NovelToon NovelToon
The Horn Land

The Horn Land

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sutrisno Ungko

fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Filosofi Kehidupan

“Aku tak menyangka Kaemon menghianati kita…” Jhuma duduk di singgasananya.

Singgasana yang baru selesai dibuat untuk Leader Owen . Hanya sekali saja Leader pertama duduk ditempat ini. Sorush mencarikan bahan terbaik di Kaitaia untuk membuat tempat duduk yang terbuat dari besi pilihan. Tingginya lebih dari 1 meter.

Di genggaman Jhuma juga pedang The King, pedang peninggalan Owen . Ia juga memakai gelang kehormatan yang juga diberikan Sorush untuk hadiah baginya.

“Suku Yulara memang sebagaian besar masih menjadi loyalis kekaisaran. Namun 5 keluarga Yulara sejak awal bersumpah untuk membantu perjuangan kita. Aku sendiri yang menemui ke 5 keluarga itu…” kata Leader lagi.

“Mereka mungkin kecewa dengan keputusan soal hukuman itu. ” Kata Regen.

“Benar dan memang sejak awal aku meragukan kesetiaan mereka. “ kata Oliver geram.

“Tapi kenapa begitu mudah mereka membelot bahkan sampai membunuh Jhon , Dick dan Mick?” tanya Angurey. Ia pernah melihat begitu gagahnya para prajurit Yulara pada perang sebelumnya.

“Apapun itu. Mereka tak bisa kembali lagi pada kita. Bahkan jika bertemu lagi, merekalah musuh nomor satu kita saat ini. Nyawa dibayar nyawa.” kata Lauren.

Jhuma melihat lagi sekeliling. Ia ingin mengalihkan pembicaraan , karena sahabat-sahabatnya itu sudah dengan emosi

“Bagaimana posisi kita di Whangarei?” tanya Leader Jhuma, ini adalah rapat perdananya dengan para pembantunya ini.

“Kekuatan pasukan musuh saat ini sedang terjepit, kita hanya butuh satu serangan besar yang terfokus dan semua akan terakhir. Namun kita butuh bantuan tambahan pasukan.” kata Luren Lamalurra.

“Saat ini bantuan dari pos perbatasan Dargaville sudah tiba, ada lebih dari 1.000 pasukan tiba bersama Uon Bloodstone. Namun Uon belum bisa bersama dengan pasukan yang akan membantu , karena ia sedang dalam pengobatan. Pos perbatasan Dargaville kini dipercayakan pada Osiris Phagan.” kata Jhuma.

“Pasukan tambahan dari rakyat Whangarei juga sudah siap menunggu gerakan pasukan utama. Mereka adalah warga Whangarei yang bersuku Adara dan kini membuat keputusan untuk membantu kita.” kata Angurey Wayn.

“Berapa jumlah mereka?” tanya Jhuma.

“Ada lebih dari 1.500 orang, mereka masih harus dipersenjatai.” kata Angurey lagi.

“Dimana kita bisa mendapatkan senjata-senjata baru?” tanya Jhuma lagi.

“Persiapan senjata kita sudah ada. Senjata-senjata yang langsung dibuat oleh para pengrajin Kaitaia.” Kali ini dijawab oleh Sorush. Ia memang sejak awal sudah memikirkan kelengkapan itu dan di Kaitaia begitu banyak pengrajin yang juga siap membantu.

“Bagus. Siapa yang punya inisiatif pembuatan senjata baru ini?” tanya Jhuma, ia menatap Sorush.

“Baginda Owen yang memberikan inisiatif dan aku bersama Theon yang mengkoordinir para pengrajin selama 3 bulan terakhir.”

“Baiklah, sepertinya persiapan sudah matang. Lauren kepemimpinan aku serahkan padamu. Regen segera siapkan senjata yang diperlukan. Bawa ke Whangarei bersama prajurit yang akan membantu akomodasi senjata. Angurey, segera hubungi keluarga-keluarga di Whangarei untuk bersiap diri dalam perang kali ini. Oliver dan Beryn kondisikan pasukan di lapangan yang sudah ada. Kumpulkan di titik koordinasi dan segera bergabung dengan Luren. yang lainnya tetap di istana Kaitaia.”

“Baik baginda.” Serentak Kesatria Utama memberi hormat.

“Dan soal Kaemon bersama yang lain itu. Kita abaikan dulu. Kelak mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka”.

Semua sepakat.

Mereka harus memfokuskan tujuan ke Whangarei. Memenangkan perang perebutan Kota kedua.

“Demikianlah dalam perang, ahli strategi yang menang harus mencari pertempuran setelah kemenangan diraih, sedangkan dia yang ditakdirkan untuk mengalahkan pertarungan pertama, kemudian mencari kemenangan.” fikir Jhuma.

***

Pertemuan selesai. Semua kembali pada posisi masing-masing. Di istana hanya tersisa 50 prajurit dibawah komando 3 Kesatria Keluarga ; Uon Bloodstone, Arius Mandon, dan Olga Darvo. Dan Para Kesatria Red Devil yang terisisa di Kaitaia ; Alexander Turnbull dan William Meredith.

