NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECEMBURUAN ADIVA

"Oke, semuanya! Pasang telinga baik-baik. Kalau Alif ketemu Jabar bunyinya 'A', bukan 'Ayam'! Paham?!"

Nayla berdiri di depan belasan anak jalanan dengan penggaris kayu panjang di tangannya, bergaya persis seperti komandan perang yang sedang memberikan pengarahan taktis. Di depannya, anak-anak itu duduk bersila dengan tertib, meski beberapa dari mereka menahan tawa melihat gaya Nayla yang mengenakan hijab instan namun ditali ke belakang agar lebih "aerodinamis".

"Siap, Myma!" jawab anak-anak itu serempak.

"Bagus. Ingat ya, ngaji itu penting supaya hati adem. Tapi kalau ada preman mau malak, hati nggak boleh cuma adem, tangan harus gerak! Sekarang, simpan bukunya. Waktunya latihan teknik 'Pecah Ginjal' ala Nayla Safira!" seru Nayla sambil melempar penggarisnya ke atas meja kayu.

Suasana di halaman Rumah Singgah Myma langsung berubah riuh. Nayla mulai memperagakan gerakan silat dasar dengan lincah. "Lihat kaki saya. Kalau musuh maju, kalian jangan mundur cantik kayak Syahrini, tapi geser samping, tangkap tangannya, terus jeglek! Paham?!"

Adnan yang baru saja sampai di lokasi untuk memantau, hanya bisa berdiri di balik pilar sambil menepuk keningnya. Ia melihat istrinya sedang mengajarkan teknik bantingan pada anak berumur tujuh tahun. "Itu rumah singgah, Nayla, bukan kamp pelatihan tentara bayaran," gumam Adnan pelan, meski ada senyum tipis yang ia sembunyikan. Setelah dilihat semua aman Adnan langsung kembali ke kantornya.

Namun, di sudut lain, suasana tidak seceria itu. Adiva duduk di bangku taman dengan wajah cemberut sedalam patung Mariana. Matanya menatap tajam ke arah Nayla yang sedang asyik memuji seorang anak laki-laki bernama Bintang. Bintang adalah anak pemulung yang paling pintar, ia sangat cepat menghafal huruf hijaiyah dan kini sedang diajari Nayla teknik tangkisan yang lebih rumit.

"Wah, Bintang! Kamu keren banget! Tangannya kuat, otaknya juga encer. Fix, kamu jadi asisten Myma di sini!" puji Nayla sambil mengacak rambut Bintang dengan gemas.

Adiva mendengus keras. Ia meremas boneka kelincinya sampai kuping si boneka melintir. Rasa cemburu membakar dadanya. Sejak kapan Myma punya asisten selain dirinya? Dan kenapa asistennya harus laki-laki yang pintar ngaji itu?

"Myma..." panggil Adiva kecil, suaranya tenggelam di antara teriakan semangat anak-anak lain.

Nayla tidak mendengar. Ia sedang asyik tertawa karena Bintang berhasil menjatuhkan samsak kecil yang dibuat dari tumpukan baju bekas. Merasa diabaikan, Adiva berdiri dengan mata berkaca-kaca. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, ia berjalan menjauh dari kerumunan.

"Myma jahat. Myma sayang Bintang. Diva benci Myma!" gumam Adiva sambil terus berjalan menuju gerbang depan.

Kebetulan yang sangat buruk terjadi. Para penjaga rumah singgah sedang berada di area belakang untuk menurunkan logistik makanan yang baru datang. Gerbang besar itu sedikit terbuka. Di luar sana, sebuah mobil van hitam bermesin gelap sudah terparkir sejak satu jam lalu. tiga pria dengan masker hitam telah mengintai pergerakan rumah singgah sejak peresmian kemarin.

Begitu sosok Adiva muncul di ambang gerbang, salah satu pria itu turun dengan cepat. Tanpa suara, ia menyergap Adiva, membekap mulut bocah itu, dan melemparkannya ke dalam mobil.

"Mphhh! Mphhh!"

Mobil van itu menderu, bannya berdecit di atas aspal saat mereka memacu kendaraan menjauhi lokasi.

Nayla, yang secara tidak sengaja menoleh ke arah gerbang untuk mencari keberadaan suaminya, tiba-tiba matanya menangkap kilasan pita merah milik Adiva di balik pintu van yang tertutup kasar. Jantung Nayla seolah merosot ke perut.

"DIVA!!!" teriak Nayla histeris.

Tanpa pikir panjang, Nayla berlari menuju parkiran samping. Ia melompat ke atas motor sport hitamnya tanpa menggunakan helm. Mesin 250cc itu meraung kencang, membelah keheningan rumah singgah.

