Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kota asing
Shanghai.
Kota paling makmur di Tiongkok, sekaligus kota yang menarik perhatian wisatawan dari seluruh dunia, termasuk Elina.
Elina memilih kota ini untuk menenangkan pikirannya, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan dan drama rumah tangga yang baru saja ia tinggalkan.
Ia berdiri di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang, menatap sekililing. Tak satu pun yang ia kenal. Dan memang, itulah yang ia inginkan.
Elina tersenyum tipis.
"Elina, nikmati masa single kamu di kota Shanghai ini," gumamnya pelan.
Elina menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke arus manusia yang tak pernah benar-benar berhenti di kota itu. Lampu-lampu gedung menjulang, papan reklame menyala terang, dan suara percakapan asing bercampur dengan klakson kendaraan, semuanya terasa hidup, riuh, namun entah menenangkan.
"Baiklah," gumam Elina sambil mengeluarkan ponselnya. "Agenda hari ini, tersesat dengan bahagia."
Ia berhenti di sebuah gerai street food. Aroma daging panggang dan rempah-rempah langsung menggoda inderanya.
Elina menunjuk menu sambil tersenyum canggung. “One of this… and one of that,” katanya pada penjual.
Tak lama, seporsi jajanan hangat tersaji di tangannya. Elina mencicipinya, lalu matanya sedikit membesar.
“Enak,” ucapnya pelan, nyaris tak percaya. “Ternyata hidup masih punya rasa begini.”
Ia melanjutkan langkah, menyusuri trotoar panjang. Kamera ponselnya sesekali terangkat, memotret gedung-gedung tinggi, lampion merah yang bergantungan, hingga sudut jalan kecil yang terasa hangat meski asing.
“Elina,” katanya pada pantulan wajahnya di layar ponsel, “kamu nggak perlu kuat hari ini. Cukup jujur pada diri sendiri.”
Di sebuah kafe kecil, ia duduk sendirian dekat jendela. Secangkir kopi mengepul di hadapannya.
“Sendirian juga nggak buruk,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Setidaknya, nggak ada yang harus kamu jelaskan.”
Ia mengangkat ponsel, mengambil satu foto dirinya sendiri, tanpa pose berlebihan, tanpa senyum sempurna.
"Buat kenangan," katanya pelan. "Hari pertama Elina... sebagai Elina."
Saat matahari mulai mencondong ke arah barat, Elina kembali berjalan, membiarkan kota Shanghai menelannya perlahan.
Tak ada masa lalu yang mengejar.
Tak ada nama harus ia pertahankan.
Hanya langkah kaki, cahaya kota, dan hati yang perlahan belajar bernapas lagi.
♡♡
Di apartemen Dewa, berkas-berkas bertumpuk tanpa aturan. Lembaran kerja berserakan di meja dan lantai, beberapa laptop menyala bersamaan, menampilkan grafik, laporan keuangan, dan data perusahaan.
Selama Elina cuti, Dewa mengambil alih perusahaan, meski tetap bekerja di balik layar.
Dring! Dring!
Dewa menoleh ke arah ponselnya, lalu segera meraih dan menerima panggilan itu.
"Ada apa, Dewa?" tanya Lusi.
"Dewa, beberapa laporan harus kamu cek. Sepertinya ada masalah sedikit. Saya sudah kirim ke email kamu," jawab Lusi.
"Baiklah, saya akan cek."
Tut!
Panggilan terputus.
Baru saja Dewa hendak kembali ke kursinya, ponselnya kembali berdering. Kali ini, nama Luna tertera di layar.
“Ada apa, Lun?”
“Dewa, saya sudah mendapatkan seseorang yang ingin membeli rumah Nona Elina. Saya ingin menelepon Nona Elina, tapi saya nggak ingin mengganggu liburan beliau. Bagaimana menurut kamu?” tanya Luna.
“Jangan ganggu dulu Nona Elina,” jawab Dewa tegas. “Suruh pembeli itu menunggu satu bulan. Kalau dia tidak ingin menunggu, cari pembeli lain. Ingat, saat ini ketenangan Nona Elina nomor satu.”
“Baiklah, Dewa. Saya mengerti.”
Tut!
Panggilan berakhir. Dewa menghela napas berat, lalu kembali menatap layar laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Namun baru beberapa menit ia mencoba fokus, suara bel dari luar apartemen terdengar.
Dewa menggerutu pelan, tapi tetap melangkah membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Dewa langsung mematung.
Albert berdiri tepat di hadapannya.
“Tuan Albert… silakan masuk, Tuan,” ucap Dewa dengan sopan.
Albert mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam apartemen Dewa. Seperti biasa, ruangan itu dipenuhi berkas dan dokumen di mana-mana.
“Pekerjaan kamu tambah banyak, Dewa…” ucap Albert sambil menatap sekeliling.
“Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah biasa dengan hal seperti ini,” jawab Dewa sambil mempersilakan Albert duduk. “Tuan mau minum apa?”
“Tidak usah, Dewa. Saya hanya sebentar,” kata Albert. “Coba cek ini.”
Albert menyerahkan sebuah map pada Dewa.
Dewa langsung menerimanya dan membaca isinya dengan seksama. Alisnya sedikit terangkat.
“Ini perusahaan Ares?” ucap Dewa.
“Iya. Ternyata diam-diam dia membangun perusahaan tanpa sepengetahuan putri saya,” ucap Albert dengan nada dingin. Lalu tatapannya tertuju kepada Dewa. “Kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan?”
Dewa mengangguk pelan. Senyum misterius terbit di sudut bibirnya.
“Hancurkan!”
••••●●●●••••●●●●••••