Saras wati versi moderen
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rozalina Apriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Duka
Flash Back
"Aaahhgg," terdengar erangan dari dalam kamar.
"Tok...tok..tok," Amira ibunya mengetuk pintu.
"Sayang kamu kenapa? Buka pintunya Nak."
"Aaahhgg," Agatha masih saja mengerang kesakitan. Jangan kan untuk membuka pintu, bangun dari tempat tidur saja ia tidak bisa. Tubuhnya berkeringat dingin, gemetar hebat menahan rasa sakit di punggungnya.
Mendengar Agatha yang masih saja mengerang namun tidak membuka pintu Ibunya Panik memanggil semua pengurus rumah di sana.
Rumah yang tidak terlalu mewah karna Perusahaan ayahnya yang belum terlalu maju membuat teriakan Bu Amira mudah di dengar pengurus rumah di sana.
"Ada Apa Buk?" tanya Pak Adi, sopir pribadi yang beberapa tahun ini setia menjadi sopir mereka.
"Pak Adi kamu kumpulin orang buat dobrak pintu ini, karna kalau Pak Adi sendirian ngak bakalan kebuka."
"Kenapa mau di dobrak Buk?"
"Dengerin tu di dalam!" Pak Adi juga mendengar erangan dari dalam kamar.
Segera Pak Adi mencari linggis dan membuka paksa pintu.
Pintu terbuka, erangan Agatha kalah oleh teriakan Ibunya yang kaget melihat anaknya berkeringat dingin menahan sakit.
"Pak Adi cepat telpon ambulan saja, cepat, cepat," teriak Bu Amira dengan kepanikannya.
Sampai di rumah sakit pemeriksaanpun di lakukan. Agatha yang sudah menerima obat penghilang rasa sakitpun sudah tertidur pulas.
Dengan kepanikannya Pak Hideyhosi Imanuel yang biasa di panggil Pak Iman ayahnya Agatha tiba di rumah sakit.
"Gimana anak saya Dok, Memangnya dia sakit apa?" tanya Pak Iman.
"Kami belum bisa memastikan Pak, tunggu hasil lab nya keluar ya Pak. Mohon bersabar sebentar."
Agatha sudah di pindahkan ke ruangan VIP, di dalam ruangan Pak Iman mondar-mandir, menunggu hasil pemeriksaan terasa begitu lama bagi dirinya yang begitu panik.
"Krek," pintu kamar di buka.
"Pa, Ma," Haru Kakaknya Agatha dan Amara masuk ruangan.
Pak Iman menoleh dan Bu Amira segera bangkit dari tempaylt duduknya.
"Ma, Kak Aga kenapa?" tanya Amara.
"Belum tahu sayang, hasil lap pemeriksaan tadi belum keluar. Kita do'akan supaya Kak Aga baik-baik saja ya!"
"Ya Ma," Amara memeluk ibunya.
"Kok bisa sampai di Rumah Sakit Ma?" tanya Haru.
"Mama denger Aga di kamar mengerang kesakitan, Mama juga ngak tahu kenapa bisa gitu. Kita tunggu aja nanti Dokternya bilang apa."
"Krek," seorang perawat muncul dari balik pintu.
"Keluarga Agatha, mohon ikuti saya ke ruangan Dokter Han," ucap seorang perawat.
Pak Iman dan Bu Amira mengikuti suster.
"Gimana Dok?" tanya Pak Iman.
"Apa anak Bapak sudah sering merasa nyeri pada tulang punggunya?"
"Anak saya tidak pernah mengeluhkan hal itu Dok, bisa jadi iya tapi ngak bilang Dok."
"Mungkin pernah bilang sama Ibuk?"
"Ngak pernah bilang kalau dia sakit Dok, cuma saya lihat memang sepertinya akhir-akhir ini ada seperti yang sakit tapi dia tahan."
"Begini Pak, Buk. Menurut hasil pemeriksaan kami maaf anak Bapak dan Ibu mengidap Kangker tulang belakang." Dokter menunjukkan hasil Lab di monitor.
Dunia Pak Iman dan Bu Amara terasa berhenti seketika, mereka terdiam dan tak percaya.
"Dok, coba lakukan pemeriksaan ulang, siapa tahu ada yang salah," ucap Bu Amira dengan air mata yang hampir tumpah.
"Bu, kami sudah melakukan pemeriksaan dengan teliti. Jika Ibu tidak percaya Ibu bisa lakukan pemeriksaan ulang di Rumah Sakit yang lain."
