Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat Belas
Arka menatap Alana beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Seolah memastikan gadis itu benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan dari keputusan yang baru saja ia buat.
“Sekarang aku mau tanya,” ucap Arka akhirnya, suaranya lebih rendah, tidak sedingin tadi. “Kamu masih takut?”
Alana terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak.
Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam di pangkuan. Napasnya tidak stabil. Bayangan wajah Handoko tadi, keringat dingin di pelipis pria itu, tatapan licik yang pernah menghantuinya berbulan-bulan, semua kembali menyeruak.
“Sedikit,” jawab Alana jujur. Suaranya nyaris tak terdengar. “Bukan … bukan ke dia lagi.”
Arka menyipitkan mata. “Lalu?”
Alana mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca. “Aku takut ke bapak saya, Tuan.”
Itu jawaban yang tidak Arka duga sepenuhnya. Ia diam, memberi ruang.
“Handoko mungkin sudah pergi,” lanjut Alana pelan, “Tapi bapak saya … dia masih hidup dengan hutang, dengan orang-orang seperti itu di sekitarnya. Saya takut … suatu hari, dia akan menjual saya untuk bayar hutang yang lain.”
Alana menelan ludah. “Saya takut masalah ini sebenarnya belum benar-benar selesai.”
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara jam dinding berdetak pelan.
Arka menyandarkan tubuhnya ke meja kerja. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sikap khasnya saat berpikir serius. Tatapannya jatuh ke lantai, lalu kembali pada Alana.
“Kalau begitu,” ucap Arka pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Kita buat semuanya selesai.”
Alana mengernyit. “Maksud Tuan?”
Arka menghela napas pendek. Seperti orang yang sudah mengambil keputusan, tapi tahu konsekuensinya panjang.
“Bagaimana kalau kita menikah saja?”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa peringatan. Tanpa basa-basi. Alana membeku. Tak percaya dengan pendengarannya.
“Apa …?” bibirnya bergetar. Ia yakin barusan salah dengar. “Maaf, Tuan?”
Arka menatapnya lurus. Tidak ada senyum, tidak ada main-main. “Menikah.”
Dunia Alana seakan berhenti berputar. Suara jam dinding mendadak terdengar terlalu keras. Jantungnya berdentum di telinga.
“Kenapa … kenapa tiba-tiba?” tanya Alana dengan terbata. “Tuan bercanda, kan?”
Arka menggeleng pelan. “Tidak.”
Alana bangkit setengah berdiri, lalu kembali duduk karena lututnya melemah. Kepalanya penuh. Otaknya berusaha mengejar makna dari satu kata itu. Menikah dengan Arka.
Arka, pria yang selama ini ia panggil Tuan. Pria dengan dunia yang begitu jauh dari hidupnya. Pria yang namanya membuat orang-orang berlutut atau menghilang.
“Tidak mungkin,” gumam Alana lirih. “Kita … kita jauh berbeda.”
“Justru itu,” jawab Arka tenang. “Kalau kamu istriku, tidak ada satu orang pun yang berani menyentuhmu. Termasuk ayahmu, termasuk masa lalumu.”
Alana menggeleng cepat. “Tapi saya bukan siapa-siapa, Tuan. Saya cuma ....”
“Alana,” potong Arka, nada suaranya mengeras sedikit. “Aku tidak peduli kamu siapa sebelumnya.”
Kalimat itu membuat dada Alana sesak. Ia menunduk, air mata mulai menggenang.
“Tapi dunia Tuan … bukan dunia saya,” ucap Alana lirih. “Saya bahkan tidak tahu apa yang Tuan lakukan sebenarnya.”
Arka terdiam. Ada bayangan gelap melintas di matanya.
“Dan kamu tidak perlu tahu,” ujar Arka singkat.
Alana mendongak lagi. “Lalu kenapa … kenapa melakukan sejauh ini hanya untuk melindungi saya?”
Pertanyaan itu menggantung. Arka memalingkan wajahnya ke jendela. Cahaya siang menembus kaca, memantul di sisi wajahnya yang tegas.
“Karena ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan setengah-setengah.”
