Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. IMU coz ILU.
...~•Happy Reading•~...
Tanpa disadari Athalia, untuk melewati fase teman tapi mesra menuju berpacaran mesra, dia telah melalui ujian yang dilakukan Ethan.
Ethan menggunakan kesempatan menyelesaikan masalah kantor di Singapura untuk menguji hati Athalia dengan tidak memberi kabar. Dia ingin melihat sikap hati Athalia padanya sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Dia tahu ada beberapa karyawan, bahkan staff yang diam-diam menaruh hati pada Athalia. Oleh sebab itu, ketika sopirnya dan Rion melaporkan keteguhan hati Athalia menghindari pria seperti Hendry yang gigih menggodanya, Ethan jadi tahu dan yakin. Hati Athalia padanya, walau belum tahu siapa dia.
Sehingga dia memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang lebih resmi, berpacaran. Dalam fase ini pun, Ethan masih menguji Athalia sebagai kekasihnya.
Kadang mereka makan siang bersama atau jalan bersama ke tempat-tempat sederhana dan antar pulang dengan mobil yang sama sebagai Niel. Tidak ada yang berubah pada Athalia. Dia menikmati dan bahagia sebagai pacar Niel.
Setiap pagi ke kantor, Athalia tidak mau Niel menjemput, karena dia tidak mau Niel berangkat lebih pagi. Dia lebih memilih naik ojol dari pada dijemput.
Tapi kalau pulang kantor, dia menerima diantar Niel untuk pulang bersama. Kecuali Ethan berhalangan, Athalia memilih pulang naik ojol, tanpa membuat drama.
Semua itu menambah keyakinan Ethan, Athalia adalah gadis yang bisa mendampinginya.
~••~
Hari ini, telah 10 hari mereka resmi berpacaran. Athalia masuk kantor seperti biasa. Dia langsung menuju ruangan administrasi, karena tidak bertemu Niel atau Alea di lobby.
"Aku kira, aku datang lebih pagi, ternyata kau masih lebih pagi." Bisik Athalia pada Alea yang sudah mulai menyalakan komputer.
"Tadi lumayan lancar, jadi cepat tiba di sini..." Alea menceritakan perjalanannya dari rumah ke kantor.
"Iya, sama. Jadi aku kira, akan tiba lebih dulu darimu." Ucap Athalia sambil merapikan meja. 'Apa Mas Neil juga alami hal yang sama? Apa sudah tiba lebih pagi?' Athalia membatin dan berharap demikian.
Ketika rekan kerja berdatangan, ruangan administrasi muai ramai. Mereka berkelakar sambil merapikan meja. Athalia dan Alea tersenyum melihat canda rekan-rekannya.
"Sssttt... Ada info A 10. CEO kita mau turun gunung, jadi sengaja lakukan perampingan dan perombakan." Bisik Tony pada Vicky, tapi didengar oleh karyawan lain, termasuk Athalia dan Alea.
"Emang selama ini, CEO kita ada di gunung mana?" Tanya Vicky bercanda, tapi serius.
"Katanya di luar negeri. Sekarang dipanggil pulang sama Pak boss."
"Jadi selama ini, yang pimpin di sini Pak boss?"
"Ngga. Anaknya yang CEO kita, tapi dari jarak jauh. Secara, sekarang sudah canggih. Kita bisa dipantau dari gunung mana saja." Ucap Tony sambil tersenyum dan mengerakan mata ke atas, menunjuk cctv.
"Pantesan, aula pertemuan sudah rapi dan bersih." Vicky mengakui, karena sempat melihat aula saat mengantar dokumen.
"Iya. Sepanjang akhir pekan kemarin, semua orang sibuk dan banyak wajah baru yang wara-wiri di sini." Tony menceritakan yang dia tahu.
"Ada apa ini? Mengapa kumpul di situ, Tony? Ayo, bubar." Ucap supervisor saat masuk ke ruang administrasi.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Tony dan diikuti oleh rekan lain menyapa supervisor.
"Pagi. Bagus, sudah lengkap." Ucap supervisor setelah melihat karyawan sudah masuk.
"Perhatian semua. Besok semua masuk tepat waktu. Tidak boleh ada yang terlambat. Jadi alangkah baik masuk stengah jam lebih cepat." Ucap supervisor serius. Semua karyawan jadi terdiam.
"Semua berpakaian resmi, tidak boleh pakai celana jeans..." Supervisor memberikan peraturan tertulis kepada Tony untuk ditempel, sambil menjelaskan poin-poin yang perlu diperhatikan.
