Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laboratorium Bayangan dan Titik Awal Baru
Pulau Pari bukanlah tempat yang sering dikunjungi turis akhir pekan. Jaraknya hanya beberapa kilometer dari pantai Jakarta, tetapi rasanya seperti dunia lain. Di sisi pulau yang menghadap laut lepas, tersembunyi di balik rimbunnya mangrove tua, terdapat sebuah rumah panggung kayu yang dibangun oleh seorang peneliti kelautan Belanda pada tahun 1930-an. Rumah itu sudah lama ditinggalkan, atapnya bocor, tetapi strukturnya masih kokoh. Dan yang terpenting, ia terpencil.
Ini menjadi "Laboratorium Alpha".
Selama dua minggu, Leo—masih dengan identitas Alex Dharma—mengerahkan jaringan bawah tanahnya. Uang dari penjualan tembaga dan portofolio kriptonya yang bertumbuh berubah menjadi pasokan: panel surya portabel, baterai lithium-ion besar, peralatan lab bekas tetapi berkualitas dari sebuah universitas yang bangkrut, satelit internet portabel, dan persediaan makanan untuk sebulan. Semuanya dikirim dengan perahu nelayan pada malam hari, diangkut dengan susah payah melalui jalur rahasia di antara akar-akar mangrove.
Dr. Arif dan keluarganya—istri dan seorang putri remaja—"menghilang" dengan bantuan seorang spesialis yang direkomendasikan oleh kontak Leo. Mereka sekarang adalah keluarga "Wibawa", pindah dari Jawa Tengah untuk memulai usaha budidaya mutiara. Cerita sampul yang sederhana dan mudah dipercaya.
Saat fajar pada hari ketiga, Leo berdiri di beranda kayu rumah panggung yang menghadap ke Laut Jawa. Air berwarna abu-abu dan tenang. Di belakangnya, Dr. Arif sedang sibuk menyiapkan sebuah ruangan yang dulunya kamar tidur utama menjadi ruang kerja, dengan komputer, mikroskop digital, dan spektrometer sederhana.
"Kita membutuhkan generator diesel cadangan," kata Dr. Arif tanpa menoleh, sambil menyambungkan kabel. "Panel surya tidak akan cukup jika kita menjalankan furnace atau pemindai electron."
"Sudah diatur. Tiba besok malam," jawab Leo. Matanya tertuju pada telapak tangannya. Marka giok hari ini terasa hangat, bahkan tanpa digunakan. Seperti mesin yang sedang idle. Dan di dalam Vault, jumlah salinan yang "terinfeksi" telah bertambah menjadi lima. Selalu benda logam. Selalu salinan dengan nomor urut acak.
"Apa kamu sudah membawanya?" tanya Dr. Arif, memecah keheningan.
Leo mengangguk. Dari tas pelindung berpendingin yang terbuat dari bahan khusus, ia mengeluarkan satu benda: batang tembaga aneh pertama, salinan ke-473. Ia telah menempatkannya dalam wadah timah tertutup, mengisolasi kemungkinan radiasi atau emansi aneh lainnya.
Dengan sarung tangan tebal dan kaca mata pengaman, Dr. Arif dengan hati-hati mengambil wadah itu dan membawanya ke meja kerja. Saat wadah dibuka, ruangan itu tidak berubah. Tidak ada suara, tidak ada cahaya aneh. Hanya ada sebuah batang tembaga yang warnanya merah suram.
Tetapi Leo merasakannya. Tarikan itu. Lebih kuat di sini, di ruang tertutup ini. Seperti denyutan yang samar.
Dr. Arif memulai prosedur standarnya. Pengukuran massa: normal. Kekerasan: sedikit lebih tinggi dari tembaga murni. Konduktivitas listrik: hampir nol. Itu yang pertama membuatnya terkesiap.
"Ini bukan konduktor lagi. Ini insulator sempurna. Bagaimana mungkin?" gumamnya. Dia melanjutkan dengan spektrometer genggam. Saat sinar laser mengenai permukaan logam, bukannya memantul atau terserap, sinar itu menghilang. Membaca spektrometer menjadi kacau, menunjukkan tidak ada spektrum pantulan yang dapat dideteksi.
"Itu menyerap semua foton," Dr. Arif berbisik, matanya berbinar dengan campuran ketakutan dan kegembiraan ilmiah. "Semua panjang gelombang. Ini… ini adalah material blackbody sempurna dalam kondisi ruangan. Itu seharusnya tidak mungkin."
Leo mendekat. "Apa artinya?"
"Ini berarti benda ini melanggar hukum termodinamika dasar. Benda hitam sempurna seharusnya memancarkan radiasi sesuai dengan suhunya. Tapi benda ini…" Dia menyentuhnya dengan penyensor suhu. "Suhunya stabil pada 22 derajat Celsius, sama dengan ruangan. Tidak ada emisi termal. Ia menyerap energi tetapi tidak melepaskannya kembali. Itu seperti… lubang hitam versi mikroskopis."
Kata-kata itu menggantung di udara yang pengap. Lubang hitam.
