Pengumuman! sedang masa di revisi dari bab 85
Maaf, atas ketidaknyamanannya, mungkin akan ada pengubahan jalan ceritanya, terima kasih
Bagaimana jadinya ketika seorang wanita Mafia bertukar tubuh dengan seorang gadis SMA yang merupakan kekerasan sekolah, tak hanya itu gadis itu juga merupakan putri dari cinta pertamanya? Akankah dia bisa menjalani kehidupan itu? Dan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya? Simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xianyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Apa yang terjadi waktu itu membuat Ruksa terngiang-ngiang, jika saja Dania tak merusaknya mungkin dirinya akan mendapatkan sesuatu.
Kali ini, untuk memenuhi hasrat penasarannya, Ruksa pun memutuskan untuk kembali ke sekolah itu untuk menyelidiki kasus sambung manusia itu. Dan kali ini dirinya tak akan membawa Dania, sebab ia tak ingin gadis itu menggagalkan penyelidikannya lagi.
Seperti biasa, dirinya akan membuat alasan belajar untuk menghadapi ulangan, anehnya ayah Dania terlihat tak menyimpan rasa curiga sedikit pun terhadapnya. Entah karena aktingnya yang terlalu bagus atau memang pria itu tak ingin ambil pusing.
Kedua bahu Ruksa pun terangkat secara bersamaan, tak peduli mana yang benar, selama ia bisa pergi tanpa meninggalkan rasa curiga, itu sudah lebih dari cukup.
Dikayuhnya sepeda tua itu, menuju ke area bukit belakang sekolah, di mana bukit itu tersambung langsung dengan gedung belakang sekolah.
Mungkin karena jiwanya berada di tubuh seorang gadis muda, maka ia merasa tak terlalu lelah, padahal jarak antara rumah dan sekolah itu cukup jauh, di tambah ia harus mendaki gunung terlebih dahulu.
Memang bereaksi sendiri itu adalah yang terbaik, selain cepat dan rapih, ia pun bisa leluasa bergerak bebas.
Tanpa membuang waktu, Ruksa pun langsung menuju ke tempat yang sebelumnya. Namun ia tertegun ketika mendapati tak ada apapun di sana, hanya sebuah ruangan kosong tak berpenghuni.
Mungkinkah mereka memiliki jadwal tertentu? Atau jangan-jangan . . . .
Ruksa pun langsung menggelengkan kepalanya dengan keras, sebab tak mungkin dirinya ketahuan begitu saja. Jadi ia pun langsung menepis pemikiran hal tersebut.
Ia pun menghembuskan nafasnya, lalu berpikir sejenak untuk pulang ke rumah, atau tetap mencari.
Setelah cukup lama berpikir, Ruksa pun akhirnya memutuskan untuk menyusuri area sekolah dan berharap bahwa dirinya bisa menemukan sesuatu.
Seakan tuhan mendengarkan keinginannya, tiba-tiba dari sudut matanya menangkap sebuah cahaya dari sebuah atap salah satu gedung pelajar.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ia pun berjalan mengendap-endap dan menyiapkan ponsel nya untuk merekam. Jika ada sesuatu yang akan terjadi di depannya.
Biasalah, namanya juga Netizen, rekam dulu baru tolongin.
Dan gotcha. Akhirnya Ruksa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tapi kenapa mereka berpindah tempat? Kepala Ruksa pun menunduk seraya menerka, mungkin saja karena tempat ini terlihat lebih luas dari pada tempat yang sebelumnya.
Dan tentu saja, mereka masih melakukan sambung manusia. Bahkan jumlah kali ini lebih banyak dari sebelumnya.
Ruksa pun menyipitkan kedua matanya untuk melihat siapa kali ini yang menjadi korban kebengisan mereka. Karena jaraknya yang cukup jauh, membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Hingga akhirnya ia pun membawa kedua kakinya untuk melihat pertarungan itu lebih dekat.
Akan tetapi kedua bola matanya langsung terbeliak, ketika menyadari bahwa salah satu petarung yang tengah di pukuli habis-habisan itu adalah saudara jauhnya.
" Aldan! " gumamnya.
Kedua telapak tangannya mengepal dengan erat, gigi-gigi bergemertak menahan amarah, kedua bola matanya melotot merah.
Ini tak bisa di biarkan! Mereka harus di beri pelajaran! Mereka bukanlah manusia, mereka bahkan tak layak di sandingkan dengan hewan maupun iblis sekalipun.