"Semua karyawan wanita, pakai blazer resmi untuk melayani tamu dari pusat." Ucap supervisor lagi sebelum masuk ke ruang kerja.
"Siap, Pak." Semua karyawan menyambut pengumunan dengan hati senang.
"Ternyata infomu bukan A10, tapi A1, benar. Besok CEO resmi turun gunung." Ucap Vicky setelah supervisor meninggalkan mereka.
"Iya, ya. Tadinya aku pikir itu hanya bercanda, taunya benar. Jadi penasaran dengan CEO kita." Ucap Tony.
"Talia, Lea, besok sedikit berdandan, supaya bisa membuat suasana berwarna." Ucap Tony, bercanda.
"Oh, hanya mereka yang dandan. Kami tidak perlu." Sita protes sambil melihat Tony.
"Sita, untuk apa aku minta kalian dandan? Kalian setiap hari ke kantor sudah berdandan. Apa lagi buat acara beginian. Aku hanya bilang yang tidak suka dandan saja, supaya besok bisa cerah ceria."
"Iya, Talia, Lea. Siapa tahu CEO nya masih single. Kan, bisa dapat puk, puk." Salah satu karyawan pria melanjutkan. Mengakibatkan Marci dan Sita mendengus, kesal.
Ketika mereka sedang saling bercanda dan membahas dresscode yang akan dipakai, ponsel Athalia bergetar. Dia segera mengeluarkan ponsel. 'Talia, nanti sore pulang dengan sopir, ya. Dia tunggu di depan lobby. Aku ada kerjaan di luar.' Pesan Niel.
'Oh iya, Mas. Hati-hati. Makasih.' Pesan balasan Athalia.
~••~
Ke esokan pagi ; Ketika masuk ke kantor, suasana kantor sangat berbeda. Rangkaian bunga penuhi lobby dan karpet merah sudah digelar.
"Talia, mari kita ke toilet. Aku mau puk puk pipimu sedikit." Ucap Alea yang melihat Athalia hanya pakai bedak tipis dan lip gloss seperti biasa.
"Lea, begini saja. Kalau tebal, mukaku terasa berat." Athalia mengangkat tangan, menolak.
"Kau lihat aku bedak tebal? Ini hanya untuk membedakan sehari-hari ke kantor dan ada event." Alea tetap menarik tangan Athalia ke toilet.
Setelah selesai mendandani, Alea puas lihat Athalia di cermin. "Lihat perbedaannya. Itu hanya tambah sedikit bedak dan lipstik tipis." Athalia jadi tersenyum dan membenarkan.
"Makasih Lea." Ucap Athalia, senang. Mereka segera keluar dari toilet, lalu berjalan cepat ke tempat kumpul rekan kerja. Mereka disambut dengan ajungan jempol.
"Wuiii, para petinggi yang tidak pernah dilihat, kelihatan semua." Bisik Alea sambil mengikuti arahan.
Ketika tiba waktunya, mobil mewah berhenti berderet satu persatu di depan lobby. "Itu Pak Carlos. Pak boss dengan istrinya." Alea berbisik melaporkan pandangan mata kepada Athalia yang sedang memperhatikan. "Ooh."
"Aku ngga sabar melihat anak mereka. Semoga boss kita bisa melihat senyum kita yang manis." Ucap Alea lagi sambil tersenyum, karena mereka ditempatkan di barisan yang mudah terlihat.
"Ah, melihat kita juga ngga ada pengaruhnya. Bukan kelasnya. Konsen pada tugas kita saja." Bisik Athalia sambil menepuk tangan Alea. Dia tidak seantusias rekan wanita lain.
Para karyawan menahan nafas melihat pria yang turun setelah Pak Carlos dan istri. Semua mata tertuju padanya, karena ingin tahu boss mereka yang tidak pernah terlihat.
Ketika Ethan menginjakan kaki di atas karpet merah, semua mata tercengang. "Astagfirullah... Ternyata putra boss sangat tampan mempesona dan berkarisma." Alea tidak tahan berkomentar melihat Ethan. Alea tidak kenal Ethan yang berbeda penampilan.
Namun berbeda dengan Athalia yang berdiri di sampingnya. Walau Ethan merubah penampilan, tidak memakai kacamata dan memakai jas mahal, dia sangat mengenal langkahnya. Athalia seperti tersengat listrik.
...~•••~...
...~•○♡○•~...