NovelToon NovelToon
Diam-diam Cinta

Diam-diam Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Office Romance / Romansa / Komedi
Popularitas:21.1k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.

"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.

“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.

“Eh -- "

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Sebelas dan dua belas

Bab 24

Bibir Asoka mengulas senyum sambil bersedekap memandang Lisa memastikan obatnya diminum. Yuli juga berada di kamar itu setelah tadi mengganti air hangat untuk kompresan.

“Udah,” lirih Lisa.

“Mau makan sesuatu?”

Lisa menggeleng. Demi apa Yuli bahkan ternganga dan iri melihat telatennya sang dokter mengurus pasien yang juga kekasihnya itu. Menepuk pelan bantal dan membantu Lisa berbaring.

“Anj4y, udah kayak pasien apa aja Lis. Lo sakit apa aji mumpung.”

Yuli terkekeh lalu meletakan baskom air hangat di atas nakas, merendam waslap ke air hangat lalu merem4snya.

“Kompres dulu ya Sa, badan kamu panas loh.”

Asoka menarik selimut menutupi sampai melewati dad4 dan Lisa memejamkan mata mengeluh kepalanya masih berat.

“Padahal jangan dikompres kasih formalin aja Yul, biar awet sakitnya.” Entah ada masalah apa, Rama mengoceh begitu.

“Sinting,” gumam Lisa pesan meski matanya masih terpejam. Asoka seakan kebal dengan celoteh dan ejekan dari mulut pria yang juga sepupu dari kekasihnya itu.

“Semakin lama sakit lo, makin lama pula diunyeng-unyeng dokter Oka.”

“Ampun Rama.” Yuli mengambil bantal yang tidak terpakai lalu mengejar Rama dan memukulkan berkali-kali.

“Kanu istirahat, aku di luar ya. Butuh sesuatu panggil aku.”

Lisa mengangguk pelan.

“Apa mau aku temani di sini.”

“Bang Beni, dokter Oka nakal nih,” ujar Lisa lirih. Asoka terkekeh lalu beranjak dari tepi ranjang. Mengusap pelan kepala Lisa.

“Sehat ya, sayang.”

Hanya menutup setengah pintu kamar itu, mencari keberadaan Yuli yang masih sibuk membalas Rama. Beni sudah mirip bapak kosan yang mengoceh menasehati keduanya.

“Masuk kamar kau, Yuli. Lama-lama si Rama aku suruh ngontrak aja kalau begini terus. Mana Lisa bisa istirahat dan cepat sembuh, kalau kalean berisik kayak pasar malam.”

“Yul, titip Lisa ya. Ada apa-apa, panggil saya.”

“Oh, beres dok,” sahut Yuli .”Awas kamu,” ancamnya pada Rama.

“Kayak koper aja dok, pake dititip segala.”

“Sudah Ram, masuk kamar kau. Tidurlah, biar tenang rumah ini. Besok aku minta Ujang panggil kyai untuk ruqyah kamu.

Lewat tengah malam, Asoka terjaga. Meninggalkan kamarnya mendapati Rama tertidur di karpet depan TV dengan bantal dan kain sarung bahkan lengkap dengan jaket tebalnya.

Menatap pintu kamar perempuan, cukup lama. Ingin mengetuk untuk memastikan kondisi Lisa, tapi urung khawatir malah mengganggu.

“Aman dok, belum lama dia bangun ke toilet. Katanya udah keringetan, sakit kepalanya juga agak mendingan.”

Asoka berdeham dan hela nafas lega, menuju belakang untuk ke toilet.

“Kamu tidur di sini?” tanya Asoka sudah berada di ruang tengah.

“Iya, takut Lisa butuh apa, tapi nggak enak sama Yuli.”

“Oke. Jangan sungkan bangunkan saya.”

“Heem. Brrr.” Rama menggigil kedinginan.

***

Sudah merasa lebih baik meski suhu tubuh masih agak hangat dan sedikit pening, tapi Asoka melarang Lisa ke puskes. Tubuh yang belum fit berinteraksi dengan pasien memungkinkan dirinya terjangkit penyakit lain karena imun yang lemah.

