alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh
" berkencanlah denganku sehari saja, maka aku akan membiarkan tim kamu dan menganggap semuanya baik-baik saja" rasa terkejut di hati alia tadi berganti dengan rasa malas, senyum sinis tersungging tipis di ujung bibirnya.
"Ternyata anda memang tidak profesional pak langit, maaf saya lebih memilih lembur saja hari ini" tukas alia dengan nada mencibir, ia bangun dan berdiri dengan tegak.
"Terima kasih atas waktu anda pak" pamitnya menundukkan kepalanya.
Langit terkesima melihat senyum sinis alia, cibiran yang keluar dari bibir wanita itu membuat darahnya mendidih, dengan derap langkah yang panjang ia menghampiri alia yang akan beranjak, namun dengan cepat langit mencengkeram pergelangan tangan alia yang hendak melangkah.
Dengan hentakan yang lumayan keras, langit menarik alia yang menjerit terkejut, dengan kasar ke arahnya. Alia terhuyung, hampir saja ia terjerembab, cengkraman tangan langit terasa semakin erat di tangannya.
Pria itu mendorong tubuh alia ke dinding, ia menghimpitnya dan mengungkungnya dengan kedua lengan yang terentang di sisi kepala alia, menciptakan ruang sempit yang membuat nafas mereka saling terdengar.
Nafas berat langit terasa hangat menghembus di kulit pipi alia yang memalingkan wajahnya marah.
"Jangan pura-pura kamu tidak menyukainya alia" suara langit menggeram,
"Aku tahu kau juga menginginkannya"
Alia menegang takut, jantungnya berdegub tak karuan, namun ucapan langit barusan sungguh membuat jingga tersinggung, ia menatap lurus ke mata langit yang mengamatinya dengan senyum smirknya.
"Jangan buat aku semakin membencimu, langit" kata alia terdengar marah, suaranya bergetar menahan marah dan takut, namun ia menatap nyalang mata elang yang menatap tajam ke arahnya.
"Hahahaha..akhirnya kamu bicara normal kepadaku" tawa langit terdengar sumbang.
Matanya menelusuri wajah alia, mulai dari mata alia yang merah menyala marah, hidung mancungnya yang mungil, dan berhenti tepat di bibir wanita itu yang terbuka, langit menelan salivanya, bibir itu sangat menggodanya.
Alia sadar ia dalam posisi yang sedikit berbahaya dengan tubuhnya juga sudah menegang karena takut, namun rasa marah juga menguasai hatinya.
Pria itu masih menatap bibirnya dengan penuh keinginan, jakunnya yang bergerak menunjukkan pria itu sudah dikuasai nafsu.
"Lepaskan aku langit" Perintah alia masih dengan suara tertahan, pria itu menyeringai, senyum separuhnya terlihat sangat menyebalkan di mata alia.
"Kalau aku tak mau, kamu mau apa?, apakah kamu mau teriak" ujarnya dengan suara berat, berbisik di telinga alia yang mendengus kasar.
"Teriaklah sayang!, aku merindukan teriakanmu"
Bulu di sekujur tubuh alia meremang, degub jantungnya berdetak lebih kencang, ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan langit, namun pria itu bukannya melepaskan malah semakin mengetatkan genggamannya, dan merapatkan tubuhnya ke tubuh alia yang mulai ketakutan.
Rasa takut mulai menguasai alia, ujung matanya mulai berair, ia merasa sangat marah dan terhina, tatapan pria di hadapannya itu masih melihatnya dengan tatapan menjijikkan, jingga merasa terhina.
"Lepaskan aku langit...lepaskan" ujar alia setengah berteriak, tubuhnya mulai berontak, namun langit semakin merapatkan tubuhnya, membuat alia tidak mampu lagi bergerak bebas.
"Lepaskan aku...lepaskan.." teriak alia mengeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba bibir langit menyergap kasar bibir alia, bibir itu memaksa alia untuk diam, Ia ingin menjerit namun mulutnya yang di bekap oleh bibir langit, tak mampu bersuara, ia sungguh terkejut dan ketakutan.
"hmmmphhhhhh" suara teriakan alia tertahan di dalam mulut langit.
Gerakan kepalanya terhenti oleh ciuman panas langit, alia berusaha melepaskan ciuman itu, namun langit semakin melumat bibir alia kasar dan penuh nafsu.
Dengan air mata yang mulai jatuh, dan nafas yang mulai sesak, alia menggigit bibir langit. Pria itu menarik bibirnya, mata langit menatap nyalang ke arah alia yang marah, dengan wajahnya yang basah oleh air mata.