Sementara di perbatasan Dargaville, hanya ada 20 pasukan yang dipimpin Osiris Phagan dan Capri Rush mereka Memantau setiap gerakan lawan yang ada di perbatasan wilayah. Sedikit saja ada gerakan pasukan Dargaville, gagak-gagak akan diterbangkan ke Kaitaia untuk memberikan kabar terbaru.

***

Meja bundar itu masih menjadi fokus tatapan Sang Pemimpin, meja yang terbuat dari kayu. Yang diatasnya diukir peta The Horn Land. Dari Pulau utara sampai Pulau Selatan. Dengan 30 kota dan kastil diatasnya. Jhuma mengamati setiap sudut peta itu, dan membayangkan besarnya The Horn Land. Sementara mereka saat ini baru menguasai Kaitaia, dan belum ada jawaban pasti apakah Whangarei juga akan bisa direbut saat ini.

Pada saat yang bersamaan wilayah terdekat lain yakni Dargaville adalah ancaman nyata. jika kekuatan Dargaville datang ke Kaitaia. tak ada yang bisa membendung. karena perbatasan di jaga tak sampai 100 orang.

Dengan fakta ini maka semua taktik yang telah diserahkan pada para panglimanya. Tentu harus penuh rahasia dan kehati-hatian. Jhuma jadi teringat buku Seni Perang yang pernah dibacanya ;

“Pejuang yang baik dimasa lalu, pertama-tama menempatkan diri mereka diluar kemungkinan kekalahan, kemudian menunggu kesempatan untuk mengalahkan musuh.”

Intinya ada perjudian dalam strateginya, jika tak beruntung. Union akan kalah.

***

Siang ini, Jhuma di temani salah seorang anggota Iblis Merah.

“Aku menemukan buku catatan Lord Owen, tulisannya sangat indah.” Kata Jhuma.

“Apa judul buku itu ser..” tanya Alexander Turnbull.

“Bejana Fikiran” jawab Jhuma sambil. membuka halaman buku itu.

“Aku suka bagian ini…; Aku tidak lebih baik darimu karena agamaku, warna kulitku, budayaku, pendidikanku, status dan kekayaanku. Aku tidak begitu, demikian juga dirimu. Aku harus menerima itu, begitu juga dirimu, bahwa ada perbedaan yang kita terlahir bersamanya. Mengapa kita fokus pada perbedaan? Letakkan tanganmu padaku dan menerima bahwa perbedaan tidak seharusnya menghalangi kita untuk menyajikan nilai-nilai dasar kemanusiaan yang kita bagi ; rasa kasih sayang. Kedamaian. Rasa hormat, kejujuran, kemurnian, rendah hati, simpati. Apakah bayi yang lahir dibelahan dunia yang lain? Apakah tangisan mereka berbeda? Kita mungkin berbicara dengan Bahasa yang berbeda, hidup dengan cara yang berbeda, tetapi senyuman akan tersimpul diwajahmu, bahkan sebelum kita sempat berfikir tentang itu. Itulah kekuatan. Aku berharap setiap keangkuhan atau keserakahan dalam hati berubah menjadi kerendahatian sehingga dinding lengkuhan di dunia ini diterangi oleh hak-hak kemanusiaan yang selalu kubagikan untuk saudara-saudaraku dalam rasa kemanusiaan ; Filosofi kehidupan ”

“Sangat indah.” kata Alexander.

Jhuma termenung sejenak. ia membaca bagian itu dan teringat peristiwa penghianatan Yulara.

“Aku kaget kebersamaan dengan Jhon Bentley bisa secepat ini. Berapa tahun ia memimpin?“ kata Jhuma sambil meletakan buku di rak.

“Hanya setahun ser. Ia pemimpin yang baik.”. Alexander juga kini ingat semua kebersamaan dengan Jhon. Keberaniannya dan kebijaksanaannya.

“Ia sudah beristirahat dengan damai, disamping makam Baginda Owen . Dan para pejuang yang mendahului kita. Sayang jenazah lain pada misi kalian di Whangarei tak kembali. Harusnya kita makamkan semua di Bukit Serum.”

Alexander tak menanggapi. Semua kenangannya menjalankan misi bunuh diri ke Whangarei yang dipimpin Oliver sangat membekas. terutama kematian sahabat-sahabatnya.

Sesaat keduanya terdiam, sampai baginda kemudian bertanya lagi.

“Siapa yang akan menjadi pemimpin Iblis Merah selanjutnya?”

“Jack Robson, ia generasi pertama Iblis Merah, namun selama ini ia masih di Lemuria bersama yang lain. Ia sedang dalam perjalan pulang bersama empat lainnya. Mereka akan segera bergabung dengan kita” kata Alexander menjelaskan.

“Kekuatan kita akan bertambah. Syukurlah.” kata Jhuma.

Pintu diketuk dari luar, dan masuklah seorang prajurit.

“Maaf yang mulia ada yang ingin bertemu.” kata sang prajurit.

“Siapa?”

“Aku tak mengenalnya, seorang ibu bersama anaknya.”

“Ijinkan dia masuk.”

“Baik Tuan.” segera sang prajurit berlalu. Alexander kemudian meminta ijin keluar ruangan. Jhuma masih menyempatkan diri memberikan Alex tugas untuk memantau situasi baik di Pos perbatasan Dargaville maupun di medan perang Whangarei.

1
Widiarto Andu
👍
Widiarto Andu
𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐬𝐢𝐡..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!