu semua adalah cacat evolusi. Aku sedang memurnikan mereka."

Langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah pintu baja berat dengan sistem pemindai retina ganda. Adrian mendekatkan matanya ke sensor.

Akses Diterima.

Pintu terbuka dengan suara desis udara yang dingin. Ruangan di baliknya jauh lebih gelap, hanya diterangi oleh lampu biru redup yang berasal dari sebuah tangki silinder besar di tengah ruangan. Di dalam tangki itu, seorang wanita duduk di sebuah kursi khusus, tenggelam dalam cairan bening yang terus dialiri oksigen.

Napas Arunika tercekat. Wanita di dalam tangki itu memiliki wajah yang hampir identik dengan dirinya. Namun, kulitnya sangat pucat, hampir transparan hingga pembuluh darahnya terlihat. Rambutnya yang panjang melayang-layang di dalam air seperti rumput laut yang mati.

"Elena..." gumam Arunika.

"Dia adalah mahakaryaku yang pertama," Adrian berjalan mendekati tangki kaca itu, menyentuh permukaannya dengan penuh kasih sayang. "Dia terlalu indah untuk dibiarkan hancur oleh dunia luar. Jadi, aku mengabadikannya di sini. Dia tetap hidup, sistem organ tubuhnya berfungsi sempurna, tapi kesadarannya berada dalam tidur abadi."

Arunika mendekat, menatap wajah Elena dari dekat. Mata wanita itu tertutup rapat, namun ada kerutan kecil di dahinya, seolah-olah di dalam tidurnya yang dipaksakan itu, dia sedang mengalami mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.

"Kau memenjarakan adikmu sendiri dalam akuarium?" suara Arunika meninggi karena marah. "Kau menyebut ini cinta?"

Adrian berbalik, kilatan gila muncul di matanya. "Cinta adalah tentang kepemilikan total, Arunika! Di luar sana, dia akan menua, dia akan terluka, dia akan dikhianati oleh pria-pria tidak berguna. Di sini, dia aman. Dia milikku selamanya."

Adrian kemudian menarik Arunika mendekat ke arah sebuah kursi pemeriksaan medis di samping tangki Elena. "Dan sekarang, giliranmu. Kita harus memastikan bayi kita tidak mewarisi 'cacat' emosional yang kau miliki. Aku akan memulai prosedur stabilisasi hormon besok pagi."

Arunika merasakan dingin menjalar di punggungnya. Dia melirik saku pakaian tidurnya, tempat suntikan dari Sandra tersembunyi. Ini adalah saatnya. Dia tidak boleh membiarkan dirinya berakhir di dalam tabung seperti Elena.

"Adrian," panggil Arunika dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Dia meletakkan tangannya di dada Adrian, berpura-pura luluh. "Boleh aku menyentuhnya? Hanya sekali. Aku ingin merasakan kulit 'saudariku' sebelum aku memulai prosedur itu."

Adrian tampak ragu sejenak, namun egonya yang besar menang. Dia ingin Arunika menerima takdirnya. Adrian menekan sebuah tombol di panel kontrol, dan sebagian dari cairan di tangki itu menyusut, membuka akses kecil di bagian atas agar tangan bisa masuk.

Arunika melangkah maju. Tangannya gemetar saat masuk ke dalam cairan dingin itu dan menyentuh bahu Elena. Namun, matanya tidak menatap Elena, melainkan menatap pantulan Adrian di kaca tangki.

Adrian sedang berdiri tepat di belakangnya, menatap dengan wajah penuh kemenangan.

Sekarang!

Arunika berbalik dengan sangat cepat, mengeluarkan suntikan itu dari sakunya, dan menghujamkannya ke leher Adrian.

"Argh!" Adrian mengerang, refleks memegang lehernya. Dia mencoba mencengkeram lengan Arunika, namun cairan bening di dalam suntikan itu bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Syaraf motoriknya lumpuh seketika.

