NovelToon NovelToon
Aku Dan Jam Ajaibku

Aku Dan Jam Ajaibku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Komedi / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Hafidz Irawan

Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepatu Cinderella Masuk Mulut Pangeran

Pagi ini aku bangun dengan semangat yang berapi-api. Bukan cuma karena jabatan baru sebagai Asisten Manajer, tapi juga karena Voice Note "Goodnight Koala-ku" dari Mas Adi yang sudah kuputar ulang sebanyak 50 kali sejak subuh.

Aku memilih pakaian terbaikku: kemeja putih yang baru disetrika licin oleh Ibu, rok span hitam selutut, dan sepatu pantofel hitam berhak 3 cm yang baru kubeli kemarin sore di pasar (KW super, tapi lumayan kinclong).

"Sifa berangkat ya, Bu! Doain hari pertama lancar!" pamitku penuh percaya diri.

"Hati-hati, Nduk. Jangan lari-lari, nanti keserimpet," pesan Ibu yang seperti biasa, punya firasat tajam.

"Aman, Bu! Sifa kan sekarang wanita karir yang anggun!" seruku sambil melenggang keluar.

Sesampainya di lobi NVT Tower, aku merasa seperti artis. Satpam menyapa hormat, resepsionis tersenyum lebar. Aku berjalan menuju lift dengan dagu terangkat, langkah tegap, dan senyum manis.

"Postur tubuh: 90/100. Kepercayaan diri: 120/100. Awas, kepedean bisa bikin lo lupa daratan," komentar Chrono.

"Diem, Chrono. Hari ini aku mau tampil sempurna di depan bawahan-bawahanku."

Lift terbuka di lantai divisi logistik. Lantai marmer di lorong baru saja dipel oleh cleaning service. Masih basah dan mengkilap. Ada tanda peringatan kuning "LICIN / WET FLOOR" di pinggir, tapi aku yang sedang sibuk membayangkan pidato perkenalan diri, tidak melihatnya.

Aku melangkah keluar lift dengan gaya slow motion ala film The Devil Wears Prada.

Satu langkah...

Dua langkah...

Di ujung lorong, Adi sedang berdiri mengobrol dengan beberapa manajer senior sambil memegang segelas kopi panas dan... donat gula. Dia sedang membuka mulutnya lebar-lebar, bersiap menggigit donat itu.

Adi melihatku. Dia tersenyum, melambaikan tangan yang memegang donat.

"Pagi, Si—"

Tepat saat itu, bencana terjadi.

Tumit sepatu baruku menginjak genangan air sisa pel.

SREEET!

Keseimbanganku hilang seketika. Kakiku meluncur ke depan tak terkendali. Tubuhku terlempar ke belakang.

"WAAAAAA!"

Dalam kepanikan, kakiku menendang ke udara dengan kekuatan penuh. Sepatu pantofel kananku yang ternyata agak longgar (maklum beli di pasar nggak dicoba bener-bener), terlepas dari kakiku.

Sepatu itu melesat terbang.

WUUUSH!

Ia melambung indah di udara, berputar-putar seperti bumerang hitam, melewati kepala Pak Burhan, melewati pot bunga, dan mengarah lurus ke targetnya dengan akurasi yang menakutkan.

Targetnya: Mulut Adi yang sedang terbuka lebar mau makan donat.

Waktu seolah berhenti.

Aku melihat sepatu itu terbang.

Adi melihat sepatu itu datang.

Tapi refleks Adi terlambat karena tangannya penuh kopi dan donat.

PLAK! (Suara kulit sepatu menabrak wajah).

JLEB! (Suara ujung sepatu masuk ke rongga mulut).

Sepatu pantofelku—yang tadi pagi sempat keinjek sedikit lumpur becek di depan gang—mendarat telak di wajah Adi. Ujungnya masuk pas banget ke mulutnya, menggantikan donat yang terlempar tragis ke lantai.

Kopi panas Adi tumpah ke kemeja putihnya.

BRUK!

Aku jatuh terjengkang di lantai basah dengan posisi "kodok gepeng". Pantatku sakit, tapi harga diriku lebih sakit.

Hening.

Seluruh lorong hening. Cleaning service yang lagi ngepel berhenti gerak. Pak Burhan melongo. Para manajer senior menahan napas.

Adi berdiri mematung. Sepatu pantofel hitam itu masih menempel di mulutnya, seolah dia sedang mencoba memakan sepatu.

Perlahan, Adi menurunkan sepatu itu dari mulutnya. Ada bekas lumpur sedikit di pipinya. Dan di gigi depannya... ya ampun... ada serabut benang dari jahitan sepatu.

Aku ingin mati saja. Aku ingin berubah jadi partikel debu dan dihisap vacuum cleaner.

"Ma-ma-maaf, Mas Adi!" jeritku histeris, berusaha bangun tapi terpeleset lagi karena licin. "Sifa nggak sengaja! Sumpah! Lantainya licin!"

Adi menatap sepatu di tangannya. Lalu menatapku yang ngesot di lantai dengan satu kaki nyeker.

Dia mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Wajahnya datar, tidak terbaca.

"Sifa..." panggil Adi pelan, suaranya agak aneh karena abis keselek sepatu.

"Iya, Mas? Pecat Sifa aja, Mas! Sifa rela! Sifa durhaka udah nyuapin bos pake sepatu!" ratapku putus asa.

Tiba-tiba, bahu Adi berguncang.

Bukan karena marah.

Tapi karena tertawa.

"BWAHAHAHAHA!"

Tawa Adi meledak. Keras sekali. Menggelegar di seluruh lorong. Dia tertawa sampai membungkuk, memegangi perutnya.

"Astaga... Hahaha! Sepatu... masuk mulut... Hahaha!" Adi tidak bisa berhenti tertawa. Air mata geli keluar dari sudut matanya. "Saya kira kamu mau kasih sarapan donat, ternyata sarapan kulit sintetis! Rasanya asin-asin tanah!"

Melihat bos mereka tertawa, karyawan lain yang tadi tegang akhirnya ikut tertawa.

"Hahahaha! Sifa, lo jago banget nendangnya! Bisa masuk Timnas!"

"Gol indah, Fa!"

"Headshot!"

Aku duduk bersimpuh di lantai, wajahku merah padam sampai ke telinga. Aku menutupi wajahku dengan tangan. Malu. Malu banget.

Adi berjalan mendekatiku, masih sambil terkekeh. Dia berjongkok di depanku, memegang sepatu "pelaku kriminal" itu di tangan kirinya, dan mengulurkan tangan kanannya padaku.

"Ayo bangun, Cinderella," kata Adi lembut, meski sisa tawa masih ada di suaranya. "Lain kali kalau mau kasih sepatu, dibungkus kado ya. Jangan disuapin langsung. Keras, tau."

Aku mengintip dari sela jari. "Mas Adi nggak marah?"

"Marah? Ini momen paling lucu seumur hidup saya," Adi tersenyum lebar, mengusap noda lumpur di pipinya dengan cuek. "Kamu bener-bener penuh kejutan, Sifa. Tiap hari ada aja atraksinya."

Aku menerima uluran tangan Adi, berdiri dengan kaki gemetar. Adi berlutut dengan satu kaki (seperti mau melamar, tapi ini mau makein sepatu).

Dia membersihkan sol sepatuku dengan sapu tangannya (sapu tangan sutra mahal dipakai buat ngelap sepatu pasar!), lalu memakaikan sepatu itu kembali ke kakiku yang nyeker.

"Nah, pas," kata Adi sambil menepuk pelan sepatuku. Dia mendongak menatapku. "Sepatunya udah balik ke pemiliknya. Pangerannya udah kenyang makan sepatu. Sekarang, Bu Asisten Manajer siap kerja?"

Jantungku berdegup kencang. Dia... dia memakaikan sepatuku di depan semua orang? Setelah sepatu itu masuk mulutnya?

"S-siap, Mas. Makasih..." cicitku.

"Sama-sama. Oh ya, nanti siang saya pesen menu makan siang yang normal ya. Jangan sepatu goreng tepung," goda Adi lagi sambil berdiri.

"Mas Adiiii!" rengekku malu.

Adi tertawa lagi, lalu berjalan menuju ruangannya dengan kemeja penuh noda kopi. "Saya ganti baju dulu. Kalian lanjut kerja! Jangan ketawa terus!"

Staf lain bubar sambil senyum-senyum.

Aku berdiri di lorong, masih syok.

"Analisis kejadian: 100% Murni Kecelakaan. Tidak ada intervensi Chrono," lapor Chrono di kepalaku. "Tapi efeknya dahsyat. Adi makin bucin. Dia bahkan nggak jijik sama sepatu lo yang bau pasar. Fix, dia udah cinta mati."

"Sepatuku nggak bau pasar ya!" protesku dalam hati. "Tapi... iya sih. Dia baik banget. Padahal tadi ilernya nempel di sepatu aku."

"Iyuuuh. Jorok. Jangan lupa cuci sepatunya pake desinfektan," saran Chrono.

Aku berjalan terpincang-pincang menuju mejaku, menahan senyum dan malu yang bercampur aduk. Hari pertama jadi bos diawali dengan tragedi sepatu terbang. Semoga sisa hari ini nggak ada piring terbang atau meja terbang.

Tapi satu hal yang pasti: Adi Pratama adalah pria paling sabar dan paling humoris di dunia. Dan aku, Sifa si ceroboh, semakin jatuh hati padanya.

Meskipun rasanya... asin-asin tanah.

1
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
pasti cantik
Suo
karena sendal. jepit doang loh, bener bener si chrono😭
Kim Umai
aku salah fokus, lintah berbalut gaun gak tuh🤧
Panda%Sya🐼
Senyum plastik😭 itu gimana ya bayangin nya, dia senyum tapi terbang gitu bibirnya kayak filter di tiktok 😭😭
Panda%Sya🐼
Ngaku juga kan lo🤭
Panda%Sya🐼
kek cicak gak sih 😭🤣
only siskaa
satu keluarga jahat smua otaknya heran 😤
j_ryuka
ikut satu bakar Bakaran
j_ryuka
maulah
j_ryuka
kok mas 🙏
j_ryuka
kayaknya Rani sama Rana ini kayak iblis sama peri 🤣tapi karena di dekat iblis dia kayak iblis juga 🤣🙏
j_ryuka
dengan kebaya pun kita memancarkan wanita Indonesia sesungguhnya
Ria Irawati
karma di bayar kontan gk tuh
j_ryuka
tau promo aja 🤣
pojok_kulon
Mampus senjata makan tuan 🤭🤭
pojok_kulon
Ya Allah siapa lagi yang memfitnah Sifa
SarSari_
Dunia Sifa mulai berwarna sejak ada chrono, dan Rana cuma jadi latar antagonisnya 🔥🤭
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
wkwkwk🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭, ngakak banget aku
Panda%Sya🐼
percaya amat buk 😌
Panda%Sya🐼
Ini mah mau manggil makhluk halus 🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!