"Heh, Neng Nayla! Mau ke mana?!" teriak seorang guru relawan kaget.

"HUBUNGI ADNAN! DIVA DICULIK MOBIL VAN HITAM! SAYA KEJAR MEREKA!" teriak Nayla sambil melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan debu yang membubung tinggi.

Sementara itu, di kantor pusat Hasyim Group, Adnan sedang memimpin rapat dewan direksi saat ponsel pribadinya bergetar hebat. Ia melihat nama "Guru Relawan Rumah Singgah" di layar. Perasaannya mendadak tidak enak.

"Maaf, saya harus angkat ini," ucap Adnan dingin pada para kolega.

"Halo? Ada apa?"

"Pak Adnan! Celaka, Pak! Non Adiva diculik mobil van hitam di depan gerbang! Sekarang Mbak Nayla sedang mengejar mereka sendirian pakai motor sport-nya!"

Adnan berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terjungkal ke belakang. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah karena amarah yang meledak-ledak. "APA?! Bagaimana bisa penjaga kecolongan?!"

"T-tadi mereka sedang di belakang, Pak..."

"Diam! Kirim koordinat GPS motor Nayla sekarang ke tim keamanan saya! Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak dan istri saya, kalian semua habis!" bentak Adnan.

Ia segera berlari keluar ruangan, mengabaikan tatapan bingung para pemegang saham. "Dion! Siapkan unit keamanan satu dan dua! Hubungi kepolisian pusat, minta tutup akses jalan tol arah keluar kota! Ada tikus yang berani menyentuh putriku!"

Di jalanan raya, aksi kejar-kejaran bak film aksi sedang berlangsung. Nayla memacu motornya hingga kecepatan 120 km/jam, meliuk-liuk di antara kemacetan sore hari Jakarta. Hijabnya berkibar liar tertiup angin kencang, namun matanya tetap fokus pada plat nomor van hitam di depannya.

"Beraninya lo sentuh Diva! Gue patahin tulang lo satu-satu kalau sampai ada luka di badannya!" teriak Nayla di balik deru angin.

Mobil van itu mencoba melakukan manuver berbahaya, menyerempet beberapa mobil lain agar Nayla terjepit. Namun, Nayla bukan pengendara amatir. Ia menggunakan trotoar dan celah sempit di antara bus untuk terus menempel.

Di dalam mobil, para penculik mulai panik. "Bos, cewek jilbab itu nggak lepas-lepas! Dia gila, nyetirnya kayak setan!"

"Tabrak saja! Jatuhkan dia!" perintah sang pemimpin.

Mobil van itu mendadak mengerem, membuat ban belakangnya terangkat sedikit. Nayla yang kaget refleks menarik rem depan hingga motornya melakukan stoppie (roda belakang terangkat). Dengan ketangkasan luar biasa, ia menyeimbangkan motornya kembali sebelum terjatuh.

"Ooh, mau main kasar ya? Oke, ayo gue jabanin!" Nayla menarik gas lebih dalam.

Nayla melihat sebuah celah di depan. Ia mempercepat motornya, melaju sejajar dengan pintu kemudi van. Dengan satu tangan tetap di setir, ia merogoh saku jaketnya, mengambil kunci gembok besar yang biasa ia bawa untuk keamanan motor, dan menghantamkannya ke kaca jendela pengemudi.

PRANGGG!

Kaca pecah berantakan. Si pengemudi berteriak kesakitan karena serpihan kaca mengenai matanya. Mobil van itu mulai oleng, menabrak pembatas jalan dan akhirnya berhenti setelah menghantam deretan tong sampah besar di pinggir jalan tol yang sepi.

Nayla mengerem motornya dengan kasar hingga ban belakangnya berdecit panjang. Ia melompat turun bahkan sebelum motornya benar-benar berhenti sempurna.

"KELUAR LO SEMUA! BALIKIN ANAK GUE!" teriak Nayla sambil mencabut kunci motornya dan menjadikannya senjata darurat di sela jari-jarinya.

Pintu belakang van terbuka. Dua pria bertubuh kekar keluar dengan pisau lipat di tangan. Mereka tampak geram karena rencana mereka berantakan oleh seorang remaja perempuan.

"Cewek sialan! Lo cari mati ya?!"

Nayla memasang kuda-kuda rendah, matanya berkilat penuh amarah yang murni. "Darah saya memang lagi naik karena flu kemarin, tapi buat hajar kalian, sisa tenaga saya masih lebih dari cukup!"

Tepat saat itu, raungan sirine dan deru helikopter terdengar dari kejauhan. Lima mobil SUV hitam dengan logo Hasyim Group mengerem mendadak di belakang motor Nayla. Adnan melompat keluar dari mobil pertama, memegang pistol di tangannya dengan tatapan yang sanggup membunuh siapa pun yang melihatnya.

