Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: RUANG ANTARA YANG TELAH PERGI DAN YANG AKAN DATANG
Enam bulan berlalu sejak Rangga menarik permohonan hak asuhnya. Enam bulan di mana rumah kami bernafas lega, seperti pasien yang baru saja dinyatakan sembuh dari penyakit berbahaya. Tapi seperti pasien itu, kami masih punya bekas luka. Masih ada kehati-hatian dalam setiap langkah, ketakutan tersembunyi bahwa kambuh bisa datang kapan saja.
Aisyah tumbuh dengan cepat. Di usia enam bulan, dia sudah bisa duduk sendiri, menggenggam mainan dengan tangan mungilnya, dan tertawa riang setiap kali Kinan membuat wajah lucu. Dia adalah cahaya di rumah kami pengingat bahwa dari kerumitan dan kesakitan, bisa lahir sesuatu yang murni dan indah.
Tapi cahaya itu juga menyoroti bayangan.
Bayangan itu bernama Bayu, adik Rangga.
Jika Rangga adalah badai yang datang dan pergi dengan dahsyat, Bayu adalah angin sepoi-sepoi yang perlahan tapi terus-menerus mengikis. Dia tidak pernah marah, tidak pernah menuntut, tidak pernah mengancam. Hanya... hadir.
Pertama kali dia datang, sebulan setelah Rangga mundur, dengan alasan "memastikan keponakannya baik-baik saja". Dia membawa mainan untuk Bima dan Kinan, baju bayi untuk Aisyah, dan kotak kue untuk Maya.
"Rangga minta maaf tidak bisa datang sendiri," katanya, tersenyum ramah. "Dia sedang terapi intensif di Jakarta."
Kami menerima kunjungannya dengan hati-hati. Tapi Bayu berbeda dengan kakaknya. Kalau Rangga keras dan impulsif, Bayu lembut dan penuh perhitungan. Dia tidak pernah menyentuh topik sensitif, tidak pernah membuat kami tidak nyaman. Hanya duduk, mengobrol ringan, bermain dengan anak-anak, lalu pergi.
Kunjungan itu berulang setiap dua minggu. Selalu membawa sesuatu. Selalu tersenyum. Selalu sopan.
Tapi Maya merasa tidak nyaman. "Dia terlalu sempurna, Raka. Seperti sedang memainkan peran."
"Mungkin dia memang baik. Atau mungkin dia merasa bersalah atas tindakan Rangga."
"Atau mungkin dia mata-mata Rangga."
Aku menghela napas. "Jangan paranoid, Maya. Rangga sudah menarik permohonan. Dia sudah mengakui kesalahannya."
"Tapi dia tetap ayah kandung anak-anakku. Dan darah itu... tidak bisa diputus begitu saja."
Dia benar. Dan kekhawatirannya terbukti tidak sepenuhnya salah.
---
Kunjungan kelima Bayu, dia membawa album foto. Album tua berisi foto-foto keluarga Rangga kakek-nenek Bima dan Kinan dari pihak ayah, foto Rangga kecil, foto Bayu dan Rangga bersama saat remaja.
"Bima, Kinan, ini keluarga kalian juga," katanya sambil membuka halaman demi halaman. "Lihat, ini kakekmu dari pihak ayah. Dia dokter. Dan ini nenekmu dia guru piano."
Bima melihat dengan penasaran. Kinan tertarik pada foto-foto warna-warni.
"Dan ini... ayahmu waktu kecil. Mirip denganmu, Bima. Lihat hidungnya."
Maya yang memperhatikan dari dapur, wajahnya berkerut. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Karena apa salahnya menunjukkan anak-anak pada akar keluarga mereka?
Tapi kemudian Bayu berkata: "Mereka sangat ingin bertemu kalian. Kakek dan nenek di Jakarta. Mereka sering telepon, tanya kabar."
Itu pernyataan yang tidak berbahaya di permukaan. Tapi mengandung arti lain: ada lebih banyak keluarga di luar sana yang peduli. Yang mungkin punya hak juga.
Setelah Bayu pergi, Maya langsung berbicara. "Kamu lihat? Dia mulai membangun hubungan. Memperkenalkan keluarga besar dari pihak ayah."
"Itu wajar, Maya. Mereka memang keluarga Bima dan Kinan."
"Tapi kenapa sekarang? Setelah sekian lama tidak peduli?"
"Mungkin karena Rangga berubah. Mungkin mereka baru sadar."
Atau mungkin, seperti yang dikhawatirkan Maya, ini adalah strategi lain. Lebih halus. Lebih sabar.
