Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Kerajaan Pasir dan Cincin di Dalam Mi Instan
Setelah kejadian di balkon kantor yang hampir bikin jantung Nara pindah ke dengkul, Rian bener-bener berubah jadi "Dewa Penghancur". Dia nggak mau lagi pakai cara halus. Malam itu juga, selagi Nara tidur nyenyak di kamar tamu unit 402, Rian bareng tim legal dan si detektif Bima begadang buat ngebongkar semua borok Pak Handoko sampai ke akar-akarnya.
"Yan, gue udah dapet bukti baru. Pak Handoko ternyata bukan cuma main di manipulasi saham, dia juga punya proyek apartemen bodong di Kalimantan," lapor Bima lewat telepon.
Rian nyeduh kopi hitam tanpa gula, matanya yang tajam natap layar monitor dengan aura dingin. "Bagus. Rilis semuanya ke media besok pagi jam sembilan tepat. Biar dia nggak punya waktu buat napas apalagi cari pengacara cadangan. Saya mau kerajaan pasirnya runtuh besok juga."
"Siap, Bos! Lo beneran nggak kasih ampun ya kalau udah urusan cewek lo," goda Bima.
Rian cuma senyum tipis yang penuh arti. "Dia nyaris nyakitin nyawa orang yang paling berharga buat saya, Bim. Itu kesalahan terakhir yang bakal dia lakuin dalam karier bisnisnya."
Besok paginya, Nara bangun dengan bau aroma masakan yang enak banget. Dia keluar kamar masih pakai daster buah naga hitamnya, rambutnya acak-adut kayak sarang burung, tapi mukanya udah nggak sepucat kemarin.
Di dapur, dia liat Rian lagi sibuk goreng telur. Yang bikin kocak, Rian masih pakai jas lengkap buat ke kantor tapi dipakein celemek gambar beruang punya Nara.
"Mas... Mas beneran masak? Nanti dapurnya meledak lho," ledek Nara sambil duduk di meja bar.
Rian nengok sambil senyum ganteng. "Cuma goreng telur sama sosis, Nara. Efisiensi sarapan. Dan kabar baiknya... Pak Handoko sudah resmi jadi tersangka pagi ini. Saham perusahaannya anjlok 40 persen dalam satu jam."
Nara melongo. "Hah?! Secepat itu?!"
"Jangan remehkan kemarahan pria yang pacarnya hampir ditusuk pisau," balas Rian kalem sambil nyodorin piring sarapan.
Pas lagi asyik makan, Nara nengok ke ruang tamu. Di sana ada Satya yang lagi stand-by sambil pegang tablet. "Bang Satya! Sini sarapan bareng! Mas Rian goreng sosisnya kebanyakan nih!"
Satya nengok, mukanya tetep kayak kulkas. "Izin Mbak, saya sudah sarapan protein bar."
"Dih, makan sosis lebih enak Bang! Sini, ini perintah bos kecil!" paksa Nara.
Rian cuma bisa geleng-geleng kepala liat Nara yang malah asyik nyuapin sosis ke ajudan pribadinya. "Nara, nanti kalau Satya jadi gemuk dan nggak gesit lagi, kamu yang tanggung jawab ya."
Siang harinya, Rian mutusin buat nggak ke kantor. Dia mau nemenin Nara "healing" beneran. Bukan ke mall mewah, tapi Nara minta diajak ke pasar kaget yang lagi ada festival kuliner.
"Mas, serius mau ke sana? Panas lho, Mas nanti keringetan terus jasnya bau matahari," tanya Nara ragu-ragu.
"Nggak apa-apa. Saya mau ngerasain jadi manusia biasa bareng kamu," jawab Rian sambil lepas jasnya dan cuma pakai kemeja yang lengannya digulung.
Mereka pun jalan-jalan di pasar kaget. Satya tetep ngawal dari jarak lima meter, tapi kali ini dia pakai kaos polo biasa biar nggak terlalu mencolok kayak MIB. Nara seneng banget, dia beli telur gulung, cimol, sampai es podeng.
"Mas, coba ini!" Nara nyodorin telur gulung yang penuh saos pedas ke mulut Rian.
Rian yang biasanya makan wagyu A5, sekarang harus pasrah nelan telur gulung seribuan. "Hmm... ternyata enak juga. Rasanya... sangat penuh micin tapi nagih."
"Nah kan! Itu rahasia kebahagiaan rakyat jelata, Mas!" tawa Nara pecah.