Alana menatap punggung pria itu. Ada rasa asing sekaligus hangat yang merayap di dadanya. Takut. Bingung. Dan entah kenapa … ada rasa aman.
“Tapi,” Arka melanjutkan sebelum Alana sempat membuka mulut lagi, “Aku tidak minta ini seperti pernikahan yang kamu bayangkan.”
Alana terdiam. “Maksud Tuan?”
Arka berbalik. Tatapannya kini lebih datar, lebih terkendali. “Aku mau kita nikah kontrak saja.”
Kata-kata itu jatuh lebih keras dari sebelumnya. “Kontrak …?” Alana mengulang, hampir berbisik.
“Satu tahun,” jelas Arka. “Di mata hukum, di mata dunia, kamu istriku. Di balik itu, hidupmu tetap hidupmu. Tidak ada kewajiban lebih.”
Alana mengernyit. “Tidak ada …?”
“Tidak ada tuntutan perasaan,” potong Arka. “Tidak ada paksaan.”
Alana terdiam lama. Otaknya berputar cepat. Kontrak. Satu tahun. Perlindungan. Tapi juga… pernikahan palsu dengan pria paling berbahaya yang ia kenal.
“Setelah satu tahun?” tanya Alana dengan suara pelan.
“Kita berpisah,” jawab Arka singkat. “Tanpa beban.”
Alana tertawa kecil. Bukan karena lucu. Karena absurd. “Tuan bicara seolah ini urusan bisnis.”
Arka tidak menyangkal. “Memang.”
Alana menggeleng, menahan air mata. “Bagi saya ini bukan bisnis.”
Arka mengamatinya. Wajah pucat, mata berkaca-kaca, bahu kecil yang bergetar halus. Sesuatu di dadanya terasa mengencang.
“Aku tahu,” ucap Arka lebih pelan. “Makanya aku tidak memaksamu.”
Alana mengangkat wajah. “Tidak?”
Arka menggeleng. “Aku tidak minta jawaban hari ini.”
Ia melangkah mendekat, berhenti di depan meja. Jarak mereka tidak dekat, tapi cukup untuk membuat Alana kembali menahan napas.
“Kamu pikirkan baik-baik,” lanjut Arka. “Aku beri waktu dua hari.”
Dua hari untuk memutuskan apakah ia mau mengikatkan hidupnya, walau sementara dengan Arka.
“Kalau kamu menolak,” ucap Arka, “Aku tetap akan melindungimu sebisaku. Tapi sebagai istriku, batas perlindunganku jauh lebih luas.”
Kalimat itu terdengar seperti peringatan, sekaligus tawaran. Alana menunduk lagi. Kepalanya terasa pening. Dunia terasa terlalu besar.
Ruangan kembali sunyi. Kali ini bukan karena ancaman, tapi karena pilihan. Akhirnya, Alana berdiri. Kakinya masih gemetar, tapi ia memaksakan diri tegak.
“Saya .…” Suaranya serak. “Saya perlu waktu.”
Arka mengangguk. “Silakan kau pikirkan!”
Alana melangkah ke pintu, lalu berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia berkata, “Tuan … terima kasih. Untuk semuanya.”
Arka tidak menjawab. Tapi tatapannya mengikuti punggung gadis itu sampai pintu tertutup.
Begitu Alana pergi, Arka berdiri lama di tempatnya. Wajahnya kembali dingin, tapi di balik itu, ada sesuatu yang bergejolak.
Reno masuk tanpa suara. “Boss?”
“Siapkan semuanya,” ucap Arka singkat.
“Pernikahan?”
Arka mengangguk. “Kalau dia setuju.”
Reno tersenyum tipis. “Dan kalau tidak?”
Tatapan Arka mengeras. “Aku tetap tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.”
Di lantai atas, Alana duduk di tepi ranjang Revan. Bocah itu tertidur pulas, wajahnya damai. Alana menatapnya lama.
Menikah dengan Arka. Kontrak satu tahun. Perlindungan.
“Apa yang harus aku lakukan …?” bisik Alana pada dirinya sendiri.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