Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi itu balai desa tidak seramai pasar, tapi cukup padat untuk membuat udara terasa pengap. Kursi-kursi plastik disusun seadanya. Beberapa warga berdiri di dekat pintu, sebagian lagi duduk bersandar di dinding bambu yang mulai kusam dimakan usia.
Alya datang sendiri. Ia mengenakan baju lengan panjang sederhana, celana panjang, dan topi caping yang ia lipat di tangan. Langkahnya tenang, tapi matanya waspada. Ia memilih duduk di barisan tengah, tidak di depan, tidak juga di belakang.
Tak lama kemudian, dua pria asing masuk. Kemeja mereka rapi, sepatu bersih, map cokelat tebal di tangan. Salah satunya berkacamata, wajahnya datar, senyumnya tipis tapi terukur. Kepala desa berdiri menyambut, berjabat tangan, lalu mempersilakan duduk di meja depan.
Bisik-bisik langsung menyebar.
“Wong kuto temenan.” “Paling soal tanah.” “Jarene ganti rugine gede…” (Orang kota beneran, paling soal tanah, katanya ganti ruginya besar.)
Bayu datang belakangan. Ia berdiri di dekat tiang, tidak langsung duduk. Pandangannya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada Alya. Mereka tidak saling menyapa. Tidak perlu.
Kepala desa berdehem. “Bapak-bapak, ibu-ibu. Kita mulai rapatnya.”
Suasana langsung tenang, tapi tegang, semua orang menanti kepastiannya.
“Seperti yang sudah terdengar,” lanjutnya, “akan ada pendataan ulang lahan di sepanjang jalur sawah dan ladang pinggir desa. Ini terkait rencana pelebaran jalan dan kerja sama investasi.”
Pria berkacamata berdiri. Suaranya tenang, terlatih. “Kami tidak datang untuk mengambil secara sepihak,” katanya. “Pendataan ini bertujuan mencatat lahan yang terdampak. Soal ganti rugi, nanti akan dibicarakan sesuai aturan.”
Beberapa warga mengangguk. Beberapa lainnya saling pandang. “Lahannya milik siapa?” tanya seorang bapak dari barisan depan.
“Kepemilikan dan pengelolaan akan dicatat,” jawab pria itu. “Termasuk lahan sewa.”
Kata sewa membuat Alya menegakkan punggungnya.
“Kalau kami cuma penggarap?” suara perempuan dari pojok ruangan terdengar. “Tanah bukan milik kami, tapi hidup kami dari situ.”
Pria itu tersenyum tipis. “Itu akan dipertimbangkan.”
Jawaban yang rapi, tapi tidak memberi kepastian.
Bayu menggeser posisi. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur. Ia tidak bicara, tapi wajahnya mengeras.
Kepala desa membuka peta besar, membentangkannya di meja. Garis merah ditarik melintang.
“Ini jalur pelebaran,” katanya. “Sebagian ladang cabai, sawah, dan tegalan kena.”
Beberapa warga langsung bersuara.
“Ladang saya di sini!” “Kalau sawah ini gimana?” “Panen kami belum!”
Alya berdiri. Suaranya tidak tinggi, tapi cukup jelas untuk membuat ruangan hening.
“Maaf, Pak,” katanya sambil menatap kepala desa lalu pria berkacamata. “Saya penggarap lahan sewa di jalur ini.”
Ia menunjuk garis merah di peta. “Saya tanam cabai. Sudah jalan beberapa bulan. Modal, tenaga, dan waktu sudah masuk.”
Pria berkacamata menatapnya. “Kami catat.”
Alya mengangguk. “Saya bukan menolak pendataan. Tapi saya ingin tahu, apakah ada waktu sampai panen? Atau kami harus berhenti di tengah jalan?”
Ruangan sunyi, seketika Itu bukan pertanyaan emosional. Itu pertanyaan tentang keberlangsungan hidup.
Pria itu saling pandang dengan rekannya. “Nanti akan dibahas lebih lanjut.”
Bayu maju satu langkah. “Pak,” katanya, suaranya rendah tapi tegas. “Pendataan itu bukan cuma angka. Wong-wong kene urip saka tanah iki.”
Beberapa warga mengangguk setuju. Pria berkacamata menatap Bayu lebih lama dari yang lain. Seolah menilai.
“Kami mengerti,” katanya. “Tapi pembangunan tetap berjalan.”
Kalimat itu jatuh berat. Rapat ditutup tanpa keputusan jelas. Hanya janji pendataan lanjutan, pengukuran ulang, dan pertemuan berikutnya.
Warga keluar satu per satu. Wajah-wajah yang tadi penuh tanya kini diganti resah. Di luar balai, Alya berdiri sebentar, menarik napas panjang. Bayu menghampiri, berhenti di sampingnya.
“Riko apik ngomong e,” katanya pelan.
Alya menggeleng. “Aku cuma bilang yang perlu.”
