Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK LAPISAN PERAK
"Lo beneran oke, Kak? Maksud gue, badan lo sekarang... lo tahu kan, lo tembus pandang kalau gue liat dari samping? Agak serem, jujur aja."
Lukas mengusap matanya berkali-kali, berusaha memastikan bahwa sosok di depannya bukan sekadar halusinasi akibat oksigen tipis di puncak Monas. Ia berdiri di sebuah ruang yang tidak masuk akal; sebuah koridor panjang yang dinding, lantai, dan langit-langitnya terbuat dari cermin yang memantulkan citra kota Jakarta dari sudut pandang yang mustahil. Di sini, suara bising knalpot berubah menjadi dengung frekuensi rendah, dan rintik hujan terdengar seperti ketukan jemari pada dawai harpa.
"Bukan cuma tembus pandang, Kas. Gue sekarang adalah frekuensi yang kejepit di antara perak sama kaca. Jadi, mending lo nggak usah nyoba buat megang tangan gue, nanti lo malah kesedot masuk ke dalem sejarah yang salah," sahut Nirmala pelan.
Suaranya tidak lagi berasal dari pita suara manusia, melainkan bergema dari segala penjuru cermin, seolah-olah setiap partikel udara di tempat itu adalah mulutnya. Ia berdiri dengan tenang, mengenakan jaket denim Nathan yang kini tampak berpendar keperakan. Di tangan kanannya, pena perak itu tidak lagi meneteskan tinta, melainkan memancarkan untaian cahaya yang menyerupai sirkuit digital.
Lukas menelan ludah dengan susah payah. Ia memandang ke bawah, ke arah lantai transparan yang memperlihatkan puncak Monas yang kian menjauh. "Terus sekarang kita mau kemana? Tadi Alfred mana? Kok dia nggak ikut masuk?"
"Alfred punya tugas di 'sisi sana'. Dia itu penjaga gerbang, Lukas. Kalau dia masuk ke sini, nggak ada lagi yang bakal jagain realitas Jakarta supaya nggak kolaps," Nirmala melangkah maju, dan setiap pijakannya menciptakan riak cahaya di atas lantai kaca. "Gue butuh lo di sini karena gawai lo itu satu-satunya alat yang bisa baca 'bad sector' di dimensi ini. Ordo Chronos mungkin udah mundur dari Monas, tapi mereka nggak bakal tinggal diem."
Narasi kehidupan di dalam dimensi pantulan ini sungguh di luar nalar manusia. Ruang ini merupakan sela-sela antar-detik, sebuah tempat di mana waktu tidak mengalir melainkan terhampar seperti permadani. Nirmala, yang kini telah menyatu dengan esensi Jantung Waktu, mampu melihat setiap kemungkinan yang gagal dan setiap memori yang terbuang. Namun, keberadaannya di sini adalah sebuah anomali besar yang memicu reaksi berantai dari entitas lain yang jauh lebih tua dari Ordo Chronos.
Tiba-tiba, Lukas menghentikan langkahnya. Ia mengangkat gawainya yang layarnya masih retak, namun kini memancarkan sinyal merah yang berkedip cepat. "Kak, tunggu! Sensor gue dapet gangguan frekuensi dari arah jam dua. Ini bukan tanda-tanda Penyapu atau Eraser. Sinyalnya terlalu... stabil. Kayak detak jantung, tapi dingin banget."
Nirmala menyipitkan mata. Ia mengangkat pena peraknya, bersiap menggoreskan perlindungan di udara. Namun, sebelum ia sempat bertindak, bayangan di salah satu cermin besar di samping mereka mendadak bergerak sendiri. Bayangan itu tidak mengikuti gerakan Nirmala maupun Lukas. Ia memisahkan diri dari permukaan kaca, mewujud menjadi sesosok pria jangkung yang mengenakan jubah abu-abu panjang dengan tudung yang menutupi wajahnya.
