NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batal Tunangan

Di hotel)

Di ruang persiapan, Elvan dan Miranda datang. Miranda langsung menghampiri dan memeluk Hanin penuh suka cita. Elvan begitu mendengar kabar dari Awan tentang Hanin telah kembali langsung meluncur ke hotel tersebut.

Elvan melihat Awan berdiri di luar terlihat gelisah, ia ingin menemuinya kembali, tapi anak itu sudah tidak ada. Mungkin sudah berada di ruang acara.

“Awan bilang anak buah papanya sudah berhasil menyelamatkanmu. Mendengar itu mama dan papa langsung kembali.”

Hanin tertegun. Awan bercerita seperti itu kepada kedua orang tuanya. Apakah ingin mencari simpati Miranda dan Elvan? Jelas penculik itu adalah Satya, tapi Hanin tak berani menceritakannya. Hanin terpaksa mengiyakan cerita itu.

“Sekarang aku ingin bertemu dengan kedua orang tua Awan, sekaligus ingin berterima kasih padanya,” ucap Elvan.

“Kalau begitu kita ke ruang acara saja, mungkin mereka sudah menunggu kita,” kata Miranda.

Begitu meninggalkan ruang persiapan, langkah mereka terhenti. Awan dan kedua orang tuanya sudah berdiri di depan pintu. Elvan terkejut melihat pria yang berdiri di samping Awan. Dia berjalan maju satu langkah mendekat.

“Jadi pria ini ayahmu?” tanya Elvan meyakinkan dengan pandangan tak percaya.

“Benar, Om,” jawab Awan jujur.

“Pantas saja anaknya menjadi seorang Playboy, ternyata memang menuruni bakat ayahnya.”

“Apa maksudmu berbicara seperti itu, ha?” tak terima dengan kata-kata itu, Louis maju membalas. Dalam sekejap dua pria itu sudah saling dorong dan saling menghina.

“Stop, Pah!” teriak Awan menghentikan tingkah tak pantas dua pria dewasa di hadapannya dengan kesal.

Elvan dan Louis berhenti, Miranda dan Karlina menarik suami mereka masing-masing menjauh.

“Kalian ini kenapa tiba-tiba bertingkah seperti anak kecil? Kalian sebenarnya sudah saling kenal? Kalian bermusuhan?” tebak Awan.

“Ada apa ini, Pah?” tanya Hanin pada Elvan, cemas.

“Tidak apa-apa, ini masalah pribadi papa dan pria itu.” Elvan menenangkan, tapi suasana yang sudah diawali dengan permusuhan masa lalu itu berubah menjadi canggung.

“Sebenarnya kalian ada masa lalu apa? Mama tidak pernah dengar, Louis bisa kau jelaskan?” Karlina bertanya pada suaminya.

“Tidak apa-apa, hanya masalah saat kami muda.”

“Tapi jika tidak diselesaikan dari sekarang ini tidak akan baik untuk ke depannya. Dia sebentar lagi menjadi besan kita,” kata Karlina.

“Aku bahkan tidak yakin akan melanjutkannya.” Elvan menyela

“Apa maksud, Papa?” tanya Hanin.

“Papa tidak mau menjalin keluarga dengan pria angkuh itu. Kelak kita hanya akan diinjak-injak olehnya.”

“Aku tahu kau masih membenciku, Elvan. Namun, itu sudah menjadi masa lalu. Kau memiliki putri yang cantik dan baik, sayang sekali jika harus berakhir karena permusuhan lama kita. Aku sudah setuju dia bertunangan dengan putraku.”

“Apa kau serius tidak memiliki tujuan lain?” Elvan masih meragukannya.

“Ayolah, Elvan. Apa kau tidak malu di depan anak-anak masih memiliki dendam padaku, lagi pula dulu itu aku cuma menghinamu dengan kata-kata, tidak sampai merundungmu.”

“Kau bisa berbicara seperti itu karena kau tidak merasakan rasanya dihina, dan aku tidak mau putriku mengalami hal yang sama di rumahmu nanti.” Elvan masih kekeh.

“Jadi bagaimana ini mau dilanjutkan atau tidak?” Karlina mulai tidak sabar.

Saat itu datang manajer Gian menyela, dia tampak ragu-ragu saat melihat situasi tegang itu.

“Ada apa, Gian?” tanya Elvan.

“Di depan semuanya sudah siap, Pak. Mereka sudah menunggu acara dimulai,” jawab Gian.

Louis berjalan menghampiri Elvan yang masih marah. Awan melihat sikap dua pria itu rasanya ingin tertawa.

“Sudah tua masih saja berantem dan bermusuhan, kalian seharusnya ingat umur,” celetuk Awan kesal.

Elvan menoleh pada Hanin, memandangi putrinya dia tidak tega jika harus membuatnya malu dengan pertunangan yang gagal dua kali. Kali ini dia harus berusaha menekan egonya.

“Baiklah, kita akan tetap lanjutkan acara hari ini.”

Louis mengulurkan tangannya sembari meminta maaf, Elvan menyambutnya menerima permintaan maaf Louis dan mereka berakhir berpelukan.

Awan merasa senang dengan situasi itu, tapi dia masih terlihat tegang. Dia melihat semuanya sudah berjalan menuju tempat acara. Mereka berjalan di koridor. Sementara Awan masih terlihat gelisah.

“Pah, aku rasa acara hari ini tidak perlu dilanjutkan.” Ucapan Awan mengejutkan semuanya.

