NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - Bukan Pelakor

Bukan main marahnya Zain, terlebih lagi kala menyadari kening Nadin sampai tergores lantaran Jessica mendorongnya memang sekuat tenaga. Jangan ditanya sakit atau tidak, jelas saja iya. Zain berdiri di depan sang istri, dia khawatir wanita itu akan kembali menyerang istrinya tanpa terduga.

Nadin yang tidak tahu apa-apa, hanya menunduk di belakang sang suami karena jujur dia takut juga. Zain menggenggam erat jemari Nadin, sudah pasti hal itu dia lakukan agar sang istri tidak melarikan diri.

"Jangan halangi aku, Zain ... izinkan aku bicara padanya!!" Benar saja dugaan Zain, setelah dirinya pasang badan untuk sang istri, Jessica naik pitam.

Dia berusaha untuk kembali menyakiti Nadin, nekat mencari celah, tapi jelas saja Zain tidak akan tinggal diam. "Untuk apa lagi? Denganku saja sudah cukup, Jes."

"Ya, Tuhan Zain!! Kamu gila? Pernikahan kita tinggal hitungan bulan dan kamu benar-benar menggagalkannya hanya demi dia?" Jessica menatap Zain tak percaya.

Sekian lama Zain tidak pernah berulah, dia yakin pria itu sangat mencintainya. Namum, beberapa waktu lalu tanpa pernah Jessica duga, Zain memutuskan hubungan mereka dengan alasan yang tak bisa diterima akal.

Bukan karena bosan, bukan pula karena tidak cinta, tapi dia memutuskan hubungan lantaran sudah menikah. Dengan siapa, Zain memang tidak menjelaskan secara mendalam, dan hal itulah yang membuat Jessica pulang.

Dia ingin memastikan kebenaran terkait ucapan Zain. Dan benar, setelah membuntuti Zain dari kampusnya, malam ini Jessica memiliki kesempatan untuk memberi pelajaran pada wanita yang dia duga sebagai perebut calon suaminya.

Awalnya dia pikir Zain akan tampak ketakutan, bergetar dan merasa bersalah setelah menangkap basah dirinya. Sialnya, pria itu justru marah besar dan lebih memilih menenangkan Nadin di hadapan Jessica.

"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya ... hubungan kita sudah selesai, kamu bisa bebas dengan pilihanmu begitu juga dengan diriku."

"What the_ Zain! Lihat aku baik-baik, Sayang ... kurangnya dimana sampai kamu lebih memilih wanita itu? Hah?"

Jessica tidak ada kurangnya, secara fisik dia mendekati kata sempurna. Hanya saja, sejak mengenal Nadin, Zain merasa yang justru dia butuhkan sebagai pendamping adalah Nadin, bukan Jessica yang justru kerap membuat Zain merasa tak berguna.

Tak berharga, bahkan beberapa kali kerap tidak dipedulikan hingga membuatnya bak pria kurang kasih sayang. Selama ini Jessica juga lebih memilih dunianya, dia termasuk wanita super mandiri yang bahkan merasa terganggu kala Zain memberikan perhatian kecil padanya.

"Apa karena aku minta tunda sampai kamu nikah dengan wanita lain? Hm? Kalau iya, aku akan minta papa majukan pernikahan kita, Sayang, besok pun aku bersedia ... tapi please tinggalkan wanita itu," pinta Jessica penuh harap, dia juga menyeka air matanya kasar.

Sayang, walau sudah sampai mengeluarkan air mata sekalipun, Zain tetap pada keputusan awalnya. "Tidak perlu, Jessica ... dengan alasan apapun aku tidak akan meninggalkan istriku."

Jessica berdecih mendengar ucapan Zain, sama sekali tidak dia duga jika seorang Zain akan setega itu pada dirinya. Pandangannya beralih pada sosok wanita yang tak bisa Jessica lihat jelasnya karena sejak tadi selalu berada di dibelakang Zain.

"Zain-Zain ... ternyata kamu tidak ada bedanya seperti pria lain ya? Pelakornya selalu di bawah standar, miskin, mur_"

"Sebelum kamu terus bicara ada baiknya dengar penjelasanku baik-baik. Nadin bukan pelakor!!" sentak Zain semarah itu hanya karena satu kata yang tertuju pada sang istri.