Pria itu memegang sebuah buku tebal yang dirantai ke pinggangnya. Di dadanya tersampir sebuah lencana berbentuk jam pasir yang isinya bukan pasir, melainkan api hitam yang tidak bergerak.
"Siapa lo?! Jangan deket-deket atau gue format otak lo pake virus paling mematikan!" teriak Lukas sambil mengarahkan gawainya ke depan, meski tangannya gemetar hebat.
Pria bertudung itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya yang pucat, dan seketika, koridor cermin di sekeliling mereka bergetar hebat. Suara retakan kaca mulai terdengar, menyayat keheningan dimensi tersebut.
"Tenang, Anak Muda. Alat kecilmu itu tidak akan bisa meretas kehendak sang Archivist," suara pria itu berat dan berwibawa, seolah-olah ia berbicara dari masa depan yang sangat jauh.
Nirmala melangkah ke depan Lukas, memosisikan diri sebagai tameng. "Archivist? Gue belum pernah denger faksi itu di data Ordo. Lo mau apa dari kami?"
Pria itu menurunkan tudungnya, menyingkapkan wajah yang tampak sangat tua namun memiliki mata biru elektrik yang bercahaya tajam. "Ordo Chronos hanyalah sekumpulan amatir yang bermain dengan jarum jam. Kami, dari Perpustakaan Sunyi, adalah mereka yang memastikan bahwa setiap halaman sejarah tetap kering dari tinta emosi manusia. Nirmala, tindakanmu di Monas telah menumpahkan tinta di atas bab yang seharusnya sudah selesai."
"Gue cuma mau kasih orang-orang hak atas waktu mereka sendiri! Apa itu salah?" tantang Nirmala.
"Waktu tanpa kendali adalah kekacauan, Nirmala. Kamu telah menghancurkan bendungan, dan sekarang banjir sejarah akan menenggelamkan semua yang kamu cintai," sang Archivist membuka buku besarnya. Lembarannya terbuat dari kulit manusia yang diawetkan, dan di sana, Nirmala melihat namanya tertulis dalam warna emas yang mulai memudar. "Saya di sini bukan untuk menghapusmu. Saya di sini untuk memberikan penawaran terakhir."
Lukas berbisik di belakang Nirmala, "Kak, jangan percaya. Orang yang bawa buku dari kulit manusia biasanya bukan orang baik-baik. Sensor gue bilang dia punya energi yang bisa bikin kita freeze permanen."
"Gue tahu, Lukas," sahut Nirmala tanpa menoleh. Ia kembali menatap sang Archivist. "Penawaran apa?"
Sang Archivist tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak seperti luka lama yang dipaksa terbuka. "Kembalilah ke dalam materi murni. Biarkan kami menata ulang Jakarta tanpa ingatan akan keberadaanmu. Sebagai imbalannya, ibumu akan hidup bahagia tanpa pernah mengenal rasa kehilangan, dan temanmu ini akan menjadi orang terkaya di garis waktu yang baru. Tidak ada lagi pengejaran, tidak ada lagi rasa sakit."
Nirmala tertawa kecil, tawa yang terdengar getir di dinding-dinding cermin. "Tawaran yang sama kayak Alfred dan Julian. Kalian semua bener-bener nggak kreatif ya kalau soal nyogok orang?"
"Perbedaannya adalah," sang Archivist mengangkat jarinya, dan tiba-tiba sebuah cermin di depan Nirmala menampilkan pemandangan di rumah sakit. Elena, ibu Nirmala, sedang tertidur di ranjangnya. Namun, di atas tubuh Elena, ribuan jarum jam hitam mulai bermunculan dari udara, siap untuk menusuk jantungnya. "Jika kamu menolak, saya akan memicu 'Kematian Retrospektif'. Ibumu tidak akan mati sekarang, dia akan mati di masa lalu, sehingga semua kenanganmu tentangnya akan menjadi hampa."
Nirmala merasakan amarah yang luar biasa membakar inti materinya. Pena perak di tangannya berpendar hebat, mengeluarkan percikan api biru yang meretakkan lantai cermin di bawah kakinya. "Lo... lo berani ancam Ibu gue?!"