Tubuh tegap Adrian limbung. Dia terjatuh ke lantai, matanya membelalak kaget. Dia mencoba bicara, tapi mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara geraman yang tidak jelas. Dia benar-benar lumpuh, namun tetap sadar.

"Hanya lima belas menit, Adrian," bisik Arunika sambil menatap suaminya yang tak berdaya itu dengan penuh kebencian. "Lima belas menit untuk menghancurkan semua yang kau bangun selama sepuluh tahun."

Arunika segera berlari ke arah meja kontrol utama. Dia mengeluarkan USB drive dari Sandra dan mencolokannya ke server. Layar monitor mulai berkedip cepat, menyalin semua data Project Medusa, daftar investor gelap Valerius, dan bukti-bukti pembunuhan yang selama ini terkunci rapat.

"Ayo... ayo cepat..." gumam Arunika sambil terus melirik jam di dinding.

Di lantai, Adrian terus berusaha menggerakkan jarinya, matanya berkilat dengan kemarahan yang bisa membakar seluruh ruangan itu.

Tiba-tiba, suara alarm lembut berbunyi. Bukan alarm keamanan, tapi alarm dari tangki Elena. Rupanya, saat cairan menyusut tadi, sistem pendukung kehidupan Elena mengalami gangguan. Monitor jantung Elena mulai menunjukkan grafik yang tidak stabil.

Bip... bip... bip...

Arunika menoleh ke arah Elena. Dia melihat mata Elena bergerak-gerak di balik kelopaknya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Elena seolah mencoba untuk bangun.

"Elena?" Arunika mendekati tangki.

Tiba-tiba, tangan Elena yang tadinya terkulai lemas, bergerak mencengkeram pinggiran tangki. Matanya terbuka. Mata itu tidak lagi memiliki binar kehidupan, hanya ada kekosongan yang mengerikan. Elena menatap Arunika, lalu beralih menatap Adrian yang tergeletak di lantai.

Sebuah suara serak dan pecah keluar dari tenggorokan Elena yang sudah lama tidak digunakan. "...Ma... ti..."

Arunika terpaku. Di saat yang sama, proses penyalinan data mencapai 99%.

Namun, pintu laboratorium terbuka. Bukan Sandra yang muncul, melainkan tim keamanan Adrian yang dipimpin oleh seorang pria bertubuh besar dengan senjata lengkap. Rupanya, hilangnya sinyal vital dari jantung Adrian yang terhubung ke jam tangannya telah memicu alarm diam.

"Nyonya, menjauh dari Tuan Adrian!" teriak komandan penjaga itu sambil mengarahkan senjata ke arah Arunika.

Arunika mencabut USB drive itu tepat saat data selesai disalin. Dia berdiri di depan tangki Elena, menjadikan dirinya tameng.

"Jangan mendekat, atau aku akan menghancurkan tangki ini dan membunuh Elena sekarang juga!" ancam Arunika, sambil memegang sebuah tabung pemadam api berat yang ada di dekatnya.

Suasana menjadi sangat tegang. Di satu sisi, Adrian yang lumpuh hanya bisa menonton dengan mata merah. Di sisi lain, Elena yang setengah sadar mulai meronta di dalam air. Dan di depan mereka, moncong senjata sudah siap menyalak.

Tepat saat itu, lampu di seluruh laboratorium mati total.

"Kegelapan adalah teman terbaik bagi mereka yang ingin bebas," suara Sandra terdengar melalui sistem pengeras suara laboratorium.

Dalam kegelapan total, suara tembakan terdengar beruntun. Arunika merasakan seseorang menarik tangannya dengan kasar. Bau parfum Sandra tercium sangat dekat.

"Ikut aku! Elena harus ditinggalkan, dia adalah umpan agar mereka tidak mengejar kita!" bisik Sandra.

"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini!" teriak Arunika.

Namun, sebuah ledakan besar terjadi di bagian server utama, menghancurkan laboratorium itu dalam api. Arunika terlempar ke luar pintu darurat, kehilangan kesadaran tepat saat ia melihat sosok Elena yang perlahan keluar dari tangkinya di tengah kobaran api.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!