"Nyatanya dia pelakor, cuma lebih sopan saja, bersembunyi di balik pakaian tertutup padahal ya murrahan juga," timpal Jessica tak mau kalah, jelas Zain juga demikian.

"Jessica tutup mulutmu!!"

Mana mungkin Zain diam saja, sekalipun Nadin tidak memiliki keberanian untuk membela diri, tapi sebagai suami Zain jelas harus bertindak tegas di sini. "Kata pelakor itu tertuju untuk seseorang yang dengan sengaja datang sebagai orang ketiga dan merebut suami orang, dan Nadin tidak begitu."

"Kenapa aku bilang tidak? Pertama aku belum menjadi suamimu, kedua dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk merebutku dari siapapun dan ketiga!! Yang paling penting dan perlu kamu ketahui adalah, aku yang menginginkannya menjadi istriku, paham sampai sini?"

Panjang lebar Zain bicara, Nadin yang berada di belakangnya sampai menganga, apalagi Jessica. Wanita itu terdiam, bungkam dan tidak bisa berbuat apa-apa hingga ketika Zain berlalu wanita itu lemas dan terduduk ke lantai lantaran merasa bak kehilangan separuh jiwanya.

"Semudah itu kamu membuangku, Zain?"

.

.

Selepas pertemuannya dengan Jessica, raut wajah Nadin tampak tak terbaca. Tidak lagi banyak bicara, bahkan ketika tiba di kost juga masuk lebih dulu tanpa mengatakan apa-apa.

Zain yang paham istrinya mungkin terluka juga tidak punya pilihan lain selain memberikan sang istri waktu untuk menenangkan diri. Sementara dirinya kini menata barang belanjaan di rak yang Zain yakini memang itu tempatnya.

Mereka baru saja hendak dekat, tapi sialnya Jessica tiba-tiba datang dan merusak suasana hati Nadin. Sungguh hal itu masih menjadi penyesalan Zain, dia menatap Nadin yang kini keluar kamar mandi dengan langkah tak biasa, bisa disimpulkan dia masih marah.

Langkahnya tertuju ke lemari pakaian, dan yang dia gunakan tetap daster penguji iman yang sempat membuat kepala Zain nyut-nyutan. Akan tetapi, untuk saat ini tidak ada waktu untuk mempermasalahkan itu, karena sang istri kini sudah naik ke atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Cukup lama Zain biarkan, hening mencekam. Selimut di tubuh Nadin kian tertutup rapat, terlebih ketika Zain turut naik ke atas tempat tidur. Sudah jelas tujuannya naik bukan untuk beristirahat, melainkan mencoba bicara pada sang istri.

"Ehm, aku tahu kamu belum tidur."

Begitu kalimat awal yang Zain ucapkan kala hendak memulai pembicaraan. Dapat dia pastikan bahwa Nadin memang belum tidur, terlihat jelas dari gerak-gerik jempol kakinya yang keluar sedikit.

"Sebelumnya maaf, aku tidak terbuka tentang privasiku ... Jessica memang tunanganku, tapi itu dulu. Setelah kita menikah, aku memutuskan hubungan kami karena bagiku, sebuah pernikah_"

Penjelasan Zain terhenti, bukan karena dia ragu untuk bicara, tapi isak tangis tertahan dari Nadin terdengar. Sontak saja, Zain mendekat dan menyingkap selimutnya, sedikit sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.

Dia menangis, Nadin menutup wajahnya kala Zain berhasil menyingkap selimut yang sejak tadi menutupinya. Malu karena dilihat, salah-satu tangannya berusaha meraih kembali selimut tersebut, sialnya Zain dengan tanpa merasa bersalah menyingkirkan selimut itu dengan kakinya hingga tergeletak ke lantai begitu saja.

Saat itulah, Zain justru memanfaatkan kesempatan dengan menariknya dalam pelukan. Tanpa penolakan, dia melemah hingga tangis Nadin pecah begitu Zain mengusap pelan pundaknya. Tanpa peduli sekuat apa Nadin menangis, telinga Zain seakan tidak merasakan sakit.