Langit mengusap kasar bibirnya yang terasa asin, terlihat noda darah di telapak tangannya. Tiba-tiba tangannya kembali mencengkeram dagu alia dan menengadahkannya, langit menatap bibir alia kembali, ingin rasanya ia meraup bibir itu lagi namun tatapan penuh kebencian dari mata alia membuatnya menghentikan niat.
"Lepaskan aku, atau aku akan laporkan kamu atas tindakan pelecehan yang kamu lakukan padaku" ucap alia dingin dengan nafas yang masih memburu, mata basahnya menatap langit dengan marah dan memerah.
Langit menatap lekat mata alia yang terlihat sangat marah, ia belum melepaskan cengkeraman tangannya di dagu alia, namun tatapan nyalang langit sudah berubah lebih lembut.
"aku hanya minta 1 hari waktumu, tapi tanpa berpikir panjang kamu langsung menolaknya, apakah kamu sangat membenci aku?"
Pria itu bertanya dengan nada suara lebih lembut dari sebelumnya, tangan kirinya berusaha menyentuh lembut anak rambut alia yang terjatuh di pelipisnya. Alia menghindari tangan langit dengan memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, sorot matanya masih dipenuhi rasa amarah.
"Ya, aku membencimu sampai ke tulang sumsumku" cetus alia singkat
" aku membencimu, sangat..sangat" lanjutnya masih dengan suara bercampur isak tangis yang tertahan.
Langit terkesiap, tatapan alia, suara amarah yang bercampur isak tangis yang tertahan dari wanita itu, membuatnya terkesima. Hatinya mendadak sakit melihat wanita di hadapannya ini menghindari tatapannya, ia belum pernah merasakan ini, rasa sakit yang tiba-tiba menusuk hatinya tanpa ijin.
Kenapa hatinya sedih melihat air mata wanita ini, kenapa hatinya ingin memohon maaf dari wanita yang masih tidak sudi melihat ke arahnya ini.
Mengapa langit merasa bersalah melihat wanita ini menangis, ia melepaskan cengkeraman tangannya pada alia. Alia terkejut melihat langit yang melangkah gontai menjauhinya, ia ingin berlari, namun pria itu menahannya kembali dengan ucapannya yang membuat alia terbelalak tak percaya.
" Maafkan aku alia!"
Ucapan singkat itu walau terdengar tulus, tak membuat hati alia bergeming, ia tetap berlalu tanpa membalas dan menggubris ucapan langit, alia tetap melangkah seraya mengusap sisa air mata dengan punggung tangannya.
"Tim kalian boleh pulang, kamu benar itu hanya alasanku untuk menahanmu" ujarnya tepat di saat alia berada di ambang pintu kantornya yang terbuka.
Lagi -lagi alia tidak menjawab, namun kali ini ia menutup pintu dengan perlahan, padahal jika ingin menuruti isi hatinya, ingin rasanya alia membantingkan daun pintu itu sekuat tenaganya.
########
Alia tiba di rumah dengan membanting pintu ruang tamu, tanpa memperdulikan tatapan putranya yang keheranan, alia berlari menuju ke kamar mandi. dengan kasar alia menanggalkan pakaiannya, penuh rasa jijik ia menyabuni seluruh tubuhnya, berulang kali alia membasuh bibirnya.
Air mata alia mengalir tanpa henti, ingatannya tentang malam 6 tahun yang lalu kembali berkelebat dalam pikirannya. Ketukan di pintu kamar mandi mengagetkan alia, panggilan narida menyadarkannya dari kenangan buruk itu.
Perlahan alia membuka pintu kamar mandi setelah terlebih dahulu, ia mengusap air matanya. Narida menatap alia penuh tanya, sembab mata alia membuat narida mengernyitkan matanya.
"Kamu kenapa dek?" Tanya narida menyentuh lengan alia lembut. Alia menggeleng lesu, ia memeluk narida yang semakin keheranan, suara isakan tangis alia terdengar pilu.
Narida menepuk lembut punggung sahabatnya yang masih tersedu itu, ia menuntun alia untuk duduk.
"Tenangkan dirimu, dek" ujar nari lembut, ia merasa tangisan alia ini pasti ada hubungannya dengan langit.
Sebagai sahabat, narida tahu kapan saat-saat alia begitu terpukul seperti ini. Trauma alia seakan menjadi momok yang cukup menakutkan, alia akan down dan tidak berdaya jika traumanya datang, dan narida yakin pemicunya pasti laki-laki bajingan yang saat ini merupakan pimpinan di tempat alia bekerja.
Tangisan alia sudah reda, namun ia masih enggan berbicara, dan narida memakluminya.
"Aku buatin teh hangat yah" tawar narida menatap mata sembab alia,
"Terima kasih nari" angguk alia seraya tersenyum.
Bersambung...