Pas mereka lagi duduk di bangku taman pinggir jalan sambil makan mi instan cup (lagi, karena Nara ketagihan), suasana mendadak jadi agak melow. Angin sore sepoi-sepoi bikin rambut Nara terbang-terbang cantik.
"Nara," panggil Rian pelan.
"Ya, Mas?" jawab Nara sambil asyik nyeruput kuah mi.
"Setelah semua yang kita lalui... dari tetangga rese yang hobi berantem, kontrak pacaran boongan, sampai hampir ditusuk mantan anak buah... saya sadar satu hal."
Nara berhenti makan. Dia liat muka Rian yang bener-bener serius. "Apa itu, Mas?"
"Hidup saya yang kaku dan penuh hitung-hitungan itu nggak ada artinya kalau nggak ada kamu yang bikin variabelnya jadi berantakan. Kamu itu satu-satunya 'kesalahan' paling indah yang pernah saya punya."
Rian tiba-tiba ngambil sesuatu dari kantong celananya. Dia nggak ngeluarin kotak perhiasan mewah. Dia justru naruh sebuah cincin emas putih yang simpel tapi elegan di atas tutup mi instan Nara yang udah kosong.
Nara melongo. Matanya langsung berkaca-kaca. "Mas... ini..."
"Saya nggak mau ngelamar kamu di restoran mewah yang sepi, karena kamu itu orangnya berisik dan suka keramaian. Saya mau ngelamar kamu di sini, di tempat yang biasa, biar kamu tahu kalau saya mencintai kamu bukan karena kemewahan saya, tapi karena kamu adalah kamu."
Rian megang tangan Nara. "Nara Anindita, mau nggak kamu ganti status dari 'Head of Creative' jadi 'Head of My Heart' selamanya? Mau nggak kita satu unit selamanya, tapi kali ini nggak ada tembok pembatas?"
Nara nangis tapi sambil ketawa. "Mas... Mas ngelamar saya pake alas mi instan?! Mas beneran nggak ada romantis-romantisnya!"
"Tapi jawabannya apa?" tanya Rian deg-degan.
Nara langsung meluk Rian erat banget sampai mi instan mereka hampir tumpah. "MAU! MAU BANGET, MAS ROBOT!"
Orang-orang di sekitar pasar kaget pada tepuk tangan. Bahkan Satya yang di kejauhan kelihatan senyum tipis—sebuah keajaiban dunia ke-8.
Malamnya, berita soal runtuhnya kerajaan bisnis Pak Handoko makin panas. Dia resmi ditahan dan semua asetnya dibekukan. Karin juga dikabarkan stres berat dan harus menjalani rehabilitasi karena depresi.
Rian dan Nara duduk di balkon unit 402, ngelihatin bintang sambil pegangan tangan. Di jari manis Nara udah melingkar cincin pemberian Rian tadi sore.
"Mas, besok kita kasih tahu Mama sama Papa ya?" tanya Nara.
"Iya. Mama pasti langsung mau pesen katering buat seribu orang," canda Rian.
"Mas... makasih ya udah milih saya. Padahal di luar sana banyak cewek yang lebih pinter, lebih kaya, dan nggak hobi pakai daster buah naga."
Rian narik kepala Nara biar nyender di bahunya. "Pinter bisa dipelajari, kaya bisa dicari. Tapi cewek yang bisa bikin saya ngerasa pulang tiap kali saya liat matanya... itu cuma kamu, Nara."
Tiba-tiba, HP Nara bunyi. Ada pesan masuk dari nomor nggak dikenal.
Pesan: "Selamat atas pertunangannya. Tapi ingat, permainan belum benar-benar berakhir. Salam dari bayangan."
Nara langsung tegang. Dia nunjukin pesan itu ke Rian. Rian ngerutin dahi, matanya balik lagi jadi tajam.
"Mas... siapa lagi ini?" tanya Nara cemas.
Rian ngambil HP Nara, terus dia telepon Satya. "Satya, perketat pengamanan. Ada tikus baru yang mau main-main. Dan Bima, lacak nomor ini sekarang juga."
Rian meluk Nara lebih erat. "Jangan takut, Nara. Kali ini saya nggak bakal biarin mereka selangkah pun mendekati kamu. Kita sudah sampai di sini, dan nggak ada yang boleh ngerusak kebahagiaan kita."
Di kejauhan, di balik gedung seberang, seseorang yang pakai jaket kulit hitam lagi nurunin teropongnya. Dia nyengir licik, terus tancap gas pakai motor sport-nya. Sepertinya, musuh kali ini jauh lebih profesional dan lebih berbahaya daripada Pak Handoko.