Tiba-tiba, Leo mengerti. Rasa lapar yang ia rasakan, "kebocoran" energinya. Benda-benda ini bukan hanya anomali. Mereka adalah parasit. Mereka menyedot energi dari suatu tempat—mungkin dari Vault itu sendiri, mungkin dari dimensi tempat giok itu berasal—dan menjebaknya.
"Apakah itu berbahaya?" tanya Leo, suaranya datar.
"Secara fisik? Tidak tahu. Tapi secara teoretis…" Dr. Arif mengusap dagunya. "Jika benda ini dapat berkembang, atau jika efeknya menular ke materi di sekitarnya… ia bisa menciptakan zona stagnasi entropi. Suatu daerah di mana energi masuk tetapi tidak pernah keluar. Pada skala besar, itu akan menjadi… kuburan kosmik."
Gema mimpi Leo tentang ribuan dirinya yang hampa menjadi sangat nyata.
"Dapatkah kita menghancurkannya?"
Dr. Arif menggeleng. "Kita tidak tahu apa reaksinya. Memanaskannya bisa memberinya lebih banyak energi untuk diserap. Menghancurkannya secara fisik bisa melepaskan apa pun yang disimpannya." Dia memandang Leo. "Kamu mengatakan ini adalah salinan dari benda biasa. Apa yang berbeda dari proses penyalinannya?"
Leo berpikir sejenak. "Tidak ada. Sama persis. Saya hanya… menghendakinya. Tapi ada perasaan lelah setelahnya. Dan semakin besar atau kompleks bendanya, semakin lelah saya."
"Biaya energi," gumam Dr. Arif. "Mungkin benda-benda aneh ini adalah 'sisa' dari proses itu. Seperti knalpot dari mesin kamu. Atau mungkin…" Matanya berbinar. "Mungkin itu adalah jembatan. Titik kontak dengan sumber energi yang kamu gunakan untuk menciptakan materi."
Pikiran itu mengerikan. Jika setiap penggunaan kekuatan membuka saluran mikroskopis ke dimensi asing yang lapar, maka setiap salinan adalah potensi ancaman.
"Apakah ada cara untuk mendeteksinya sebelum mereka berubah?" tanya Leo.
"Kita perlu memindai semua salinanmu. Semuanya." Dr. Arif melihat ke arah Leo, dan untuk pertama kalinya, ada rasa hormat yang dalam di matanya, bercampur dengan kengerian. "Kekuatanmu… luar biasa. Tapi alam semesta tidak suka diberi cek kosong. Selalu ada pembayarannya."
Malam itu, di bawah penerangan lampu LED portabel, mereka memulai proses yang melelahkan. Leo mengeluarkan, satu per satu, salinan logam dari Vault—pertama tembaga, lalu emas. Dr. Arif memindainya dengan spektrometer yang dimodifikasi. Dari 1.000 batang tembaga, mereka menemukan 17 yang "terinfeksi". Dari 1.000 batang emas, 9 yang menunjukkan tanda-tanda anomali.
Proporsinya kecil, sekitar 1-2%. Tapi itu ada. Dan mengkhawatirkan.
Mereka mengisolasi semua benda aneh itu dalam wadah timah terpisah, menyimpannya jauh dari laboratorium utama, di sebuah gudang kecil di ujung dermaga.
Saat fajar menyingsing, memancarkan cahaya oranye pucat di atas laut, Leo dan Dr. Arif duduk kelelahan di beranda.
"Kita butuh teori yang lebih baik," kata Dr. Arif, matanya merah karena kurang tidur. "Kita butuh untuk memahami dari mana energi untuk multiplikasi itu berasal. Kita butuh untuk memetakan batasanmu dengan presisi. Dan kita butuh… protokol pengamanan. Jika benda-benda ini mulai berperilaku tidak terduga, kita harus bisa memusnahkannya tanpa menimbulkan malapetaka."
Leo mengangguk, memandangi laut. Dia datang ke sini untuk membangun kekuatan, untuk memulai perjalanannya menuju Kardashev 1. Namun hal pertama yang harus dia hadapi adalah kemungkinan bahwa kekuatannya sendiri bisa menjadi bom waktu yang membahayakan segalanya.
"Mulai besok," kata Leo, suaranya berat tetapi penuh tekad. "Kita buat peta. Kita ukur semuanya. Dan kita cari cara untuk membersihkan… knalpot ini."
Dr. Arif tersenyum kecil, lesu. "Kau tahu, dalam mitologi, Prometheus mencuri api dari para dewa dan memberikannya kepada manusia. Dan sebagai hukumannya, dia dirantai di atas gunung, dan seekor elang memakan hatinya setiap hari, yang kemudian tumbuh kembali."
Leo menatapnya. "Pesan moralnya?"
"Kemajuan memiliki harganya," kata Dr. Arif. "Dan biasanya, yang membayar adalah sang pencuri api."
Di kejauhan, di atas menara-menara Jakarta yang tampak seperti siluet kecil, awan gelap mulai berkumpul. Badai akan datang. Dan di dalam gudang kecil di dermaga, di dalam wadah timah, dua puluh enam benda mati yang gelap dan lapar diam-diam menunggu.