Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Air Mata Buaya di Ibu Kota
Setelah konferensi pers yang menggelegar itu, Senja mengira ia bisa sedikit bernapas lega. Namun, ia lupa bahwa Rangga lahir dari rahim seorang wanita yang merupakan "guru" dari segala manipulasi.
Pagi itu, di depan gedung Artha Group, sebuah pemandangan dramatis tersaji. Seorang wanita tua dengan kebaya kusam dan kerudung yang sengaja dipasang sedikit berantakan, duduk bersimpuh di dekat gerbang masuk. Di sampingnya ada sebuah poster tulisan tangan di atas kardus:
"KEMBALIKAN ANAKKU, SENJA! JANGAN PENJARAKAN DARAH DAGINGKU!"
Itu adalah Ibu Ratna, ibunya Rangga.
Senja yang baru saja tiba dengan mobil putihnya, terpaksa menginjak rem secara mendadak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia menatap sosok wanita di depannya—wanita yang dulu selalu ia kirimi uang obat tiap bulan, yang dulu ia belikan emas saat lebaran, tapi kini justru berdiri sebagai musuh paling vokal.
Begitu pintu mobil terbuka, Ibu Ratna langsung meluncur, merangkak di aspal, dan memeluk kaki Senja dengan cengkeraman yang sangat kuat.
"Senja! Tolong, Senja! Cabut laporan kamu Nduk! Masa kamu tega lihat Rangga membusuk di sel? Dia itu pernah jadi suami kamu Nduk, Senja! Rangga yang menemani kamu saat kamu sendiri di Bali!" teriak Ibu Ratna dengan suara cempreng yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh para karyawan yang mulai berkerumun.
Senja berusaha menarik kakinya, tapi Ibu Ratna justru sengaja membenturkan kepalanya ke aspal, menciptakan efek dramatis seolah ia sedang disiksa.
"Ibu, bangun! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Aku dan Rangga sudah cerai secara hukum bertahun-tahun yang lalu. Ibu tidak berhak ada di sini!"
"Cerai itu cuma di kertas! Dulu kamu itu menantu kebanggaan Ibu! Kamu yang masak tiap hari buat Rangga, kamu yang urus rumah sendirian, masa sekarang kamu jadi kejam begini?" Ibu Ratna meratap, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar karyawan yang berkerumun.
"Urus rumah siapa, Bu? Rumah itu rumah saya! Rangga cuma menumpang di sana!" sahut Senja tajam. "Saya berhenti kerja sebagai arsitek setahun penuh hanya untuk melayani anak Ibu yang pemalas itu! Saya belajar masak sendiri, bangun subuh ke pasar, semuanya saya lakukan sendiri di rumah saya sendiri! Ibu di mana waktu itu? Ibu cuma di kampung, menelepon setiap tanggal satu hanya untuk menagih uang obat yang ternyata Ibu pakai buat judi!"
Di saat kerumunan wartawan media sosial mulai menyorotkan kamera mereka, Aditya keluar dari lobi kaca yang mewah. Tapi, langkahnya terhenti di anak tangga paling atas. Ia tidak berlari menghampiri Senja.
Ia tidak memeluk bahu Senja untuk melindunginya. Sebaliknya, Aditya berdiri di sana dengan wajah yang dipenuhi kecemasan yang egois. Ia sesekali melirik ke arah petugas keamanan, lalu menatap Senja dengan pandangan yang menghakimi.
"Senja, selesaikan ini sekarang juga," bisik Aditya saat Senja berhasil melepaskan diri sejenak dan mendekat ke arah tangga. "Dewan komisaris sudah mengirim pesan padaku. Mereka sangat terganggu dengan keributan ini. Citra Artha Group sedang dipertaruhkan."
Senja menatap Aditya dengan mata yang berkaca-kaca karena marah. "Selesaikan bagaimana, Adit? Kamu lihat wanita ini? Dia gila! Dia menuntutku mencabut laporan kasus pemerasan Doni dan Rangga! Apa kamu tidak mau membantu memanggilkan pihak berwajib agar dia dipindahkan?"