---
Sidang perceraian Maya dan Rangga akhirnya selesai di bulan ketujuh. Dengan kesepakatan bersama: hak asuh penuh pada Maya, hak berkunjung terbatas pada Rangga (dengan persetujuan anak-anak), dan tunjangan anak yang harus dibayar Rangga.
Itu seharusnya akhir. Tapi dalam keluarga, jarang ada akhir yang benar-benar bersih.
Bayu terus datang. Dan hubungan Bima dengan dia mulai berkembang. Bima, yang selalu haus figur ayah, mulai terlihat nyaman dengan kehadiran pamannya. Bayu mengajarinya hal-hal kecil cara mengikat tali sepatu dengan teknik khusus, cara membuat pesawat kertas yang bisa terbang jauh, cerita tentang ilmu pengetahuan yang membuat mata Bima berbinar.
Suatu sore, ketika aku pulang kerja, kudapati Bima dan Bayu sedang duduk di teras, asyik dengan proyek robot kecil dari kit elektronik yang dibawa Bayu.
"Om Bayu ngajarin aku bikin robot, Om Raka!" seru Bima gembira. "Nanti bisa jalan sendiri!"
Bayu tersenyum padaku. "Hanya kit sederhana. Tapi Bima cepat paham. Pintar sekali."
Aku tersenyum balik, tapi ada rasa cemburu yang tidak kumengerti menusuk dadaku. Aku yang seharusnya mengajarinya hal-hal seperti itu. Aku yang seharusnya membuat matanya berbinar seperti itu.
Malam itu, Bima bercerita tanpa henti tentang robot, tentang sirkuit, tentang Bayu yang "pinter banget, Om, dia insinyur!"
"Kamu suka Om Bayu?" tanyaku, berusaha tidak terdengar cemburu.
"Ya! Dia baik. Dan dia ngajarin aku banyak hal."
"Om Raka juga bisa ngajarin kamu."
"Tapi Om kan sibuk kerja. Dan... Om nggak jago elektronik."
Benar. Aku tidak mengerti elektronik. Latar belakangku akuntansi. Angka, bukan sirkuit.
Itu malam pertama aku merasa... kurang. Tidak cukup.
---
Kecemburuan itu tumbuh diam-diam, seperti lumut di tempat lembap. Aku memperhatikan bagaimana Kinan juga mulai menyukai Bayu. Bagaimana dia membawa boneka untuk diperbaiki, atau meminta cerita sebelum tidur. Bagaimana Maya, meski tetap waspada, mulai menerima bahwa Bayu mungkin memang berniat baik.
Dan aku? Aku menjadi penonton di keluarga sendiri. Orang yang pulang lelah dari kerja, melihat anak-anak sudah puas dengan kehadiran paman mereka. Orang yang mencoba mengajar Bima matematika, tapi tidak bisa bersaing dengan robot yang bisa berjalan.
Suatu malam, ketika Bayu sudah pergi, Bima bertanya: "Om Raka, kita bisa nggak liburan ke Jakarta? Om Bayu bilang ada museum sains yang bagus sekali di sana. Dan... kita bisa ketemu kakek-nenek dari Papa."
Maya memandangku, lalu pada Bima. "Itu... kita pikirkan nanti, Sayang."
"Tapi Om Bayu bilang mereka sangat ingin ketemu kita. Mereka sudah tua. Katanya... katanya mereka takut tidak sempat mengenal kita."
Kalimat itu seperti pukulan rendah. Memanfaatkan usia dan kerentanan. Memanfaatkan rasa ingin tahu anak-anak.
"Bima," kataku, berusaha tenang. "Kamu ingin bertemu mereka?"
"Aku penasaran. Mereka keluarga Papa kan? Tapi..." dia ragu. "Aku nggak mau tinggal di Jakarta. Cuma liburan sebentar."
"Kita bicarakan nanti," kata Maya cepat.
Tapi topik itu tidak berhenti. Kinan, yang mendengar, mulai bertanya tentang "kakek-nenek lain". Dan Bima, dengan kecerdasannya yang tajam, mulai mencari informasi sendiri di internet foto-foto keluarga besar Rangga, prestasi kakeknya sebagai dokter ternama, kehidupan mewah yang tampak dari gambar-gambar itu.
Aku melihat bagaimana matanya berbinar ketika melihat foto rumah besar dengan kolam renang. Bagaimana dia diam-diam membandingkan kehidupan sederhana kami dengan kemewahan yang bisa ditawarkan keluarga ayahnya.
Bukan tentang materi, aku berusaha meyakinkan diri sendiri. Dia hanya penasaran. Hanya ingin tahu asal-usulnya.
Tapi apa bedanya dengan keingintahuan dan kerinduan?
