Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Pagi itu, Freen baru saja terlelap setelah semalam suntuk membantu sahabatnya, Nam, pindahan ke rumah baru. Saat ia sedang asyik menikmati mimpi indahnya, pintu rusunnya digedor dengan brutal dari luar.
Duk! Duk! Duk!
Suara wanita paruh baya berteriak memekakkan telinga. Itu sudah pasti Bibi Som, si pemilik kontrakan yang akan menagih sewa.
"Freen! Keluar! Jangan coba-coba bersembunyi kamu!" teriaknya. "Sudah waktunya bayar sewa!"
lanjutnya, kembali menggebrak pintu dengan tenaga penuh.
Di dalam, Freen yang tidurnya terganggu sontak terbangun.
"Ya ampun, tidak bisakah aku tidur dengan tenang? Dasar wanita cerewet, mengganggu ketenangan orang saja!" gerutu Freen sambil mengusap wajahnya.
Ia bangkit, mengambil amplop cokelat tebal yang tergeletak di nakasnya. Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
Ia berjalan santai keluar dari kamar, menuju pintu, dan membukanya dengan bunyi klik!
"Ada apa, Bibi Som? Kenapa teriak-teriak seperti ada kebakaran saja?" tanya Freen, memasang wajah polos pura-pura lupa.
Wajah Bibi Som sudah merah padam, siap melontarkan omelan panjangnya.
"Jangan belaga pilon! Cepat bayar sewa—"
Ucapan Bibi Som langsung terhenti saat Freen dengan santai menyodorkan amplop cokelat di tangannya. Matanya melebar penuh minat.
"Ini untuk sewa empat bulan ke depan, Bibi. Jangan menggangguku lagi sampai batas waktu itu, ya," kata Freen dengan nada tegas namun tenang.
Dengan gerakan cepat seperti kilat, Bibi Som menyambar amplop itu dan langsung menghitung tumpukan uang di dalamnya, memastikan tak ada satu pun lembar yang kurang.
"Nah, ini 'kan enak. Uang lancar, masalah selesai," ucap Bibi Som, nada suaranya berubah 180 derajat, dari galak menjadi sangat ramah.
"Tumben sekali kamu punya uang sebanyak ini, Freen? Kamu habis dapat lotre? Atau warisan dari mana?" tanya Bibi Som, matanya menyiratkan rasa penasaran yang besar, seolah mencium bau rahasia.
Freen memutar bola matanya. "Bibi Som tidak perlu tahu. Yang penting uang itu bukan hasil mencuri atau perbuatan kriminal lainnya, 'kan? Sudah, ya, aku mau lanjut tidur. Jangan ribut-ribut lagi."
Tanpa menunggu balasan, Freen langsung menutup pintu, tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi Bibi Som untuk bertanya lebih jauh. Bunyi 'klik' kunci terdengar, memastikan tak ada gangguan lagi.
Freen kembali ke tempat tidurnya, merebahkan diri sambil tersenyum puas menatap langit-langit kamar.
"Lumayan. Hasil 'kerja' semalam bisa buat bayar sewa, dan sisanya untuk belanja dan makan enak," gumamnya pelan.
"Siapa suruh percaya dengan hantu di kolam renang mereka? Dasar orang kaya, terlalu mudah ditipu," kekeh Freen.
Malam sebelumnya, Freen baru saja menyelesaikan 'proyek' terbarunya, yaitu mengusir 'hantu' yang mengganggu pembangunan resort mewah di tepi pantai.
Tentu saja, hantu itu hanyalah rekayasanya yang cerdik dengan sedikit bumbu efek suara dan trik pencahayaan. Para pemilik resort itu, yang sudah panik karena konstruksi macet, dengan senang hati membayar mahal jasa "Paranormal Sakti" sepertinya.
Saat Freen mulai merasa kantuk kembali menyerangnya, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring di nakas. Tertera nama kontak Nam (Si Manusia Panik). Freen menghela napas, mengangkat panggilan itu.
"Ada apa, Nam? Aku baru mau tidur lagi, lho," sapa Freen dengan nada malas.
Suara Nam di ujung telepon terdengar panik, khas dirinya. "Freen! Gawat! Aku butuh bantuanmu sekarang juga!"
"Gawat apa? Rumah barumu belum sehari sudah ada cicak jatuh di kepalamu?" ledek Freen.
"Bukan itu! Ini lebih parah! Aku yakin, Freen, rumahku berhantu!" seru Nam dengan suara yang bergetar.
Mata Freen langsung terbuka lebar. Rumah berhantu? Itu berarti proyek baru. Sebuah senyum licik kembali terukir di bibirnya.
"Rumahmu? Wah, menarik sekali," kata Freen, tiba-tiba semangatnya bangkit. "Baiklah, tunggu aku di sana. Tapi, dengar baik-baik ya, Nona Nam... Jasaku untuk kasus ini tidak murah, lho."
"Berapapun! Aku akan bayar berapapun! Yang penting singkirkan hantu itu dariku!" ratap Nam di telepon.
"Beressss!" Freen memutus panggilan.
Ia bangkit, rasa kantuknya hilang sepenuhnya. Ini bukan hanya tentang membantu sahabat, ini tentang menambah isi dompetnya lagi.
