Xuan Hao adalah putra Pangeran yang keberadaannya tidak diakui.
Wajahnya memang tampan, tapi dia pemalas dan suka minum, ditambah dia tidak tau apa-apa tentang beladiri, sastra, maupun strategi perang.
Benar-benar pemuda tidak berguna, tapi setelah tanpa sengaja tersambar petir dan mendapatkan berkah langit berupa Sistem, segalanya berubah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Pakaian
“Sebaiknya aku merahasiakan dari semua orang tentang kemampuanku yang bisa menggunakan kekuatan elemen,” ucap Xuan Hao lirih.
Ia berencana hanya menggunakan kemampuan itu dalam situasi terdesak. Selain itu ia tidak akan pernah menggunakannya.
Cepat mengambil keputusan, kini Xuan Hao akhirnya tiba di Paviliun Qingfeng, dimana kedatangannya langsung disambut oleh Mei Yun dan Lan Xi.
“Pangeran, ini adalah pakaian yang dikirim oleh Yang Mulia Pangeran Xuan Lei.” Mei Yun menunjukkan pakaian yang belum lama ini dikirim ke Paviliun Qingfeng.
“Sementara ini pakaian yang dikirim oleh Nyonya Shen Ruyue.” Lan Xin menunjukkan pakaian dengan warna mencolok yang sekali dilihat saja sudah membuat Xuan Hao sakit mata.
“Buang saja pakaian yang bisa merusak mata siapapun yang melihatnya!” ucap Xuan Hao pada Lan Xi.
“Baik, hamba akan membuangnya setelah dibakar,” balas Lan Xi bersemangat.
“Lalu untuk pakaian ini. Simpan saja di gudang untuk nanti disumbangkan jika sewaktu-waktu terjadi bencana!” perintah Xuan Hao, “bahkan pakaian seorang pengawal masih jauh lebih baik dari apa yang diberikan oleh seorang ayah pada putranya, disaat dia memiliki gudang penuh uang dan harta lainnya!”
Xuan Hao tersenyum~
Bukan senyuman lembut yang hangat, tetapi sebuah senyuman sinis yang ditujukan pada Pangeran Xuan Lie.
Setelahnya Xuan Hao membiarkan kedua pelayannya pergi, dan untuk pakaian yang akan digunakannya saat menghadiri pesta ulang tahun Ibu Suri, ia sudah memilikinya, tinggal memakainya di hari dia akan menghadiri pesta.
***
“Jin Quan, apa pakaian yang aku suruh antarkan ke Pangeran Ketiga sudah kamu antarkan sendiri ke Paviliun Qingfeng?” tanya Pangeran Xuan Lie.
“Yang Mulia, seharusnya pakaian itu sudah sampai di Paviliun Qingfeng,” jawab Jin Quan.
“Seharusnya?! Jin Quan, apa kau tidak mengantarkan pakaian itu langsung ke Paviliun Qingfeng?” tanya Pangeran Xuan Lie dengan nada suara meninggi.
“Mohon ampun Yang Mulia! Saat itu ada rombongan pelayan dari Paviliun Nyonya Shen Ruyue yang juga ingin mengantarkan pakaian untuk Pangeran Ketiga, jadi hamba menitipkan pakaian itu ke mereka~”
Brakk!!!
Pangeran Xuan Lie menggebrak meja. “Kau, cepat pergi ke tempat hukuman, terima 20 cambukan sebagai hukuman!”
Jin Quan yang sadar telah melakukan kesalahan, cepat ia pergi ke tempat hukuman untuk menerima 20 cambukan.
Menyesal?
Tentu saja Jin Quan tidak menyesal meski mendapatkan hukuman.
Baginya, orang seperti Xuan Hao tak pantas menerima perhatian Tuannya, dan dialah yang menukar pakaian untuk Xuan Hao dengan pakaian terburuk yang dimilikinya.
‘Cih, sampah sepertinya bahkan tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Tuanku!’ batin Jin Quan penuh kebencian pada Xuan Hao yang dianggapnya hanya mempermalukan istana Tuannya.
Sementara itu, Pangeran Xuan Lie yang telah dibuat marah oleh Jin Quan, ia yakin jika pakaian untuk Xuan Hao telah diganti oleh orang-orang yang tidak menyukainya.
Oleh karena itu, sore ini ia berencana datang sendiri ke Paviliun Qingfeng untuk menyerahkan pakaian baru pada putranya itu.
Tetapi sayangnya ia harus memenuhi panggilan Kaisar, dan baru kembali ke Paviliun Zhenlong saat malam hampir berganti pagi.