---
Puncaknya terjadi di akhir pekan. Bayu mengajak Bima dan Kinan ke taman hiburan yang besar, yang di pusat kota, dengan wahana-wahana mahal yang belum pernah kami kunjungi karena keterbatasan dana.
"Boleh, Ma?" tanya Bima, mata berbinar.
Maya melihatku, ragu. "Kami harus tanya Om Raka dulu."
Semua mata tertuju padaku. Bayu tersenyum ramah. "Saya akan jaga mereka baik-baik. Jam empat sudah pulang."
Aku ingin bilang tidak. Ingin bilang bahwa seharusnya aku yang membawa mereka ke taman hiburan pertama kali. Tapi melihat ekspresi Bima dan Kinan yang penuh harap... bagaimana mungkin aku merampas kebahagiaan mereka?
"Boleh," jawabku akhirnya, suara serak. "Tapi jam empat benar ya, Pak."
"Panggil saja Bayu," katanya sambil membimbing anak-anak ke mobil barunya yang mengkilap.
Melihat mereka pergi Bima dan Kinan di mobil mewah, dengan paman yang bisa memberikan segala yang aku tidak bisa rasanya seperti ditusuk seribu pisau.
Maya memegang tanganku. "Kamu baik-baik saja?"
"Tidak," jawabku jujur. "Aku merasa... tergantikan."
"Jangan begitu. Kamu ayah mereka, Raka. Tidak ada yang bisa menggantikan itu."
"Tapi lihat, Maya. Dia punya segalanya yang tidak kupunyai. Uang, waktu, pengetahuan, bahkan... darah yang sama."
"Dan kamu punya cinta. Cinta yang tidak berhenti meski sulit. Cinta yang memilih untuk tetap ada."
Tapi apakah cinta cukup ketika ada taman hiburan dan robot dan museum sains dan rumah dengan kolam renang?
Sepanjang hari itu, aku tidak bisa fokus pada apa pun. Aisyah rewel, tapi pikiranku di taman hiburan. Di Bima yang mungkin tertawa riang di roller coaster. Di Kinan yang mungkin gembira dengan cotton candy besar.
Jam empat lewat. Jam setengah lima. Baru mereka pulang.
Dan yang mereka bawa bukan hanya kenangan bahagia, tapi juga undangan.
"Kakek di Jakarta mau ulang tahun yang ke-70," kata Bayu sambil menyerahkan amplop indah. "Dia sangat ingin ketemu cucu-cucunya. Dia bahkan tawarkan tiket pesawat dan akomodasi untuk kalian semua."
Maya membuka amplop. Di dalamnya, undangan resmi, dan... cek. Nominal yang cukup untuk biaya perjalanan kami semua, plus lebih.
"Kami tidak bisa menerima ini," kata Maya cepat, mengembalikan cek.
"Tolong, Maya. Ini bukan sogokan. Ini hanya kakek yang ingin melihat cucu-cucunya sebelum mati." Bayu memandang Bima dan Kinan. "Dan anak-anak... mereka ingin pergi. Kan, Bima?"
Bima mengangguk, tapi tidak berani menatap kami. Kinan, polos, berkata: "Adek mau naik pesawat! Belum pernah!"
Situasi menjadi tidak mungkin. Menolak berarti menjadi ibu dan ayah yang kejam. Menerima berarti membuka pintu pada pengaruh keluarga Rangga yang selama ini kami coba jaga jaraknya.
"Kami butuh waktu berpikir," kataku akhirnya.
"Tentu. Tapi tolong pikirkan juga perasaan orang tua yang sudah tua. Dan... hak anak-anak untuk mengenal keluarga besarnya."
Setelah Bayu pergi, kami mengadakan rapat keluarga.
"Kamu ingin pergi, Bima?" tanya Maya.
Diam lama. "Aku... aku ingin ketemu mereka. Tapi aku takut."
"Takuti apa?"
"Takut... takut kalian marah. Takut kalian berpikir aku lebih memilih keluarga Papa."
Aku duduk di sampingnya. "Kami tidak akan marah, Bima. Tapi kami perlu tahu apa yang kamu rasakan."
"Rasanya... seperti ada dua dunia. Dunia di sini, dengan Mama, Om Raka, Kinan, Aisyah. Dan dunia lain, dengan Papa, Om Bayu, kakek-nenek. Dan aku... aku tidak tahu bagaimana menjadi bagian dari keduanya."
Itu adalah pengakuan paling jujur dari mulut anak delapan tahun. Dan itu mencerminkan perasaan kami semua terbelah antara masa lalu dan masa kini, antara keluarga yang memilih kami dan keluarga yang terhubung oleh darah.
"Kalau kita pergi," kata Maya, "kita pergi bersama. Semua. Tidak ada yang tinggal. Dan kita buat batasan jelas: ini hanya kunjungan. Bukan awal dari sesuatu yang lain."
"Tapi uang mereka..." protesku.
"Kita terima tiket, tapi akomodasi kita urus sendiri. Dengan tabungan kita."
Itu kompromi. Tapi tetap saja, rasanya seperti kekalahan.
---
Malam itu, ketika anak-anak tidur, Maya dan aku berbicara sampai larut.
"Apakah kita salah dari awal?" tanyaku, menatap langit-langit. "Mengira bahwa cinta kita cukup untuk melindungi mereka dari kompleksitas dunia?"
"Cinta kita cukup, Raka. Tapi dunia memang kompleks. Dan anak-anak... mereka punya hak untuk menjelajahi kompleksitas itu."
"Tapi takut kehilangan mereka, Maya. Takut mereka melihat kehidupan yang lebih mudah di sana, dan mempertanyakan mengapa mereka harus hidup susah di sini."
"Kalau mereka mempertanyakan, kita jawab dengan jujur. Bahwa keluarga bukan tentang kemewahan. Bahwa cinta diukur dari kehadiran, bukan dari hadiah."
"Apakah itu cukup?"
Dia memandangku. "Harus cukup. Karena itu kebenaran kita."
Aku menariknya mendekat. "Aku cinta kamu. Dan aku cinta anak-anak kita. Tapi kadang... kadang aku merasa tidak cukup."
"Kamu lebih dari cukup, Raka. Kamu memilih kami ketika tidak ada yang memilih. Kamu tetap di sini ketika mudah pergi. Itu lebih berharga dari segala robot dan taman hiburan di dunia."
Kata-katanya menghangatkan hati. Tapi tidak sepenuhnya menghilangkan keraguan.
---
Kami memutuskan untuk pergi. Tapi dengan syarat: hanya empat hari. Dan kami semua tetap bersama. Tidak ada anak yang tidur terpisah dari kami. Tidak ada percakapan privat antara anak-anak dan keluarga Rangga tanpa kami hadir.
Bayu setuju. "Itu adil," katanya.
Persiapan dilakukan dengan hati berat. Bima dan Kinan gembira, tapi juga tegang. Maya sibuk menjahit baju baru untuk Aisyah (karena tidak mau memakai baju pemberian keluarga Rangga). Aku... aku hanya berusaha tidak menunjukkan betapa takutnya aku.
Hari keberangkatan tiba. Di bandara, ketika kami menunggu boarding, Bayu datang untuk menemani (katanya untuk memastikan semuanya lancar).
Saat itulah terjadi.
Bima, yang sedang duduk di samping Bayu, bertanya: "Om Bayu, kalau aku nanti besar mau jadi insinyur seperti Om, boleh aku magang di perusahaan Om?"
"Tentu saja, Bima. Om akan ajari kamu segalanya."
"Dan aku bisa kerja di Jakarta?"
"Kalau kamu mau."
Maya dan aku saling memandang. Ini bukan lagi tentang kunjungan keluarga. Ini tentang masa depan. Tentang impian yang mulai terbentuk dengan Bayu sebagai pusatnya.
Sebelum ada yang bisa berkata apa-apa, Bima menoleh pada kami. "Tapi aku akan bawa Mama, Om Raka, Kinan, dan Aisyah juga. Jadi kita tetap bersama."
Itu penghiburan kecil. Tapi tetap saja: dalam pikirannya, masa depan sudah mulai melibatkan Jakarta. Melibatkan Bayu. Melibatkan dunia yang bukan dunia kami.
Pesawat lepas landas. Dan saat kami meninggalkan tanah Makassar, aku merasa seperti meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar kota.
Mungkin kami meninggalkan ilusi bahwa keluarga kami adalah pulau terpisah. Bahwa cinta kami bisa membangun tembok yang cukup tinggi untuk melindungi dari pengaruh luar.
Kenyataannya, keluarga adalah jaringan yang rumit. Dengan benang-benang yang terhubung ke banyak arah. Beberapa benang kami putuskan sendiri. Beberapa terpaksa diputus. Tapi beberapa... tetap ada, menunggu untuk ditenun kembali.
Dan sekarang, kami terbang menuju salah satu benang itu. Tidak tahu apakah ini akan memperkuat tenunan kami, atau justru menguraikannya.
Yang pasti, tidak ada jalan mundur lagi.
Kami sudah melangkah ke ruang antara, antara yang telah pergi dan yang akan datang. Antara keluarga yang kami pilih dan keluarga yang memilih kami. Antara ketakutan dan harapan.
Dan satu-satunya cara adalah terus berjalan. Bersama.
Meski setiap langkah terasa seperti menginjak kaca.