“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pintu gerbang rumah Pradipta tertutup di belakang Yura.
Untuk pertama kalinya, napas Yura terasa benar-benar ringan. Ia berdiri sejenak di pinggir jalan, menengadah menatap langit sore yang mulai meredup. Sudut bibirnya terangkat, senyum kecil yang selama ini ia simpan rapat-rapat di balik wajah sendu.
Tak ada kewajiban berpura-pura lemah. Suara pintu mobil terbuka menarik Yura kembali ke dunia nyata.
“Aku sudah bilang,” ucap Sky santai sambil bersandar di pintu mobil hitamnya. “Aku akan mengantarmu, mau pergi ke mana?”
Yura menatap pria itu, tatapan Sky tenang, seolah ia sudah tahu Yura akan mengatakan iya sejak awal.
“Aku belum tahu,” jawab Yura jujur. “Aku hanya ingin pergi dari sini.”
Sky tersenyum tipis, bukan senyum menggoda, melainkan senyum seseorang yang sedang menunggu mangsanya melangkah sendiri ke perangkap.
“Kalau begitu, masuk saja,” katanya. “Aku tidak akan membawamu ke tempat yang tidak kamu inginkan.”
Yura ragu, naluri terkuatnya berteriak untuk menjauh. Pria ini berbahaya dan bukan karena kekerasan, tapi karena ia terlalu sabar, terlalu terukur. Namun, rasa bebas yang baru ia rasakan membuat pertahanannya menurun.
Yura membuka pintu mobil dan masuk. Mobil melaju pelan meninggalkan kawasan elit Pradipta. Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
“Apa rasanya?” tanya Sky akhirnya.
Yura menoleh. “Apa maksudmu?”
“Bebas,” jawab Sky singkat.
“Setelah sekian lama dikurung.”
Yura tersenyum miring. “Rasanya … aneh. Seperti habis keluar dari sangkar tapi belum tahu harus terbang ke mana.”
Sky meliriknya sekilas. “Hati-hati. Burung yang baru bebas biasanya paling mudah ditembak.”
Yura tertawa kecil, namun tawanya berhenti di tengah jalan. Ia menatap Sky, mencoba membaca maksud di balik kalimat itu.
“Kau selalu bicara seperti sedang memperingatkanku,” kata Yura pelan. “Atau sebenarnya kau sedang mengancam?”
Sky menghela napas kecil, lalu berhenti di lampu merah. Ia menoleh penuh, menatap Yura tanpa senyum.
“Aku tidak mengancammu, Yura,” katanya serius.
“Aku hanya ingin kau tahu ... sejak kau melangkah keluar dari rumah itu, kau tidak lagi sendirian. Banyak orang akan mulai mengincarmu.”
“Termasuk kau?” tantang Yura.
Sky tersenyum lagi, kali ini samar. “Aku tidak menyangkal.”
Yura menyandarkan punggung ke kursi. “Setidaknya kau jujur.”
“Kejujuran kadang lebih berbahaya daripada kebohongan,” balas Sky.
Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju.
Di rumah Pradipta, Arga masih duduk di sofa yang sama. Ucapan Yura terus terngiang di kepalanya.
'Semoga pertunangan Anda berjalan dengan lancar.'
Kalimat itu sederhana, dan terlalu sopan bahkan terdengar terlalu ikhlas. Dan justru itulah yang membuat dada Arga terasa nyeri, seperti ada sesuatu yang tercabut paksa tanpa sempat ia sadari nilainya.
Mobil Sky berhenti perlahan di depan sebuah rumah bergaya modern, berdiri tenang di balik pagar tinggi dengan sistem keamanan ketat. Lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan dedaunan di dinding putih bersih.
Yura menatap keluar jendela. Rumah yang selama ini hanya dikenal segelintir orang dengan satu nama rumah Nona muda Lartika.
“Aku sampai,” ucap Yura ringan sambil meraih gagang pintu.
Namun, tangan Sky lebih dulu menahannya.
“Yura.” Nada suaranya membuat Yura berhenti.
Yura menoleh, alisnya berkerut tipis. “Ada apa?”
Sky tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Yura, lama, tatapan seorang pria yang terlalu banyak menyimpan perhitungan, namun kini memilih berkata jujur setengahnya.
“Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di rumah Pradipta,” kata Sky pelan, “aku tidak pernah membencimu. Tidak seperti yang orang-orang katakan. Tidak seperti yang Arga pikirkan.”
Yura terdiam, wajahnya datar, tapi matanya waspada.
Sky melanjutkan, “Dan sekarang kau sudah bebas. Tidak terikat kontrak. Tidak perlu berpura-pura. Jadi aku ingin kau tahu satu hal.”
Ia tersenyum kecil. “Aku pria lajang.”
Kening Yura makin berkerut. “Lalu?”
“Kalau suatu hari kau merasa kesepian,” ujar Sky tanpa menoleh, “kau tidak perlu mendekati pria yang sudah memiliki wanita di sisinya.”
Kalimat itu menggantung di udara dan tajam, ambigu, penuh maksud terselubung. Yura menatap Sky beberapa detik, lalu tersenyum. Bukan senyum sendu seperti biasanya. Senyum itu tenang dan berbahaya.
“Begitu,” katanya pelan.
Ia menarik tangannya dari genggaman Sky dengan lembut, tapi tegas.
“Kalau aku menginginkan pria,” lanjut Yura sambil membuka pintu mobil, “aku tidak akan mendekati siapa pun dalam bayangan orang lain.”
Yura menoleh, menatap Sky lurus-lurus.
“Aku akan menunggu saat Nona muda Lartika muncul di publik.”
Sky tertegun untuk sepersekian detik raut wajahnya berubah. Senyumnya membeku, matanya mengeras, seolah sebuah bidak catur tiba-tiba bergerak ke posisi yang tak ia perhitungkan.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Yura turun dari mobil. Angin malam menyapu rambutnya, gaunnya berkibar ringan. Ia melangkah menuju pintu rumah tanpa menoleh lagi.
Sebelum pintu tertutup, Yura berhenti sejenak.
“Oh ya, Tuan Sky,” katanya tanpa berbalik.
“Terima kasih sudah mengantarku. Tapi mulai malam ini … sebaiknya kita jaga jarak.”
Pintu tertutup, Sky masih duduk di dalam mobil, menatap pintu rumah itu lama sekali. Perlahan, senyum tipis kembali muncul di wajahnya, bukan senyum ramah, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan permainan yang jauh lebih menarik dari rencana awalnya.
“Baiklah, Yura … atau siapa pun dirimu sebenarnya.”
Di balik pintu, Yura menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang. Senyum di wajahnya memudar, digantikan tatapan dingin dan penuh tekad.
“Tenang saja,” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Waktu Lartika muncul … aku orang pertama yang mengejar mu," gumam Sky dengan senyum di bibirnya.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