Ia menyambar tas selempangnya, dan dengan langkah ringan, Freen Sarocha, sang Paranormal Gadungan, siap menuju 'tempat kejadian' untuk memburu 'hantu' dan, yang paling penting, memburu uang.
Langkah kaki Freen menuruni tangga rusunnya dengan santai. Ia sudah berganti pakaian. Kali ini ia mengenakan kaus hitam polos, jaket denim yang sedikit lusuh, dan celana jeans.
Penampilan yang jauh dari kesan ‘paranormal sakti’ yang biasa ia pamerkan kepada para klien kaya. Untuk Nam, ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri: seorang wanita cantik dengan kemampuan akting dan manipulasi yang luar biasa.
Ia menyetop sebuah taksi motor (ojek) di pinggir jalan.
"Ke daerah Nonthaburi, gang yang dekat Wat Chaloem Phra Kiat. Rumah yang catnya biru muda," ujar Freen kepada pengemudi ojek.
"Siap, Nona!" jawab si pengemudi.
Selama perjalanan, Freen sibuk berpikir. Nam adalah sahabatnya sejak SMA. Freen tahu betul Nam sangat penakut, tapi ia juga tahu Nam sangat jarang melebih-lebihkan sesuatu kecuali soal drama Korea. Jika Nam sampai panik dan berani meneleponnya sepagi ini, pasti ada sesuatu yang benar-benar terjadi.
Mungkinkah... rumah itu memang benar-benar berhantu?
Freen menggeleng cepat. Tidak mungkin! Dia sudah berkeliling Thailand, bertemu dengan berbagai macam 'hantu' yang ternyata hanya tikus got, korsleting listrik, atau tetangga iseng. Semua itu hanyalah peluang bisnis baginya.
"Paling juga kucing liar yang masuk, atau ada pipa bocor," gumam Freen pada dirinya sendiri.
Namun, ia harus menyiapkan skenario terburuk, seandainya 'hantu' Nam kali ini sedikit lebih meyakinkan. Ia merogoh saku jaketnya, memastikan ‘alat-alat kerjanya’ lengkap:
Botol kecil berisi minyak wangi beraroma melati. (Efek psikologis: aroma mistis yang menenangkan).
Sekantung kecil bubuk kunyit. (Untuk meniru 'jelaga hantu' atau debu gaib yang ia taburkan di tempat strategis).
Kabel tipis dan senter kecil. (Untuk efek suara 'gesekan gaib' dan pencahayaan dramatis).
"Lengkap. Siap untuk penipuan tingkat tinggi," batin Freen dengan puas.
Sekitar setengah jam kemudian, ojek yang ditumpangi Freen sampai di depan sebuah rumah kayu berukuran sedang yang dicat biru muda pudar. Rumah itu tampak tua, bergaya khas Thailand dengan atap genteng yang mulai berlumut.
Halamannya ditumbuhi pohon mangga yang rindang, memberikan kesan sejuk namun juga agak suram.
Nam sudah berdiri di teras, wajahnya pucat pasi, matanya memerah seperti kurang tidur, dan rambutnya tampak acak-acakan. Begitu melihat Freen turun dari ojek, Nam langsung berlari menghampirinya.
"FREEN! Syukurlah kau datang! Aku benar-benar sudah tidak tahan!" Nam langsung memeluk Freen erat-erat.
"Hei, hei, tenanglah. Aku di sini. Ceritakan pelan-pelan. Ada apa sebenarnya?" Freen menepuk-nepuk punggung Nam.
Nam menarik Freen masuk ke dalam rumah. Suasana di dalamnya terasa dingin, bahkan meskipun hari sudah mulai siang. Bau apak kayu tua dan sedikit aroma dupa tercium samar.
"Aku... aku yakin ada yang mengikutiku di rumah ini, Freen!" bisik Nam, suaranya sangat pelan seolah takut didengar oleh 'seseorang' atau 'sesuatu'.
"Ikut? Siapa? Tetangga iseng?"
"Bukan! Sejak semalam aku pindahan, rasanya ada yang mengawasiku. Puncaknya... suara itu!"
"Suara apa?" Freen mengerutkan kening. Ia memasang mode seriusnya.
"Suara perempuan... menangis! Tepat di kamarku. Aku mendengarnya jelas sekali, Freen. Aku tidak bisa tidur sama sekali!" Nam mulai terisak lagi.
"Aku takut... Aku ingin pindah dari sini!"
Freen mengamati sekeliling ruangan tamu. Perabotan Nam masih berupa kardus-kardus yang belum sempat dibongkar. Tidak ada tanda-tanda yang aneh—sejauh ini.
"Oke, oke. Dengarkan aku," Freen memegang bahu Nam, menatapnya tajam. "Aku akan memeriksanya. Tapi kau harus tenang dan tidak boleh berteriak. Mengerti?"
Nam mengangguk dengan mata berair.
"Bagus," Freen mengambil napas panjang, kemudian memasang ekspresi misterius.
"Sekarang, tunjukkan padaku kamar yang kau maksud. Kita lihat, siapa sebenarnya yang berani mengganggu tidur temanku ini."
Freen Sarocha, sang Paranormal Gadungan, siap memulai aksinya di rumah tua Nam. Targetnya: membongkar misteri tangisan, dan tentu saja, menentukan berapa tarif yang harus Nam bayar untuk 'jasa pengusiran hantu' yang sangat meyakinkan itu.