"Maaf, seharusnya aku bisa melindungimu," bisik Zain disertai kecupan lembut di puncak kepalanya, berkali-kali Zain lakukan hingga tangis Nadin kian menjadi sembari berusaha mendorong tubuh sang suami.

Zain yang awalnya tenang, mendadak panik tentu saja. Tangisnya sudah tak biasa hingga pria itu sejenak menjauhkan tubuhnya. "Kenapa? Apa ada yang sakit?"

Masih dengan tangisnya, Nadin mengangguk hingga Zain benar-benar melepas pelukan seraya memerhatikan kening sang istri, dia lupa jika tadinya sempat terluka. "Awwwh lumayan ternyata, perih?"

"Iya perih," jawab Nadin pelan, jika ditanya dia menangis murni karena luka atau karena terharu Zain peluk, jujur saja dia bingung sebenarnya. "Sebentar, apa di sini ada obat luka?"

"Di laci kalau tidak salah," jawab Nadin yang membuat Zain bergerak cepat detik itu juga.

Namun, tepat dikala Zain hendak berdiri, saat itu juga Nadin menahan pergelangan tangannya dengan secepat kilat. "Kenapa?"

"Terima kasih sudah melindungiku, Mas." Suara Nadin seolah bergetar hingga membuat pria itu mengurungkan niat dan segera duduk kembali.

Tak hanya itu, Zain tiba-tiba mengikis jarak sebelum kemudian mengecup keningnya dan menyeka air mata sang istri "Tidak perlu berterima kasih, melindungimu juga termasuk kewajibanku sebagai suami, Sayang."

.

.

- To Be Continued -

1
Herlina Anggana
pdhal GK pernah di apa2in Zain kok bsa hmil
Herlina Anggana
itu Zayn LG di kmar mandi nongolin kepala doang ambil ngbrol bhas cinta2n gitu Astaga gak ada cara yg lebih romantis apa zain
Herlina Anggana
komedi romantis nih
Herlina Anggana
🤣🤣🤣🤣🤣 ya Allah capek bgt keram perut gini terus 😄😄🤣🤣🤣🤣 Thor kamu juara pokoknya
Herlina Anggana
mendadak umi🤣
Herlina Anggana
anaku yang manis 😄😄😄 kebayang gemesnya 🤭
Herlina Anggana
kan emang bner2 tu dosen killer jadi kaya balita kan gara2 bucin.. gak sabaran banget
Herlina Anggana
cool family klo lagi ngumpul emang banyol banget ya hari2nya
Herlina Anggana
lemari plastik keranjang cucian kontras bgt sama istana hunian suamimu 😄
Herlina Anggana
tuh kan sayang lagi kan aduh salto juga nih aku
Herlina Anggana
sayang?what sayang?😍😍😍
Herlina Anggana
aku sih dongkol bgt jadi Nadin susah payah,GK d ksih kelonggaran buat nylesaiin soal... asli pelit bgt
Herlina Anggana
susah bgt merubah kebiasaan makan anak kost,yg irit bgt, kebiasaan nahan lapar gitu . adek ku dulu sampe di suapin padahal dah bujang
Herlina Anggana
inget komen orang yg pas habis akad di pegang ubun2nya begitu udah kelar acara istrinya nanya,"yang tadi kamu doa apa pas pegang kepala aku?"
lakinya jawab"lah emangnya suruh doa?"🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Fitria Mai
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Fitria Mai
lucu membacanya ketawa sendiri 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh kalau mau keluar kota naik pesawat bukannya pake pasport, jd atomatis Jihan sama Ronald bawa doongng buat pelengkap surat² keberangkatan jd kenapa ga mikir ke sana... kalau cuma muter keliling doang di situ ga mungkin lagi pake surat².🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuuhhh pada kenapa siihh.. pak Zain masih hidup masih saja pada mikir aneh, udah lewat seminggu loohh masa masih pada takut.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
biarkan saja Nad mungkin Zan masih butuh rehat untuk maksimalkan energinya yg terkuras habis pasca kecelakaan tenggelam di laut.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ampuuunn si Azka masih saja parnoan yg hororr².
🤣🤣🤣
trs Zeshan yang namanya pengen sesurga itu ga harus yg sudah beristri doang tapi juga buatmu yg jomblo biar tar sapa dapet pasangan yg sholehah jd bisa sesurga juga.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!