Bayu menatap ke arah balai desa. Dua mobil itu masih terparkir. “Wong-wong iku ora bakal gampang mundur.”
Alya mengangguk. “Aku juga nggak.”
Bayu menoleh padanya. Untuk pertama kalinya sejak lama, tatapannya tidak ragu.
“Yen ngono,” ucapnya, “kita kudu siap.”
Alya menatap ladang di kejauhan, tempat cabai-cabai itu tumbuh tanpa tahu apa yang sedang dipertaruhkan.
“Iya,” jawabnya pelan. “Bukan buat ribut. Tapi buat bertahan.”
Di atas tanah yang mulai dipetakan ulang, dua orang berdiri dengan kesadaran yang sama: pertarungan ini bukan soal menang cepat, tapi soal siapa yang mau tetap berdiri paling akhir.
☘️☘️☘️☘️☘️
Orang-orang bubar pelan. Tidak ada yang benar-benar pulang dengan ringan. Beberapa berdiri berkelompok di halaman balai desa, berbicara setengah berbisik, setengah kesal. Ada yang menghitung-hitung di udara, ada yang mengeluh tanpa suara, ada pula yang memilih diam sambil merokok, menatap tanah seperti sedang kehilangan sesuatu yang belum sepenuhnya diambil.
Alya berjalan menjauh dari balai desa dengan langkah terukur. Capingnya kini sudah ia kenakan, menahan panas matahari yang mulai meninggi. Di sepanjang jalan tanah, ia mendengar potongan-potongan percakapan.
“Kalau ganti ruginya kecil gimana?” “Panen belum balik modal…” “Anakku sekolah dari sawah itu.”
Ia tidak menoleh. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia tahu, semua orang sedang menimbang luka masing-masing.
Sampai di ladang cabainya, Alya berhenti. Ia berdiri di tepi galengan, memandangi barisan tanaman yang mulai rimbun. Bunga-bunga kecil putih tampak di sela daun. Tanda hidup. Tanda janji.
Tangannya mengepal perlahan. “Belum,” gumamnya. “Belum selesai.”
Di kejauhan, Bayu terlihat datang menyusuri pematang. Kali ini ia tidak berhenti di batas sawahnya sendiri. Ia melangkah sampai dekat ladang Alya, berdiri tanpa bicara.
“Wong-wong iku bakal bali,” katanya akhirnya.
Alya mengangguk. “Iya. Dengan meteran, bukan cuma peta.”
Bayu menatap tanah. “Isun wis tau ngalami kang gedigi” (Aku pernah mengalami hal seperti ini.)
Alya menoleh cepat. “Di Jakarta?”
Bayu mengangguk pelan. “Tanah diukur. Omah diratakan. Wong cilik mung iso nonton.”
Nada suaranya datar, tapi Alya bisa merasakan bekasnya masih ada. “Kamu takut?” tanya Alya, jujur.
Bayu diam cukup lama. Lalu menggeleng pelan. “Osing, tapi isun emong meneng maneh.” (Tidak. Tapi aku tidak mau diam lagi.)
Itu bukan janji manis. Itu keputusan. Angin sore berembus, menggerakkan daun cabai hingga saling bergesek pelan. Suara kecil, tapi hidup.
“Aku nggak tahu akhirnya gimana,” ucap Alya. “Bisa jadi aku harus pindah. Bisa jadi aku mulai dari nol lagi.”
Bayu menatapnya. “Tapi riko seng balik dadi wong kang padha.” (Tapi kamu tidak kembali menjadi orang yang sama.)
Alya tersenyum tipis. “Iya. Itu bedanya sekarang.”
Mereka berdiri berdampingan, tidak saling menyentuh, tapi tidak lagi berjarak seperti kemarin-kemarin. Di antara mereka ada tanah, ada tanaman, ada risiko.
Menjelang petang, suara adzan magrib terdengar dari mushala desa. Satu per satu warga mulai kembali ke rumah. Bayu melangkah mundur.
“Isun bali disik,” katanya.
Alya mengangguk. “Hati-hati.”
Bayu berhenti sejenak, menoleh. “Al… apa wae sing kelakon, isun bakal ngomong. Ora mlayu.” (Apa pun yang terjadi, aku akan bicara. Tidak lari.)
Alya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, tapi kali ini anggukannya mantap.
Saat Bayu pergi, Alya tetap berdiri di ladang. Senja turun pelan, mewarnai langit jingga keabu-abuan. Bayangan tanaman memanjang, seperti garis-garis waktu yang belum selesai ditarik.
Tanah ini mungkin akan dipetakan ulang. Jalan mungkin akan melebar. Hidup mungkin akan berubah arah.
Tapi satu hal sudah jelas bagi Alya , ia tidak lagi menanam hanya untuk bertahan hidup, melainkan untuk mempertahankan haknya berdiri. Dan di desa kecil yang mulai diperebutkan ini, setiap pilihan akan segera menuntut keberanian yang nyata.
Bersambung… 🌱
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong