Bagaimana perasaanmu jika istri yang sangat kamu cintai malah menjodohkan mu dengan seorang wanita dengan alasan menginginkan seorang anak.
Ya inilah yang dirasakan Bima. Dena, sang istri telah menyiapkan sebuah pernikahan untuknya dengan seorang gadis yang bernama Lily, tanpa sepengetahuan dirinya.
Bima sakit hati, bagaimanapun juga dia sangat mencintai istrinya, meskipun ia tahu sang istri tidak bisa memberikannya keturunan.
Bisakah Lily berharap Bima akan mencintainya? Meskipun Bima sangat dingin padanya, tapi Lily telah berjanji satu hal pada Dena. Sanggupkah Lily menepati janjinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Tangan Gerry semakin tidak bisa di kendalikan. Bahkan ia berani meremas paha Lily. Hampir saja Lily berteriak kalau dia tidak segera menggigit bibirnya sendiri. Lily sudah tidak tahan lagi saat tangan Gerry semakin kurang ajar hingga menjalar ke paha bagian dalam. Walaupun masih terbalut dress tapi bukankah itu sudah melecehkan namanya?
Lily sudah tidak tahan!
Semua mata tertuju padanya tidak terkecuali Bima saat Lily tiba-tiba berdiri.
"Saya permisi ke toilet!" Lily bernada dingin. Suaranya tercekat. Tanpa menunggu persetujuan dari yang lainnya Lily segera berlalu dari sana.
Rasanya air matanya sebentar lagi akan turun. Lily benar-benar sudah tidak tahan! Seandainya saja Gerry bukan bagian dari kerjasama penting Bima tentu Lily akan menghajarnya saat itu juga. Tapi siapalah Lily, dia hanya remahan roti yang tidak berarti.
Satu. Dua. Tiga. Lily membasuh wajahnya dengan air. Berhasil! Air matanya bisa ia tahan meskipun kini Lily merasa amarahnya belum menghilang. Selama sejarah dalm hidupnya Lily tidak pernah di perlakuan seperti itu. Ini penghinaan! Ini pelecehan!
Rasanya Lily ingin pergi dari sana sekarang juga. Tapi pertemuan penting ini juga tidak bisa ia tinggalkan.
Tarik nafas lalu hembuskan. Lily mencoba bersikap tenang. Ia berjalan keluar dari toilet wanita. Baru saja dua langkah keluar dari sana, sebuah tangan menariknya ke sebuah sudut di samping toilet. Sialnya lorong ini sangat sepi. Lily masih tidak tahu apa yang terjadi hingga ia terkejut karena ia merasakan sebuah lidah yang memaksa merangsek ke dalam mulutnya dengan kasar. Rasa asin dan anyir darah bisa Lily rasakan disana. Lily tidak bisa melawan karena kedua tangannya telah di kunci di atas kepalanya.
Mata Lily membulat, saat dadanya di remas oleh sebelah tangan Gerry yang bebas.
Mata Lily sudah basah. Lily masih mematung. Entah kenapa tubuhnya tidak bisa di gerakan meski otaknya memerintahkan untuk bergerak dan melawan. Hanya air mata yang bisa mewakilkan perasaan Lily saat itu. Marah. Kesal. Jijik. Dan merutuki dirinya yang sama sekli tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah dia mempersilakan Gerry berbuat semaunya!
Ciuman Gerry semakin melembut, tidak membuat kesakitan fisik pada Lily tapi itu tidak berarti jika Lily tidak sakit hati dan bathinnya. Bathin Lily berontak.
"Tolong... Tolong aku ..Pak..Bima!"
"Siapa saja... tolong.. a..ku"
Gerry tersenyum menang, tidak mendapat penolakan dan perlawanan dari Lily. Dia semakin berani berbuat tidak senonoh pada gadis di depannya ini. Bahkan satu tangannya yang bebas berani menyingkapkan bagian bawah dress Lily, dan dengan segera tangannya masuk ke dalam. Membelai paha mulus Lily.
Lily memejamkan matanya. Air mata lolos darinya begitu saja. Tamatlah sudah riwayat Lily. Tidak ada satupun yang menolongnya. Apakah Lily akan habis disini? Lebih baik Lily menceburkan dirinya ke laut dan di makan ikan hiu daripada harus selamat tapi hidupnya tidak akan berarti karena berakhir dengan pria mesum ini!
Brakkk!!!
Suara vas pecah terdengar jelas di telinga Lily. Tangan Lily sudah terbebas. Tapi Lily masih belum bisa membuka matanya.
"DASAR B*JINGAN!!" suara seorang pria menggelegar terdengar jelas di telinga Lily, membuat gadis itu punya kekuatan untuk membuka matanya perlahan. Tapi tubuhnya tidak bisa lagi ia tahan, terlalu lemas. Lily merosot ke bawah dengan tatapan kosongnya.
Semangat thor 💪💪