Rama mendukung keputusan dokter Oka. Alhasil Lisa ditinggal sendirian. Bukan Asoka kalau tidak mengistimewakan Lisa dengan gamblang menganggap dunia milik berdua mengindahkan anggota tim yang lain setelah mengakui dan menyatakan perasaannya. Kembali pulang menggunakan motor Beni membawa sarapan serta sekantong plastik makanan untuk menemaninya istirahat.

“Jus dan yogurt diminum. Itu buahnya juga jangan dianggurin. Kalau mau yang agak berat ada roti dan kurma.”

“Hm, makasih ya dok. Uang aku kayaknya awet deh.” Lisa terkekeh meski tubuhnya masih lemas.

Asoka tersenyum, tangannya terulur untuk menyentuh pipi.

“Jangan sering-sering ya, nanti aku ngelunjak. Pengennya ditanggung terus.”

“Nggak pa-pa, aku lagi belajar menafkahi kamu.”

“Ish, gombal banget.”

Asoka lalu terkekeh geli karena Lisa malah cemberut. “Aku balik ke puskes. Pintu aku kunci dari luar, kata Yuli kamu pegang yang satunya.”

Lisa mengangguk dan menunjuk ke atas nakas.

“Hubungi aku atau Rama kalau butuh sesuatu,” ujar Asoka lagi dan sudah beranjak pelan.

“Iya. Ingat ada yang sakit di sini. Nggak usah ngurusin Marina, fokus aja sama tesis dan pasien.”

“Kamu juga pasien aku, lebih dari pasien vvip.”

“Udah sana, kelamaan nanti ada set4n malah macam-macam.”

Sedang di puskes, Yuli sudah kedatangan pasien darurat. Ibu yang akan melahirkan. Rama yang mendorong kursi roda dari IGD ke gedung yang ada di belakang untuk tindakan melahirkan, tidak jauh dari kamar perawatan.

“Yul, gue tinggal ya. Di depan gak ada yang orang, Lisa ‘kan masih di rumah. Sawan habis jadian.”

Yuli tertawa pelan mengambil alih kursi roda. “Iya, aman-lah.”

“Dok, istri saya gimana?” tanya pria yang mendampingi pasien, sepertinya suami dari pasien.

“Kita bawa ke dalam, diperiksa dulu sudah pembukaan berapa.” Yuli mengernyit, wajah pria itu tidak asing. Namun, tidak merasa kenal.

Pasien kali ini agak merepotkan, bukan si pasiennya tapi sang suami. Yang banyak tanya dan bicara. Padahal Yuli sedang fokus melakukan pemeriksaan dal4m.

“Dok, itu mau ngapain, kenapa harus disitu?”

Bukan hanya Yuli yang ada di ruang tindakan, ada dua orang bidan magang.

“Saya mau periksa istrinya akang dan memang disini. Tempat keluar bayinya di sini, situ mainnya di sini ‘kan? Masa saya periksa telinga si tetehnya dan saya bukan dokter, tapi bidan.”

Kedua bidan magang sampai menahan tawa.

“Rileks ya teh,” ujar Yuli memeriksa dan menganalisa sesuai ilmu dan pengalaman. “Wah, bagus ini. Sudah pembukaan 7, kita tunggu bentar lagi ya.” Agak miris pikir Yuli, karena pasangan ini terlihat begitu muda. Sang suami mungkin berumur 20-an, tapi si istri seperti anak SMA.

“Masih lama?”

“Tergantung pembukaannya ya, harus sabar dan jangan buat istrinya panik.” Yuli berpindah ke samping ranjang setelah melepas sarung tangannya. “Teh, tenang ya. hemat tenaganya untuk melahirkan, kalau sekarang sakit jangan berteriak apalagi menangis. Nanti capek.” Menepuk pelan bahu wanita yang akan menjadi ibu muda.

Tidak sampai dua jam, akhirnya pasien berhasil melahirkan bayinya. Meski ada drama si suami bukan mendampingi istrinya malah banyak tanya pada Lisa. Sungguh sangat tidak membantu apalagi menyemangati istrinya. Berkali-kali kedapatan memandang dirinya, sakit jiwa pikir Yuli.

