Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
25
Pagi itu, suasana di kediaman Pak Burhan tidak dimulai dengan cangkul dan parang seperti biasanya. Setelah keputusan hakim yang menunda persidangan demi peninjauan lapangan, Anjeli menyadari bahwa musuh mereka saat ini bukan hanya argumen pengacara, melainkan kesan pertama yang akan ditangkap oleh petugas sosial.
Anjeli berdiri di depan rumah, menatap dinding papan yang mulai kusam dan cat yang mengelupas di beberapa sudut. Di sampingnya, Ayah sedang duduk di kursi kayu sembari memijat lututnya dengan sisa minyak pemberiannya semalam.
"Ayah, kalau petugas itu datang minggu depan, Anjeli ingin rumah ini terlihat seperti rumah yang penuh kehidupan, bukan sekadar tempat berteduh," ucap Anjeli sambil memegang ember berisi air hangat yang sudah ia campur dengan sedikit perasan jeruk nipis dan setetes Air Rohani untuk memberikan aroma segar yang alami.
Pak Burhan mengangguk paham. "Ayah mengerti, Nak. Kemewahan memang tidak kita punya, tapi kebersihan adalah martabat. Mari kita kerjakan pelan-pelan. Aris!"
Aris yang sedang asyik bermain dengan seekor belalang di kebun buncis segera berlari menghampiri. "Iya, Ayah?"
"Hari ini tidak ada main tanah dulu, ya? Hari ini tugas Aris adalah membantu Kakak mengelap jendela dan merapikan buku-buku di dalam. Bisa?" tanya Ayah dengan nada lembut namun penuh instruksi.
"Siap, Ayah! Aris mau buat jendela kita mengkilap sampai burung-burung mengira itu lubang!" seru Aris dengan tawa khasnya yang membuat suasana tegang sejak dari kota kemarin perlahan mencair.
Mereka mulai bekerja. Anjeli fokus pada dinding luar dan teras. Dengan telaten, ia menyikat lumut-lumut tipis yang menempel di sela-sela kayu. Setiap sapuan kainnya ia lakukan dengan penuh perasaan, seolah sedang membelai luka lama yang kini mulai sembuh.
Pak Burhan tidak tinggal diam saja. Meski belum bisa melakukan pekerjaan berat, ia duduk di teras sambil merapikan anyaman bambu pada kursi-kursi lama mereka yang mulai renggang. Dengan tangannya yang perlahan mulai stabil, ia menyisipkan bilah-bilah bambu baru, memperkuat sandaran kursi tempat tamu-tamu itu akan duduk nantinya.
"Anjeli," panggil Ayah di sela kegiatannya. "Tadi Ayah sempat berpikir mereka petugas itu pasti akan bertanya soal biaya makan kita sehari-hari. Apakah kontrak dari Bu Widya sudah cukup kuat untuk meyakinkan mereka, Nak?"
Anjeli berhenti sejenak, memeras kain lapnya ke dalam ember. "Kontrak itu hitam di atas putih, Ayah. Tapi yang lebih kuat adalah bukti fisik. Anjeli sengaja menyisihkan sebagian panen jahe kemarin dan buncis yang baru mekar untuk diperlihatkan. Kalau mereka lihat sayuran kita berkualitas ekspor, mereka akan tahu kalau penghasilan kita bukan sekadar angka di kertas."
Aris keluar dari dalam rumah dengan wajah yang terkena sedikit debu, namun matanya berbinar. "Kak! Jendelanya sudah bersih! Aris juga sudah susun buku gambar Aris di atas meja, supaya petugas itu tahu kalau Aris pintar menggambar!"
Anjeli tertawa kecil, menghampiri adiknya dan mengusap wajahnya dengan ujung kain bersih. "Hahaha…Hebat, Adik kakak ini. Itu sangat membantu. Sekarang, bantu Kakak cabuti rumput liar di jalan masuk, ya? Buat jalanannya terlihat rapi."
Di tengah kesibukan mereka, Anjeli merasakan sebuah tatapan tajam dari arah jalan desa. Benar saja, di balik pohon waru besar tak jauh dari rumah mereka, Bu Sumi berdiri dengan melipat tangan di dada. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik keluarga Pak Burhan dengan raut wajah yang sulit diartikan, antara benci, iri, dan penasaran.
"Rajin benar, Burhan!" teriak Bu Sumi dari kejauhan, suaranya melengking memecah ketenangan pagi. "Mau ada tamu agung dari kota, ya? Dengar-dengar petugas pengadilan mau datang? Hati-hati, Njel, biasanya mereka itu teliti sekali. Jangan sampai ada rahasia yang ketahuan!"
