NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden Clip-On Mic

Suasana di aula semakin memuncak. Gemuruh suara ribuan mahasiswa baru yang saling berbincang menciptakan dengungan rendah yang memenuhi ruangan, seperti ribuan lebah yang terperangkap dalam kotak kaca. Lampu sorot utama mulai meredup, menyisakan cahaya putih yang fokus pada podium di tengah panggung.

Rara berdiri di sisi panggung, tangannya mencengkeram erat gulungan lakban yang tersisa. Napasnya masih memburu. Ia baru saja selesai memastikan semua jalur kabel aman dari injakan kaki, namun firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.

Tiba-tiba, suara panitia senior dari bagian operator meledak melalui handy-talky di bahu Rara.

"LOGISTIK! Mic podium mati! Arusnya putus di tengah jalan! Genta sudah mau naik, cepat ganti ke clip-on!"

Jantung Rara seolah berhenti berdetak. Ia menoleh ke arah podium dan melihat lampu indikator di sana padam total. Seseorang di bagian audio pasti melakukan kesalahan fatal. Dalam hitungan detik, Kania muncul dari kegelapan belakang panggung dengan wajah yang lebih mengerikan dari naga mana pun di Fantasy World.

"Rara! Ambil ini!" Kania melempar sebuah kotak pemancar clip-on mic ke arah Rara. Gadis itu menangkapnya dengan kikuk. "Cepat pasangkan ke baju Genta! Dia ada di belakang backdrop sekarang. Kamu cuma punya waktu satu menit sebelum MC memanggil namanya!"

"Ta-tapi Kak, kenapa bukan Kak Kania saja—"

"CEPAT!" bentak Kania, wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Ia nampaknya terlalu takut untuk menghadapi risiko kegagalan teknis di depan rektor.

Rara tidak punya pilihan. Ia berlari menembus kegelapan di balik layar besar backdrop panggung. Lorong itu sempit, hanya cukup untuk satu orang, dipenuhi dengan tiang-tiang penyangga besi dan tumpukan properti yang tidak terpakai. Di ujung lorong, ia melihat bayangan tinggi itu.

Genta berdiri di sana, membelakangi Rara.

"Kak Genta?" bisik Rara pelan. Ia tidak ingin mengejutkan pria itu, tapi waktu terus berdetak.

Genta tidak bergeming. Rara mendekat, masuk ke dalam ruang pribadinya yang sangat sempit. Di tempat yang gelap dan tersembunyi ini, segalanya terasa berbeda. Tidak ada suara bising mahasiswa, tidak ada teriakan panitia. Hanya ada suara deru kipas mesin proyektor yang panas dan aroma yang tiba-tiba menyerang indra penciuman Rara.

Aroma itu mahal. Campuran antara jeruk citrus yang segar, kayu cendana yang maskulin, dan sesuatu yang tajam. Aroma keringat dingin.

"Mic podium mati, Kak. Saya harus pasang clip-on di kerah baju Kakak," ucap Rara lagi, kali ini lebih tegas meski tangannya mulai berkeringat.

Genta perlahan membalikkan tubuhnya. Dalam kegelapan yang hanya disinari cahaya remang-remang dari celah layar, wajah Genta nampak sepucat kertas. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri mematung, seperti patung marmer yang indah namun retak.

Rara mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang kecil nampak kontras saat mendekati kerah kemeja putih Genta yang kaku. Ia harus menyelipkan kabel kecil itu ke balik jas almamater dan menjepitkan mikrofonnya tepat di bawah dagu Genta.

Saat jarak mereka terkikis menjadi hanya beberapa sentimeter, Rara bisa merasakan radiasi panas yang keluar dari tubuh Genta. Namun, sesuatu yang aneh terjadi.

Begitu ujung jari Rara menyentuh kain kemeja Genta di area tulang selangka, ia tersentak.

Genta bergetar.

Bukan sekadar gemetar kecil karena kedinginan AC aula, tapi sebuah getaran hebat yang menjalar dari seluruh tubuh pria itu. Rara bisa merasakannya melalui ujung jarinya, seperti menyentuh kabel listrik yang mengalami arus pendek. Tubuh Genta yang nampak kokoh dan berwibawa itu sebenarnya sedang mengalami guncangan yang luar biasa.

Rara mendongak, matanya bertemu dengan mata Genta.