Dengan amarah yang memuncak, Ruksa berjalan ke sana dan melabrak mereka, Namun tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan membawanya menjauh dari sana.
" Apa yang kamu lakukan di sini! " Tanya EL.
Dahi Ruksa pun mengernyit heran. " Loh kok, "
" Kenapa kamu ada di sini? " Tanya EL kembali.
" Seharusnya gue yang seharusnya yang nanya kayak gitu. Untuk apa seorang ketua osis berada di sekolah pada malam hari. "
" Ceritanya panjang, lebih baik kamu ikut aku sekarang. " ujarnya.
Namun, Ruksa menolaknya dengan tegas, dan mengatakan bahwa dirinya akan menolong seseorang, ia juga mengatakan pada EL, untuk tidak ikut campur urusan dirinya.
" Tolong jangan keras kepala. " ujarnya seraya menggenggam erat tangan seorang perempuan di depannya.
Ruksa mendelikkan matanya, lalu menghempaskan tangan itu dengan kasar, seraya memperingatkan sekali lagi untuk tidak ikut campur akan urusan pribadinya.
Kendati demikian, Mikael tak menyerah begitu saja mencegah Ruksa untuk tidak pergi ke sana. Pada akhirnya keduanya saling beradu mulut hingga hal tersebut mengundang perhatian salah satu dari mereka. Anak laki-laki itu pun bahkan mengajak temannya untuk memeriksanya.
Hal tersebut pun di sadari oleh EL, ia meminta Ruksa untuk tenang, dan memintanya untuk mundur terlebih dahulu.
Bukan Ruksa namanya jika ia peduli akan masalah kecil. Ia pun meronta dari cengkraman EL.
Namun sayangnya anak laki-laki itu tak mau kalah. Ia pun semakin menguatkan cengkeramannya tangan nya bersamaan dengan kedua langkah pria itu yang semakin mendekat dan terus mendekat. Akan tetapi keduanya masih beradu argumen.
Ketika derap langkah kaki itu semakin mendekat Mikael pun terpaksa menarik tengkuk Ruksa dan menempelkan bibirnya dengan bibir perempuan itu.
" Sial!. " Ujar si pria A
Tak lama kemudian, pria B yang menyusul dari belakangnya bertanya dengan apa yang terjadi.
Pria A pun menjelaskan bahwa dirinya baru saja melihat dua orang sejoli tengah memadu kasih, dan mengatakan bahwa dirinya iri dan menginginkan hal itu juga.
" Emang lo punya pacar? "
" Nggak sih, mana ada cewek mau sama cowok kerek kayak gua. " Ujar A. " Gimana kalau sama lo aja? mau nggak? " Guraunya.
Di detik berikutnya Pria B pun memberi ekspresi mual dan juga jijik di waktu bersamaan.
" Najis, amit amit jabang bayi, sampai tujuh turunan! gue nggak akan bakalan sudi. " Ujar pria B dengan nada serius, sehingga mengundang gelak tawa si pria A, Mereka pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan EL dan juga Ruksa yang tengah berciuman.
Sebenarnya, apa yang di lakukan EL bukanlah sebuah ciuman, sebab ibu jarinya menjadi penghalang antara bibirnya dan juga Ruksa.
" Sorry, aku bisa jelasin. Untuk sekarang, kita harus pergi dari sini. " Ujarnya setelah menjauh dari Ruksa
Jika ini adalah siang hari, EL tak tahu harus berkata apa. Sebab ia yakin bahwa wajahnya sekang sudah semerah tomat.
Ruksa yang berada di depan EL pun langsung mendorong tubuh anak laki-laki itu dan menjauhkannya darinya.
Mau tak mau ia harus mengakhiri ekspedisinya sekarang juga, dengan perasaan amarah, ia pun berjalan mendahului EL menuruni tangga.
" Kemana? " Tanya EL yang mengetahui bahwa jalan yang di tempuh oleh Ruksa, sangat berlawanan dengannya.
Kedua kaki Ruksa pun terhenti dan berbalik menatap EL. " Maaf, tapi sepeda gue ada di sana, dan gue nggak bisa pergi dan meninggalkannya begitu saja karena jika ayah tahu, gue yakin. Uang jajan gue pasti bakalan almarhum, jadi selamat malam dan sampai berjumpa besok. " Terangnya lalu pergi tanpa mendengarkan jawaban dari EL