Aditya justru menggeleng perlahan, wajahnya terlihat sangat pragmatis. "Kalau aku memanggil polisi untuk menyeret wanita tua, kita akan terlihat seperti penindas di mata media, Senja. Tolonglah, jadilah dewasa. Kasih dia sedikit uang, atau bicarakan baik-baik di tempat lain. Jangan di depan lobi kantorku. Ini memalukan."
"Memalukan?" Senja mengulang kata itu dengan nada getir. "Yang memalukan itu adalah saat kamu melihat rekan kerjamu—wanita yang kamu katakan kamu cintai—dihina di depan umum, tapi kamu lebih khawatir pada karpet lobimu yang kotor, Adit!"
Melihat Aditya yang hanya diam, Ibu Ratna semakin menjadi-jadi. "Lihat ini semua! Ini arsitek kebanggaan kalian! Dulu dia rela jadi pelayan buat anak saya karena dia memang cuma pantas jadi pelayan! Sekarang dia sudah pakai baju mahal dan lupa sama saya!"
"Saya bukan pelayan, Bu! Saya adalah istri yang bodoh karena terlalu mencintai anak Ibu!" teriak Senja, suaranya pecah. "Satu tahun saya memberikan hidup saya untuk Rangga, dan apa yang saya dapat? Dia membelikan kalung untuk selingkuhannya, dia berselingkuh, Bu. Padahal saya lah yang mendukung kariernya saat itu, saya sampai menguras tabungan saya untuk mendukung anak Ibu, tapi saat dia sukses, dia justru mengkhianati saya! Dia menghabiskan uang saya! Dan Ibu... Ibu mendukungnya!"
Ibu Ratna berdiri dan menunjuk-nunjuk wajah Senja. "Itu karena kamu nggak bisa kasih cucu! Makanya Rangga cari yang lain! Kamu itu wanita yang sangat sombong!
Kalimat itu adalah puncak dari segala hinaan. Senja menoleh ke arah Aditya, berharap pria itu akan membela kehormatannya. Tapi, Aditya justru memalingkan wajah, sibuk berbicara dengan staf keamanan soal cara membubarkan kerumunan.
Aditya benar-benar munafik. Dia hanya mencintai citra Senja sebagai arsitek sukses, bukan Senja sebagai manusia yang punya luka.
Senja menghapus air matanya dengan kasar. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan dompet, dan mengambil selembar uang dua ribu rupiah yang sudah kucel. Ia melemparkan uang itu tepat di depan kaki Ibu Ratna.
"Ini adalah nilai harga diri keluarga Ibu di mata saya sekarang. Dua ribu rupiah. Ambillah, dan jangan pernah tunjukkan wajah Ibu lagi di depanku. Ibu tidak pernah mengajariku apa-apa, Ibu tidak pernah memberiku apa-apa. Selama setahun itu, akulah yang menghidupi kalian!"
Ibu Ratna tertegun melihat sorot mata Senja yang kini sedingin es.
Senja tidak lagi melirik ke arah Aditya. Ia masuk kembali ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan dentuman keras yang seolah membelah suasana riuh itu, dan segera memutar balik kendaraannya. Ia memacu mobilnya meninggalkan gedung Artha Group, meninggalkan kerumunan wartawan, dan meninggalkan Aditya yang masih terpaku di atas tangga lobi.
Di dalam mobil, Senja memacu kendaraannya tanpa tujuan pasti. Tangannya gemetar di atas setir, tapi pikirannya sangat jernih. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan sekaligus melegakan: ia tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Ia tidak akan pernah kembali ke kantor itu sebagai bawahan Aditya. Ia tidak akan pernah lagi menjadi wanita yang merelakan dirinya menjadi pelayan demi mendapatkan kasih sayang semu.
"Aku akan merdeka," bisik Senja pada dirinya sendiri di tengah kemacetan Jakarta. "Aku akan membangun perusahaanku sendiri. Tanpa Rangga, tanpa Ibu Ratna, dan tanpa Aditya."
Sementara itu, di depan gedung, Aditya memungut lembaran uang dua ribu rupiah itu dengan tangan gemetar. Ia menyadari, di detik itu juga, ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus padanya demi sebuah "citra perusahaan" yang sebenarnya bisa ia perbaiki kapan saja. Tapi Senja? Senja tidak akan pernah bisa ia miliki lagi.
ksh pelajaran aja buat rangga