"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - Amarah
"Nanti latihan gak, Ba?"
Libra menoleh, menatap gadis yang berjalan di sisinya. Keduanya baru saja kembali dari kantin.
"Di sekolah apa di rumah?" tanya balik Libra.
Giselle berpikir sejenak. Sepertinya lebih baik latihan di sekolah. Takutnya, ibunya tidak mengizinkan Giselle berlama-lama di rumah Libra. Gadis itu juga tidak bisa memberitahu ibunya mengenai latihan untuk pensi ini. Bisa gawat, ibunya tidak boleh tahu.
"Sekolah aja."
Libra mengangguk sembari merangkul bahu Giselle. Mereka sudah biasa seperti itu. Orang-orang yang melihatnya merasa heran. Ada ya sahabat seperti itu?
"Tahu gak? Kita viral, loh."
"Hah? Masa sih?"
"Iya, instragram gue rame. Pada komen katanya suara kita bagus," ujar Libra dengan bangga. Mata Giselle berbinar, tetapi sedetik kemudian melotot panik.
"Kak Abram lihat, gak?" tanya Giselle panik ketika mengingat bahwa akun Instagram milik kakaknya itu mengikuti akun Libra.
"Lihat."
"Ihh, entar kalau diaduin gimana?" Giselle menatap Libra dengan mata berkaca-kaca, tetapi dengan santai Libra menenangkannya.
"Buktinya sampai sekarang lo gak kenapa-kenapa. Video itu udah dari dua hari yang lalu loh. Dia malah dukung lo, Pen."
Giselle lega mendengarnya. Ia hanya takut, video itu sampai ke telinga ibunya. Gadis itu benar-benar tidak ingin mencari masalah.
"Emang berapa orang yang lihat?"
"Dua ratus."
"Dih, itu mah sedikit. Bukan viral namanya," ujar Giselle kesal. Padahal tadi, ia membayangkan bagaimana jika dirinya benar-benar viral. Suaranya didengar oleh jutaan orang. Pasti sangat menyenangkan.
Libra terkekeh pelan. Pengikutnya di Instagram memang tidak terlalu banyak. Hanya sekitar lima ratus orang. Itupun kebanyakan murid-murid di sekolah.
"Kira-kira gue bisa jadi musisi gak, Ba?" tanya Giselle. Gadis itu tersenyum ramah pada murid-murid yang menyapanya di koridor.
"Bisalah, kenapa enggak?" jawab Libra yakin. Ia memindai raut wajah sahabatnya yang berubah murung. Menghela napas pelan, Libra mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Ia tidak suka melihat Giselle bersedih.
"Pen, ada Kak Rafka, tuh."
"Mana?"
Giselle mengikuti arah pandang Libra. Rafka sedang bermain basket sendirian di lapangan. Banyak sekali murid yang bergerombol di pinggir lapangan untuk menyaksikan pemuda itu.
"Ganteng banget, gak kayak lo," celetuk Giselle.
"Apa lo bilang?" Libra mengeratkan rangkulannya sampai leher Giselle tercekik diantara ketiaknya.
"Lo jelek," ujar Giselle dengan senyum lebar.
Rafka adalah anak kelas XII yang hobi bermain basket. Pribadinya yang ramah membuatnya disukai banyak orang. Giselle sempat mengagumi pemuda itu.
Namun, hanya sampai di sana, tidak lebih. Untuk saat ini Giselle tidak ingin memikirkan tentang cinta. Ia ingin meraih impiannya, meskipun hanya ada kemungkinan kecil ia bisa meraihnya.
"Dah, ayo ke kelas."
...***...
Giselle berdiri dengan gelisah di depan pintu rumahnya. Libra dengan setia berdiri di sebelahnya. Melihat sahabatnya sangat panik, membuatnya ikut panik. Perlahan, tangan Libra terangkat untuk mengetuk pintu.
Tok tok tok
Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya. Raut wajahnya terlihat marah. Seperti tidak senang akan kedatangan dua orang tersebut.
"Masih inget pulang?" tanya Atika dengan mata memicing. Matahari hampir tenggelam, dan putrinya baru saja pulang entah dari mana.
"Maaf, Tante. Tadi kita ada kerja kelompok di rumah temen." Libra mengambil alih karena tidak tega melihat Giselle yang menunduk ketakutan. Terpaksa juga ia harus berbohong.
Sebenarnya ini salah Giselle. Seharusnya ia meminta izin terlebih dahulu sebelum pulang terlambat. Karena kecerobohannya, inilah akibatnya.
"Kenapa gak bilang? Kalian punya hp, kan? Apa susahnya buat kasih kabar, minta izin."
"Maaf, Ibu."
"Maaf kamu itu gak berguna! Kamu gak tahu kan khawatirnya ibu pas pulang tapi gak ada kamu di rumah. Hp kamu itu buat apa? Di telepon gak bisa!"
Tangan Libra terkepal erat di samping tubuhnya. Ingin membela tetapi sadar batasan. Ia tidak mau bersikap kurang ajar pada Atika.
"Maaf." Air mata Giselle luruh. Ia tidak pernah bisa mencegah air matanya keluar ketika Atika memarahinya.
Atika menghela napas kasar. Ia menatap Libra dengan tenang, tetapi terlihat jelas bahwa wanita itu marah.
"Libra pulang. Kamu masuk!" perintah Atika. Libra menoleh ke arah Giselle yang masih menangis. Ingin sekali ia memeluknya, tetapi tidak mungkin ia lakukan di depan Atika.
"Libra pamit, Tante. Maaf sekali lagi." Libra mengusap kepala Giselle pelan sebelum berbalik melangkah menuju rumahnya sendiri.
Giselle mendongakkan kepalanya ketika Atika sudah kembali memasuki rumah. Ia menghela napas sejenak sebelum melangkahkan kakinya masuk.
Hari ini terasa sangat melelahkan.
...***...
19 Januari 2026