"Kak, jangan emosi dulu! Liat itu!" Lukas menunjuk ke arah gawai di tangannya. "Sinyalnya... dia nggak cuma ngunci Ibu lo. Dia ngunci seluruh halte bus di Jakarta! Kalau dia narik pelatuknya, kota ini bakal jadi kota hantu!"
Sang Archivist menatap jam pasir di dadanya yang mulai bergetar. "Tiga puluh detik, Nirmala. Menjadi martir yang terlupakan, atau melihat ibumu terhapus dari akar sejarah?"
Nirmala memandang Lukas, lalu memandang ibunya di dalam cermin. Ia menyadari bahwa kekuatannya sebagai Arsitek baru saja diuji oleh otoritas yang jauh lebih tinggi. Ia tidak bisa hanya mengandalkan pena peraknya; ia butuh sesuatu yang lebih fundamental.
Nirmala mendekati cermin yang menampilkan ibunya, menempelkan telapak tangan transparannya ke permukaan kaca yang dingin. "Kas, kalau gue nggak balik dari cermin ini... lo tahu apa yang harus lo lakuin sama Buku Besar Alfred, kan?"
Lukas membelalakkan mata. "Maksud lo apa, Kak?! Jangan bilang lo mau—"
"Gue bakal masuk ke masa lalu gue sendiri buat nangkis jarum-jarum itu secara manual," bisik Nirmala. Ia menoleh ke arah Archivist dengan tatapan penuh tantangan. "Lo mau main di masa lalu? Ayo, gue ladenin di kandang gue sendiri."
"Nirmala, kamu tidak akan bisa kembali jika memasuki memori retrospektif tanpa jangkar!" Archivist memperingatkan, suaranya kini terdengar sedikit panik.
Nirmala tersenyum lebar, senyuman yang membuat seluruh koridor cermin itu bersinar terang. "Gue punya jangkar yang lebih kuat dari buku lo, Pak Tua. Lukas, sekarang! Tembak frekuensi Jantung Waktu ke cermin ini!"
Lukas, meskipun tangannya gemetar, menekan tombol overload di gawainya. "Gue bakal nyesel banget kalau ini gagal, Kak!"
Ledakan cahaya putih melahap mereka. Nirmala melompat ke dalam cermin tepat saat jarum jam hitam pertama menyentuh kening ibunya di dalam visi tersebut.
Dunia cermin itu hancur berkeping-keping.
Saat cahaya mereda, Lukas mendapati dirinya sendirian di tengah kegelapan, hanya ditemani oleh pantulan wajahnya yang ketakutan di serpihan kaca yang melayang. Namun, dari kegelapan itu, terdengar suara langkah kaki yang berat. Bukan langkah Nirmala.
Sang Archivist berdiri di depannya, bukunya kini terbakar api biru. Ia menatap Lukas dengan tatapan yang sangat aneh—bukan benci, melainkan rasa ingin tahu yang mengerikan.
"Dia sudah masuk ke dalam jebakan yang dia buat sendiri," gumam sang Archivist. Ia melangkah mendekati Lukas, tangannya yang pucat terjulur ke arah gawai Lukas. "Dan sekarang, Anak Muda, kamu adalah satu-satunya saksi yang tersisa untuk menuliskan bagaimana pahlawanmu menemui ajalnya."
Lukas mundur teratur, jemarinya mencari-cari sesuatu di sakunya. "Lo yakin gue saksi terakhir?"
Lukas mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya—sebuah koin emas yang retak, koin yang seharusnya sudah hilang saat Nirmala menyatu dengan waktu.
"Gue baru inget satu hal, Pak Tua. Arsitek itu nggak pernah kerja sendirian kalau dia tahu lawannya curang."
Sang Archivist terhenti. Matanya tertuju pada koin di tangan Lukas yang mulai berdenyut merah.
"Lukas, apa yang kamu sembunyikan di dalam koin itu?"