Di sana, tidak ada lagi 'Pangeran Es'. Tidak ada lagi tatapan tajam yang menghakimi mahasiswa yang membuang puntung rokok. Yang ada hanyalah sepasang mata yang nampak sangat ketakutan. Pupilnya melebar, dan ada kilatan keputusasaan yang begitu nyata hingga membuat dada Rara sesak.

Genta terlihat seperti anak kecil yang sedang tersesat di tengah hutan gelap, menunggu serangan predator yang bisa datang kapan saja.

Tangan Rara yang tadi ragu-ragu kini justru menjadi lebih stabil. Ia menyadari sesuatu yang sangat ironis: dialah yang sekarang memegang kendali. Ketegangan Genta begitu besar sehingga pria itu nampak sulit untuk sekadar bernapas.

Rara terus bekerja, menyelipkan kabel ke balik jas Genta. Jari-jarinya sempat bersentuhan dengan kulit leher Genta yang lembap karena keringat dingin. Pria itu berjengit, napasnya memburu, terdengar seperti suara asma yang tertahan.

"Kak..." Rara berbisik, mencoba menenangkan. "Hanya sepuluh detik lagi."

Tangan Genta yang tadinya berada di samping tubuh, kini terangkat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Rara yang sedang memasang jepit mic. Genggamannya kuat, namun jari-jarinya bergetar begitu hebat hingga Rara bisa merasakan detak nadi Genta yang berpacu liar melalui kulitnya.

"J-jangan..." Genta bicara. Suaranya tidak lagi bariton yang berat. Suaranya pecah, parau, dan sangat tidak stabil. "Jangan lihat... kumohon."

Kalimat itu terdengar seperti sebuah permohonan dari seseorang yang sedang hancur. Genta memalingkan wajahnya ke arah kegelapan, mencoba menyembunyikan ekspresi hancurnya dari Rara. Ia nampak malu, sangat malu karena rahasia terbesarnya baru saja terbongkar oleh seorang mahasiswi jurnalis yang tadi ia tegur dengan kasar.

Rara tertegun. Genggaman tangan Genta di pergelangan tangannya terasa panas. Rasa benci yang tadi ia pupuk sepanjang pagi mendadak luntur, digantikan oleh rasa iba yang asing.

Di depan publik, pria ini adalah segalanya. Namun di balik layar sempit ini, dia hanyalah seseorang yang sedang berjuang melawan monster di dalam kepalanya sendiri.

Sama seperti Paladin, pikir Rara tiba-tiba.

"Selesai," ucap Rara lembut, mengabaikan fakta bahwa tangannya masih digenggam oleh Genta. "Sudah terpasang. Kak Genta bisa naik sekarang."

Genta melepaskan tangan Rara dengan cepat, seolah baru saja tersengat api. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menutup kembali retakan di topengnya. Ia merapikan kerah jasnya dengan gerakan mekanis yang kaku.

"Terima kasih," ucap Genta pendek. Suaranya sudah mulai kembali ke nada datar yang biasa, meski napasnya masih belum sepenuhnya teratur.

Genta berbalik dan berjalan keluar dari balik backdrop menuju cahaya lampu sorot yang menyilaukan. Rara berdiri terpaku di kegelapan, menatap tangannya yang tadi disentuh Genta. Ia masih bisa merasakan getaran itu. Sisa-sisa aroma citrus dan keringat dingin masih tertinggal di udara lorong yang sempit itu.

Dari balik panggung, Rara mendengar suara MC yang menggelegar melalui pengeras suara.

"Selanjutnya, mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nusantara, Genta Erlangga!"

Tepuk tangan ribuan orang meledak. Genta melangkah ke podium dengan punggung tegak dan wajah tanpa emosi yang sempurna. Tidak ada satu pun orang di aula itu yang tahu bahwa beberapa detik yang lalu, pria yang nampak seperti pahlawan itu baru saja memohon pada seorang gadis logistik agar tidak melihat kerapuhannya.

Rara mematung di kegelapan, matanya terpaku pada Genta yang sudah berdiri didepan podium.

Bagaimana bisa? batinnya heran. Bagaimana bisa dia membohongi semua orang seperti itu?

Dan untuk pertama kalinya, Rara mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, dunia nyata jauh lebih berbahaya daripada naga mana pun yang pernah ia lawan bersama Paladin_Z.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!