“Laki-laki, panjang --, berat --. Semuanya normal ya, silahkan diadzankan.” Yuli menyerahkan bayi yang dia gendong ke dalam pelukan ayahnya.

“Harus sama saya ya?”

“Mau saya panggilkan tukang bakso di depan atau tukang siomay untuk wakili mengadzankan?”

“Atuh jangan, nggak keren dong.”

“Dasar pe4,” gumam Yuli lirih. Selesai diadzankan, Yuli kembali mengambil bayi itu dan diletakan di atas dad4 ibunya. Membangun bonding antara ibu dan bayi juga memberi kehangatan. Yuli tersenyum dengan hati menghangat setiap ia berhasil membantu persalinan.

“Dang, Kumaha? Tos lahir?” (Dang, Gimana? Sudah lahir?)

Yuli menoleh ke arah pintu, raut wajahnya langsung berubah mendapati Cecep yang datang.

“Sudah, tuh bayinya.”

Cecep menghampiri ranjang mengusap kepala bayi itu.

“Cucu saya ini. Makasih ya teh Yuli, sudah membantu kelahiran cucu saya.”

“Namanya Yuli, ibu bidan namanya Yuli. Saya Dadang anak Pak Kades.”

Yuli memandang bergantian Cecep dan Dadang yang mengulurkan tangan mengajak berkenalan dengan tatapan sang pemangsa.

“Sebelas dua belas,” gumam Yuli.

1
Shee_👚
Alhamdulillah asoka denger langsung, jadi bisa lebih waspada lagi ngadepin marimas sama si encep
Shee_👚
lah orang yang sakit mau berobat suruh nungguin dulu gitu sampai berhari-hari, keburu meninggoy donk😌
jangan-jangan si marimas mah dulu lulus dokternya cuma modal ngang kang kali🤔
Shee_👚
dikira nginep g pake dana, kalau situ mau bayarin lah kalau ngambil daru uang kas percuma, mending buat ngedanain kemajuan kesehatan berguna buat banyak orang dari pada buat nyenengin marimas doank🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sepertinya Dok Oka harus lebih ketat lg dalam menjaga Lisa, ayo Dok sekalian kasih tahu Rama dan yg lain nya, supaya kalian bisa saling menjaga..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Otaknya si Marimar ketinggalan di sel4ngk4ng4n kali ya🙄
Felycia R. Fernandez
kenapa gak di rekam sih mereka ngomongnya
juwita
harusnya ada yg dengar apa yg mrk bicarakan
juwita
bener yul utung km pintar🤣🤣🤣
juwita
anak jeung Bpk saruana mata i***lan🤣🤣🤣
Kas Mi
cpe y pk beni..ank2 pda nakal😄😇🤭
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
pelacur Marinasi mau sama perjaka ting2,NGACA dong orng waras mana yg mau sama bekas WC umum 🙄🥴
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
w jdi makin ragu si Marinasi ini dokter apa ani2 sih jgn2 dokter gadungan jgn mau atuh di periksa smaa dia yg ada bukanya sembuh malah mati secara kek nya si Marinasi ini ngk tau ilmu kedokteran,😭
juwita: sekolah kedokteran tp cm smpe di pintu gerbang dia🤣🤣🤣
total 2 replies
Ariany Sudjana
Marina kamu bego apa? kok usulkan puskesmas tutup, karena mau gathering? niat banget sih ingin dekat sama dokter Asoka, dasar pelacur murahan kamu yah 🤭🤭 kalau puskes tutup, terus ada kejadian emergency, pasien mau ke mana? mikir dong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Moga cucunya si Encep gak ngikutin jejak kakek sama bapaknya yg Buaya🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Malah ikutan nyanyi sama si Rama/Facepalm/
Iccha Risa
dasar kau buaya buntung emang kudu di beri tuh bapak ma anak genit....
Felycia R. Fernandez
kurang asem 🤣🤣🤣🤣
Rama Cs jadi tamengnya
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun Asoka 🤣🤣🤣
hiro_yoshi74
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 yuli di lawan 🤭🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!