NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: PENGKHIANATAN DI BALIK BORGOL EMAS

Mansion Dirgantara malam itu terasa lebih mencekam daripada penjara mana pun yang pernah Alana datangi. Lampu kristal yang menggantung di aula utama bersinar terang, memantulkan kemewahan yang bagi Alana justru terasa menyilaukan dan memuakkan.

Arkano tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka meninggalkan pelabuhan. Pria itu melangkah lebar menaiki tangga marmer, tangan besarnya mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan kuat, seolah takut mangsanya akan melompat keluar dari jendela.

Brak!

Arkano mengempaskan Alana ke atas ranjang king size di kamar utama. Alana meringis, bukan karena rasa sakit di tubuhnya, tapi karena tatapan mata Arkano yang sedingin es.

Arkano melepaskan jas hitamnya dan melemparkannya ke lantai. Ia mulai melonggarkan dasi dengan gerakan kasar, sementara matanya tetap mengunci manik mata Alana.

"Kau berani memohon untuk nyawa pria itu di depanku, Alana?" suara Arkano rendah, namun penuh dengan ancaman yang nyata.

Alana bangkit, mencoba menjaga harga dirinya. "Mereka rekan kerjaku, Arkano! Mereka hanya menjalankan tugas. Kau tidak bisa membantai polisi tanpa konsekuensi!"

Arkano tertawa sinis, suara yang membuat bulu kuduk Alana berdiri. Pria itu maju selangkah, membuat Alana terpaksa mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.

"Konsekuensi?" Arkano menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Alana, mengurung wanita itu. "Di kota ini, akulah hukumnya. Kau pikir siapa yang melindungi kepolisianmu dari kebangkrutan? Akulah yang membayar gaji mereka lewat jalur belakang!"

Wajah mereka sangat dekat. Alana bisa mencium aroma parfum wood and musk yang maskulin bercampur samar dengan bau mesiu dari tubuh Arkano.

"Aku tidak pernah memilih menjadi istrimu!" bentak Alana, mencoba mendorong dada bidang pria itu.

Arkano menangkap kedua tangan Alana dan menguncinya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan. "Tapi kau di sini, mengenakan cincinku, dan hidup di bawah atapku. Kau adalah milikku sekarang, Alana. Setiap inci dari tubuhmu, bahkan setiap napasmu, adalah hakku."

"Aku bukan barang milikmu!"

"Maka buktikan padaku besok pagi," bisik Arkano tepat di telinga Alana, membuat wanita itu merinding. "Besok, aku akan memberimu ujian. Kita lihat, apakah kau masih bisa menyebut dirimu 'polisi' setelah apa yang akan kau lakukan."

Arkano melepaskan cengkeramannya, berbalik, dan keluar dari kamar. Bunyi pintu yang dikunci dari luar terdengar seperti vonis mati bagi Alana.

Malam itu, Alana tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di kamar yang luasnya hampir seperti lapangan basket itu. Ia harus menghubungi markas. Ia harus tahu apa yang terjadi pada tim Rian.

Alana duduk di pinggir ranjang, meraba jahitan gaun pengantinnya yang sangat rumit. Di balik lipatan kain di dekat pinggang, ia menyembunyikan sebuah alat komunikasi mikroskopis. Itu adalah teknologi terbaru kepolisian, sangat kecil hingga sulit dideteksi pemindai biasa.

Ia memasang alat itu di telinganya dan mencoba mengirim sinyal.

Bzzzt... bzzzt...

Hanya suara statis. Alana mengumpat dalam hati. Mansion ini pasti dilengkapi dengan signal jammer kelas militer. Arkano benar-benar sudah memikirkan segalanya. Ia terjebak di dalam penjara emas yang kedap suara.

"Sial!" Alana melempar alat itu ke lantai.

Pikirannya melayang pada Rian. Rian adalah sahabatnya sejak di akademi. Jika Arkano membunuhnya, Alana tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia harus mencari cara untuk menyelamatkan mereka, bahkan jika ia harus mengkhianati hatinya sendiri.

Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, pintu kamar terbuka. Marco, tangan kanan Arkano yang selalu terlihat seperti robot tanpa emosi, masuk bersama dua pelayan.

Mereka membawa sebuah gaun merah marun yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh Alana dengan jelas.

"Tuan menunggu di bawah," ujar Marco singkat.

Alana mengenakan gaun itu dengan perasaan hampa. Saat ia bercermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Bibirnya yang dipulas lipstik merah tua membuatnya tampak seperti wanita pendamping mafia yang glamor, bukan lagi agen intelijen 'The Silent Cat'.

Marco menggiringnya turun menuju lantai bawah tanah. Udara di sana berubah drastis—dingin, lembap, dan berbau besi berkarat.

Di sebuah ruangan beton yang luas, Alana melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Rian dan dua rekannya diikat di kursi besi. Wajah mereka babak belur, penuh darah dan memar.

"Alana..." Rian mendongak, matanya yang bengkak menatapnya dengan rasa tidak percaya.

Arkano berdiri di tengah ruangan, memegang sebuah pistol Glock 17 hitam. Ia tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia menoleh saat Alana masuk dan memberikan senyuman tipis yang mematikan.

"Selamat pagi, Sayang. Kau cantik sekali hari ini," ujar Arkano santai.

Arkano berjalan mendekat, merangkul pinggang Alana dengan posesif di depan rekan-rekannya yang terikat. Ia kemudian menyerahkan pistol itu ke tangan Alana.

"Ini ujianmu, Alana," bisik Arkano. "Tembak kaki pria ini," ia menunjuk Rian. "Dan aku akan membiarkan dua rekannya yang lain pergi hidup-hidup. Tapi jika kau menolak... aku akan membiarkan Marco menghabisi mereka semua di depan matamu."

"Kau bajingan, Arkano!" Alana gemetar hebat. Berat senjata di tangannya terasa ribuan kali lebih berat dari biasanya.

"Pilih, Alana. Kau punya sepuluh detik. Satu..."

"Alana, jangan!" teriak Rian. "Jangan biarkan dia menghancurkanmu! Lebih baik aku mati!"

"Dua..." Arkano berdiri tepat di belakang Alana, memegang tangan wanita itu yang sedang menggenggam pistol, lalu mengarahkannya tepat ke paha Rian.

"Tolong, Arkano... jangan lakukan ini," air mata Alana mulai jatuh membasahi pipinya.

"Tiga."

DOR!

Suara tembakan menggema keras di ruangan beton itu.

Rian berteriak, namun bukan karena peluru menembus kakinya. Alana telah memutar arah pistol di detik terakhir. Ia menembak tangki gas oksigen kecil yang ada di pojok ruangan.

BOOM!

Ledakan terjadi, menciptakan kepulan asap tebal dan kobaran api. Ruangan seketika menjadi kacau. Alarm kebakaran berteriak nyaring dan sistem penyiram air otomatis (sprinkler) dari langit-langit langsung aktif, mengguyur semua orang dengan air.

Dalam kekacauan itu, Alana menggunakan kemampuannya. Ia menyikut perut Arkano dengan keras, melepaskan diri, dan berlari menuju Rian. Ia mencoba melepaskan ikatan tali itu dengan cepat.

"Cepat pergi!" perintah Alana.

Namun, sebelum tali itu lepas sepenuhnya, sebuah tangan kekar menjambak rambut Alana dari belakang. Arkano menariknya menjauh dengan amarah yang meledak.

"Berani sekali kau bermain trik di depanku, Alana!" Arkano mengunci leher Alana dengan lengannya yang kuat. Wajah pria itu basah kuyup, matanya berkilat seperti iblis.

"Marco! Amankan tawanan!" perintah Arkano.

Marco dan anak buah lainnya segera meringkus Rian kembali sebelum mereka sempat kabur. Alana meronta, namun tenaga Arkano jauh di atasnya. Pria itu menyeretnya keluar dari ruangan bawah tanah yang basah itu menuju kantor pribadinya.

Sesampainya di kantor, Arkano mengempaskan Alana ke kursi kerja mahoni yang besar. Ia mengunci pintu dan berjalan menuju meja kerjanya dengan langkah gusar.

"Kau pikir kau sangat pintar, hah?" Arkano menatapnya tajam. "Kau baru saja menandatangani surat kematian rekanmu."

Tiba-tiba, sebuah ponsel di atas meja Arkano bergetar. Sebuah panggilan video masuk. Arkano mengangkatnya, lalu memutar layar ponsel itu ke arah Alana.

Alana terbelalak. Di layar itu, terlihat Komisaris Hendra—atasannya yang selama ini ia hormati sebagai figur ayah—sedang duduk santai di ruang kerjanya sambil mengisap cerutu mahal.

"Bagaimana kabarmu, Alana? Kudengar bulan madumu sangat... eksplosif," ujar Hendra dengan nada mengejek.

"Komisaris? Apa yang terjadi?" suara Alana tercekat.

Hendra terkekeh. "Jangan terlalu idealis, Alana. Di dunia ini, kesetiaan bisa dibeli. Dan Arkano adalah pembeli yang sangat royal. Aku mengirimmu ke sana bukan untuk menangkapnya, tapi untuk memastikan hubungan bisnis kami tetap lancar. Kau hanyalah jaminan keamanan."

Dunia Alana seolah runtuh. Semua pengabdiannya, semua risiko yang ia ambil, hanyalah bagian dari transaksi bisnis kotor atasannya.

"Anda menjual saya?" tanya Alana dengan suara bergetar.

"Aku memberimu tempat yang lebih baik, Alana. Menjadi istri mafia terkaya lebih baik daripada mati sebagai agen yang tidak punya apa-apa," jawab Hendra dingin sebelum mematikan panggilan.

Arkano menaruh ponselnya kembali ke meja. Ia berjalan mendekati Alana yang masih syok, lalu berlutut di depan wanita itu. Ia memegang tangan Alana yang masih basah.

"Sekarang kau tahu kebenarannya, Alana. Orang yang kau lindungi adalah orang yang mengkhianatimu," bisik Arkano dengan nada yang kini terdengar lebih lembut namun tetap dominan.

"Mulai hari ini, duniamu hanya ada di sini. Di sampingku. Tidak ada kepolisian, tidak ada tugas negara. Hanya ada kau dan aku."

Alana menatap Arkano. Ada rasa benci yang mendalam, tapi juga rasa hampa yang luar biasa. Ia menyadari satu hal: ia tidak punya tempat kembali.

"Lalu apa bedanya kau dengan dia?" tanya Alana lirih.

Arkano menarik Alana ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala wanita itu dengan posesif. "Bedanya adalah, aku tidak akan pernah menjual milikku. Dan kau... kau adalah milikku yang paling berharga."

Alana terdiam dalam dekapan Arkano. Di tengah kekecewaan pada dunianya, ia merasa detak jantung Arkano memberikan rasa aman yang aneh. Namun ia tahu, ini hanyalah awal dari perang yang baru.

Akankah Alana benar-benar menyerah pada Arkano, atau ia akan menggunakan Arkano untuk menghancurkan Komisaris Hendra?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!