"Apa bisa di sembunyikan Dok?" tanya Pak Iman.
"Ada dua cara Pak, yang pertama dengan kemoterapi dan yang ke dua kita bisa melakukan operasi pengangkatan kangker di tulang belakang pasien."
"Yang mana menurut Dokter jalan yang lebih baik, kami akan ikuti," ucap Pak Iman.
"Kami menyarankan untuk langsung operasi saja Pak, sebab semakin lama sel kangker akan semakin menyebar. Kita harus segera operasi Pak untuk mencegah penyebarannya."
"Kami akan menuruti apa yang Dokter sarankan."
"Ibu dan Bapak bisa tanya pasien kapan ia siap untuk di operasi. Ingat Pak kita harus secepatnya operasi tidak bisa di tunda, tunda."
"Baik Dok."
Air mata Bu Amira tumpah, ia bersandar di bahu Pak Iman yang kokoh. Pak Iman dengan sekuat tenang menahan desa di dadanya agar tidak tumpah ruah menjadi air mata sebab ada banyak orang yang harus ia kuatkan.
"Pa gimana cara kita ngomong sama Aga Pa?" tanya Bu Amira masih duduk di kursi depan ruang Dokter bersandar papa bahu Pak Iman.
"Ma tetap saja kita harus bicara sama Agatha secepatnya. Sepahit apapun itu untukmu kita tetap harus bicara terlebih dulu sebelum melakukan operasi."
"Ya Pa. Papa saja yang ngomong, Mama ngak sanggup."
Setelah Bu Amira membersihkan wajahnya yang sudah sembuh, mereka kembali ke kamar Agatha.
"Wah, Sayang kami sudah bangun," Ibunya memasang senyum termanisnya melihat Agatha sedang di suapi Amara adiknya.
"Apa kata Dokter Ma?" tanya Haru.
"Papa aja yang jelasin ya!" Bu Amara melirik Pak Iman.
"Jadi begini..." lama Pak Iman diam mencari kata yang pas. Semua menatap dengan wajah tidak sabar.
"Aga, kamu mau kan di operasi?"
"Kenapa harus di operasi Pa?" tanya Haru.
Agatha masih terdiam dengan kebingungan.
"Haru kamu diam dulu, Papa mau bicara sama Aga dulu."
"Kata Kak Haru benar Pa, Kenapa Aga harus di operasi?" tanya Agatha ulang.
"Aga, Papa merasa bersalah karna baru tahu sekarang kalau kamu punya sakit yang serius. Tapi Aga kita belum terlambat, kamu bisa operasi dan secepatnya sembuh."
"Iya, tapi Agatha sakit apa? Jangan bikin kami bingung dong Pa," tanya Haru yang tidak sabar dengan jawaban Papanya yang berbelit-belit.
Agatha hanya menunduk diam.
"Huuuuhhh,..." Pak Iman menghembuskan nafas panjang, tidak rela mengatakan hal pahit yang akan membuat anak-anaknya terpukul.
"Aga, mengidap kangker tulang belakang."
Haru mendur satu langkah mendengar pernyataan ayahnya, Amara seketika nerurai air mata.
Agatha hanya diam, tatapannya nanar.
"Agatha, kamu pasti sembuh sayang. Kita harus melakukan operasi pengangkatan kangker secepatnya. Kata Dokter kamu bisa sembuh Sayang," ucap Bu Amira memeluk Agatha.
"Iya Nak, kamu mau kan di operasi? Jika kamu sudah setuju Papa bisa minta Dokter operasi kamu besok Nak jika perlu hari ini juga."
Agatha masih dengan diamnya.
Haru keluar ruangan, ia tidak bisa menahan air matanya, ia tidak ingin orang lain melihatmu menangis.
"Ma, Pa, lusa Aga Ujian akhir sekolah. Operasinya abis ulangan aja ya. Please Ma, Pa, Aga ngak mau ketinggalan ujian."
Ibu dan Ayah nya saling melirik, Amara sudah berhambur menangis di pelukan Agatha.
"Baiklah Nak, cuma Papa minta kamu jaga kesehatan, tetap minum obat dan meskipun ujian yang paling utama yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan kamu."
"Ya Pa."
"Agatha, Mama minta kamu fokus sama kesehatan kamu ya. Kamu ngak usah mikirin yang lain dulu, pacaran atau apa itu kamu singkirin dulu. Sekrang fokus tentang kesembuhan kamu."
"Ya Ma, Agatha janji bakalan fokus."
lebaiiii..