Pak Burhan hanya tersenyum tipis, tidak terpancing emosi. "Hanya bersih-bersih biasa, Bu Sumi. Kebersihan sebagian dari iman, kan?"
Bu Sumi mendengus, lalu berjalan pergi dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan. Anjeli menatap kepergian tetangganya itu dengan perasaan waspada. Ia tahu, Bu Sumi bukan tipe orang yang hanya akan diam melihat keberhasilan orang lain. Ada sesuatu yang sedang digodok di kepala wanita itu.
Sore harinya, setelah urusan rumah selesai, Anjeli beralih ke kebun belakang. Baginya, kebun ini adalah jantung dari pembelaan mereka. Ia melihat tanaman jahe merah yang baru saja ia ambil bibitnya kemarin. Di sela-selanya, tanaman selada keriting kembali tumbuh dengan subur.
Anjeli mengambil kaleng siram. Kali ini, ia menambahkan sedikit pupuk cair buatannya yang berasal dari rendaman dedaunan di Ruang Ajaib. Ia menyiram setiap batang tanaman dengan gerakan yang sangat perlahan, memperhatikan bagaimana air meresap ke dalam pori-pori tanah yang gembur.
"Ibu pikir desa ini kotor, sepertinya ibu lupa sama asal sendiri bu?” gumam Anjeli pelan, teringat ucapan ibunya di pengadilan. "Ibu tidak tahu kalau tanah inilah yang menyembuhkan luka-luka kami, setelah ibu memilih pergi meninggal suami dan anak ibu dua tahun lalu”
Ayah mendekat, berjalan perlahan menggunakan tongkat kayu sebagai penyeimbang sementara. Ia berdiri di pinggir bedengan, menghirup aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi bunga buncis.
"Njel, Ayah merasa sangat damai di sini. Seandainya petugas itu bisa merasakan apa yang Ayah rasakan sekarang, mereka tidak akan ragu bahwa Aris paling bahagia tinggal di sini bersama Ayah dan kakaknya.”
"iya Ayah. Kita akan buat mereka merasakannya juga seperti apa yang dirasakan Ayah," sahut Anjeli mantap. "Besok, Anjeli akan mulai menanam bunga-bunga hias di depan rumah. Bukan untuk pamer, tapi untuk menunjukkan bahwa tanah ini sanggup menumbuhkan apa saja jika dirawat dengan hati."
Malam kembali turun menyelimuti Sukamaju. Di dalam rumah yang kini terasa lebih lapang dan bersih, cahaya lampu teplok memantul pada kaca jendela yang telah diusap Aris hingga bening. Mereka duduk bertiga di ruang tamu, menikmati teh hangat jahe merah hasil panen perdana kemarin.
"Ayah," Aris memulai pembicaraan sambil menyandarkan kepalanya di lengan Pak Burhan. "Kalau nanti petugas itu tanya Aris sayang sama siapa, Aris harus jawab apa?"
Pak Burhan mengelus rambut Aris, matanya menatap Anjeli sejenak. "Aris harus jawab seperti apa yang ada di hati Aris. Aris tidak perlu takut, tidak perlu ada yang disembunyikan. Bilang saja kalau Aris bahagia makan masakan Kakak dan belajar jalan sama Ayah."
"Aris juga mau bilang kalau Aris tidak mau tidur di kamar ber-AC," tambah Aris polos. "Aris lebih suka tidur sambil dengar suara jangkrik dari jendela."
Anjeli tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Kepolosan Aris adalah senjata terkuat mereka, namun juga hal yang paling ingin ia lindungi agar tidak terluka oleh kekejaman orang dewasa di persidangan nanti.
Sebelum mematikan lampu untuk beristirahat, Anjeli menyempatkan diri mengintip keluar jendela. Di kegelapan malam, mawar-mawar pelindungnya tampak berdiri tegak, kelopaknya yang merah gelap tampak berkilau terkena cahaya bulan. Mereka seolah sedang berjaga, melindungi setiap inci harapan yang baru saja dibersihkan oleh keluarga itu.
Anjeli meraba cincin hitam di jarinya, merasakan getaran hangat yang memberikan ketenangan. “Satu minggu lagi” batinnya. Satu minggu untuk memastikan surga kecil ini tetap utuh.
🤣🤣🤣 si handoko nga dapat apa2..rasain looo pak handok🤣🤣🤣