Ke enam orang di hadapannya secara bersamaan menghentikan langkah menoleh ke arahnya. Semua bertanya-tanya.

“Apa maksudmu, Awan?” Louis tentu saja yang paling berani maju untuk meminta penjelasan putranya.

Sebelum memberikan jawabannya, Awan memandang ke arah Hanin antara bahagia juga sedih. Dia tertunduk beberapa saat seakan ada beban berat yang sedang dirasakannya. Namun, demi Hanin dia harus mengatakan kebenarannya.

“Aku tidak bisa menikahi Hanin, karena sebenarnya ..., dia adalah adikku.”

Sekali lagi semua dibuat terkejut dengan jawaban Awan. Hanin dan keluarganya masih belum mengerti bagaimana Awan bisa mengatakan itu. Hubungan saudara dengan Hanin, hubungan dari mana?

Louis dan Karlina masih merasa Awan sedang mempermainkan mereka. Mereka tidak percaya dengan kata-kata Awan.

“Jangan bercanda, hari ini acara yang serius, papa sudah membuat acara ini begitu mewah, tapi dengan alasan yang tidak masuk akal kamu ingin membatalkannya!”

“Ini masuk akal, Pap. Hanin dia memang adikku.”

“Tapi saat kami mengadopsimu kau hanya sendirian, nenekmu tak mengatakan kalau kau punya adik.” Karlina membungkam mulutnya sendiri usai tak sadar mengatakan pengakuan itu, di depan orang lain.

Louis merasa sudah tidak ada yang harus ditutup-tutupinya lagi.

“Apa benar, Nak Awan adalah putra angkat Anda, Pak Louis?” tanya Gian yang juga baru mengetahuinya.

“Tidak ada yang bisa aku sembunyikan lagi, Awan memang hanya anak angkat,” jawabnya. “Tapi, apa masalahnya? Dia sudah aku anggap sebagai anak kandung sendiri,” jelasnya.

“Mama tidak percaya, Awan, bagaimana ceritanya Hani bisa menjadi adikmu?”

“Masalah ini nanti saja, sekarang apa yang membuatmu begitu yakin kalau Hanin adalah adikmu?” tanya Louis.

Awan mengambil sesuatu dari balik jasnya, kemudian menyerahkannya pada Louis.

“Ini adalah hasil tes DNA aku dan Hanin, Pa, dan hasilnya positif.”

Louis membaca lembaran kertas yang diberikan Awan, dia tampak geleng-geleng kepala, tidak percaya Hanin dan Awan adalah saudara kandung.

Melihat reaksi Louis, Karlina bertambah penasaran sebelum melihatnya sendiri. Wanita itu merebut kertas itu dan membacanya.

“Pah, bagaimana ini? Kenapa Kak Awan bisa menjadi saudaraku? Papa dan mama tidak pernah cerita Hani punya saudara kandung?” Hanin terlihat kebingungan. Dia hanya bisa bertanya pada Miranda dan Elvan karena mereka seharusnya lebih tahu saat mereka mengadopsi dirinya.

“Papa tidak tahu atau lupa, mungkin Nenekmu pernah menyebutkannya saat di rumah sakit, tapi papa dan mama tidak pernah melihat atau bertemu dengan anak lain waktu itu,” jelas Elvan.

“Papa benar.” Miranda membenarkan cerita Elvan.

Awan menghampiri mereka kemudian menjelaskannya, “Nenek pernah bercerita soal adikku yang diadopsi orang lain. Waktu nenek bercerita usiaku enam tahun. Nenek bilang saat ibu melahirkan adikku, dia menitipkanku pada kerabat jauh. Dia menemuiku kembali setelah beberapa hari, itulah kenapa kita tidak pernah saling bertemu.”

“Siapa nama nenekmu?” tanya Elvan.

“Nenek Halimah.”

Hanin kembali tercengang, sampai menutup mulutnya tak percaya.

Elvan dan Miranda seharusnya sudah tidak merasa ragu lagi, karena bukti tes DNA tentu saja adalah bukti yang kuat.

“Apakah ini artinya kalian tidak jadi menikah?” Miranda bertanya antusias sampai salah ucap. “Maksudku bertunangan.” Ia meralat ucapannya yang keliru.

“Jika benar mereka bersaudara tentu saja acara tidak bisa dilanjutkan.”

Miranda langsung memeluk Hanin saking bahagianya. Hanin perasaannya masih tidak menentu, harus bahagia atau senang. Dia bahkan sudah memutuskan perasaannya pada Satya saat Satya menanyakan perasaannya untuk yang terakhir kali.

Pandangan Hanin jatuh pada Karlina, wanita itu terlihat sangat sedih dan murung. Hanin melepas pelukannya lalu menghampiri Karlina.

“Tante Karlina jangan bersedih, meskipun tunangan Hani dan Awan batal, tapi Hani adik Kak Awan, jadi kita masih bisa saling bertemu.”

“Tante sudah membayangkan kamu menikah dengan Awan, tapi mau bagaimana lagi. Tante bahkan sudah memilihkan gaun untuk pernikahanmu nanti.”

“Lalu bagaimana dengan acaranya, Pak Louis? Apa akan kita umumkan batal?” tanya Gian.

Semua terdiam berpikir, walau bagaimanapun acara besar itu sayang jika dibubarkan begitu saja.

“Jangan dibatalkan, lanjutkan saja meskipun tanpa acara utama. Kau cari saja alasan yang tepat!”

“Baik, Pak Louis.”

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!