Dengan tubuh lelahnya, ia langsung tertidur, sepenuhnya melupakan keinginannya mengantarkan pakaian untuk Xuan Hao.
***
Di pagi hari bahkan saat embun pagi belum sepenuhnya menguap. Xuan Hao telah tiba di rumah pinggiran ibukota, memulai latihan seperti biasanya.
Bukan melatih dirinya sendiri, tapi ia melatih calon pasukannya yang dari hari ke hari menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan, baik para pria maupun para wanita dewasa.
Untuk yang masih anak-anak, Xuan Hao memfokuskan mereka belajar cara pengobatan dan membuat racun, dan perkembangan belajar mereka sudah sangat baik, dimana setengah dari kelompok anak-anak sudah bisa mengobati penyakit tingkat menengah dan luka yang memerlukan keahlian menjahit.
Setengahnya lagi, mereka sudah menjadi ahli racun tingkat menengah, bahkan ada yang sudah bisa menciptakan racun tingkat tinggi, sekaligus menciptakan penawarnya.
Mereka memang masih kecil, tapi kemampuan mereka sudah pada tahap bisa memusnahkan seluruh penduduk ibukota hanya dengan sebuah racun.
Keempat pelayan Xuan Hao juga tampak mengikuti pelatihan, dan mereka menjadi empat sosok yang sangat luar biasa, sedikit lebih unggul dari wanita lainnya.
Dengan dimulai lebih awal, latihan hari ini selesai lebih cepat dari hati biasanya, tapi Xuan Hao membiarkan mereka yang masih ingin terus berlatih, sementara untuk esok hari yang bertempat dengan pesta ulang tahun Ibu Suri, latihan ditiadakan, dan mereka semua bisa menikmati suasana pesta di ibukota.
Tidak lupa Xuan Hao menyerahkan uang saku yang cukup untuk semua, orang, dan begitu semua urusan selesai, ia pergi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih yang sudah tersedia di Paviliun Heifeng, rumah besar yang ada di pinggiran ibukota.
Setelah memastikan penampilannya rapi dan topeng perak sudah ia kenakan di wajahnya. Saat ini juga sosok Xuan Hao langsung pergi menuju Paviliun tempat tinggal Putri Agung.
Jarak yang ditempuh sedikit jauh, tapi dalam sekejap saja ia telah sampai di tempat tujuan, sebuah pohon besar yang berada di dekat taman bunga, tempat dimana ia bisa melihat dua sosok Putri sedang tertawa bersama, bahkan kini dua Putri itu tepat berada di bawahnya.
“Tawa kalian ini tidak mencerminkan tawa seorang Putri!” ucap Xuan Hao mengejutkan kedua Putri, membuat mereka waspada.
Tetapi begitu melihat Xuan Hao yang turun perlahan dari ketinggian, mereka tidak lagi waspada, yang ada mereka justru tersenyum menyambut kehadiran pria itu.
“Sepertinya penjagaan Paviliun ini perlu ditingkatkan,” ucap Putri Agung.
“Bagus kalau bisa ditingkatkan, tapi itu semua tidak akan pernah cukup untuk menghentikan aku bisa masuk ke tempat ini tanpa harus memberitahukan kedatanganku!” ungkap Xuan Hao percaya diri.
“Setelah sekian lama tidak bertemu, kamu benar-benar berubah, dan perubahan itu aku sadari saat malam itu kamu menyelamatkanku dalam perjalanan kembali ke ibukota,” ucap Putri Agung.
“Malam itu aku tidak menyamar dengan sangat baik. Wajar saja kalau Putri Agung langsung bisa, mengenaliku,” balas Xuan Hao.
“Jadi malam itu yang menyelamatkan kita adalah Pangeran Xuan Hao?” tanya Putri Yan Yueling.
Mendengar itu, Xuan Hao baru tau kalau malam itu di dalam kereta bukan hanya ada Putri Agung, tapi ada juga Putri Yan Yueling.
‘Benar-benar sebuah kebetulan!’ batin Xuan Hao.
“Iya, itu memang dia, dan aku bisa, mengenalinya dari sorot matanya!” ungkap Putri Agung, membuat Xuan Hao teringat apa yang dulu sering diucapkan wanita itu, dimana Putri Agung selalu mengatakan kalau ia menyukai matanya.
“Ternyata Putri Agung masih menyukai mata ini.” Xuan Hao tersenyum kecil.
Putri Agung ikut tersenyum, dan karena orang yang keduanya nantikan sudah tiba, jadilah mereka mulai mengobrol santai sambil menikmati teh dan kue manis yang disajikan pelayan baru Paviliun tempat tinggal Putri Agung.