"Jangan bergerak! Atau saya pastikan peluru ini menembus kepala kalian sebelum kalian sempat berkedip!" suara Adnan menggelegar, bergetar karena emosi yang meluap.

Nayla menoleh, napasnya tersengal. "Lama banget sih, Pak Es! Keburu saya banting semua ini orang!"

Adnan tidak menjawab. Ia segera berlari ke arah van, membuka pintunya, dan menarik Adiva yang gemetar ketakutan ke dalam pelukannya. "Diva... Papa di sini, Nak. Papa di sini."

Adiva menangis histeris, namun tangannya menggapai-gapai ke arah Nayla. "Myma... Diva takut... Myma..."

Adnan membawa Adiva ke pelukan Nayla. Nayla langsung memeluk bocah itu erat-erat, mencium kening dan pipinya berkali-kali. "Maafin Myma ya, Sayang. Myma tadi nggak dengar Diva panggil. Janji deh, Myma nggak bakal cuekin Diva lagi."

Adnan berdiri di samping mereka, menatap kedua wanitanya dengan napas yang mulai teratur. Ia menoleh ke arah para penculik yang sudah diringkus oleh tim keamanannya.

"Bawa mereka ke gudang. Jangan ke kantor polisi dulu. Saya sendiri yang akan menginterogasi mereka," perintah Adnan dingin.

Ia kemudian berbalik menatap Nayla. Kemarahannya kembali muncul melihat istrinya tidak memakai helm dan pakaiannya compang-camping karena aksi pengejaran tadi.

"Kamu..." Adnan menunjuk Nayla dengan jarinya. "Apa kamu tidak punya otak? Bagaimana kalau mereka punya senjata api? Bagaimana kalau kamu jatuh dari motor?"

Nayla mendongak, menyeringai tengil di tengah sisa kepanikannya. "Tenang, Hubby. Saya kan punya nyawa sembilan. Lagian, saya nggak bisa diam saja kalau ada yang ganggu 'anak' saya. Bapak sendiri juga keren kok, bawa pasukan kayak mau perang dunia."

Adnan menarik napas panjang, lalu tanpa aba-aba, ia menarik Nayla dan Adiva ke dalam satu pelukan besar. "Jangan pernah lakukan itu lagi, Nayla. Jangan pernah membuat jantungku hampir berhenti berdetak."

Nayla tertegun. Ia bisa merasakan detak jantung Adnan yang sangat kencang di balik jas mahalnya. Untuk pertama kalinya, Nayla menyadari bahwa "Es Balok" ini benar-benar takut kehilangannya.

"Iya, Pak Es. Tapi sekarang bisa nggak kita pulang? Saya laper banget, habis balapan tadi serasa lari maraton sepuluh kilo," celetuk Nayla, merusak suasana haru dengan perutnya yang tiba-tiba berbunyi nyaring.

Adnan melepaskan pelukannya, mendengus geli sambil mengacak jilbab Nayla yang sudah berantakan. "Ayo pulang. Dan motor ini... akan saya kunci di gudang selama sebulan!"

"LHO! NGGAK BISA GITU DONG, PAK!"

1
Ayu
Lg seru2 nya tunggu update lg ya thor💪🙏
Tasmiyati Yati
penguntit tiap hari memang gak ada kerjaan
Tasmiyati Yati
memang tadi Farah tidak ikut sekoalh
Tasmiyati Yati
kalau pakai dalaman lejing copot saja rok plis Ket nya biar gampang nyerang preman
Mineaa
waaahhh lope lope sekebon Nayla.......
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥
Tasmiyati Yati
masih susah banget sih
Tasmiyati Yati
maaf kak author dari tadi gak bisa like gagal terus
Tasmiyati Yati
sak karepmu lah gagal terus bikin esmosi😡
Tasmiyati Yati
ini jaringan lagi main kemana sih kok susah banget sinyal nya
Tasmiyati Yati
kemana adiva jarang nongol biar tambah seru
Tasmiyati Yati
mulai suka tuh si bos
Sunaryati
Makin tersepona kan, Byby
Tasmiyati Yati
baru beberapa hari jadi istri sdh mulai luluh
Tasmiyati Yati
nanti jadi bucin malu sendiri Adnan
Tasmiyati Yati
happy banget aku baca novel ini semoga di akhir tidak mengecewakan
Tasmiyati Yati
ya karena adiva baru pertama melihat orang cerewet tapi lucu ya diva
Tasmiyati Yati
senang kalau baca novel ada komedinya
Tasmiyati Yati
kenapa gagal melulu kasih komentar
Tasmiyati Yati
mampir baca semoga jadi fans kak
Cintya Tya
lanjut thor... 👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!